[Di sarankan membaca Transmigrasi Istri Pemburu Season 1 terlebih dahulu]
↓↓
Sesama Reinkarnasi yang mencari misteri kisah kehidupan masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kejutan
"Coba kau menggendongnya." Ucap Yue.
"Aku takut akan menjatuhkannya." Ucap Yuwen.
"Tidak mungkin, kau kan Ayahnya." Yue tersenyum hangat.
Yuwen dengan kaku menerima bayi kecil itu, terasa sangat kecil di tangannya. Yi'er menendang-nendang kakinya sambil tersenyum manis, dia terlihat kesenangan.
"Wah lihat itu, dia bahkan tidak seperti itu saat aku menggendongnya." Yue pura-pura merajuk.
"Ahahaha." Yuwen tertawa karena merasa geli.
"Setelah ini kalian bisa kembali setelah turun bukit dan melewati satu desa untuk sampai ke perkotaan. Sampai di kota kalian bisa naik kereta kuda menuju rumah kalian." Ucap Rumas.
"Terimakasih banyak atas bantuan kalian, lalu bagiamana dengan sisa ritual ini? apa harus di bersihkan?." Tanya Yue.
"Aku akan menghancurkannya tanpa sisa." Jawab Rumas.
Rumas mengibaskan salah satu ekornya, lalu dalam sekejap api menyambar dan membakar semua sisa ritual termasuk cangkang telur phoenix.
Selesai membersihkan semua jejak, Rumas kembali masuk ke dalam kalung giok di leher Yuwen. Yue dan Yuwen juga langsung keluar dari gua, bersiap turun bukit untuk kembali ke rumah mereka.
Yi'er masih berada di gendongan Yuwen, anak itu terlihat tidur dengan lelap. Sebenarnya Yi'er saat ini sangat bau amis, bahkan Yue sempat mual karena bau yang terlalu menyengat.
"Kita mandikan Yi'er disini." Ucap Yuwen menunjuk mata air kecil.
"Ide bagus." Yue mengangguk cepat.
Yuwen dan Yi'er sama-sama membersihkan selaput yang ada pada tubuh Yi'er. Mereka menggosok sampai bersih dan tidak berbau lagi, Yue menggunakan daun dan beberapa kelopak bunga sebagai pengganti sabun.
"Ahahahahahhahaha dingin."
Deg.
Yuwen dan Yue mematung, bagiamana tidak? bayi yang tadinya begitu kecil tiba-tiba membesar dan bisa berlarian sambil tertawa. Yi'er tumbuh menjadi balita dalam waktu kurang dari satu jam setelah menetas, Yue bahkan sampai serangan jantung.
"Anjir, gue lupa dia bukan manusia." Batin Yue syok parah.
"Burungnya kecil sekali." Batin Yuwen, melihat burung Yi'er gondal-gandul.
"Kenapa malah bengong! Tangkap anakmu itu." Omel Yue.
Yuwen berdiri dan menangkap Yi'er seperti kucing, Yi'er di bungkus menggunakan Hanfu luar milik Yuwen. Setelah itu di gendong oleh Yuwen dengan kaku.
"Ayah." Panggil Yi'er, suaranya melengking lucu.
"Kenapa?." Yuwen merasa malu dengan panggilan itu.
"Ayah." Ulang Yi'er.
"Ada apa?." Yuwen merasa bingung.
Yi'er hanya tersenyum lucu sambil menatap penuh binar pada Yuwen, lalu kemudian menatap Yue dan melakukan hal yang sama. Yue tersenyum hangat, dia mengerti jika Yi'er sedang merasa sangat bahagia.
"Kita akan membeli baju baru untuk Yi'er setelah turun bukit nanti." Yue mengelus rambut Yi'er.
"Iya." Yi'er mengangguk lucu.
"Yi'er sesenang itu bertemu lagi dengan Ayah dan Ibu?." Yue tersenyum manis, kebahagiaan Yi'er menular padanya.
"Senang!!!." Pekik Yi'er keras.
"Berhenti bergerak-gerak, kau bisa jatuh nanti." Yuwen membenahi posisi Yi'er.
Yi'er memeluk leher Yuwen dengan manja, Yuwen merasa geli dan ingin tertawa tapi dia menahannya. Yue menggandeng lengan Yuwen dan mereka turun bukit bersama dengan kebahagiaan baru.
Untunglah bukit tidak terlalu tinggi dan jalan yang di lalui tidak terlalu terjal. Saat melewati pedesaan juga mereka tidak terlalu kesulitan karena ada jalan pintas, berjalan bersama di perbukitan seperti ini membuat Yue dan Yuwen nostalgia masalalu.
"Dulu kita pernah hidup di gunung dan sering berjalan jauh hanya untuk ke pasar kota." Gumam Yuwen.
"Hahah itu benar." Yue tersenyum mengingatnya.
"Apa kau ingin merasakan hidup di gunung lagi?." Tanya Yuwen.
"Tidak sih, aku ingin hidup di kota selagi ada kesempatan." Yue menolak dengan halus.
"Hahahaha, aku pikir aku menyukai ketenangan hutan." Yuwen tertawa geli.
"Yahh memang benar sih, hutan itu tenang tapi juga menakutkan. Apa Yi'er tertidur?." Ujar Yue.
"Sudah sejak melewati desa tadi dia tertidur, jujur aku masih belum terbiasa menggendong anak kecil begitu dekat seperti ini." Ucap Yuwen.
"Kenapa? bukankah menyenangkan?." Yue tersenyum penuh arti.
"Yaa aku akui ini terasa menyenangkan dan membuat hatiku bahagia. Tapi ini cukup aneh karena di usia 18 tahun aku sudah memiliki anak berusia 5 tahun." Jujur Yuwen.
"Apalagi aku? saat ini usiaku baru 16 tahun." Seluruh Yue.
"Apa kita bisa menjadi orangtua yang baik?." Yuwen merasa ragu.
"Tentu saja, saat melihat Yi'er entah kenapa sifat keibuan ku muncul begitu saja." Jujur Yue.
"Kau benar, aku juga merasa dia sangat lucu dan menggemaskan. Apalagi saat dia memanggilku, entah kenapa perutku terasa geli dan membuatku ingin tersenyum." Yuwen berkata jujur.
"Hahahah, sampai saat ini Yi'er belum memanggilku dan hanya memanggilmu saja. Bukankah dia pilih kasih? aku jadi sedih." Ucap Yue iri.
"Wahh sayang sekali ya." Yuwen merasa sombong.
Keduanya terus bercengkrama membahas hal sederhana. Tidak terasa mereka sampai di perkotaan, Yue membeli baju anak-anak dan bakpao daging. Setelah itu mereka naik transportasi umum yaitu kereta kuda, menuju rumah Yuwen (Guild serigala darah).
"Eunhh......." Yi'er terbangun dari tidurnya.
Yi'er meregangkan tubuhnya dengan lucu, setelah itu mengerjapkan mata bulatnya sambil menguap lebar. Yuwen melihat dengan seksama, merasa ekspresi Yi'er sangat lucu dan menggemaskan.
"Sekarang aku tau kenapa Yuwen selalu mengatakan Putranya sangat manis, dia benar-benar imut." Batin Yuwen mengagumi.
"Ayah." Rengek Yi'er.
"Hmm?." Yuwen berdehem lembut.
"Lapar." Ucap Yi'er.
"Ini, maaf ya Ibu hanya membeli bakpao daging untuk menemani perjalanan kita." Yue memberikan satu bakpao daging.
"Terimakasih Ibu." Ucap Yi'er lucu.
"Aaaa panggil sekali lagi Yi'er." Yue merasa senang tapi kurang.
"Ibu~." Ucap Yi'er mendayu-dayu.
"Aaaaaaaakkkkkkhhhhh imut banget." Batin Yue memekik.
Yi'er makan dengan tenang dan lahap, masih berada di pangkuan Yuwen. Yuwen terus mengamati bagaimana Yi'er makan, mengunyah, menelan bahkan jari jemari mungilnya saat memegang bakpao.
Yuwen merasa Yi'er terlalu imut dan dia jadi ingin memakannya, Yue sendiri sejak tadi terus mencolek pipi merah Yi'er. Saat Yue bersandar pada bahu kokoh Yuwen, Yi'er pasti akan merengek dan merajuk.
"Hey, ini suami Ibu tau." Yue pura-pura kesal.
"Ini Ayah Yi'er." Ucap Yi'er posesif.
"Bukan, ini suami Ibu." Yue sengaja menggoda.
"Suami Ibu itu Ayah Yi'er." Kukuh Yi'er.
"Yuwen.. siapa yang kau pilih?." Yue menatap dengan sedih.
"Aku pilih semuanya." Ucap Yuwen bingung sendiri.
Yue dan Yi'er terus saja berdebat, Yuwen hanya di bagian mengamati dan mendengarkan saja. Dia sendiri bingung kenapa Yi'er begitu manja padanya, padahal seharusnya anak laki-laki itu lebih manja pada Ibunya.
"Lihat aja nanti, kalo gue punya anak cewek dia pasti bakal jadi BESTie gue." Batin Yue kesal, karena dijadikan Second choice.
kira² apa ya yg mau disampaikan yuwen dewasa 🤔🤔
pinter juga yue jadi bisa me time terus 🤣🤣🤣😁😁😁😆😆