NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020

Datang ke Polsek

Bryan: Kevin dibawa ke Polsek. Gue sama dia. Datang sekarang.

Sekar membaca pesan itu di depan ruang tutor.

Untuk satu detik, semua suara di sekitarnya hilang. Yola yang sedang memasukkan buku ke tas masih berbicara, Steven menutup laptop, Bu Wati memanggil beberapa siswa untuk merapikan kursi. Tetapi bagi Sekar, layar ponselnya seperti menyala terlalu terang.

Kevin.

Polsek.

"Sekar?" Yola menyentuh lengannya. "Ada apa?"

Sekar menyerahkan ponsel tanpa suara.

Wajah Yola langsung berubah.

"Aku ikut."

"Aku juga," kata Steven.

Sekar menggeleng sambil mengambil tasnya. Tangannya gemetar, tetapi pikirannya mendadak sangat jernih. "Yola, tolong bilang Bu Wati aku pulang karena urusan darurat. Steven, kamu bisa cari tahu Polsek mana dari Bryan? Aku pesan ojek sekarang."

Yola menatapnya. "Lo yakin sendirian?"

"Aku harus cepat."

Lima menit kemudian, Sekar sudah berada di atas ojek online, menggenggam ponsel dengan kedua tangan. Angin sore menampar wajahnya. Jalanan macet. Lampu merah terasa lebih lama dari biasanya. Ia membaca pesan Bryan lagi dan lagi, lalu menelepon.

Bryan mengangkat dengan suara panik tertahan.

"Kak Sekar?"

"Polsek mana?"

Bryan menyebut nama Polsek kecil dekat jalan raya. "Jangan panik, ya. Kevin nggak parah. Cuma bibirnya..."

"Bibirnya kenapa?"

"Kena pukul sedikit."

Sekar menutup mata. Napasnya terasa tajam.

"Dia yang mulai?"

Bryan langsung menjawab, "Bukan. Mereka yang cari masalah. Mereka hina lo, terus salah satu narik kerah gue. Bro cuma..."

Suara Bryan berhenti, mungkin karena melihat Kevin.

Sekar membuka mata. "Bryan, dengar. Jangan berdebat dengan petugas. Ceritakan urut. Siapa yang menghina, siapa yang menarik kerahmu, siapa yang memukul duluan. Aku sampai sepuluh menit lagi."

Bryan terdiam sejenak. "Oke."

"Dan jangan biarkan Kevin pulang sebelum aku sampai."

"Itu bagian tersulit."

"Paksa."

Saat Sekar tiba di Polsek, langit sudah mulai gelap. Lampu teras menyala kuning. Di halaman, beberapa motor terparkir miring. Ia turun dari ojek sebelum motor benar-benar berhenti, hampir tersandung, lalu berlari ke ruang tunggu.

Bryan berdiri lebih dulu.

"Kak Sekar."

Sekar melihat melewati bahunya.

Kevin duduk di kursi plastik dekat dinding. Kemeja olahraganya masih kusut, rambut birunya berantakan, sudut bibirnya merah dan sedikit pecah. Ia menunduk, kedua tangan bertaut di antara lutut.

Ia terlihat lebih kecil daripada biasanya.

Sekar merasa sesuatu di dadanya retak.

"Kev."

Kevin mengangkat kepala.

Reaksi pertamanya bukan lega.

Ia justru langsung berdiri, wajahnya menegang. "Kenapa lo datang?"

Kalimat itu menusuk, tetapi Sekar tahu bukan itu yang ia maksud.

Ia tidak bertanya kenapa Sekar peduli. Ia bertanya kenapa Sekar harus melihatnya seperti ini.

Sekar berjalan mendekat. "Karena kamu di sini."

"Gue bisa urus."

"Aku tahu."

"Terus kenapa datang?"

Sekar berhenti tepat di depannya. Ia mengangkat tangan, tetapi tidak langsung menyentuh luka di bibir Kevin. "Karena aku pacarmu."

Bryan mendadak menatap lantai, pura-pura tidak mendengar.

Kevin mengalihkan wajah. "Ini bukan tempat buat lo."

"Tempatku di mana kamu butuh aku."

Kevin terdiam.

Sebelum ia bisa membalas, seorang petugas memanggil mereka untuk memberi keterangan. Sekar menarik napas dan memutar tubuh. Wajahnya yang tadi hampir pecah berubah tenang.

"Pak, saya Sekar. Saya tidak melihat kejadian langsung, tapi saya bisa membantu menghubungi wali kelas dan saksi dari sekolah. Teman saya Bryan ada di lokasi."

Petugas itu menatapnya, mungkin terkejut melihat siswi berseragam berbicara setenang itu. "Kamu keluarga?"

"Pacar."

Kevin menutup mata sebentar.

Bryan batuk kecil.

Petugas tampak ingin berkomentar, tetapi Sekar melanjutkan lebih dulu.

"Kami masih siswa. Kalau perlu wali sekolah, saya bisa hubungi Bu Wati atau Pak Arief. Tapi untuk kejadian di jalan, Bryan bisa menjelaskan urutan. Ada kemungkinan CCTV ruko atau saksi pedagang di lokasi."

Petugas itu akhirnya mengangguk. "Duduk dulu. Jangan ramai."

Sekar duduk di samping Kevin.

Tidak terlalu dekat sampai mengganggu petugas, tetapi cukup dekat agar lutut mereka hampir bersentuhan. Ia membuka tisu basah dari tasnya dan menyodorkannya.

Kevin tidak mengambil.

"Kev."

"Nanti."

"Sekarang."

Kevin menatapnya. Sekar menatap balik.

Bryan berbisik, "Bro, kalau gue jadi lo, gue ambil. Nada Kak Sekar lebih seram dari polisi."

Kevin akhirnya mengambil tisu itu.

Sekar melihat ia menyeka sudut bibirnya terlalu kasar.

"Pelan."

Tangannya berhenti.

Sekar mengambil tisu itu kembali, lalu dengan hati-hati membersihkan darah kecil di sudut bibirnya. Kevin membeku. Jarak mereka dekat, terlalu dekat untuk ruang tunggu Polsek, tetapi Sekar tidak peduli. Ia hanya melihat luka itu dan menahan marah.

"Sakit?"

"Nggak."

"Bohong."

"Sedikit."

"Siapa yang pukul duluan?"

Kevin menatap lantai. "Mereka."

"Kamu pukul balik?"

"Iya."

Sekar mengangguk. "Oke."

Kevin mengangkat mata. "Oke?"

"Aku tidak bilang kamu benar memukul. Tapi aku tahu kamu tidak mencari masalah duluan."

Kevin tertawa kecil tanpa suara. Tidak ada senang di sana.

"Bedanya apa? Ujungnya tetap gue di Polsek."

Sekar ingin menjawab, tetapi petugas memanggil Bryan lebih dulu untuk memberi keterangan. Bryan berdiri, menatap Kevin dan Sekar bergantian, lalu masuk ke meja petugas.

Ruang tunggu menjadi lebih sepi.

Ponsel Sekar bergetar.

Yola: Aku sudah kasih tahu Bu Wati. Pak Arief juga otw ke Polsek.

Yola: Jangan sendirian. Aku sama Steven nyusul kalau boleh.

Sekar membaca pesan itu, lalu membalas singkat.

Sekar: Tunggu dulu di sekolah. Aku kabari.

Kevin melihat layar ponselnya dari sudut mata. Wajahnya langsung berubah.

"Lo bilang guru?"

"Yola yang bilang. Dan itu perlu. Kita masih siswa."

"Makin banyak orang tahu."

"Yang tahu harus orang yang bisa membantu, bukan orang yang menghakimi."

Kevin tertawa kecil, pahit. "Bedanya tipis buat gue."

Kevin menarik tangannya dari dekat Sekar.

"Lo harusnya nggak datang."

"Aku sudah datang."

"Sekar, lihat gue." Suaranya rendah. "Baru kemarin nama gue dibersihin. Hari ini gue duduk di Polsek karena berantem. Orang-orang benar tentang gue."

Dada Sekar menegang.

Inilah yang ia takutkan. Bukan petugas. Bukan laporan. Bukan pemuda bertopi itu.

Melainkan suara Kevin yang mulai percaya bahwa dirinya memang masalah.

Sekar menggenggam buku biru di tasnya sampai jarinya sakit, lalu menatap Kevin tanpa berkedip.

"Kalau orang-orang benar, aku tidak akan ada di sini."

Kevin menoleh, tetapi matanya tidak berani lama-lama bertemu dengannya.

"Aku datang bukan karena kamu sempurna," kata Sekar pelan. "Aku datang karena kamu Kevin."

Untuk sesaat, rahang Kevin bergerak seperti ia menahan sesuatu.

Lalu petugas memanggil namanya.

Kevin berdiri.

Sebelum masuk, ia berkata tanpa melihat Sekar, "Itu justru masalahnya."

Sekar membeku.

Kevin masuk ke ruang keterangan, meninggalkan kalimat itu menggantung di ruang tunggu Polsek seperti awan gelap yang belum pecah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!