ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Sisa tiga hari menuju hari pernikahan. Waktu terasa berjalan begitu cepat, seolah mengejar napas semua orang yang sedang menahan cemas. Di luar rumah, segala sesuatu terlihat sempurna: dekorasi bunga impor sudah terpasang, pesanan katering dikonfirmasi satu per satu, tamu kehormatan mulai tiba di kota, dan media bersiap meliput acara termegah tahun ini. Namun di dalam dinding rumah Yhosep yang tinggi dan dingin, ketegangan begitu pekat hingga terasa sulit bernapas.
Pagi itu, Adam Yhosep baru saja menutup telepon dengan wajah yang seketika berubah pucat. Tangannya gemetar saat meletakkan alat komunikasi itu di atas meja. Ia berjalan terhuyung menuju ruang tengah, di mana Belinda sedang memeriksa daftar perlengkapan pengantin.
"Ada apa?" tanya Belinda cepat, langsung merasakan ada yang salah dari raut wajah suaminya.
"Itu... itu dari bank," jawab Adam dengan suara parau. "Mereka tidak bisa menunda lagi. Jika besok pagi belum ada tanda tangan kesepakatan penyatuan usaha dengan keluarga Raharja, mereka akan mengajukan permohonan penyitaan aset hari itu juga. Tidak ada tawar-menawar lagi."
Kaki Belinda terasa lemas seketika. Ia duduk di kursi terdekat, menatap kosong ke arah gaun pengantin Adelin yang tergantung di ruangan sebelah. "Jadi... kalau pernikahan ini tidak terjadi tepat waktu, kita benar-benar hancur?"
"Benar-benar hancur," tegur Adam singkat dan getir. "Kita tidak hanya kehilangan harta, tapi juga nama baik. Seluruh dunia akan tahu kalau keluarga Yhosep bangkrut dan gagal menepati janji. Kita tidak akan punya tempat untuk bernaung lagi."
Saat itu juga, pintu ruang tamu terbuka. Gyantara Raharja masuk dengan langkah tegap, diikuti oleh Rama Febrian. Wajah Gyantara biasanya tenang dan berwibawa, tapi pagi ini terlihat samar ada keraguan di matanya. Ia datang lebih awal karena ingin memastikan semua persiapan berjalan lancar, sekaligus ingin berbicara sebentar dengan Adelin.
"Selamat pagi, Paman, Bibi," sapa Gyantara sopan, meski matanya tak lepas dari wajah kedua orang tua itu. "Kalian terlihat sangat lelah. Ada masalah?"
Adam segera mengatur napas, berusaha menyembunyikan kepanikan di wajahnya. "Tidak ada, Nak. Hanya sedikit kelelahan mengurus banyak hal. Silakan duduk. Adelin sedang bersiap di kamarnya, sebentar lagi turun."
Namun Rama yang berdiri di sudut ruangan tak melewatkan sedikit pun perubahan sikap mereka. Ia melihat keringat dingin di pelipis Adam, tangan Belinda yang saling mencengkeram erat, dan tatapan mata mereka yang saling bertukar pandang tak tenang. Semakin lama ia di sini, semakin kuat perasaannya bahwa ada sesuatu yang besar sedang disembunyikan.
Sementara itu, di lantai atas, Adelin sedang berdiri di depan cermin. Ia memegang surat dari Dimas yang diterimanya pagi tadi. Pria itu menulis: "Aku sudah menyiapkan segalanya. Kita bisa pergi besok malam. Aku akan menunggumu di tempat yang sudah kita sepakati. Aku tidak memintamu sekarang, tapi aku berharap kamu memilih hidupmu sendiri, bukan hidup yang orang lain paksakan."
Surat itu membuat hatinya terbelah dua. Di satu sisi ada suara hatinya yang meminta kebebasan, di sisi lain ada bayangan wajah orang tuanya yang hancur, ada ancaman kebangkrutan, dan rasa bersalah yang menyesakkan dada. Ia menangis pelan, tak tahu harus memilih jalan mana.
Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk keras. Belinda masuk dengan napas memburu. "Adelin! Gyantara sudah datang. Cepat turun! Dan dengarkan Ibu baik-baik: ini bukan soal perasaanmu saja. Nyawa keluarga kita ada di tanganmu. Kalau kamu membatalkan, kita semua jatuh miskin."
Kata-kata itu seperti pisau tajam yang menancap di dada Adelin. Ia menatap ibunya tak percaya. "Jadi aku harus menikah demi uang? Demi menyelamatkan perusahaan? Bukan karena aku dicintai, bukan karena aku bahagia?"
"Kamu harus menikah demi tanggung jawab!" bentak Belinda tak sanggup lagi menahan emosinya. "Selama ini kami berikan segalanya padamu! Sekarang giliranmu berkorban! Jangan jadi anak yang tidak tahu diri!"
Pertengkaran itu terdengar hingga ke bawah. Di ruang tengah, Gyantara mengernyitkan dahi. Ia mendengar suara tinggi ibunda Adelin dan isak tangis Adelin. Ia berdiri hendak naik ke atas, tapi Adam segera menahannya.
"Biarkan mereka sebentar," kata Adam paksa tersenyum. "Perempuan sebelum hari pernikahan memang sering emosional."
Namun Gyantara tak sepenuhnya percaya. Ia menatap ke arah tangga, hatinya mulai dihantui firasat buruk. Mengapa terasa seperti mereka sedang memaksa seseorang melakukan hal yang tidak diinginkannya?
Di halaman belakang, Julian dan Tama baru saja menerima pesan singkat dari teman yang bekerja di kantor akuntan keluarga Yhosep. Isinya singkat namun mengerikan: Perusahaan Yhosep ambruk total. Hanya ada satu jalan keluar: pernikahan ini. Kalau batal, mereka hilang segalanya.
Mereka berdua saling berpandangan dengan wajah pucat.
"Jadi benar," bisik Julian dengan suara bergetar. "Ini bukan penyatuan cinta. Ini penyelamatan nyawa dengan cara apa pun."
"Kalau begitu," tambah Tama dengan tatapan tajam ke arah jendela kamar Adelin, "kemungkinan Adelin menolak semakin besar. Dan kalau dia benar-benar menolak... orang tua itu tidak akan diam saja. Mereka tidak akan peduli pada siapa pun, termasuk Adelia."
Pikiran itu membuat mereka segera berlari menuju pintu samping untuk menemui Adelia. Mereka harus memperingatkannya sekarang juga.
Saat mereka sampai di lorong lantai satu, mereka berpapasan dengan Adelia. Gadis itu sedang memeluk tas kecil di dadanya dengan wajah ketakutan. Ia baru saja mendengar sebagian percakapan orang tuanya. Ia baru tahu betapa besar bahaya yang sedang mengancam keluarganya, dan betapa mahalnya harga yang harus dibayar demi menyelamatkan semuanya.
"Del!" panggil Tama mendekat dengan cepat. "Kamu harus pergi dari sini sebentar saja. Jangan berada di dekat mereka kalau suasana makin panas."
Adelia menggeleng lemah. "Ke mana aku harus pergi? Ini rumahku. Dan kalau memang ada bahaya, aku rasa... aku rasa aku sudah tahu apa yang akan mereka minta dariku."
Air matanya menetes perlahan. Ia mengerti posisinya. Ia adalah cadangan. Ia adalah jalan pintas yang tidak beresiko. Selama wajahnya sama dengan kakaknya, selama tidak ada yang tahu perbedaan mereka, ia adalah alat paling sempurna untuk menutup lubang besar ini.
Di ruang tamu, ketegangan memuncak. Adelin akhirnya turun dengan mata bengkak dan wajah pucat. Ia berdiri di hadapan Gyantara tanpa berkata apa-apa.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Gyantara lembut, berniat mendekat.
Adelin mundur selangkah. Tatapannya kosong. "Aku... aku butuh waktu. Aku butuh berpikir."
Kata-kata itu membuat suasana seketika hening. Adam menahan napas, Belinda mencengkeram sisi meja hingga buku jarinya memutih. Gyantara terdiam, mulai menyadari bahwa sesuatu yang besar sedang berusaha runtuh di depan matanya. Dan Rama di sudut ruangan sudah yakin sepenuhnya: badai terbesar belum datang, tapi kabar buruk ini hanyalah awal dari kehancuran yang sesungguhnya.
Tidak ada yang berani berkata-kata lagi. Hanya detak jantung yang berdegup kencang, menunggu keputusan yang akan menentukan nasib semua orang di rumah itu.