Pertemuan pertama Alana dengan Randy terjadi secara kebetulan, dimana Alana langsung terpesona dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Tak disangka - sangka, ternyata Randy adalah pemuda yang dijodohkan dengannya oleh nenek mereka berdua karena persahabatan. Namun saat Randy mengajak Alana berbicara empat mata, pemuda itu mengakui bahwa ia telah memiliki seorang kekasih, dan ia bersedia menikahi Alana hanya karena tak ingin mengecewakan neneknya. Pada akhirnya Alana pun terjebak dalam pernikahan yang semu, yang membuatnya harus menyembunyikan cintanya di balik kisah asmara Randy dan kekasihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Flowers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
USAHA PENDEKATAN
Akhirnya hari yang direncanakan telah tiba. Randy mengajak Alana untuk ikut dengannya ke luar kota mengikuti acara fashion show. Alana tidak menolak karena Nenek Ranita memang menyuruhnya sering melihat fashion show agar mendapat lebih banyak inspirasi dalam mendesain pakaian.
Acara itu adalah kegiatan gabungan dari berbagai merek fashion terkenal di dalam negeri. Para model bergantian memperagakan busana dari brand nya masing-masing.
Saat giliran brand perusahaan Randy yang tampil, tampak Eric berjalan dengan penuh percaya diri di atas catwalk bersama beberapa model pria yang lain. Wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang tinggi atletis tampak semakin menawan mengenakan baju rancangan perusahaan Randy.
"Itu Eric!" teriak Alana senang melihat Eric di tengah suara musik yang diputar dengan volume tinggi.
Alana bertepuk tangan dengan penuh semangat bersama para undangan dan penonton lainnya. Kemudian dengan segera ia mengambil ponselnya dan memotret Eric dengan ponsel itu.
'Ini untuk Meta, Meta pasti senang sekali melihat Eric yang sekeren ini,' batin Alana sambil tersenyum sendiri membayangkan Meta yang pasti histeris saat melihatnya.
Randy menyenggol lengan Devan yang duduk di sebelahnya, memberi isyarat untuk memperhatikan Alana yang tampak bersemangat melihat dan memotret Eric yang sedang berada di atas panggung. Devan melihatnya, lalu tersenyum penuh arti pada Randy.
"Tampaknya ini akan menjadi mudah sekali," Devan mendekat dan berucap tepat di telinga Randy.
Randy mengangguk sambil tersenyum.
Setelah acara fashion show selesai, Randy mengajak semua crew nya makan malam di hotel tempat mereka akan menginap di kota itu.
"Eric, bergabunglah bersama kami. " Randy mengajak Eric untuk makan bersama di mejanya bersama Alana.
"Saya merasa tidak pantas makan di meja pribadi anda, Pak Randy," jawab Eric merendah.
"Jangan seperti itu, bukankah kamu teman kuliahnya Alana? Dan sebelumnya kita juga sudah pernah makan bersama waktu acara kampus di puncak bukit, kan?" ujar Randy berusaha membujuk Eric.
"Iya, Eric. Ayo, makanlah di sini bersamaku," Alana ikut mengajak Eric dengan polosnya, karena merasa Eric sudah menjadi sahabatnya.
"Baiklah," sahut Eric akhirnya.
Sementara itu, di meja yang lain, Devan duduk bersama Delia. Delia dan Eric sempat saling menatap penuh arti. Delia telah memberitahu Eric bahwa Randy akan mendekatkan ia pada istrinya.
"Ini kesempatan bagimu, Eric. Randy akan mendekatkan istrinya padamu, tinggal kamu yang harus bersikap hati - hati pada Alana supaya gadis itu masuk ke dalam perangkap mu," ujar Delia sebelum acara fashion show dimulai tadi.
Semula Eric mengira Delia hanya membual, tetapi saat Randy tiba - tiba bersikap baik padanya dan bahkan memintanya untuk makan bersama di meja pribadinya bersama sang istri, Eric baru percaya pada ucapan Delia itu.
"Dasar gila!" batin Eric tak menduga Randy akan berbuat seperti itu pada istrinya sendiri.
Ia menatap Alana yang sedang asyik menikmati makanannya.
'Kasihan sekali kamu, Alana,' batin Eric. 'Tapi jangan khawatir, aku akan menerimamu dengan senang hati.'
Randy melirik Eric. Ia dapat melihat Eric terus memperhatikan istrinya yang tampak sangat cantik malam ini dengan gaun terbaik rancangan Nenek Ranita.
Randy lalu mengajak Eric mengobrol tentang kuliahnya. Eric bercerita dengan antusias, demikian juga Alana. Lalu setelah selesai menikmati menu utama, Randy berdiri.
"Aku akan ke meja Devan sebentar. Aku baru ingat ada hal yang harus aku bicarakan dengannya," pamit Randy pada Alana dan Eric.
"Silahkan, Pak Randy," sahut Eric dengan sopan, sedangkan Alana hanya menjawabnya dengan anggukan kepala saja.
'Dia benar - benar meninggalkan aku dengan istrinya,' batin Eric.
Ia menoleh pada meja Delia, tampak Randy mendekat ke meja itu, lalu duduk di samping Devan dan berhadapan dengan Delia.
Delia lalu tersenyum pada Eric, seolah berucap, 'benar kan ucapanku?'
Eric membalasnya dengan senyuman tipis, lalu kembali menatap Alana.
"Suamimu duduk di meja Delia, kamu baik - baik saja, kan?" tanya Eric.
"Iya, aku baik - baik saja," sahut Alana datar.
"Apakah kamu tidak mencintai suamimu sehingga kamu tidak merasa cemburu?" tanya Eric lagi.
"Entahlah, tapi aku merasa baik - baik saja," jawab Alana, "Mereka kan hanya mengobrol, ada Devan juga di situ."
"Tapi video itu?" tanya Eric berusaha mengingatkan Alana, "Ups, maaf. Aku jadi mengungkitnya lagi. Karena aku ikut kesal."
"Video itu sengaja dibuat Delia untuk memanas - manasi aku," sahut Alana, "Dia yang mengirimnya padamu, kan? Mungkin dia tahu kamu dekat denganku dari Randy, karena kita satu kampus."
Eric tertawa kecil, "Kamu wanita yang hebat, Alana. Aku beruntung bisa berteman baik denganmu."
"Ah, biasa saja, Eric," sahut Alana.
Tiba - tiba mata Alana tertuju pada Delia yang sedang mengusap baju Randy dengan tissue. Entah bagaimana kejadiannya tadi hingga baju Randy ketumpahan minuman Delia.
Randy lalu menahan tangan Delia dengan lembut untuk menghentikan tindakannya, karena harus menjaga sikap di depan banyak orang. Delia tersenyum mesra padanya, lalu Randy membersihkan sendiri bajunya itu.
Semua orang memandang ke arah Randy dan Delia, termasuk Devan yang hanya bisa diam melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
'Randy, apakah kamu sengaja meninggalkan aku di sini untuk mendekati Delia? Lihatlah semua orang melihat kalian yang tampak mesra,' ucap Alana dalam hati.
Alana lalu teringat kembali video mesra mereka.
'Apakah sesulit itu menahan kemesraan hingga harus menunjukkannya di hadapan banyak orang?' Alana terus bertanya dalam hati.
Harga dirinya sebagai istri terasa terinjak - injak saat menyadari hal itu. Hatinya merasa sakit melihat bagaimana reaksi semua orang melihat Bos mereka meninggalkan istrinya bersama orang lain, untuk mendekati wanita yang dicintainya.
Padahal dulu Randy selalu mengajaknya berakting mesra untuk menutupi hubungan mereka yang sebenarnya, tapi kini ia mulai bersikap terbuka di hadapan semua orang. Mungkin cinta mereka semakin memanas sejak pergi bersama ke luar negeri beberapa minggu yang lalu.
Alana dapat merasakan pandangan semua orang selain tertuju pada Randy dan Delia di meja seberang, mereka juga sedang memperhatikannya, menanti reaksi dari istri Bos mereka.
Alana yang merasa risih dengan tatapan itu lalu bangkit dari duduknya dan berpamitan pada Eric, "Eric, maaf, aku mau kembali ke kamar dulu. Tiba - tiba saja aku merasa mual."
"Oh, baik, Alana. Apa perlu aku antar?" tanya Eric yang mulai menyadari situasi Alana saat ini.
"Tidak perlu. Tidak enak jika dilihat orang lain," jawab Alana, lalu mulai berjalan meninggalkan mejanya.
Namun baru beberapa langkah berjalan, sepatu high heels nya tersandung karpet yang menutupi lantai restoran itu sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Untunglah dengan sigap Eric segera menangkap tubuhnya dan Alana pun terjatuh dalam pelukan Eric.
"Hati - hati, Alana," bisik Eric pada Alana yang masih berada dalam pelukannya.
Sementara itu, Alana yang sedang syok masih menyembunyikan kepalanya di dada Eric dengan jantung yang berdegup kencang.
'Untung Eric menyelamatkanku, kalau jatuh pasti aku malu sekali,' ucapnya dalam hati tanpa menyadari bahwa semua mata kini semakin tertuju padanya.
Randy yang juga menyaksikan kejadian itu langsung bangkit dari tempat duduknya, tertegun menatap istrinya yang sedang dipeluk oleh Modelnya yang tampan. Hatinya terasa panas, jantungnya berdebar kencang.
'Perasaan apa ini? Kenapa hatiku merasa panas melihat laki - laki itu memeluk istriku di depan banyak orang? Bukankah itu hanya kejadian yang tidak disengaja?' tanyanya dalam hati dengan perasaan yang bercampur aduk.
Beberapa detik berikutnya Randy akhirnya sadar dan bisa mengendalikan perasaannya, lalu berjalan mendekati Alana yang perlahan melepaskan diri dari pelukan Eric.
"Alana, kamu baik - baik saja?" tanya Randy. Alana dan Eric terkejut melihat kehadiran Randy yang tiba - tiba sudah berada di dekat mereka. Keduanya segera berjauhan.
"Iya, aku baik - baik saja. Mungkin karena tidak terbiasa memakai heels, jadi aku tersandung. Untung Eric cepat menangkap ku," jawab Alana, lalu menoleh pada Eric dan berucap, "Terimakasih, Eric."
"Kamu mau kemana?" tanya Randy.
"Aku mau kembali ke kamar, ingin beristirahat," jawab Alana sambil beranjak meninggalkan tempat itu.
Randy mengikutinya, "ayo aku antar."
"Tidak perlu, Randy. Aku bisa sendiri," tolak Alana tanpa melihatnya.
Randy tidak peduli. Ia tetap mengikuti Alana, bahkan menarik tangan gadis itu untuk menggandengnya. Alana tidak bisa menolak karena sedang berada di tengah banyak orang.
Sesampainya di depan pintu kamar, Alana memintanya untuk kembali. Tapi Randy tetap tidak mau pergi meninggalkannya.
"Aku juga ingin segera beristirahat. Aku capek," ucap Randy sambil membuka pintu kamar.
Dengan terpaksa Alana mengikutinya masuk ke dalam kamar. Padahal ia hanya ingin sendiri, tapi orang yang membuatnya kesal justru sekarang berada di dekatnya.
Setelah melepas sepatunya, Randy langsung merebahkan dirinya di atas ranjang, tanpa mengganti bajunya.
Alana melepas sepatu high heels nya dan duduk di sofa sambil mengurut kakinya yang terasa pegal.
Tanpa sadar Randy memperhatikan istrinya yang diam saja dari tadi. Riasan dan gaun yang dikenakannya benar - benar membuatnya sangat cantik.
Lagi - lagi Randy terpesona melihatnya, tapi ia segera menepisnya dan mengalihkan perhatiannya pada kesibukan Alana memijat kakinya. Kemudian pemuda itu mendekatinya, lalu berlutut di hadapan Alana.
"Kakimu sakit sekali, ya? Sini, aku bantu memijatnya," Randy menawarkan bantuan.
"Ti-tidak perlu!" tolak Alana dengan gugup.
Tapi Randy malah memegang kaki Alana dan mulai memijatnya seolah tidak mendengarkan penolakan Alana tadi.
"Randy! Aku bukan Delia! Jangan sentuh aku!" teriak Alana kesal, lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Randy tersentak, lalu menepuk jidatnya.
'Bodoh! Kenapa aku merasa wajar untuk membantunya karena Alana adalah istriku?' sesalnya dalam hati karena telah membuat Alana tersinggung.
"Alana, maafkan aku. Aku spontan melakukannya, karena kita sudah sangat dekat," ujar Randy dari depan pintu kamar mandi yang tertutup.
Alana terisak, ia merasa sangat terhina karena Randy bersikap seenaknya menyentuh bagian tubuhnya sementara ia tahu bahwa Delia adalah wanita yang dicintainya. Kekesalannya yang bertumpuk tumpah saat itu juga.
"Alana, aku hanya merasa harus bertanggung jawab terhadapmu. Aku ingin membantumu seperti kamu yang merawat ku saat aku sakit. Selayaknya suami istri yang saling memberi perhatian. Aku tidak bermaksud buruk padamu," jelas Randy tanpa menyerah.
Ia juga merasa sangat malu karena telah melakukan hal yang tidak sopan pada Alana.
"Maafkan aku, Alana. Aku bersalah padamu, aku berjanji tidak akan melakukan hal yang tidak sopan kepadamu," Randy memohon sambil tetap berdiri di depan pintu kamar mandi.
Perlahan pintu kamar mandi terbuka. Alana berdiri di hadapan Randy, matanya merah seperti habis menangis, tapi terlihat sebuah upaya untuk meredam emosinya.
"Maafkan aku, Randy. Aku berpikiran negatif terhadapmu, padahal kamu tidak bermaksud apa - apa. Aku terlalu sensitif," ucap Alana dengan nada penuh penyesalan.
Rupanya ia telah mempertimbangkan penjelasan Randy tadi, sehingga memutuskan untuk memaafkan Randy.
Randy menatapnya dengan perasaan lega.
"Terimakasih atas pengertianmu, Alana," ucap Randy tulus.
"Aku malu sekali padamu, Randy," ujar Alana dengan malu - malu.
"Justru aku yang malu karena telah berbuat lancang padamu, Alana," sahut Randy.
Keduanya lalu saling tersenyum.
Randy sebenarnya ingin memeluk wanita cantik yang berada tepat di hadapannya itu karena ia sangat lega bisa dimaafkan olehnya. Tapi ia menahannya karena membayangkan Alana pasti akan menamparnya kali ini.
Sementara itu masih di restoran, Delia menerima sebuah pesan berisi video di ponselnya. Ia membukanya dan tersenyum puas setelah membuka isi video singkat yang menampilkan Eric sedang berpelukan dengan Alana.
'Kerja bagus! Segera jual ke fans clubnya Eric biar heboh semua,' balas Delia kepada si pengirim pesan, yang tak lain adalah salah satu penata rias yang ditugaskan untuk selalu mengabadikan setiap kebersamaan Eric dengan Alana.
🥰🥰🥰 bahagia buat keluarga Randy dan Alana. semoga badai rumah tangga tak lagi menerpa ya...
tinggal menikmati hari2 bersama penuh kegembiraan...
nenek msh panjang umur, berkah ya Nek dn bahagia... cucumu udh kasih cicit yg cantik ❤
,, semoga gk dijodohin sama anakny Randy #ups...
Walau ada adegan keras tapi kayak nuansanya itu adem.
Mungkin karena itu, semua tokohnya mendapatkan happy ending.
Semangat Thor, siap baca cerita lainnya yang juga bikin penasaran dan gregetan.
ngeri banget nikah ama Delia. apalagi lumpuh pasti sifatnya makin wadidaw...
Selamat juga buat kehamilannya /Kiss/
Rasain tuh Devan. sepandai-pandainya menyembunyikan fakta pasti terkuak juga.