Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018
Kevin dan Stephanie
Seline kembali ke ballroom dengan kepala penuh pertanyaan.
Papa, aku mungkin menemukan dia.
Ia tidak mendengar kalimat itu, tentu saja. Namun tatapan Bryan Wijaya di taman tertinggal seperti sidik jari di kulitnya. Festival lampion. Adik perempuan yang hilang. Surabaya. Umur dua puluh.
Terlalu banyak hal mendekat ke liontin giok di balik gaunnya.
Jessica beberapa kali bertanya apakah ia baik-baik saja. Seline menjawab iya. Ia membantu Oma Mei duduk di meja keluarga, mengambilkan air hangat, lalu berdiri di sisi ruangan ketika acara makan malam resepsi dimulai. Di panggung, Michelle tersenyum lelah tetapi bahagia. Tante Chen akhirnya tampak benar-benar puas.
Menjelang malam, Oma Mei meminta selendang tipis yang tertinggal di ruang istirahat keluarga.
"Biar saya ambil, Oma."
"Minta Jessica saja."
"Jess sedang dipanggil Michelle. Saya sebentar."
Oma memandangnya beberapa detik. "Jangan lama."
Seline mengangguk.
Ruang istirahat keluarga berada di sisi belakang ballroom, melewati koridor kaca yang menghadap taman hotel. Setelah mengambil selendang dari sofa, Seline berniat langsung kembali. Namun suara seorang perempuan dari arah teras belakang membuat langkahnya melambat.
"Kevin, sampai kapan kamu mau menghindar?"
Seline berhenti.
Ia tahu tidak seharusnya mendengar. Ia juga tahu suara itu bukan suara Vivian. Lebih halus, lebih terlatih, dengan keyakinan perempuan yang terbiasa diterima di mana pun ia berdiri.
Di luar pintu kaca yang sedikit terbuka, Kevin berdiri di teras taman. Lampu taman menyinari sisi wajahnya, membuat ekspresinya terlihat lebih dingin. Di depannya, seorang perempuan cantik memakai gaun putih gading berdiri terlalu dekat.
Stephanie Wijaya.
Seline mengenal nama itu dari daftar tamu dan bisik-bisik para sepupu. Putri keluarga Wijaya. Cantik, berpendidikan, cocok secara status, dan sejak lama disebut-sebut sebagai perempuan yang paling mungkin berdiri di samping Kevin.
Di ballroom tadi, Stephanie bergerak seperti orang yang tahu semua pintu akan dibuka untuknya. Para tante menyapanya dengan hangat. Beberapa tamu muda menatapnya dengan kagum. Bahkan Tante Chen sempat memujinya sebagai gadis yang "lengkap", kata yang terdengar sederhana tetapi di dunia mereka berarti lahir dari keluarga tepat, punya pendidikan tepat, wajah tepat, dan koneksi tepat.
Jika rumah Hartono membutuhkan calon istri untuk Kevin, Stephanie adalah jawaban yang akan membuat semua orang mengangguk.
Kevin tidak terlihat tersentuh oleh semua kemungkinan itu.
"Aku tidak menghindar," katanya.
"Kamu menolak semua undangan keluargaku. Kamu tidak pernah membalas pesan selain urusan bisnis. Kalau itu bukan menghindar, apa namanya?"
"Batas."
Satu kata itu membuat wajah Stephanie berubah sedikit.
"Kita bukan orang asing, Kevin."
"Kita juga bukan apa-apa."
Seline memegang selendang Oma lebih erat. Kalimat itu dingin bahkan dari jarak beberapa meter.
Stephanie mengangkat dagu, tetapi tangannya bergerak sedikit, seolah hendak menyentuh lengan Kevin. Kevin mundur setengah langkah sebelum jari perempuan itu sempat sampai. Gerakan kecil itu lebih mempermalukan daripada penolakan dengan suara tinggi.
"Kamu bahkan tidak memberiku kesempatan bicara baik-baik," kata Stephanie.
"Aku sedang bicara baik-baik."
"Tidak. Kamu sedang menutup pintu sebelum aku mengetuk."
"Karena pintunya tidak untukmu."
Seline menahan napas. Ada bagian kecil dalam dirinya yang seharusnya tidak bereaksi, tetapi tetap bereaksi. Bukan senang. Bukan juga lega. Lebih seperti dada yang tiba-tiba terlalu sempit karena melihat seseorang sekelas Stephanie pun tidak bisa membuat Kevin melunak.
Pintu. Kata itu menghantam ingatan Seline pada gerbang hitam dua tahun lalu. Bedanya, dulu pintu itu tidak terbuka untuknya sampai Kevin memberi satu perintah singkat.
Kain selendang di tangannya menjadi kusut karena ia menggenggamnya terlalu erat.
Ia cepat melonggarkan tangan, takut kain itu rusak.
Stephanie menarik napas, berusaha tetap tersenyum. "Keluarga kita cocok. Opa Herman menghargai Oma Mei. Papa juga pernah bicara dengan Pak William. Tidak ada alasan untuk menolak kemungkinan ini."
"Ada."
"Apa?"
"Aku tidak mau."
Tidak ada suara keras. Tidak ada penghinaan. Justru karena itu penolakan Kevin terdengar final.
Stephanie menatapnya lama. "Apa karena kamu belum ingin menikah, atau karena ada orang lain?"
Seline seharusnya pergi saat itu juga. Tetapi kakinya tetap berada di balik pintu, seolah pertanyaan itu menahan udara di sekitarnya.
Pertanyaan itu tidak menyebut nama siapa pun, tetapi entah kenapa membuat Seline merasa seperti berdiri terlalu dekat dengan cahaya lampu. Ia hanya gadis kamar belakang. Ia hanya orang yang mengambil selendang Oma. Ia tidak punya hak merasa terlibat dalam kalimat yang seharusnya milik perempuan seperti Stephanie.
Namun tangannya tetap basah dingin di kain selendang.
Kevin tidak menjawab cepat. Ia hanya menatap taman gelap di belakang Stephanie.
"Itu bukan urusanmu."
"Jadi ada."
"Stephanie."
Nama itu keluar rendah. Peringatan.
Stephanie tersenyum pahit. "Aku hanya ingin tahu perempuan seperti apa yang bisa membuat Kevin Hartono berhenti menutup pintu."
"Jangan mencari orang yang tidak ada."
"Tidak ada?" Stephanie melangkah setengah lebih dekat. "Atau kamu belum mau mengaku?"
Sebelum Kevin menjawab, semak di sisi teras bergerak kecil.
Kevin menoleh.
Vivian berdiri di sana, wajahnya pucat sesaat sebelum ia memaksa tersenyum.
"Ko Kevin," katanya cepat. "Aku cuma lewat. Aku cari toilet."
Seline hampir ingin menutup mata. Alasan itu bahkan lebih buruk dari alasan Bryan tadi.
Kevin menatap Vivian tanpa ekspresi. "Toilet ada di dalam."
"Iya, aku salah arah."
"Dari balik semak?"
Vivian kehilangan kata.
Stephanie melihat Vivian, lalu memahami sesuatu. Senyumnya kembali, kali ini lebih tajam. "Sepertinya bukan cuma aku yang penasaran."
Kevin tidak menoleh padanya. Matanya tetap pada Vivian.
"Jangan ulangi."
Vivian menggigit bibir. "Aku tidak bermaksud..."
"Kalau kamu punya waktu menguping, pakai untuk belajar menjaga sikap."
Wajah Vivian memerah. Di rumah Hartono, banyak orang pernah menyindirnya. Tetapi ditegur Kevin langsung, di depan Stephanie, jelas berbeda.
"Maaf, Ko Kevin."
"Masuk."
Vivian menunduk dan cepat berjalan ke arah pintu samping. Seline panik. Jika Vivian masuk lewat pintu itu, ia akan melihat Seline berdiri di koridor dengan selendang Oma dan wajah yang pasti tidak cukup tenang.
Seline mundur satu langkah.
Ujung sepatunya menyentuh kaki meja kecil di belakangnya. Vas bunga di atas meja bergeser sedikit, cukup untuk menimbulkan suara kaca beradu.
Kevin menoleh ke arah koridor.
Seline membeku.
Lewat celah pintu kaca, mata Kevin bertemu matanya.
Tidak ada waktu untuk menjelaskan bahwa ia hanya mengambil selendang. Tidak ada waktu untuk mengatakan ia tidak sengaja mendengar. Di belakang Kevin, Stephanie juga mulai menoleh, dan Vivian yang baru masuk dari sisi lain berhenti dengan mata melebar.
Seline melakukan satu-satunya hal yang tubuhnya pilih lebih cepat daripada pikirannya.
Ia berbalik dan lari.