NovelToon NovelToon
Menikahi Sang Pewari

Menikahi Sang Pewari

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Canggung

Kabar dari Pak Budiman datang dua hari setelah gala dinner.

Dia mengirim pesan kepada Ko Jefri: Dewan Kesenian Jakarta akan mengadakan showcase kecil untuk kurator dan sponsor seni bulan depan. Sanggar Tari Jefri diminta mengirim satu karya pendek. Ko Jefri meneruskan pesan itu ke grup penari dengan satu kalimat.

Ko Jefri: Kita tidak panik. Kita bekerja.

Lara langsung membalas.

Lara: Itu kalimat orang yang panik tapi ingin terlihat bijak.

Senja tertawa saat membacanya di ruang keluarga.

Rayhan yang duduk di sofa seberang mengangkat wajah dari laptop. "Apa?"

"Ko Jefri panik."

"Tentang?"

"Showcase Dewan Kesenian. Kami diminta mengirim karya pendek."

Rayhan menutup laptop setengah. "Kamu tampil?"

"Belum diputuskan."

"Kamu ingin?"

Pertanyaan itu membuat Senja berhenti.

Dulu, orang biasanya bertanya apakah dia bisa, apakah dia diizinkan, apakah jadwalnya tidak mengganggu. Rayhan bertanya apakah dia ingin.

"Iya," jawabnya.

"Kalau begitu ambil."

Sederhana sekali.

Senja memandangnya. "Tidak semua hal bisa diambil hanya karena aku ingin."

"Benar. Tapi keinginan membuatmu bergerak lebih dulu."

Dia kembali membuka laptop, seolah baru saja tidak mengatakan sesuatu yang akan Senja simpan lama-lama.

Showcase itu membuat jadwal sanggar berubah. Latihan tambahan dimulai. Ko Jefri memilih Senja untuk karya pendek berjudul Tubuh yang Mengingat. Gerakannya memadukan Bedhaya yang tertahan dengan jatuhan kontemporer yang lebih bebas. Senja menyukainya sejak hitungan pertama.

Sore itu Pak Budiman datang bersama dua staf muda dari Dewan Kesenian. Mereka tidak membawa rombongan besar, hanya map tipis, botol air mineral, dan tatapan orang-orang yang terbiasa menilai panggung dari sudut kursi penonton.

"Coba bagian tengah," kata Ko Jefri kepada Senja.

Senja sempat melihat ke arah Lara.

Lara mengangkat dua jempol tanpa suara.

Musik diputar. Senja mengambil posisi. Gerakan pertama dimulai dari telapak tangan yang menutup dada, lalu perlahan terbuka seperti seseorang yang ragu menunjukkan luka. Pada hitungan keenam, tubuhnya jatuh ke samping, lutut hampir menyentuh lantai, tetapi tangan kirinya tetap menggantung di udara.

Saat musik berhenti, ruang latihan ikut diam.

Pak Budiman menutup mapnya. "Kamu sering menahan diri."

Senja menunduk otomatis. "Maaf, Pak. Saya ulang?"

"Bukan begitu." Pak Budiman tersenyum tipis. "Justru tahanan itu yang menarik. Tapi jangan menari seperti sedang minta izin untuk terlihat. Panggung kecil tetap panggung. Kalau namamu sudah masuk rundown, ambil ruangnya."

Kalimat itu menempel di telinga Senja sampai latihan selesai.

Ko Jefri tidak membiarkannya terlalu lama mabuk pujian. "Besok datang tiga puluh menit lebih awal. Kita bersihkan transisi kedua."

"Baik, Ko."

Di dekat dispenser, Lara menyodorkan botol minum. "Dengar, ya. Bukan cuma suami CEO yang bilang kamu boleh ambil tempat. Orang Dewan Kesenian juga bilang."

Senja mencubit lengan Lara pelan. "Jangan mulai."

"Aku belum mulai. Kalau mulai, aku akan minta poster kamu dipasang di depan sanggar."

Senja tertawa, tetapi ketika dia melihat lembar rundown sementara di meja Ko Jefri, tawanya mengecil. Di sana tertulis rapi: Senja Liem, Sanggar Tari Jefri.

Nama yang dulu selalu dipakai orang lain untuk menagih utang rasa syukur kini berdiri sendiri di atas kertas acara.

Namun latihan tambahan berarti tubuhnya lebih sering lelah.

Dan setiap kali dia pulang, Rayhan bertanya hal yang sama.

"Makan?"

"Sudah."

"Berapa?"

"Cukup."

"Cukup bukan angka."

Kadang Senja kesal. Kadang dia merasa diperhatikan. Kadang dua-duanya datang bersamaan, seperti hujan dan panas Jakarta.

Malam sebelum fitting kostum showcase, Senja mencoba kostum latihan di kamar. Ko Jefri meminta semua penari memastikan potongan kain tidak mengganggu gerak. Kostum itu berupa atasan putih tulang dengan kain lilit biru gelap, sederhana tetapi mengikuti garis tubuh.

Masalahnya, kait kecil di bagian belakang leher tersangkut.

Senja mencoba meraihnya sendiri. Tidak bisa.

Dia memutar bahu. Masih tidak bisa.

Di kamar mandi, cermin hanya menunjukkan sebagian. Rambutnya sudah diangkat ke depan, membuat tengkuknya terbuka. Tanda lahir di belakang leher terlihat samar.

Pintu kamar diketuk.

"Senja?"

Rayhan.

Dia panik dan hampir menjatuhkan peniti.

"Sebentar!"

"Pak Hadi bilang kamu belum turun makan."

"Aku akan turun."

"Kamu bilang itu dua puluh menit lalu."

Senja menutup mata. "Aku ada masalah kecil."

Diam sebentar.

"Masalah kecil seperti apa?"

"Kait kostum."

Kalimat itu keluar sebelum dia menyadari akibatnya.

Di luar pintu, Rayhan juga diam.

Udara di kamar mendadak berubah.

"Panggil pelayan perempuan," katanya akhirnya.

"Mereka sedang membantu dapur. Aku bisa..."

Kait itu bergerak dan justru tersangkut lebih parah. Senja meringis.

"Senja?"

"Tidak apa-apa."

"Kalimat itu."

Dia menghela napas. "Baik. Tolong panggilkan Rina."

"Rina pulang lebih awal. Anaknya kontrol."

Tentu saja.

Senja menatap pantulan dirinya di cermin. Pilihannya hanya terus berjuang sampai kain rusak atau meminta bantuan pria yang menciumnya tiga malam lalu dan sejak itu membuat koridor terasa seperti teka-teki.

"Rayhan," katanya, suara lebih kecil. "Bisa bantu? Tapi jangan masuk kalau..."

"Aku masuk kalau kamu bilang boleh."

Senja membuka pintu sedikit, cukup untuk melihat wajahnya.

Rayhan berdiri di luar, satu tangan di saku, ekspresi terlalu terkendali.

"Boleh," kata Senja.

Dia masuk.

Kamar itu tiba-tiba terasa lebih kecil.

Senja berdiri membelakangi cermin, rambut disampirkan ke depan bahu. "Kaitnya di belakang. Tersangkut di benang."

Rayhan berhenti satu langkah di belakangnya.

"Aku akan menyentuh kainnya."

"Iya."

"Bukan kulitmu."

Kalimat itu membuat wajah Senja panas. "Iya."

Rayhan mengangkat tangan. Jari-jarinya menyentuh kain di bagian belakang leher dengan sangat hati-hati. Dia benar-benar berusaha tidak menyentuh kulit. Justru karena itu, setiap gerakan kecil terasa lebih jelas.

Senja menatap cermin. Dari pantulan, dia melihat wajah Rayhan yang fokus, rahangnya tegang, matanya tidak sekali pun turun lebih dari kait kostum.

Entah kenapa, kehati-hatian itu lebih membuat dadanya kacau daripada kalau dia bersikap biasa saja.

"Jangan bergerak," kata Rayhan.

"Aku tidak bergerak."

"Kamu menahan napas."

"Itu bergerak?"

"Untuk orang yang sedang membuka kait, iya."

Senja hampir tertawa, tetapi tawa itu tertahan ketika jari Rayhan tidak sengaja menyentuh tengkuknya.

Sentuhan itu sangat ringan.

Tubuh Senja tetap merasakannya seperti cahaya yang jatuh tepat di kulit.

Rayhan juga berhenti.

Satu detik.

Lalu kait itu terlepas.

Dia mundur setengah langkah. "Selesai."

Senja memegang bagian depan kostum. "Terima kasih."

"Ganti baju. Makan malam sudah dingin."

Nada itu kembali seperti biasa, tetapi suara Rayhan sedikit lebih rendah.

Dia keluar sebelum Senja sempat melihat wajahnya lagi.

Senja menutup pintu, lalu bersandar di baliknya.

Di cermin, tanda lahir di belakang lehernya masih terlihat sebelum dia menurunkan rambut.

Dia menyentuh tempat yang tadi hampir disentuh Rayhan.

Tiga bulan.

Perjanjian itu masih ada. Batas itu masih jelas. Namun malam itu, batas tersebut tidak lagi terasa seperti garis dingin di atas kertas.

Rasanya seperti sesuatu yang mereka berdua berdiri di depannya, sama-sama sadar, sama-sama menunggu siapa yang akan bernapas lebih dulu.

1
D..
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!