NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19: Mantan, Cemburu, dan Janji

Eve berdiri di pintu balkon, tangan dingin di sisi gaunnya.

Calista belum menyadari kehadirannya. Perempuan itu masih berdiri terlalu dekat dengan Edric, kedua tangan menekan dada jasnya.

"Ric, aku tidak peduli kamu sudah menikah. Aku masih mencintaimu."

Edric meraih pergelangan tangan Calista dan menurunkannya dari dadanya.

"Jangan sentuh saya."

Suaranya rendah, tetapi cukup jelas untuk membuat Eve bernapas lagi.

Calista tertawa kecil, putus asa. "Kamu masih marah karena London? Aku salah. Aku mengaku. Tapi kita pernah saling mencintai."

"Itu sudah selesai."

"Tidak untukku."

Eve tidak ingin mendengar lebih banyak. Dadanya sakit, bukan karena ia meragukan Edric sepenuhnya, melainkan karena menyadari ada bagian hidup pria itu yang belum pernah ia sentuh. London. Calista. Satu tahun hubungan. Luka yang mungkin lebih tua daripada pernikahan mereka.

Ia berbalik.

"Eve."

Langkahnya berhenti.

Calista menoleh dan akhirnya melihatnya. Mata perempuan itu menilai Eve dari gaun sampai sarung tangan, lalu berhenti pada wajahnya.

"Jadi kamu istrinya."

Eve menatapnya tenang. "Ya."

"Kamu tahu dia siapa?"

Pertanyaan itu menusuk terlalu dekat pada semua kecurigaan Eve. Jerry yang dipanggil Pak Asisten. Leonardo Lie yang menunduk. Mobil mahal yang dianggap biasa. Namun malam ini ia tidak akan membiarkan perempuan lain memakai ketidaktahuannya sebagai senjata.

"Saya tahu dia suami saya."

Calista tersenyum tipis. "Ric, aku tahu kamu belum melupakanku. Aku tidak keberatan kamu sudah menikah."

Eve tidak menjawab. Ia hanya menatap Calista satu kali, cukup lama untuk menunjukkan bahwa ia mendengar semua, lalu berbalik pergi.

Ketenangan itu membuat Calista lebih gelisah daripada tamparan.

Edric langsung mengejar.

"Lina."

Eve berhenti di koridor. "Jangan panggil aku begitu kalau kamu belum selesai bicara dengannya."

"Sudah selesai."

"Dia tidak terdengar selesai."

"Itu bukan urusan saya."

Calista keluar dari balkon tepat saat Edric melepas jasnya. Dengan gerakan tenang, ia melempar jas mahal itu ke tempat sampah di samping koridor.

Eve membelalak. "Apa yang kamu lakukan?"

"Terkena parfum orang lain," kata Edric tanpa melihat Calista. "Kotor. Buang saja."

Wajah Calista memucat.

Itu bukan sekadar jas. Itu pernyataan. Semua orang yang melihat akan tahu, Edric lebih rela membuang barang mahal daripada membawa jejak perempuan itu mendekati istrinya.

Eve ingin tetap marah. Sayangnya, jantungnya memilih berdetak tidak tertib.

"Ayo," kata Edric.

Mereka turun lewat tangga samping. Di lantai satu, Jess muncul dari arah ballroom dengan mata tajam. Sepertinya ia baru saja melihat Eve bersama pria tinggi yang tidak ia kenal.

"Ternyata benar," kata Jess. "Tahu suamimu punya mantan, masih mau bertahan? Itu namanya pelakor."

Eve berhenti.

Edric hendak maju, tetapi Eve mengangkat tangan.

"Pelakor itu yang mendekati suami orang," kata Eve pelan. "Bukan istri yang mempertahankan rumah tangganya. Cermin dulu, Kak."

Jess terdiam seperti ditampar.

Eve melanjutkan, "Dan kalau kamu bingung contoh pelakor, tanyakan pada Mama Melani tentang sejarah keluargamu sendiri."

Wajah Jess merah padam.

Edric menatap Eve dengan sorot bangga yang terlalu jelas. Eve pura-pura tidak melihat.

Di lobi, Dan sudah menunggu dengan kunci mobil. Ia melihat jas Edric hilang, wajah Eve dingin, dan udara di antara mereka penuh hal yang sebaiknya tidak ia tanyakan.

"Mobil sudah siap," kata Dan bijak.

Edric berhenti beberapa langkah dari mereka. Ia ingin mengantar Eve pulang. Ia ingin menariknya dari sisi Dan dan mengatakan bahwa suami yang seharusnya mengantar, bukan teman kantor. Namun ia juga tahu Eve sedang menahan banyak hal. Memaksa hanya akan membuatnya terlihat seperti pria yang baru ketahuan bersalah.

"Saya pulang nanti," kata Eve tanpa menatapnya.

Edric mengangguk. "Kabari kalau sudah sampai."

Dan membuka pintu mobil untuk Eve. Saat mobil itu pergi, Edric berdiri di lobi dengan rahang tegang.

Di area parkir basement, Calista duduk di bangku dekat pilar, menahan air mata marah.

Seseorang menyodorkan saputangan putih.

Ia mendongak. Valen Kho berdiri di depannya dengan senyum sopan.

"Malam yang berat?" tanyanya.

"Kalau kamu datang untuk mengejek, pergi."

"Aku datang untuk menawarkan perspektif." Valen duduk di sampingnya tanpa diminta. "Menjadi Nyonya Kho tidak harus lewat Edric."

Calista menatapnya.

Valen tersenyum lebih dalam. "Kho bukan cuma Edric."

Di jalan, Dan menyetir tanpa banyak bicara. Eve menghargai itu.

"Kamu mau aku berhenti beli martabak?" tanyanya akhirnya.

Eve menoleh.

"Ini bukan pertanyaan emosional. Ini pertanyaan logistik. Kalau kamu mau menangis, martabak membantu. Kalau kamu mau marah, martabak juga membantu."

Eve tertawa kecil meski matanya panas. "Langsung pulang saja."

Namun saat sampai di apartemen, aroma mie goreng menyambutnya dari dapur.

Edric sudah ada di sana.

Ia mengganti pakaian dengan kaus hitam, lengan digulung, rambut sedikit berantakan. Di meja ada dua piring mie goreng, telur mata sapi, dan irisan timun. Makanan paling sederhana yang pernah mereka makan pada malam pertama pindah ke apartemen.

"Jerry menyetir cepat?" tanya Eve.

"Terlalu cepat," jawab Edric.

Eve melepas sepatu. Semua amarah yang ia pakai seperti baju zirah di hotel tiba-tiba terasa berat. Ia duduk di meja makan.

"Aku tidak suka mantanmu."

"Saya juga."

"Jawaban bagus."

Edric duduk di depannya. "Namanya Calista Sia. Kami pernah bersama di London selama satu tahun. Saat itu saya hidup tanpa fasilitas keluarga. Apartemen kecil, mobil bekas, kerja paruh waktu. Dia mengira saya tidak punya masa depan."

Eve memutar garpu di piring. "Lalu dia pergi."

"Dia memilih pria yang bisa memberinya hidup lebih layak. Itu kata-katanya."

"Kamu terluka?"

Edric diam sebentar. "Waktu itu iya. Bukan karena dia pergi. Karena saya sadar ada orang yang hanya mencintai versi hidup yang bisa saya berikan, bukan saya."

Eve menatap mie goreng di depannya. Kalimat itu terlalu dekat dengan luka yang ia pahami. Rangga juga pernah mencintai versi Eve yang mudah dikendalikan, bukan Eve yang utuh.

Edric mengulurkan tangan di atas meja. "Lina, yang tadi kamu lihat bukan sesuatu yang saya izinkan. Kalau saya tahu dia ada di balkon, saya tidak akan memberi ruang satu detik pun."

Eve menatap tangannya.

"Aku percaya bagian itu."

"Tapi?"

"Tapi aku merasa kamu punya banyak pintu tertutup. Calista hanya salah satunya."

Edric membeku sedikit.

Eve mengangkat wajah. "Kalau suatu hari nanti kamu bohong padaku, aku tidak akan memaafkanmu."

Kata-kata itu jatuh di antara mereka lebih berat daripada piring dan gelas. Edric merasakan rahasia terbesar dalam hidupnya berdiri tepat di belakang lidah. Namanya, jabatannya, mobilnya, keluarganya, semua hal yang ia bungkus dengan alasan menunggu waktu tepat.

Ia menggenggam tangan Eve.

"Aku berjanji, cuma kamu. Sekarang dan seterusnya."

Eve diam lama. Lalu jari-jarinya perlahan membalas genggaman itu.

"Baik. Untuk malam ini, aku percaya."

Mereka makan dalam hening yang tidak sepenuhnya buruk. Ada luka, tetapi ada juga kehangatan. Ada pertanyaan, tetapi ada tangan yang tetap saling memegang di bawah meja.

Malamnya, lampu kamar sudah padam ketika Edric menatap langit-langit.

"Lina," bisiknya, "ada beberapa hal yang ingin saya ceritakan..."

Tidak ada jawaban.

Eve sudah tertidur, wajahnya menghadap ke arahnya, napasnya pelan.

Edric menutup mata. "Besok," katanya pada dirinya sendiri.

Ponselnya menyala di meja samping.

Pesan dari Valen masuk.

Selamat, sepupu. Cinta lama dan cinta baru berada di acara yang sama. Sungguh membuat iri.

Rahang Edric mengeras.

Besok mungkin sudah terlambat.

1
aku
🌹 lgi biar semangat 😁
aku
next tor 🌹
aku
kok malah ingat masha yg dihukum berdiri di pojokan sama bear?? 🤣🤣
aku
lagi mewek ini, malah dikasih istilah kocak 😭😭
aku
OMG eevveeeee 😭😭 sabar
aku
msh ada rahasia besar lg ed 😭
aku
wow!! 😃🤣
aku
haih jgn smpe ya eve mati rasa ed.
aku
minta bonus jer 😁
aku
mewakili jerry 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku
eveee 😭😭😭
aku
halal disantet gunawan ini 🤬🤬
aku
fix kamu dieleminasi otomatis calista 😃
aku
gpp ed, meriah jd nya 😂
aku
mamvu* 😃 puass kali duo sampah kena malu 🤣
aku
cocok pasangan sm ed, killer 😭😭
aku
ada satu yg tegasnya ngalahin guru killer ya fel 🤣
aku
nah kan syokk semua 😃
aku
klo masih ngomel brti msh strong ya ed 🤣🤣
aku
jemput bahagyamu eve 😭😭 bawang oey bawang 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!