NovelToon NovelToon
Jodoh Wasiat Suami

Jodoh Wasiat Suami

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:4.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: el nurmala

"Aku mau menjadi istrimu, hanya karena itu permintaan terakhir suamiku."
-Anna-

"Akupun mau menikahimu dan mengambil tanggung jawab atas anak itu hanya karena permintaan adikku."
-Niko-

Anna, wanita tunanetra berparas cantik yang sederhana mendapatkan donor mata dari suaminya yang meninggal saat usia pernikahan mereka baru beberapa minggu saja. Sebelum meninggal, suami Anna berwasiat agar Anna bersedia menikah dengan kakaknya, Niko.

Niko adalah pria tampan berhati dingin. Ia memiliki seorang kekasih, namun tidak ada niat untuk segera menikah.

Bagaimana kisah Anna dan Niko dalam menjalani kehidupan rumah tangganya?

Ada peristiwa apa di balik trauma yang di alami oleh Anna?

------------
Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat dan kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

keras kepala

Happy reading...

"Aku tidak mau, Nik. Aku tidak mau menyusuinya," sahut Anna tegas.

"Tapi kenapa, Anna? Clara putrimu. Dia..."

"Dia anak yang tidak ku inginkan, Niko. Aku beritahukan ini padamu. Bayi itu bukan anak Riko. Dia bukan keponakanmu," tegas Anna.

Niko terdiam. Dalam hati ia bergumam, "Kau benar Anna. Dia memang bukan keponakanku. Dia anakku, Anna. Anakku."

"Berhentilah bicara omong kosong. Kalau kau tidak ingin menyusuinya, setidaknya jangan bicara seperti itu." Niko memalingkan wajahnya. Ia berusaha menghibur bayinya sembari menunggu perawat datang.

"Aku bicara serius, Niko. Dengar, bayi itu bukan anak Riko. Apa kau tahu maksud dari ucapanku? Kau tidak harus menikahiku. Bantu aku mengatakannya dan meyakinkan keluargamu tentang hal ini. Dan kita tidak akan menikah. Bukankah itu yang kau inginkan?"

"Diamlah. Saat ini kau sedang mengalami apa yang di namakan baby blues. Anggap kau tidak mengatakan apapun dan aku juga tidak mendengarnya. Kau paham?" pinta Niko dengan tatapan yang menajam.

"Niko, aku..."

Kalimat Anna terhenti oleh suara pintu yang di buka perawat. Dan Niko bersyukur akan hal itu. Pria itu tidak ingin mendengar kenyataan lebih banyak lagi tentang Anna yang tidak menginginkan bayinya dan juga pernikahan mereka nanti.

Dua orang perawat datang menghampiri baby Clara. Mereka terlihat gemas memandangnya. Kemudian seorang perawat menghampiri Anna.

"Nyonya, saya akan memijat p*yudara anda agar ASI yang di hasilkannya lebik banyak. Dan anda bisa mengikuti cara-caranya untuk memudahkan anda melakukannya di rumah."

"Apa? A-apa itu harus?"

"Tentu, Nyonya. Pijatan ringan dan tepat bisa memperlancar bahkan memperbanyak produksi ASI."

Anna melirik pada Niko. Dan Niko yang mengerti arti lirikan Anna pun berkata, "Aku tidak akan melihatnya. Aku janji! Kau bisa percaya padaku."

Niko membelakangi Anna. Ia kemudian menawarkan diri untuk memegang botol susu Baby Clara. Sementara Anna juga duduk membelakangi Niko. Dan membiarkan perawat melakukan tugasnya.

Sesekali Anna terdengar meringis, dan entah kenapa Niko merasakan sensasi berbeda saat mendengarnya. Perawat itu dengan rinci menjelaskan cara memijat dan juga manfaatnya pada Anna.

Tidak ada tanggapan dari Anna. Wanita itu hanya diam saja mendengarkan. Sampai pada kalimat perawat yang mengatakan bahwa Anna bisa menggunakan tangan sendiri atau dengan breast pump (pompa ASI).

"Bagaimana penggunaan breast pump? Apakah lebih mudah?"

"Iya, Nyonya. Tapi bila menggunakan alat tersebut berarti bayi anda akan meminum ASInya dari botol susu. Biasanya di gunakan oleh ibu yang bekerja, atau tidak bisa menyusui bayinya secara langsung kerena sesuatu hal." Perawat itu menerangkan.

"Dimana aku bisa mendapatkannya?" tanya Anna antusias.

Niko yang mendengar hal itu, refleks berkomentar.

"Tapi, An.." Hampir saja Niko berbalik. Gerakannya terhenti oleh suara Anna.

"Niko. Aku bisa memegang janjimu kan?" tegur Anna.

"Baiklah, maafkan aku. Tapi aku tidak setuju kau menggunakan alat itu, Anna." Ujarnya.

"Aku tidak sedang meminta persetujuanmu."

"Anna.." Niko masih berusaha mengutarakan pendapatnya.

"Kecuali kau ingin bayi itu tetap meminum susu formula."

"Terserah kau saja," sahut Niko pasrah. Asalkan Baby Clara masih bisa meminum ASI, Niko akan biarkan Anna melakukan keinginannya.

Niko kemudian meminta perawat itu merinci barang apasaja yang harus di belinya selain breast pump.

"Suster, bisa saya pulang hari ini?" tanya Anna.

"Silahkan tanyakan pada Dokter Olivia. Saya tidak berwenang memulangkan anda, Nyonya."

"Baiklah, terima kasih."

***

Viona sedang menyiapkan sarapan untuk suami dan juga mertuanya. Ia terlihat anggun dalam balutan busananya yang sederhana. Wajahnya ceria, seolah tak mampu menutupi rasa bahagianya.

"Bi, Bibi punya saudari di Indonesia? Wajah Bibi mengingatkan saya pada ibunya Anna," ujar Viona.

"Ah, Nyonya bisa saja. Masa iya saya mirip dengan besan Nyonya."

"Benar lho, Bi."

Bi Ani memang belum mengetahui bahwa Anna anak seorang pelayan. Walaupun ia sering mendengar kata pelayan terlontar dari bibir Tuan Besar, Bi Ani tidak terpikirkan bahwa yang mereka bicarakan adalah ibunda Anna.

"Semangat sekali, Vi," ujar Murni yang baru saja menghampirinya.

"Iya, Bu. Saya sudah tidak sabar ingin melihat Baby Clara."

"Ibu juga akan ikut ke rumah sakit. Bagaimana denganmu?" tanya Murni pada suaminya.

"Aku ada rapat pagi ini," jawab Rahardian tanpa menoleh.

"Kau yakin? Baiklah, kau memang harus ke kantor. Karena sepertinya Niko tidak akan bekerja hari ini."

"Dimana Rian?" tanya Rahardian.

"Di halaman belakang," jawab Viona.

"Dia pasti sudah rindu suasana di halaman belakang. Kau ingat, dulu kau bahkan berdebat dengannya agar binatang-binantang itu mempunyai tempat disini," kenang Murni.

Wanita berumur itu terlihat cerah pagi ini. Tentu saja karena kehadiran anggota keluarganya yang utuh, tanpa Riko tentunya.

"Aku tidak menyangka mereka masih ada disana," ujar Rian yang sudah berada di ruangan itu.

"Memangnya kau ingin aku membuang mereka kemana, heh?" tanya Rahardian.

"Bukan begitu. Ku pikir waktu itu ayah langsung mengirim mereka ke tempat penangkaran hewan."

"Mereka ada disini karena keinginanmu. Jadi mereka harus pergi dari sini atas keinginanmu juga," sahut Rahardian.

"Terima kasih, Ayah."

***

Saat keluarganya tiba di rumah sakit, Niko pulang terlebih dahulu. Dalam perjalanan, ketegasan ucapan Anna saat mengatakan Baby Clara bukan anak Riko mengganggu pikirannya.

"Bagaimana kalau Anna mengatakan kebenarannya pada Papa atau Nenek? Dia sepertinya bertekad untuk tidak menikah denganku," gumam Niko.

Selama berada di rumah, Niko tidak merasa tenang. Ia bahkan mengurungkan niatnya untuk tidur sejenak di kamarnya. Niko pun kembali ke rumah sakit setelah membeli perlengkapan untuk menyusui Baby Clara.

Seorang babysitter sudah ada disana saat Niko datang. Rupanya Nenek sudah menyiapkannya untuk membantu Anna dalam mengurus bayinya. Nenek dan Mama Viona juga sepertinya tidak keberatan saat perawat mengajari Anna cara memompa ASI ke botol susu menggunakan breast pump.

Bukankah proses menyusui bisa lebih mendekatkan ibu dengan bayinya? Lalu kenapa Nenek dan Mama tidak keberatan dengan keputusan Anna?

"Ah, sudahlah. Ini lebih baik daripada tidak sama sekali," batin Niko.

Anna bersikeras ingin pulang hari ini. Baby Clara pulang bersama orang tuanya. Sedangkan Anna, pulang bersama Niko.

"Nik, aku ingin membicarakan tantang bayi itu," ujar Anna.

"Clara, An. Papa memberinya nama Clara. Apa kau sudah tidak menghargai orang tuaku? Aku juga sudah katakan padamu untuk tidak membicarakannya lagi," tegas Niko.

"Tapi anak itu, maksudku Clara memang bukan anak Riko, Nik. Apa kau tidak keberatan dengan hal itu?" tanya Anna heran. Bisa-bisanya Niko tidak mengacuhkan ucapannya. Padahal ini hal yang sangat serius.

"Dengar aku, jangan membicarakan hal ini lagi dengan siapapun! Atau akan ku minta seorang psikiater untuk memeriksa keadaanmu."

"Niko!"

"Kalau Clara bukan anak Riko, maka dia adalah anakku. Jadi mulai sekarang, jaga ucapanmu! Aku tidak ingin kata-kata yang keluar dari mulutmu menyakiti bayiku. Camkan itu!" Ujar Niko dengan suara bergetar. Degupan jantungnya yang meronta seakan hendak melompat dari dalam rongga dadanya.

Anna kini hanya bisa diam dengan sejuta rasa heran yang menyelimuti benaknya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Niko yang sepertinya mulai overprotektif terhadap Clara.

"Ada apa dengan Niko? Kenapa dia seperti itu? Sikapnya seakan Clara benar-benar anaknya," batin Anna.

1
juwita
ini kaya ngirim ke kandang singa
juwita
ko di biarka ke amrik sm niko udh tau niko angkuh sombong. trs di Amerika jg niko mau di jodohkan sm cwek lain. kasihan anna sendirian mn dia blm tau dunia luar lg
juwita
harusnya si niko yg meninggal jhn riko. kasihan anna
juwita
mampir
Endang Sulistia
bagus....
Endang Sulistia
papa Rian Ama mama viona majikan tapi perlakuan kayak keluarga ..
Endang Sulistia
bisa aja si ana
Endang Sulistia
ana korban ,trauma berat cuma Riko yg dampingi..Riko udah g ada, mentalnya kembali drop...
Duwie Sartika
walah baik nya km Riko, syng ga panjang umur kisah mu disini
Sri Ariyanti
ok
Ridwan
Luar biasa
Maizaton Othman
Saya sukaaaaaaaaaaaa
snow Dzero
good
Sofi Saja
sedih banget, begitu besarnya cinta Niko../Cry/
Sofi Saja
sedih banget ngebayangin Riko../Cry/
Dyah Shinta
lumayan
Dyah Shinta
lama2 sebel juga sama Ana
Nanina_
Please nangis bangettt 😭😭😭
Atika Darmawati
ok
Meirina Aulia
Kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!