Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
"Kalau mereka menyentuhmu lagi, kali ini aku tidak akan hanya menonton."
Keira menatap Kevin beberapa detik.
Pagi Hartono Estate masih hangat di belakangnya, tetapi nama Vania seperti tangan dingin dari masa lalu yang menyentuh tengkuk.
"Aku tidak butuh orang menonton," katanya.
"Aku tahu."
"Aku juga tidak butuh orang menyelesaikan semuanya untukku."
"Aku tahu."
Keira mengangkat alis. "Lalu kenapa kau tetap terlihat seperti akan ikut perang?"
Kevin membetulkan manset jasnya. "Karena aku bisa berdiri di belakangmu sambil memastikan tidak ada yang menusuk dari belakang."
Jawaban itu membuat Keira tidak langsung membalas.
Dua hari kemudian, undangan Vania membawanya ke sebuah private lounge di Senayan, tempat keluarga Mulyono mengadakan "ulang tahun kecil" yang sama sekali tidak kecil. Lampu emas, rangkaian anggrek putih, fotografer internal, dan tamu dari lingkaran bisnis lama Hendra membuat acara itu lebih mirip panggung pembuktian bahwa Mulyono masih punya muka setelah skandal pernikahan Ryan dan Vania.
Keira datang dengan gaun hitam sederhana.
Tanpa perhiasan besar. Tanpa rombongan mencolok. Hanya Rio yang berjalan dua langkah di belakangnya, wajah datar, ponsel di saku jas sudah terhubung ke timnya.
Begitu Keira masuk, suara percakapan turun.
Vania berdiri di tengah ruangan dengan gaun merah muda yang terlalu manis untuk senyum setajam itu. Di sampingnya, Ryan Salim tampak kaku. Siska menatap Keira dari ujung meja minuman seperti melihat noda yang belum berhasil ia hapus.
Hendra tersenyum lebih dulu.
"Keira. Om senang kamu datang."
Keira berhenti di hadapannya. "Undangannya cukup memaksa."
"Keluarga kadang harus saling memaksa agar duduk satu meja."
"Aku lupa, terakhir kali kalian memaksaku keluar dari rumah."
Beberapa tamu saling melirik.
Senyum Hendra menegang.
Vania maju sambil membawa dua gelas mocktail berwarna peach. "Jangan mulai dengan drama lama, Keira. Hari ini ulang tahunku. Kalau kamu datang untuk mengacau, setidaknya minum dulu supaya suasana lebih manis."
Keira menatap gelas di tangan Vania.
Aroma buah persik, sirup mawar, sedikit soda.
Dan sesuatu yang sangat tipis, hampir tertutup gula.
Bukan alkohol. Bukan obat tidur biasa. Lebih seperti campuran penenang ringan dan zat halusinogen dosis kecil, cukup untuk membuat seseorang pusing, bicara kacau, dan terlihat kehilangan kendali di depan kamera.
Siska bergerak dari samping. "Ambil, Keira. Jangan sombong. Kamu sudah jadi tamu."
Keira menerima gelas itu.
Di seberang ruangan, Ryan menatapnya dengan gelisah. Bibirnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi Vania langsung menggandeng lengannya.
"Ayo, Keira. Untuk ulang tahunku."
Keira mengangkat gelas.
Rio di belakangnya tidak bergerak, tetapi tangan kanannya sudah menyentuh tombol kecil di jam tangan. Kamera tersembunyi di sudut ruangan mulai merekam dari tiga arah.
Keira hanya membasahi bibirnya sedikit, cukup untuk membuat Vania tersenyum puas.
"Aku ke toilet sebentar," kata Keira.
Vania menahan lengan Ryan. "Jangan lama. Kami menunggu ucapan selamatmu."
Di toilet wanita yang sepi, Keira mengunci bilik paling ujung. Rasa kebas sangat ringan mulai muncul di lidahnya. Ia membuka tas kecil, mengeluarkan jarum perak pendek, lalu menusukkan ujungnya ke titik di sisi pergelangan tangan dan bawah rahang.
Nyeri tajam menyebar.
Keira menarik napas panjang.
Rasa kebas memudar perlahan, berubah menjadi mual kecil yang bisa ia tahan.
"Kalian masih memakai cara kotor yang sama," gumamnya.
Lima tahun lalu mereka memakai hotel, gosip, dan rasa malu. Hari ini mereka memakai minuman dan kamera.
Bedanya, Keira yang sekarang tidak lagi sendirian dalam hujan.
Ia keluar dari toilet melalui pintu samping menuju koridor servis. Rio sudah menunggu.
"Dosis ringan," kata Keira.
"Mereka ingin membuat Bos terlihat mabuk?"
"Lebih buruk. Kehilangan kendali."
Rio menatap ke arah aula. "Perlu saya hentikan sekarang?"
"Belum."
Keira menyerahkan gelasnya. "Kembalikan kepada pemiliknya."
Rio mengerti tanpa perlu penjelasan. Gelas itu bukan racun baru. Itu minuman yang Vania siapkan untuk Keira. Jika gelas berpindah tangan, yang meminum hanyalah orang yang sejak awal berniat mencelakai.
Lima menit kemudian, Keira kembali ke aula dengan wajah tenang.
Vania tampak sedikit tidak sabar. "Akhirnya. Aku pikir kamu kabur."
"Aku tidak pernah kabur dari orang sepertimu."
Siska mendengus. "Mulutmu makin tajam."
"Terima kasih. Dulu kalian melatihnya dengan baik."
Beberapa tamu menahan senyum.
Vania mengambil gelas di nampan yang dibawa pelayan. Ia tidak sadar Rio telah mengatur posisi nampan itu. Gelas peach dengan hiasan daun mint kembali ke tangan yang benar.
"Kalau begitu," kata Vania, "ucapkan selamat."
Keira mengangkat gelas air mineral yang baru ia ambil sendiri. "Selamat ulang tahun, Vania. Semoga tahun ini kamu belajar bahwa jebakan murahan tidak membuat seseorang terlihat pintar."
Wajah Vania berubah.
"Apa maksudmu?"
"Kamu tahu maksudku."
Vania tertawa dingin, lalu meneguk mocktail-nya sendiri untuk menunjukkan tidak ada yang salah.
Siska terlambat satu detik menyadari.
"Vania, jangan..."
Gelas itu sudah kosong setengah.
Keira menatap Siska. "Kenapa, Tante Siska? Bukankah minumannya aman?"
Siska pucat.
Awalnya, Vania masih bisa tersenyum. Lalu matanya berkedip terlalu cepat. Ia memegang meja, tertawa sekali tanpa alasan, kemudian memandang Ryan seolah wajah pria itu berubah bentuk.
"Ryan," katanya dengan suara lebih tinggi, "kenapa mukamu seperti takut? Kamu takut Keira lagi?"
Ruangan perlahan hening.
Ryan menegang. "Vania, kamu kenapa?"
"Aku?" Vania tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Aku baik. Aku sangat baik. Aku cuma mau semua orang lihat Keira mempermalukan diri. Kenapa malah kepalaku yang berputar?"
Siska langsung maju. "Vania mabuk gula. Dia belum makan."
Keira berdiri di samping meja, tenang seperti dokter yang menunggu gejala muncul.
"Ci Vania," katanya lembut, "kamu kenapa? Perlu aku panggil ambulans?"
Vania menunjuknya. "Kamu tukar gelasku!"
Keira memiringkan kepala. "Gelas apa?"
"Gelas yang Mama kasih buat kamu! Yang ada obatnya..."
Siska menampar mulut Vania dengan panik. Terlambat.
Suara napas tertahan terdengar dari seluruh ruangan.
Rio menunduk sedikit, memastikan kamera menangkap wajah Siska, Vania, dan gelas di meja.
Hendra bergerak cepat.
"Matikan semua kamera. Tidak ada yang keluar dari ruangan ini."
Dua penjaga Mulyono melangkah ke pintu.
Rio juga bergerak.
Ia tidak perlu memukul siapa pun. Cukup membuka jas sedikit, memperlihatkan earbud komunikasi dan layar ponsel yang sudah mengunggah rekaman ke penyimpanan awan.
"Terlambat, Pak Hendra."
Hendra menatapnya tajam. "Kau siapa berani mengancam di acara keluarga Mulyono?"
Keira menjawab, "Orangku."
Siska berusaha menarik Vania pergi, tetapi Vania sudah menangis sambil tertawa. "Mama bilang sedikit saja. Biar Keira ngomong sembarangan. Biar semua orang tahu dia perempuan gila..."
Ryan mundur satu langkah. Wajahnya bukan hanya takut, tetapi jijik.
"Kalian benar-benar menaruh obat di minuman?"
Vania menunjuk Ryan. "Kamu diam! Kamu masih suka dia kan? Kamu selalu lihat dia!"
Kali ini tamu-tamu tidak bisa berpura-pura tidak mendengar.
Pintu lounge terbuka keras.
Kevin masuk bersama Feng.
Suhu ruangan seperti turun beberapa derajat.
Hendra melihatnya, dan untuk pertama kalinya malam itu, topeng ramahnya retak.
"Pak Kevin, ini acara pribadi."
Kevin berjalan langsung ke sisi Keira. Ia tidak menyentuhnya sebelum bertanya dengan mata.
Keira menggeleng kecil. Aku baik-baik saja.
Baru setelah itu Kevin menatap Hendra.
"Acara pribadi untuk memberi obat pada tamu?"
Hendra berkata cepat, "Salah paham. Vania sedang tidak sehat. Keira sengaja memancing."
"Mereka yang mulai," kata Kevin. Suaranya rendah, tetapi cukup membuat penjaga Mulyono mundur. "Jangan salahkan aku kalau mulai sekarang aku tidak lagi sopan."
Siska memeluk Vania yang mulai lemas. "Panggil dokter!"
Keira memberi isyarat kepada Rio. "Ambulans sudah dipanggil. Dosisnya tidak mematikan, tapi cukup membuat semua orang tahu apa yang kalian rencanakan."
Hendra menatapnya dengan kebencian terbuka.
"Kamu akan menyesal, Keira."
Keira mengambil tasnya.
"Aku sudah menyesal lima tahun lalu karena pernah percaya kalian punya hati."
Vania dibawa keluar menuju ambulans pribadi. Pesta bubar dalam bisik-bisik tajam. Beberapa tamu sudah menghapus senyum mereka dan mulai mengirim pesan ke lingkaran sosial masing-masing.
Ryan tertinggal di dekat pintu, wajahnya pucat. Ketika Keira melewatinya, ia bergerak seperti ingin menahan.
"Keira..."
Kevin hanya menoleh sedikit.
Ryan langsung berhenti.
Keira bahkan tidak melihatnya lama. "Lima tahun lalu kamu memilih percaya kebohongan yang paling nyaman untukmu. Malam ini, kamu melihat sendiri cara mereka bekerja."
Bibir Ryan bergetar. "Aku tidak tahu mereka akan sejauh ini."
"Kamu tidak pernah mau tahu."
Kalimat itu pendek, tetapi cukup membuat Ryan seperti ditampar tanpa suara. Ia menunduk, sementara di belakangnya beberapa tamu yang dulu pernah tertawa atas kejatuhan Keira kini buru-buru menghindari tatapannya.
Di luar lounge, hujan rintik turun.
Kevin membuka pintu mobil untuk Keira.
Ia masuk tanpa menolak.
Begitu pintu tertutup, keheningan di dalam mobil terasa jauh lebih bersih daripada udara pesta tadi.
Kevin duduk di sampingnya. "Kamu yakin tidak perlu ke rumah sakit?"
"Aku sudah netralisir."
"Dengan jarum?"
"Dengan jarum."
Kevin menatap tangannya. Ada titik merah kecil di pergelangan Keira.
Ia tidak menyentuh, tetapi matanya mengeras.
"Keira."
"Aku bisa menangani Mulyono sendiri."
"Aku tahu."
Keira menoleh. "Tapi kalau kamu memang ingin membantu..."
Kevin menunggu.
Di luar kaca, lampu Senayan memantul panjang di jalan basah.
Keira berkata pelan, "Mulailah dari catatan pajak Hendra Mulyono."
Kevin mengangguk, dan malam itu perang resmi dimulai.