Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Mas kawin
Kami berdua mengobrol cukup lama, sampai tengah malam lewat baru aku masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
Saat pagi aku bangun dan keluar dari kamar, tentunya setelah selesai mandi dan rapi. Tapi ada yang aneh saat aku merasa semua orang yang berpapasan denganku, selalu tersenyum jahil atau meledekku.
Sampai aku ketemu kak Naya yang baru keluar dari kamar, dengan ekspresi sama seperti yang lain. Ekspedisi usil dan jahil menggoda, membuatku bertanya ada apa.
"Ya Tuhan, ternyata mereka semua sedang menggodaku." ujarku setelah kak Naya memperlihatkan fotoku dan Pak Rama, foto yang sengaja di kirim di grup keluarga.
Entah siapa yang ngambil fotoku dan pak Rama, yang terlihat sangat intim dari belakang meski hanya gambar punggung bukan wajah kami.
Dalam foto terlihat seolah aku sedang menyandarkan kepalaku pada bahu pak Rama, dan kepala pak Rama juga miring seolah bersandar pada kepalaku.
"Ya Tuhan, pantas dari pagi semua pada senyum tidak jelas padaku. Ternyata ini adalah penyebabnya, padahal tidak seintim yang terlihat dari belakang." keluhku.
"Sepertinya ini saat kami gak sengaja memiringkan kepala."
"Hahahaha, gak sengaja tapi terlihat intim dan mesra. Tapi gak apa-apa, kalian serasi kok."
"Apaan sih kak, gak gitu kok yang sebenarnya."
"Sudah tenang, gak hanya aku semua sudah setuju dengan hubungan kalian kok." tawa kecil kak Naya, membuatku memutar bola mata malas.
"Kapan kamu siap, maka papa dan mama akan langsung bergerak melamarmu." godanya lagi, dengan menaik turunkan alisnya kearahku.
"Gak usah lamaran, aku mah maunya langsung ijab Sah." kataku dengan menegaskan kata sah, karena kesal di ledeki terus sama kak Naya.
"Yang bener gak mau lamaran, nieeee." ledeknya lagi.
"Buat apa lamaran, pemborosan anggaran. Lebih baik ke intinya aja, bukannya yang baik harus di segerakan ya, kata pak ustadz." ucapku menanggapi ledekan kak Naya, sejak memperlihatkan foto itu.
"Kamu jual aku beli, dari tadi ngeledekin aku gak ada habisnya ya sudah sekalian aja tanggapin biar puas sekalian." pikirku.
"Bener pemborosan, dari pada buat lamaran mending duitnya buat tambah mas kawin ya."
"Iya benar, karena aku penyuka uang."
"Bodoamat di bilang matre, atau mata duitan, biar kamu gak setuju aku jadi adik ipar mu," sambung ku di dalam hati.
"Betul, kita sebagai perempuan emang harus gitu, realities. Tanpa uang kita ga bisa hidup, ke toilet aja kita bayar."
Aku langsung bengong dengan mengerjapkan mataku mendengar ucapan kak Naya, yang malah bicara begitu.
"Mintalah mas kawin yang banyak, mas berlian atau rumah beserta isinya,"
"Tentunya kak, aku akan minta mas kawin rumah beserta isinya, alat transportasi dan tabungan ratusan juta. Biar adik kak Naya bekerja keras untuk memenuhi semua permintaan ku, saat kami nikah nanti." ucapku menggebu-gebu, membuat kak Naya malah tertawa renyah.
"Wahhh harus siap kerja keras banting tulang nie, calon suamimu." goda salah satu sepupu pak Rama yang ternyata mendengarkan ucapanku, membuatku reflek melihat kearah sumber suara.
"Mampus," gumamku, yang ternyata tidak hanya ada sepupunya, tapi juga pak Rama dan nenek Alya yang.
"Tidak apa-apa, kalau neneknya ilfil itu lebih bagus, kamu akan di suruh menjauh dari cucunya."
"Eh nenek," cengir ku.
"Kalau Rama bisa menyiapkan sekarang, berani nikah sekarang?"
"Hah!" kagetku dengan pertanyaan nenek.
" Kamu ketahuan banget kalau sengaja menunda pernikahan," kelakar kak Naya.
Aku yang sempat merasa nenek akan membenciku, langsung di buat melongo dengan kalimat kak Naya dan nenek.
"Emang kelihatan, ya," gumamku.
"Sangat, dasar masih polos, gak bisa berbohong dan pura-pura." ujar pak Rama sambil menyentil keningku.
"Belum jadi istri sudah KDRT," kesalku dengan mengusap keningku.
Pak Rama tidak merespon ucapanku, hanya langsung duduk di sampingku membuatku duduk di apit Kak Naya dan pak Rama.
"Bukannya semalam kamu bilang mau nikah denganku, kalau mau sekarang aja selagi di sini banyak donatur." santai pak Rama membuatku melongo dan yang lain tertawa.
"Benarkan, kamu sendiri yang bilang semalam." ulang pak Rama membuatku ingin menabok bibirnya, yang ember dan asal ceplos itu.
"Bapak berani gak menikah dengan samm." aku langsung bekap mulutnya pak Rama, yang membuat semua malah menggodaku.
"Cie cie cie....."
"Sudah nikahkan saja, daripada bikin banyak dosa, masih pagi sudah pegang-pegang bibir."
"Apaan sihh, bukan gitu."
"Nenek dari kakek akan siapkan dana untuk rumah dan isinya, kalian tinggi pilih mau beli rumah di mana."
"Hah, ini mau beli rumah apa beli rumah-rumahan." ujarku di dalam hati tidak percaya.
"Tu sudah ada rumah, nanti kendaraan dari papa, Rama tinggal modal tabungan aja." kelakar Kak Naya.
"Sudah sana panggil penghulunya," canda sepupu pak Rama.
"Sana panggil! Aku akan bilang mertuaku, untuk ijab kabul sekarang sebagai kado ulang tahun nenek."
"Apaaan sih," malu ku dengan mencubit pinggang pak Rama, yang malah jadi bahan tertawaan.
"Pagi ini kamu sudah pegang-pegang aku dua kali lo, ya. Tadi bibir, sekarang pinggang nanti siang apa lagi?"
"Nanti siang masuk kamar pengantin, setelah ijab kabul." suara tawa langsung terdengar mendengar ucapan kak Naya.
"Sudah godaannya, lihat wajah Lina jadi merah, nanti kalau ngambek terus gak mau sama cucuku bagaimana, karena kalian bully."
"Karena itu selagi di sini, nikahkan saja mereka. Nikah siri dulu yang penting sah di mata agama, daripada bikin dosa."
"Bikin dosa apa, kami gak ngapa-ngapain ya kak," protes ku, dengan candaan kak Naya.
"Gak ngapa-ngapain, tapi duduk berdua dengan saling bersandar, pegang-pegang bibir."
"YA Tuhan, keluarga pak Rama begitu heboh, kenapa pak Rama tetap berwajah datar tanpa terpengaruh." kesalku di dalam hati, melihat pak Rama yang santai tanpa terganggu dengan ledekan itu.
"Sudah-sudah bercandanya, ayo kita sarapan dulu semua sudah siap di meja makan!" teriak tante Nay, adik pak Rama.
"Ayo sarapan bersama, sebelum kalian jalan-jalan!" sambung nenek.
Semua orang langsung berdiri termasuk aku, tapi tanganku langsung di cegah pak Rama.
"Ada apa pak?"
"Gara-gara foto itu, nenek meminta kita nikah secepatnya."
"Apa! Yang benar aja, pak."
Pak Rama mengangguk pelan, "bukannya semalam kamu mempertanyakan keberanian ku untuk menikahimu?"
"Itu hanya pertanyaan impulsif, pak."
"Tapi itu juga saling menguntungkan buat kita, jika kamu tak yakin kita bisa buat perjanjian pra nikah."
"Bapak yakin mau nikah dengan saya?"
"Nenek memintaku menikah sebelum pergi ke luar negeri untuk lanjut S2. Nenek takut aku terjerumus pergaulan bebas di luar negeri, seolah aku ini masih remaja SMA aja." keluh pak Rama, sambil memijat hidungnya.
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in