NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Haus Sentuhan

Keyakinan Yu bertahan tepat dua belas jam.

Pagi harinya, ia masih bisa menatap T-shirt Sentul di balkon dan merasa dirinya jenius. Zhen pasti model untuk event otomotif. Mungkin bukan model biasa. Mungkin jenis pekerjaan malam yang tarifnya membuat mahasiswa semester tiga seperti Yu ingin menutup aplikasi mobile banking selamanya.

Siangnya, teori itu mulai terasa tidak penting.

Kulit Yu kembali berisik.

Awalnya hanya di ujung jari. Rasa geli kecil yang membuatnya beberapa kali menggosok telapak tangan ke celana jeans. Lalu naik ke pergelangan, lengan, bahu, sampai lehernya terasa terlalu peka terhadap kerah baju. Angin dari AC kelas struktur data yang biasanya biasa saja mendadak seperti menyentuh kulitnya dengan jarum halus.

Yu duduk di baris belakang Fasilkom UI, membuka laptop, dan menatap slide dosen tanpa benar-benar membaca.

"Yu, lo pucat," bisik seorang teman di sebelahnya.

"Kurang tidur."

"Butuh kopi?"

"Nggak. Makasih."

Ia tersenyum sekadarnya. Senyum yang cukup untuk membuat orang berhenti bertanya, tapi tidak cukup untuk menipu tubuhnya sendiri.

Tubuh Yu selalu punya alarm yang aneh.

Sejak SD, setelah sebuah kejadian yang tidak pernah ia ceritakan lengkap kepada siapa pun selain keluarganya, tubuhnya menolak sentuhan orang asing. Kalau sedang tenang, ia bisa berfungsi seperti orang normal. Salaman dengan dosen, duduk berdempetan di bus kampus, tersenggol di kantin, semua bisa ia tahan.

Tapi begitu emosinya turun terlalu dalam, alarm itu menyala. Kulitnya menjadi terlalu sadar. Udara terasa kasar. Baju terasa berat. Ia ingin disentuh, tapi hanya oleh orang yang aman. Kalau bukan orang itu, rasa mual dan takut justru naik ke tenggorokan.

Dulu, di Surabaya, solusinya sederhana.

"Ko," panggil Yu waktu kecil, berdiri di depan kamar Chua Darren dengan wajah kusut.

Darren yang saat itu masih SMA akan membuka pintu dengan ekspresi kesal karena sedang mengerjakan tugas. Namun begitu melihat adiknya, ia langsung jongkok, mengulurkan tangan, dan menepuk kepala Yu pelan.

"Sini."

Yu akan menabrak pelukannya. Lima menit. Kadang sepuluh. Setelah itu dunia kembali normal.

Sekarang Ko Darren berada di Surabaya, mengurus perusahaan IT-nya, mungkin sedang memarahi staf karena bug yang tidak selesai-selesai. Jarak Jakarta-Surabaya terasa tidak masuk akal hanya karena tubuh Yu meminta sesuatu yang terdengar kekanak-kanakan.

Setelah kelas selesai, Yu pergi ke toilet, mengunci bilik, dan menggulung lengan bajunya.

Tidak ada ruam. Tidak ada luka. Tidak ada bukti bahwa ada yang salah.

Itulah bagian paling menyebalkan dari haus sentuhan. Dari luar, ia terlihat baik-baik saja. Dari dalam, tubuhnya seperti ruangan penuh suara televisi yang semuanya menyala di channel berbeda.

Ponselnya bergetar.

Ko Darren.

Yu menatap nama itu beberapa detik sebelum mengangkat.

"Kamu pindah tempat?" suara Darren langsung masuk tanpa salam.

Yu memejamkan mata. "Ko, Lily ngadu?"

"Lily telepon Ko jam tiga pagi. Katanya kamu putus sama Kevin dan pindah sendiri. Kamu pikir Ko nggak akan tahu?"

Tentu saja Lily. Sahabat satu itu punya kemampuan mengkhianati rahasia demi keselamatan dengan sangat konsisten.

"Aku aman," kata Yu.

"Alamat."

"Ko."

"Alamat."

Yu menarik napas. "Aku kirim nanti."

"Sekarang."

"Aku lagi di kampus."

"Yu."

Satu suku kata itu cukup membuat tenggorokan Yu panas. Darren jarang memanggilnya dengan nada seperti itu, rendah dan menahan panik. Ia bisa membayangkan kakaknya berdiri di ruang kerja, satu tangan di pinggang, laptop terbuka tapi tidak lagi dipedulikan.

"Aku aman," ulang Yu, kali ini lebih pelan. "Aku cuma... capek."

Darren diam sebentar.

"Dia menyentuhmu?"

Pertanyaan itu tidak perlu nama. Mereka sama-sama tahu yang dimaksud Kevin.

Yu menatap kunci pintu bilik toilet. Jarinya menggenggam ponsel terlalu erat.

"Dia coba. Aku mundur."

Napas Darren terdengar berat di seberang. "Bagus."

Yu tertawa kecil, tapi suaranya pecah. "Ko, jangan bilang Papa Mama dulu."

"Kenapa?"

"Belum sanggup."

"Kamu selalu begini. Yang sakit kamu, yang kamu pikirkan perasaan orang lain."

Yu tidak menjawab.

Darren melunak sedikit. "Haus sentuhan-mu kambuh?"

Kalimat itu membuat pertahanan Yu runtuh setengah.

"Sedikit."

"Sedikit versi kamu itu biasanya sudah parah."

"Ko sok tahu."

"Ko memang tahu."

Yu menunduk. Air mata akhirnya jatuh, satu, langsung ia hapus dengan punggung tangan. "Ko bisa ke Jakarta?"

Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menahan.

Di ujung sana, Darren diam lebih lama. Yu langsung menyesal. Ia tahu Darren punya rapat dengan klien Surabaya dua hari ini. Ia tahu kakaknya bukan orang yang bisa meninggalkan semuanya hanya karena adiknya ingin dipeluk.

Walau kenyataannya, Darren sering melakukan hal seperti itu.

"Besok malam paling cepat," kata Darren akhirnya. "Kalau kamu bilang sekarang butuh, Ko berangkat hari ini."

Yu menggigit bibir.

Butuh.

Kata itu ada di ujung lidah. Namun bersamaan dengan itu, muncul wajah Kevin yang memintanya jangan mempermalukan dia, Meilin yang berkaca-kaca palsu, Rani dengan kontrak sewa, Zhen yang menatapnya seperti ia masalah kebersihan baru di ruang tengah. Hidupnya sudah cukup kacau. Ia tidak mau menarik Darren masuk malam ini juga.

"Besok nggak apa-apa," kata Yu.

"Jangan bohong."

"Aku nggak bohong. Aku masih bisa tahan."

Darren menghela napas. "Kirim alamat. Kunci kamar tiap malam. Kalau ada apa-apa, telepon Ko. Jangan mikir jam."

"Iya."

"Yu."

"Hmm?"

"Kevin selesai. Jangan balik."

Kali ini Yu tidak menangis.

"Iya, Ko."

Setelah telepon terputus, Yu tetap duduk di bilik toilet beberapa menit. Di luar ada dua mahasiswi tertawa sambil membicarakan tugas. Dunia berjalan seperti biasa, seolah tidak ada tubuh yang sedang berusaha keluar dari kulitnya sendiri.

Sore itu, hujan turun deras di Depok.

Yu pulang dengan KRL dan ojek online, basah sampai ujung celana. Di lobby apartemen, ia hampir menabrak seorang ibu membawa belanjaan. Lengannya tersenggol kantong plastik. Sentuhan kecil itu membuat perut Yu terbalik. Ia mundur, minta maaf, lalu bergegas masuk lift dengan napas pendek.

Sesampainya di unit, yang menyambutnya pertama kali adalah Burger.

Anjing itu menggonggong sekali, lalu berputar di dekat kakinya. Biasanya Yu akan mengusap kepala Burger. Hari itu, tangannya berhenti di udara.

"Maaf," bisiknya. "Aku lagi nggak bisa."

Burger seperti mengerti. Ia duduk, hanya menatap Yu dengan mata sabar.

Unit kosong. Zhen belum pulang.

Bagus.

Yu menaruh tas, mandi, mengganti baju dengan kaus longgar, lalu mencoba makan roti. Setiap gigitan terasa seperti kertas. Kulitnya makin sensitif. Ia duduk di sofa, memeluk lutut, dan menyalakan televisi tanpa suara.

Pukul sembilan lewat, pintu utama terbuka.

Zhen masuk dengan hoodie gelap dan rambut sedikit basah. Ia berhenti ketika melihat Yu meringkuk di sofa dengan wajah pucat.

"Sakit?"

"Nggak."

Zhen meletakkan kunci di mangkuk kecil dekat pintu. "Jawaban orang sakit biasanya begitu."

"Aku cuma capek."

Ia berjalan ke dapur. Burger mengikuti dengan ekor bergerak pelan. Dari tempatnya duduk, Yu mendengar suara air mengalir, lemari dibuka, sendok menyentuh gelas. Beberapa menit kemudian, Zhen kembali membawa segelas air hangat.

Ia meletakkan gelas itu di meja, tentu saja di atas coaster.

"Minum."

Yu menatap gelas itu. "Aku bisa ambil sendiri."

"Tadi kamu duduk seperti tanaman layu."

"Kamu selalu menghina orang waktu membantu?"

"Kalau orang itu keras kepala."

Yu ingin membalas, tapi rasa berisik di kulitnya naik tiba-tiba. Jari-jarinya mencengkeram ujung kaus. Zhen memperhatikan gerakan itu.

"Tanganmu kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

Ia mengulurkan tangan untuk mengambil gelas. Pada saat yang sama, Zhen menggeser gelas lebih dekat agar tidak tumpah.

Jari mereka bersentuhan.

Yu tersentak.

Bukan karena takut.

Karena kali ini, efeknya datang lebih jelas.

Seperti listrik kecil yang tidak menyakitkan, hanya menyapu dari ujung jari ke seluruh lengan. Semua suara di bawah kulitnya padam. Kerah baju tidak lagi mengganggu. Udara tidak lagi kasar. Napasnya turun, lambat, penuh, seolah seseorang membuka jendela di ruangan yang terlalu lama tertutup.

Zhen menarik tangannya setengah detik kemudian.

"Kamu benar-benar sakit," katanya, kali ini tanpa nada mengejek. "Wajahmu berubah."

Yu menatap jari-jarinya sendiri.

Tidak mungkin.

Sentuhan Ko Darren bisa menenangkannya karena Darren kakaknya, rumahnya, orang yang sejak kecil menjadi batas aman. Tapi Zhen? Laki-laki dingin yang mungkin model malam, yang menempel aturan di kulkas, yang baru dua hari ia kenal?

Kenapa tubuhnya menerima dia?

"Yu."

Ia mengangkat wajah.

Zhen berdiri di depannya, dahi berkerut, tangan masih menggantung di sisi tubuh seolah tidak yakin boleh mendekat atau harus mundur.

Yu membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.

Di meja, gelas air hangat mengepulkan uap tipis.

Di dadanya, dunia yang tadi berisik kembali diam total.

Dan Yu menyadari dengan takut, satu-satunya orang di Jakarta yang bisa membuat tubuhnya tenang, mungkin adalah laki-laki yang paling tidak boleh ia sentuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!