Cakra Atlas, seorang pria rupawan yang bekerja di sebuah bar, rela menerima pernikahan dadakan demi membayar hutang janji orang tuanya di masa lalu. Namun, siapa sangka, wanita yang dia nikahi adalah Yubie William, seorang wanita yang baru saja gagal menikah karena calon suaminya memilih menikahi wanita lain.
Yubie, yang masih terluka oleh kegagalan pernikahannya, berjanji untuk menceraikan Cakra dalam setahun ke depan. Cakra, yang tidak berharap ada cinta dalam hubungan mereka, justru merasa marah dan kesal ketika mendengar janji itu. Alih-alih membenci istrinya, Cakra berusaha untuk menaklukan Yubie dan mengambil hatinya agar tidak menceraikannya.
Dalam setahun ke depan, Cakra dan Yubie akan menjalani pernikahan yang tak terduga, di mana perasaan mereka akan diuji oleh rahasia, kesalahpahaman, dan cinta yang tumbuh di antara mereka. Apakah Cakra akan berhasil menaklukan hati Yubie, atau akankah Yubie tetap pada pendiriannya untuk menceraikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Putri Aritonang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34.
Pagi hari, Nyonya Mei Lin terlihat sibuk menata meja makan dengan hidangan yang lezat. Tuan William sudah duduk di kursinya, membaca koran pagi sambil menikmati secangkir kopi. Sesekali mereka berbincang dengan diselingi tawa yang renyah antar keduanya.
Dari lantai dua, Lusy melihat interaksi kedua orang tuanya itu dengan mata yang menyipit. Ia hanya tersenyum miring, lalu membuang wajah, tidak ingin menonton drama romantis di pagi hari. Lusy masih menunggu Kanny bersiap, ia tidak ingin turun ke meja makan tanpa suaminya.
Ketika mendengar suara pintu kamar terbuka dan Kanny keluar dari sana. Barulah Lusy turun ke bawah. Wanita hamil itu dengan mesra menggandeng tangan suaminya. Dan tetap memaksa, sekalipun Kanny tampak beberapa kali mengelak lengan istrinya.
"Kalian sudah datang. Selamat pagi." Nyonya Mei Lin tersenyum, menyapa Lusy dan Kanny.
"Sepertinya ada yang tidak pulang," celetuk Lusy dengan wajahnya yang terlihat tidak ramah. Ia melirik ke lantai dua, menatap pintu kamar Yubie dan Cakra. "Sudah betah sekali ternyata di perusahaan. Merasa milik sendiri."
Mendapati Kakak dan Kakak iparnya tidak pulang ke rumah sampai pagi ini, membuat Lusy tersenyum sinis. Semalam, ia menunggu pasangan itu hingga larut malam, berniat untuk membahas langsung dengan orangnya tentang penunjukkan Cakra sebagai pengganti ayah mereka. Tapi, ternyata kedua sejoli itu sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya di kediaman keluarga William.
"Jangan bicara seperti itu, Lusy! Perhatikan sikapmu." Tuan William menegur keras putrinya itu. Ia tahu bahwa Lusy masih belum bisa menerima akan keputusannya. Terlihat dari raut wajah Lusy yang tidak tersenyum.
"Memangnya apa yang salah dari sikapku, Dad? Aku hanya mempertanyakan sikap menantu pilihan Daddy yang paling Daddy banggakan itu!" Lusy ternyata tidak mau diam. Pagi ini tampaknya ia kembali bersiap mengeluarkan semua mantra-mantra yang sudah pasti akan membuat pusing kepala siapapun yang mendengarnya.
"Daddy tidak lihat? Baru sehari Daddy percayakan perusahaan dengan mereka, tapi mereka sudah tidak pulang! Ngapain mereka? Kerja? Bulshit kerja! Mereka pasti berpesta malam tadi karena merasa telah berhasil merebut semuanya!"
Otak goblok Lusy mana paham, bagaimana caranya Yubie dan Cakra masih bisa bekerja di sela-sela mereka memadu cinta untuk pertama kalinya.
Begitu pula dengan pikiran kacau Kanny. Sampai pagi ini, dan mendengar ucapan istrinya tentang Yubie dan Cakra yang 'berpesta' membuat pria itu mengepalkan tangannya. Dan bukannya menegur Lusy.
"Lama-lama Daddy pasti akan sadar bahwa sudah salah menentukan pilihan! Kakak ipar tidak bisa apa-apa! Dan tidak layak memimpin sebuah perusahaan besar! Buka mata Daddy!"
"Daddy tidak salah menentukan pilihan!!"
Tuan William tampak habis kesabaran. Pria paruh baya itu langsung berdiri dan bersuara dengan begitu lantang. Istrinya, Nyonya Mei Lin yang duduk di sampingnya sampai terkejut melihat reaksi suaminya sendiri.
"Sudah Daddy katakan Cakra layak dan mampu!"
"Layak dari..."
"Kau tidak tahu siapa Cakra, Lusy!" Tuan William menghentikan ucapan Lusy. "Karena itu kau selalu saja menilainya dengan sebelah mata. Kau hanya melihat dari penampilannya yang sederhana. Pekerjaannya sebagai pelayan di club malam, hanya itu yang bisa kau lihat!"
Walau sempat terkejut menerima sambaran dari sang ayah. Namun, itu hanya beberapa saat sebelum Lusy kembali meremehkan dan menganggap angin lalu apa yang barusan Tuan William katakan. Bagi Lusy ayahnya hanya sedang membela Cakra.
"Memangnya siapa Kak Cakra itu? Anak siapa dia? Putra dari keluarga mana? Saat menikah saja keluarganya tidak ada yang hadir! Jangan berusaha membohongiku, Dad!" Lusy terkekeh dan menggeleng. Tidak habis pikir ayahnya sampai sejauh ini membela kakak iparnya.
Tuan William tampak terdiam. Memang ketika pernikahan antara Yubie dan Cakra berlangsung, keluarga dari pihak Cakra tidak ada satupun yang datang. Kecuali, ibunya. Nyonya Safira sempat datang menemui Cakra sesaat. Sementara Ruby, adik Cakra yang melarang kakaknya untuk menikah dan menerima perjodohan ini sama sekali tidak menghadiri pernikahan yang saat itu diadakan di kediaman keluarga William.
"Daddy sampai harus seperti ini karena ingin membela Kakak ipar?" ucap Lusy tersenyum mengejek pada ayahnya.
"Terserahmu ingin percaya atau tidak dengan yang Daddy katakan!"
Tuan William berlalu dari ruangan makan, meninggalkan Lusy yang masih duduk dengan wajah pongahnya. Nyonya Mei Lin yang melihat suaminya pergi pun ikut berdiri dan ingin beranjak. Tapi, sebelum itu ia sempat mengatakan sesuatu pada Lusy yang berhasil membuat Lusy teridam seribu bahasa.
"Lusy, kau tahu Daddy paling menyayangi putri-putrinya, kan? Seorang ayah yang begitu menyayangi putri-putrinya, apa kau pikir akan memberikan putrinya pada sembarang pria? Jawabannya adalah tidak! Seharusnya kau bisa memahami ini, Lusy."
Lusy langsung terdiam memikirkan kata-kata Nyonya Mei Lin barusan. Lusy tidak bisa membantah, karena memang Tuan William sangat menyayangi dirinya dan Yubie. Buktinya agar kakaknya itu tidak gila karena ditinggal menikah mantan kekasih dengan adiknya, ayah mereka dengan cepat mencarikan pria pengganti untuk Yubie. Dan Tuan William menjatuhkan pilihan pada seorang Cakra. Tapi, siapa sebenarnya Cakra? Kenapa ayahnya begitu yakin dengan pilihan itu? Sampai menjodohkan kakaknya, Yubie dengan Cakra yang hanya seorang pelayan club malam?
Kanny yang duduk di samping Lusy juga terdiam, wajahnya yang tadinya berusaha abai dengan sikap membangkang sang istri sekarang menjadi serius. Ia juga memikirkan kata-kata Nyonya Mei Lin, dan rasa penasaran mulai menghinggapi dirinya. Apa yang membuat Tuan William begitu yakin dengan Cakra? Apa yang spesial dari pria sialan itu? Dan apa yang tidak ia ketahui?
Rasa ingin tahu Lusy dan Kanny semakin kuat. Mereka berdua seakan baru tersadar atas kalimat Nyonya Mei Lin. Keduanya saling menatap, dan Lusy bisa melihat rasa penasaran begitu tinggi ada di mata Kanny. Sekarang, mereka berdua sama-sama ingin tahu lebih banyak tentang Cakra, tentang latar belakangnya, tentang apa yang membuat ayahnya bisa begitu percaya pada pria itu.
Dengan rasa penasaran yang tak terbendung, Lusy dan Kanny akhirnya memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang Cakra. Mereka akan mencari informasi, mereka akan mencari jawaban serta kebenaran yang ada tentang siapa Cakra sebenarnya.
semangat trus kak author ,, dtggu pakee banget update selanjut ny ,,
Bismillah langsung 5 bab🤭🤣🤣 ,,
sehat selalu kak ,,
🤭🤣
Istri mu gelisah nungguin kamu yang nggak pualng-pulang loh ...
mau di bungkus pake ap ni duo ulet sagu ,,
bikin rusuh aja ,,,
🤣🤣🤣🤣
kak author gmn cerita ny sih ,,
si ikan kembung lusy bisa ad di keluarga William ,,
ap tuan William selingkuh ap gmn ,,
/Smug//Smug/