Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Weekend Pertama
Sabtu pertama mereka sebagai pasangan dimulai dengan pertanyaan yang sangat tidak romantis dari Xavier.
`Perut kamu hari ini aman?`
Keira yang sedang memakai anting kecil di depan cermin berhenti, lalu menatap chat itu dengan campuran ingin tertawa dan ingin menggigit ponsel.
`Selamat pagi juga, pacarku yang sangat puitis.`
Balasan Xavier datang cepat.
`Selamat pagi. Perut kamu aman?`
Keira tersenyum.
`Aman. Aku sudah makan roti.`
`Roti apa?`
`Roti normal.`
`Kei.`
`Roti gandum dengan telur. Puas?`
`Bagus. Pakai sepatu nyaman. Kita jalan lumayan banyak.`
Keira melihat dirinya di cermin. Ia memakai kaus putih, outer denim tipis, celana longgar, dan sneakers. Di meja, Nokia tua tadi sudah memberi satu getar singkat saat ia memilih outfit.
`Misi 3: progres 2/3.`
Ia belum sempat bersorak, karena rasa senangnya langsung bercampur dengan gugup. Outfit mereka memang sudah janjian. Xavier kemarin bertanya, "Weekend mau denim?" dengan wajah polos yang sama sekali tidak polos.
Keira memasukkan Nokia ke tas kecil.
"Satu lagi," gumamnya. "Tinggal satu."
Tetapi hari ini, ia tidak ingin seluruh pikirannya diambil alih sistem.
Hari ini ia punya kencan pertama.
Xavier menjemput tepat pukul sembilan. Begitu pintu terbuka, Keira melihat ia memakai kaus putih, jaket denim gelap, dan sneakers putih. Sangat sama, sangat niat, sangat membuat wajah Keira panas.
"Kamu bilang jangan terlalu heboh," kata Xavier sebelum Keira bicara.
"Ini menurut kamu tidak heboh?"
"Tidak. Tidak ada tulisan nama."
"Kamu sempat mempertimbangkan tulisan nama?"
"Tidak untuk hari ini."
Keira menunjuknya. "Berhenti bicara."
Xavier tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan. "Ayo."
Keira menatap tangan itu. Di koridor The Springs, tidak ada orang lain. Tetap saja, kali ini ia tidak perlu berpikir lama. Ia meletakkan tangannya di telapak Xavier.
Genggamannya sudah mulai terasa familier.
Tujuan pertama mereka adalah Braga. Xavier memarkir mobil agak jauh agar mereka bisa berjalan pelan di trotoar yang ramai. Sabtu pagi membuat kawasan itu hidup: pasangan muda berfoto di depan bangunan tua, turis membawa kamera, aroma kopi keluar dari kafe-kafe kecil, dan suara musisi jalanan memainkan lagu lama yang tidak Keira tahu judulnya.
Keira mengangkat ponsel, memotret jendela toko buku bekas yang penuh poster.
"Kamu suka tempat seperti ini?" tanya Xavier.
"Suka. Banyak tekstur. Banyak cerita." Ia menunjuk mural kecil di dinding. "Lihat itu. Kalau jadi panel webtoon, bagus banget."
Xavier tidak langsung melihat mural.
Ia melihat Keira.
"Kenapa?"
"Kamu kelihatan hidup kalau bicara soal gambar."
Kalimat itu membuat Keira menurunkan ponsel.
Ada masa ketika kata `hidup` terasa seperti sesuatu yang tidak boleh disebut sembarangan. Namun dari mulut Xavier, kata itu tidak terdengar seperti luka. Lebih seperti doa.
Keira mengangkat kamera ponsel ke arahnya. "Kalau begitu, objek hidup berikutnya adalah kamu."
Xavier langsung menghindar sedikit. "Aku?"
"Iya. Berdiri di sana."
"Keira."
"Pacar yang baik harus mendukung portofolio visual pacarnya."
"Itu aturan dari mana?"
"Baru aku buat."
Xavier menghela napas, tetapi tetap berdiri di depan dinding bata tua seperti diminta. Wajahnya kaku. Bahunya terlalu lurus. Keira menahan tawa sambil memotret.
"Jangan kayak foto KTP."
"Aku tidak biasa."
"Kamu biasanya difoto orang sekampus diam-diam. Harusnya berpengalaman."
"Itu bukan pengalaman yang aku pilih."
Keira tertawa. Ia mendekat, mengulurkan tangan untuk menarik sedikit kerah jaket denim Xavier agar terlihat lebih santai. Begitu jari-jarinya menyentuh kain dekat dada Xavier, gerakannya berhenti.
Jarak mereka tiba-tiba terlalu dekat.
Xavier menatapnya dari atas, mata gelapnya tenang tetapi tidak polos.
"Selesai mengatur?"
Keira menarik tangan cepat. "Selesai. Jangan bergerak."
Foto berikutnya lebih bagus. Xavier masih terlihat dingin, tetapi ada senyum kecil di sudut bibir. Senyum yang Keira tahu bukan untuk kamera.
Setelah Braga, mereka berjalan ke toko zine kecil, lalu mampir ke kedai gelato. Xavier memilih rasa kopi. Keira memilih stroberi, lalu menyesal karena melihat Xavier punya rasa lebih enak. Tanpa berkata apa-apa, Xavier menyodorkan sendoknya.
"Coba."
Keira menatap sendok itu.
"Kamu sadar ini..."
"Apa?"
"Tidak. Lupakan."
Ia mencicipi gelato kopi dari sendok Xavier dengan wajah yang berusaha normal. Gagal. Xavier melihat pipinya memerah dan pura-pura tidak tahu, yang membuatnya makin menyebalkan.
Siang menjelang sore, mereka pindah ke area Cihapit. Keira ingin jajanan, tetapi Xavier seperti petugas keamanan makanan.
"Seblak tidak."
"Aku belum bilang seblak."
"Wajah kamu bilang."
"Wajah aku difitnah lagi."
Akhirnya mereka membeli surabi polos dengan topping pisang dan sedikit cokelat, lalu batagor tanpa sambal kacang terlalu banyak. Penjual batagor menatap mereka sambil tersenyum.
"Pacaran baru, ya?"
Keira hampir tersedak.
Xavier menjawab tanpa ragu, "Iya."
Penjual itu tertawa. "Pantes. Yang cowok lihatnya hati-hati sekali."
Keira menoleh ke Xavier. "Kamu lihat aku hati-hati?"
"Kamu sering hampir menabrak sesuatu kalau lihat makanan."
"Itu tidak romantis."
"Tapi benar."
Mereka makan di bangku kecil pinggir jalan. Angin Bandung sore membawa bau gorengan, hujan jauh, dan kopi dari kedai sekitar. Keira mengambil foto surabi, lalu mengambil foto sepatu mereka yang berdampingan di bawah bangku.
Sepatu putih.
Denim.
Jari Xavier yang diam-diam menyentuh punggung tangannya di antara dua kantong makanan.
Foto itu sederhana.
Namun Keira menatapnya lama.
"Boleh aku upload?" tanyanya.
Xavier menoleh. "Foto apa?"
Keira menunjukkan layar. Tidak ada wajah. Hanya dua pasang sepatu, tangan mereka hampir bersentuhan, dan kertas surabi di pangkuan.
"Boleh."
"Kalau orang tahu?"
"Mereka sudah tahu."
"Kalau makin ramai?"
Xavier memandangnya lebih lembut. "Kamu mau simpan saja?"
Keira berpikir.
Dulu, setiap hal tentang Xavier seperti rahasia yang membuatnya panik. Sekarang, ia ingin menyimpan beberapa bagian untuk dirinya sendiri, tetapi tidak karena malu. Hanya karena berharga.
Namun foto ini...
Ia ingin membagikannya.
Tidak banyak. Tidak berlebihan. Hanya satu potongan kecil bahwa hari ini ia bahagia.
Keira membuka Instagram story. Ia mengunggah foto itu dengan caption:
`Weekend pertama.`
Setelah menekan upload, ia langsung meletakkan ponsel terbalik di pangkuan.
Xavier menatapnya. "Takut?"
"Sedikit."
"Mau dihapus?"
"Tidak."
Senyum Xavier muncul. Ia mengambil satu potong surabi dan meletakkannya di piring kecil Keira. "Kalau begitu makan."
"Kamu selalu pakai makanan untuk mengalihkan emosi."
"Efektif."
Memang efektif sampai lima menit kemudian ponsel Keira bergetar tanpa henti.
Ia membuka layar.
Komentar masuk bertubi-tubi.
Celine: `AKHIRNYA HARD LAUNCH SETENGAH BADAN.`
Kevin: `Gue saksi sejarah.`
Tania: `Lucu. Jangan lupa minum air.`
Bianca: `Gemes.`
Beberapa teman DKV mengirim emoji hati. Ada yang membalas, `Ini siapa?` lalu langsung dijawab orang lain, `Xavier lah, lihat sepatunya.` Bahkan seseorang mengirim tangkapan layar story itu ke grup kecil yang Keira tidak tahu namanya.
Keira menatap layar, antara panik dan ingin tertawa.
"Komentar meledak?" tanya Xavier.
"Lebih seperti kebakaran kecil."
Ponsel Xavier ikut bergetar. Ia membuka, lalu wajahnya langsung menjadi datar.
"Kevin membuat polling."
"Polling apa?"
Xavier menunjukkan layar.
`Kapan Xav upload Kei duluan?`
Pilihan jawabannya: `hari ini`, `besok`, `dia terlalu kaku`.
Keira tertawa sampai hampir menjatuhkan surabi.
"Jawab yang mana?"
Xavier menatapnya. "Hari ini."
Tawa Keira berhenti.
"Apa?"
Xavier mengambil ponselnya, membuka kamera, lalu mengarahkannya ke tangan mereka yang sekarang benar-benar saling menggenggam di atas bangku. Ia memotret sekali, melihat hasilnya, lalu mengunggah ke close friends tanpa caption.
Keira menatap layar Xavier.
"Close friends kamu isinya siapa?"
"Tidak banyak."
"Kevin?"
"Sayangnya."
Dalam tiga detik, ponsel Xavier bergetar.
Kevin: `BROOOOOOOOO`
Keira menutup mulut, tertawa lagi.
Sore itu turun hujan kecil saat mereka kembali ke mobil. Xavier membuka payung, menarik Keira lebih dekat agar bahunya tidak basah. Keira berjalan di bawah payung yang sama, membawa sisa surabi dan perasaan hangat yang tidak sepenuhnya berasal dari makanan.
Di kaca mobil, pantulan mereka terlihat berdampingan.
Denim yang sama.
Sepatu putih yang sama.
Tangan yang masih saling menggenggam.
Keira menyandarkan kepala sebentar ke bahu Xavier sebelum masuk mobil.
Gerakan itu kecil, hampir tidak terlihat.
Tetapi Xavier langsung diam, lalu menunduk sedikit.
"Capek?"
"Sedikit."
"Pulang?"
Keira mengangguk.
Saat mobil bergerak meninggalkan Braga yang basah oleh hujan, ponselnya masih terus bergetar. Story itu mungkin sedang menyebar. Komentar mungkin masih bertambah.
Namun untuk pertama kalinya, Keira tidak merasa dirinya menjadi bahan tontonan.
Ia merasa seperti seseorang yang berani menunjukkan sedikit kebahagiaannya.
Dan itu, ternyata, lebih menegangkan daripada sakit.
Tetapi jauh lebih manis.