NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015

Hari terakhir perjanjian datang tanpa pengumuman besar.

Tidak ada pesan pagi dari Meiran. Tidak ada kopi yang harus dibeli, tidak ada map yang harus dibawa, tidak ada maket yang harus diselamatkan dari kabel terbalik. Kalender di ponsel Hafeng hanya menunjukkan tanggal biasa, tetapi bagi seluruh grup angkatan, hari itu sudah diberi nama sendiri.

`Hari pembebasan Lo Hafeng.`

Chiko mengirim stiker kembang api ke ruang chat.

Hafeng membalas dengan satu kata.

`Norak.`

Namun pukul tujuh lewat dua puluh, ia tetap duduk di bangku taman.

Tanpa kopi.

Tanpa alasan.

Chiko datang membawa dua roti isi. Ia melihat Hafeng, lalu melihat meja batu yang kosong.

"Wah. Hari ini tidak ada Americano?"

"Tidak."

"Tidak ada instruksi?"

"Tidak."

"Lalu kenapa kamu di sini?"

Hafeng menatap jalan setapak di depan taman. "Udara pagi bagus."

Chiko melihat asap tipis dari kendaraan kampus yang baru lewat, lalu menatap Hafeng lagi. "Jakarta pagi ini bau knalpot."

"Makan rotimu."

Chiko duduk sambil tersenyum. "Kamu boleh bilang kamu menunggu dia."

"Aku tidak menunggu siapa pun."

Pada saat yang sama, Meiran melewati taman dengan tablet di tangan.

Ia berhenti di depan meja batu, menatap Hafeng yang langsung menegakkan punggung seolah tertangkap melakukan sesuatu yang salah.

"Pagi."

Hafeng tidak menjawab cepat.

Chiko menyenggol kakinya di bawah meja.

"Pagi," kata Hafeng akhirnya.

Meiran meletakkan satu amplop cokelat kecil di meja.

Hafeng langsung curiga. "Apa lagi?"

"Salinan perjanjian yang sudah selesai."

Ia membuka amplop itu dan mengeluarkan kertas taruhan yang selama sebulan terakhir menjadi sumber semua keributan. Di bagian bawah, Meiran sudah menambahkan satu baris.

`Perjanjian selesai. Lo Hafeng telah memenuhi kewajibannya.`

Di sampingnya ada tanda tangan Meiran.

"Mulai hari ini," kata Meiran, "kamu bebas."

Kata bebas seharusnya terasa ringan.

Hafeng menunggu rasa itu datang.

Tidak datang.

Yang muncul justru ruang kosong aneh, seperti ketika seseorang memindahkan meja dari kamar dan baru setelah itu ia sadar selama ini selalu menabrak meja tersebut.

"Bagus," katanya.

"Harusnya kamu terlihat lebih senang."

"Aku senang."

Chiko menutup batuknya dengan roti.

Meiran menatap Hafeng sebentar, lalu mengangguk. "Kalau begitu, selamat menikmati hidup tanpa instruksi."

Ia berbalik pergi.

Hafeng melihat punggungnya menjauh.

Satu langkah.

Dua langkah.

Pada langkah kelima, map tipis di tangan Meiran hampir jatuh karena talinya tersangkut di ujung tabletnya.

Hafeng berdiri.

Chiko langsung melihatnya.

Hafeng juga sadar ia berdiri.

Terlambat.

Meiran menoleh.

"Ada apa?"

Hafeng menatap map yang sudah kembali aman di tangan Meiran. "Tali mapmu hampir lepas."

"Aku tahu."

"Kamu bisa jatuhkan dokumen."

"Bisa."

"Jadi?"

Meiran tersenyum tipis. "Jadi apa, Lo Hafeng? Perjanjian sudah selesai."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada seharusnya.

Hafeng mengepalkan tangan di sisi tubuh.

"Aku hanya memberi tahu."

"Terima kasih."

Ia pergi lagi, kali ini tanpa memberi ruang untuk ditolong.

Chiko menunggu sampai Meiran cukup jauh sebelum berkata, "Feng, wajahmu seperti orang kehilangan pekerjaan."

"Aku justru bebas dari pekerjaan."

"Aneh. Orang bebas biasanya tidak terlihat ditinggal."

Hafeng mengambil amplop cokelat di meja dan memasukkannya ke dalam tas. "Kamu terlalu banyak bicara."

"Itu bakat."

Sepanjang hari itu, Hafeng tidak mendapat satu pun instruksi.

Tidak ada pesan untuk membeli kopi.

Tidak ada panggilan ke studio maket.

Tidak ada kalimat menyebalkan yang dimulai dengan `asistenku`.

Menjelang siang, ia melewati lorong bahan dan melihat Meiran membawa gulungan karton besar bersama seorang mahasiswa lain. Mahasiswa itu tertawa ketika gulungan hampir mengenai dinding, lalu membantu mengangkat sisi yang lebih berat.

Hafeng berhenti.

Tangannya sudah setengah terangkat sebelum ia sadar.

Meiran tidak melihatnya. Ia hanya berkata pada mahasiswa itu, "Terima kasih, taruh di meja dekat jendela saja."

Ucapan terima kasih itu biasa.

Terlalu biasa.

Namun di telinga Hafeng, rasanya seperti benda yang biasanya jatuh ke tangannya tiba-tiba diberikan pada orang lain.

Mahasiswa itu menjawab, "Santai, Meiran. Kalau butuh bantuan lagi, panggil aja."

Hafeng menatap punggung mahasiswa itu.

Chiko muncul dari belakang sambil membawa botol minum. "Itu wajah orang yang baru sadar posisinya bisa diganti."

"Posisi apa?"

"Asisten pribadi."

"Perjanjiannya sudah selesai."

"Justru itu masalahmu."

Hafeng berjalan pergi sebelum Chiko bisa tertawa lebih keras. Tetapi selama kelas berikutnya, suara mahasiswa tadi terus muncul di kepalanya.

Kalau butuh bantuan lagi, panggil aja.

Kalimat sederhana itu mengganggu lebih lama daripada seharusnya.

Dan anehnya, setiap kali ponselnya bergetar, ia mengecek terlalu cepat.

Saat makan siang, ia melewati kantin tengah dan melihat Meiran duduk bersama dua mahasiswa, membahas revisi proyek. Ada gelas es teh tawar di depannya, bukan kopi. Tidak ada tempat kosong yang sengaja disisakan untuknya.

Hafeng berhenti di depan konter minuman.

"Pesan apa?" tanya penjaga kantin.

Hafeng melihat daftar menu.

Mulutnya bergerak sebelum ia berpikir. "Americano dingin, tanpa gula."

Setelah gelas itu ada di tangannya, ia baru sadar.

Ia tidak minum Americano dingin.

Ia bahkan tidak suka kopi sedingin itu.

Di meja jauh, Meiran mengangkat wajah seolah merasakan sesuatu. Mata mereka bertemu di antara keramaian kantin.

Hafeng menurunkan gelas sedikit.

Meiran tidak datang. Tidak memanggil. Tidak memberi instruksi.

Ia hanya tersenyum.

**【Sistem Predator】Nilai Cinta target berubah.**

Nilai Cinta: -40.

**【Sistem Predator】Fase kebiasaan terbentuk. Target tetap mendekat meski kontrak selesai.**

Meiran menatap angka itu tanpa mengubah ekspresi.

Satu bulan selesai.

Tetapi Hafeng baru saja mulai.

Sore harinya, ketika Meiran keluar dari studio maket, payung hitam tergantung di gagang pintu.

Tidak ada catatan.

Tidak ada nama.

Hanya payung Hafeng yang kemarin ia kenali dari ujung pegangan logamnya.

Meiran menyentuh gagang payung itu.

Di ujung lorong, Hafeng sudah berjalan menjauh, seolah benda itu tersesat sendiri ke pintu studionya.

Meiran tidak memanggilnya.

Ia hanya membuka payung itu pelan.

Hujan belum turun.

Tapi seseorang sudah lebih dulu menyiapkan perlindungan.

**【Sistem Predator】Kontrak selesai. Pola kedekatan tetap aktif.**

Meiran menatap payung itu lebih lama daripada yang ia rencanakan.

Kadang kemenangan bukan ketika seseorang tinggal karena wajib, melainkan ketika ia tetap menaruh sesuatu sebelum pergi.

Di tangga darurat, Hafeng berhenti dan merogoh saku jaketnya.

Amplop putih itu masih ada.

Ia memegangnya sebentar, lalu memaki pelan pada dirinya sendiri. Seharusnya surat itu sudah lama dibuang. Seharusnya payung itu tetap berada di tasnya. Seharusnya kopi dingin tadi ia tinggalkan di konter.

Terlalu banyak `seharusnya`.

Dan tidak satu pun yang benar-benar ia lakukan.

Hafeng memasukkan amplop itu kembali, lebih dalam dari sebelumnya, lalu turun tanpa menoleh.

Langkahnya terdengar lebih lambat dari biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!