Ghazali Atharrazka adalah perwujudan dari presisi dan kedinginan yang sempurna. Sebagai Kapten termuda dengan rekam jejak tanpa celah, hidupnya diatur oleh jam dinding dan hukum militer yang kaku. Baginya, kesalahan adalah aib dan kecerobohan adalah gangguan yang harus dimusnahkan. Dia adalah pria dengan tatapan sedingin es yang mampu membungkam satu batalion hanya dengan satu kata.
Lalu hadir seorang bernama Keyra Azzahra
Seorang mahasiswi tingkat akhir yang hidupnya adalah definisi dari kata chaos, Sebuah insiden memaksa mereka tinggal di bawah atap yang sama di lingkungan barak. Di antara derap sepatu laras dan aroma mesiu, mampukah si mahasiswi perusuh mencairkan hati sang Kapten yang membeku? Ataukah markas ini akan meledak karena ulah Keyra yang selalu di luar kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KODE DARI KEGELAPAN
Ketegangan di dalam gua yang sempit itu memuncak hingga ke titik nadir. Suara gesekan sepatu bot di atas tanah berlumpur hanya berjarak selembar semak dari wajah Keyra. Ia bisa mencium bau asap rokok dan minyak senjata dari para pemburu bayaran di luar sana.
Ghazali, meski tubuhnya masih dibakar demam, mencoba menarik tubuhnya untuk duduk tegak. Tangan kanannya meraba mencari pisau komando yang terselip di sepatunya, sementara tangan kirinya yang dibalut perban oleh Keyra tetap didekapkan ke dada.
---
"Periksa lubang di bawah akar itu!" sebuah perintah kasar terdengar.
Keyra memejamkan mata, mencengkeram erat bisturi di tangannya. Namun, tepat saat ujung laras senjata musuh mulai menyibak dedaunan pelindung gua, sebuah suara siulan rendah memecah kesunyian rawa.
Cuit... cuit-cuit... pshht!
Suara itu sangat spesifik, meniru burung rawa namun dengan ritme yang patah-patah. Mata Ghazali seketika melebar. Ia mengenali frekuensi itu. Itu bukan suara burung; itu adalah kode morse manual yang sering digunakan tim kecilnya untuk menandai posisi kawan.
"Yudha..." bisik Ghazali, nyaris tak terdengar.
Seketika, sebuah ledakan kecil dari granat asap meletus di sisi timur rawa, sekitar lima puluh meter dari gua. Asap putih pekat segera menyelimuti area bakau, menciptakan kekacauan penglihatan bagi tim pemburu.
"KONTAK! ARAH JAM DUA!" teriak musuh. Mereka segera berbalik arah, meninggalkan mulut gua untuk mengejar sumber ledakan yang mereka kira adalah Ghazali.
Keyra mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan, tubuhnya mendadak lemas hingga ia hampir terjatuh ke samping. Namun, dari balik kepulan asap di mulut gua, sesosok bayangan muncul dengan gerakan sangat cepat dan senyap. Keyra nyaris menusukkan pisau bedahnya jika pria itu tidak segera mengangkat tangan.
"Kapten! Dokter! Ini saya!"
Itu Yudha. Wajahnya penuh dengan coretan lumpur hitam dan hijau sebagai samaran. Ia mengenakan rompi taktis yang sudah compang-camping, namun matanya memancarkan ketenangan seorang prajurit elit. Di belakangnya, Bastian muncul dengan napas terengah-engah, memegang tablet yang layarnya retak.
"Yudha... bagaimana bisa?" tanya Ghazali sembari mencoba berdiri dengan bantuan dinding gua.
"Kami mengikuti tanda yang Kapten tinggalkan di batang pohon sebelum terjun ke sungai," Yudha segera mengambil posisi waspada di mulut gua, senjatanya mengarah ke luar. "Bastian berhasil meretas frekuensi komunikasi mereka. Mereka mengira Kapten hanyut lebih jauh ke hilir. Kita punya waktu sepuluh menit sebelum mereka sadar ini hanya pengalihan."
Bastian mendekati Keyra, menyerahkan sebuah botol air mineral dan sepotong cokelat energi. "Makan ini, Key. Kamu pucat sekali. Kita harus bergerak ke titik jemput di hulu sekarang."
Keyra menerima cokelat itu dengan tangan gemetar. "Ghazali butuh tandu, Bas. Dia baru saja aku operasi darurat tanpa bius. Dia tidak akan kuat jalan jauh."
"Tidak ada waktu untuk tandu, Dokter," sahut Ghazali tegas. Ia menatap Yudha, lalu menatap Keyra. "Aku akan jalan. Yudha, berikan aku suntikan perangsang adrenalin dari tas medis Keyra."
"Ghaz, itu berbahaya untuk jantungmu!" protes Keyra.
"Lebih berbahaya jika kita tertangkap di sini, Keyra," Ghazali menggenggam tangan Keyra, jari mereka yang terjalin memperlihatkan cincin kabel tembaga yang kini kotor oleh lumpur. "Kita sudah sampai sejauh ini. Aku tidak akan membiarkan Yudha dan Bastian menjemput mayat. Lakukan saja."
Dengan berat hati, Keyra menyiapkan suntikan itu. Setelah cairan masuk ke pembuluh darah Ghazali, pria itu tampak menarik napas dalam, wajahnya yang tadi pucat kini sedikit memerah karena paksaan adrenalin.
"Yudha, pimpin jalan. Bastian, hapus jejak kita. Keyra... tetap di belakangku," perintah Ghazali, suaranya kembali memiliki otoritas seorang komandan.
Mereka keluar dari gua, merangkak di antara akar-akar bakau yang licin menuju arah hulu. Di atas sana, helikopter pencari kembali meraung, lampu sorotnya membelah kabut rawa.
"Hati-hati, Kapten," bisik Yudha sembari menunjuk ke arah air rawa yang tenang. "Ada pergerakan di air. Sepertinya musuh melepaskan tim selam taktis."
---
keyra...
Bastian...
yudha....
kamu dimana....