NovelToon NovelToon
The Price Of Affair

The Price Of Affair

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Pelakor / Suami Tak Berguna
Popularitas:105.9k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Arumi Nadine, seorang wanita cerdas dan lembut, menjalani rumah tangga yang dia yakini bahagia bersama Hans, pria yang selama ini ia percayai sepenuh hati. Namun segalanya runtuh ketika Arumi memergoki suaminya berselingkuh.

Namun setelah perceraiannya dengan Hans, takdir justru mempertemukannya dengan seorang pria asing dalam situasi yang tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab: 34

Arumi membeku di tempat, seolah seseorang baru saja merenggut seluruh udara dari paru-parunya.

“Kamu..” suaranya bergetar, matanya menyipit menatap pria di depannya. “Pria malam itu, kamu?”

Elfando menatapnya tanpa mengalihkan pandangan, seolah ingin memastikan setiap kata yang keluar tak salah sasaran. Bibirnya melengkung tipis, namun sorot matanya serius.

“Ya,” jawabnya pelan tapi tegas. “Itu aku.”

"Dia pria yang tidur sama kamu, Rum?" bisik Hilda, suaranya nyaris tak terdengar tapi matanya membelalak penuh rasa ingin tahu.

"Kamu dengar sendiri kan dia barusan bilang apa? Dia bilang itu dia," balas Arumi dengan nada sama, seakan percakapan mereka adalah rahasia negara.

Hilda mengangguk cepat, lalu senyumnya tiba-tiba melebar. "Kalau cowoknya setampan ini sih, kamu nggak rugi, Rum. Malah kamu menang banyak," ujarnya nakal.

Arumi langsung menyenggol lengannya. "Sstt! Jangan ngomong gitu di depan dia," desisnya, pipinya memanas entah karena malu atau kesal.

Arumi menatapnya, mencoba menahan gejolak di dadanya. “Lalu, apa yang kamu mau? Kenapa datang?” suaranya terdengar tenang, meski ada getaran tipis di ujung kata-katanya.

“Malam itu… aku kan sudah bayar,” lanjutnya, matanya tidak berkedip menatap pria di depannya. “Lagipula, di antara kita tidak ada yang dirugikan, kan?”

Arumi berusaha menahan nada suaranya tetap datar, meski jantungnya berdegup tak karuan.

Elfando memiringkan kepala, bibirnya melengkung membentuk senyum samar yang entah kenapa justru membuat suasana terasa semakin menekan.

"Aku datang karena aku mau kita bicara."

“Bicara apa? Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan,” ucap Arumi datar, matanya menatap lurus tanpa ekspresi.

Elfando tersenyum tipis, namun sorot matanya serius. “Tapi, sepertinya tidak demikian.”

Arumi mengernyit, tapi belum sempat ia membuka suara, Elfando melanjutkan dengan nada yang lebih pelan namun menusuk, “Bukankah… yang ada di perutmu itu butuh sosok ayah?”

“Aku juga tidak mau membiarkan anakku tumbuh tanpa sosok ayah,” ucap Elfando, suaranya merendah, seolah mencoba menembus dinding pertahanan Arumi.

Arumi terdiam. Kata-kata Elfando terasa seperti pukulan telak yang membuat pikirannya mendadak kosong.

Matanya memandang pria itu lekat-lekat, mencari tanda-tanda apakah ia serius atau hanya memainkan kata.

“Anakmu?” bibir Arumi akhirnya bergerak,

Hilda, yang sejak tadi memandangi mereka dengan mata penuh rasa penasaran, akhirnya membuka suara, “Rum, dia kelihatan serius banget. Kayaknya dia nggak main-main.”

Arumi sama sekali tidak mengenal pria itu. Pertemuan mereka hanya terjadi sekali, di sebuah club, malam itu. Bahkan, saat malam itu pun, Arumi tak pernah benar-benar melihat wajahnya.

“Darimana kamu bisa yakin kalau ini anakmu?” tanya Arumi dengan nada datar, berusaha menutupi kegelisahan yang mulai merayap.

“Bisa saja, ini anak pria lain,” lanjutnya, mencoba terdengar tegar, meski matanya sedikit bergetar.

"Ryan sudah memastikannya, anak itu memang darah dagingku," ucap Elfando mantap, tanpa ragu sedikit pun.

Arumi terdiam sejenak, matanya menatap lurus ke arah Elfando, mencoba membaca setiap guratan di wajah pria itu.

"Darimana dia tahu kalau ini anakmu?" Tanya Arumi.

"Ryan jelaskan padanya, aku lelah menjelaskannya." Elfando mengembuskan napas berat. Ia kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa, kepalanya sedikit terpejam. Dalam hati, ia merasa berbicara dengan Arumi jauh lebih melelahkan daripada menghadapi puluhan masalah perusahaan sekaligus.

Ryan yang sejak tadi berdiri di belakang Elfando akhirnya maju satu langkah, suaranya tenang namun jelas.

“Nona Arumi, izinkan saya menjelaskan,” ujarnya sambil menatapnya tanpa bermaksud mengintimidasi.

Arumi hanya mengangkat dagunya sedikit, memberi isyarat agar ia melanjutkan.

“Secara medis, memang memungkinkan untuk memastikan kecocokan DNA janin dengan ayah biologisnya bahkan sebelum lahir,” jelas Ryan. “Tesnya disebut Prenatal Paternity Test. Caranya, diambil sampel darah dari ibu, darah itu mengandung fragmen DNA janin, lalu dibandingkan dengan DNA pria yang diduga sebagai ayah.”

Ia menatap Arumi serius. “Kami menggunakan metode Non-Invasive Prenatal Paternity Test. Artinya, sama sekali tidak menyentuh janin. Tidak berisiko bagi ibu maupun bayi. Sampel darah Anda dibandingkan dengan sampel DNA Pak Elfando, dan hasilnya…” Ryan menarik napas sejenak, memastikan kalimatnya terdengar tegas.

“99,9% kecocokan. Artinya, secara ilmiah, tidak ada keraguan anak yang Anda kandung adalah darah daging Pak Elfando.”

"Dari mana kalian mendapat DNA milikku?" Tanya Arumi.

“Dari mana kalian mendapat DNA milikku?” tanya Arumi dengan nada penuh selidik, matanya menatap tajam seolah ingin menguliti setiap jawaban.

Elfando menghela napas panjang, kemudian menatapnya dengan ekspresi setengah malas. “Apa kau selalu sebanyak ini bertanya?” sindirnya, suaranya terdengar dingin dan datar.

“Jawab saja,” desak Arumi, suaranya menurun setengah oktaf, tapi tekanannya tak berkurang.

Elfando menegakkan tubuhnya, menatap balik tanpa berkedip. “Ryan punya caranya sendiri. Aku tidak perlu menjelaskannya padamu. Yang jelas, hasilnya tidak bisa diperdebatkan, anak itu darah dagingku.”

“Herm…” Hilda berdehem pelan, matanya menyipit sedikit sambil menatap pria itu dari ujung kepala sampai kaki.

“Apa pekerjaanmu?” tanyanya. Nada suaranya terdengar santai, tapi ada rasa ingin tahu yang jelas. Dari raut wajahnya, Hilda sepertinya sudah bisa menebak kalau Elfando bukan pria biasa.

Elfando mengangkat alis, seolah pertanyaan itu terlalu sederhana untuk dijawab. “Aku punya banyak pekerjaan,” ujarnya datar. Bibirnya terangkat samar, menandakan kesombongan.

"Dia punya banyak pekerjaan Rum, terima saja. Lagipula dengan wajah seperti itu, kamu nggak rugi." Kata Hilda meyakinkan Arumi.

Arumi menoleh cepat, menatap sahabatnya dengan tatapan tajam. "Hil, ini bukan masalah untung rugi."

Sementara Elfando tersenyum tipis, seperti menikmati pertukaran kata di hadapannya.

Sebenarnya, Arumi juga tahu, bahkan sangat tahu, jika anak yang di kandungnya itu memang anak pria malam itu. Tapi, Arumi hanya merasa janggal, pria itu, juga pasti tidak mengenalnya. Tapi, kenapa pria itu usia tahu alamat tinggalnya dan bisa tahu jika dia sedang hamil, bahkan. Pria itu sudah melakukan tes DNA?

Dan Siapa pria itu sebenarnya?

“Lalu, apa yang kamu inginkan?” tanya Arumi akhirnya, suaranya terdengar pelan tapi tegas.

“Aku ingin kita menikah…” jawab pria itu datar, seolah-olah itu hal yang paling wajar di dunia.

Arumi spontan menegang. “Apa? Menikah?” ulangnya, nyaris tertawa tidak percaya. “Kamu bahkan tidak mengenalku, dan aku...”

“Kita akan saling mengenal,” potong pria itu singkat, tatapannya tak goyah. “Aku tidak mau anakku lahir tanpa ayah.”

Arumi menghela napas panjang, mencoba memproses kata-kata itu. “Kamu pikir semua ini semudah menandatangani kontrak? Kita bahkan tidak punya hubungan apa-apa.”

“Sekarang kita punya. Anak itu, adalah ikatan kita.”

Arumi merasakan dada dan kepalanya sesak bersamaan. Ia ingin berteriak, ingin mengusir pria itu, tapi juga ingin tahu, kenapa dia begitu yakin, begitu berani, dan seolah sudah menyiapkan segalanya.

******

Support author dengan like, komen dan vote cerita ini ya, biar author semangat up-nya, terima kasih.....

*****

1
Yensi Juniarti
makin kesini makin ngaco Ajja itu mulodusa satu ini 😂😂😂
ada ya yg modelan begitu .. 😱😱
Eris Fitriana
Haduuuh Dasar nenek lampir...emang cocok nya sama Dukun
Uthie
Pokoknya Elfando jangan dibuat kenapa2 aja!!! biarkan Arumi dan El bahagia selama nya 👍👍👍
Wirda Wati
kerennn ceritamu thort..❤️
Ulfayanty Syamsu Rajalia
Ya ampun arumi suami kmu cuma selingkuh bukan dunia mw kiamat knp kmu harus menderita it si
Wirda Wati
ternyata Riyan duda.🤣🤣🤣🤭
Wirda Wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭
mana mertua Arumi..
Wirda Wati
semoga bulan madu ini membuahkan hasil...
Wirda Wati
ini namanya wonder women..Hilda gentleman 😂😂😂😂😂
Wirda Wati
Jangan saling menyalahkan.kalisn dua duanya sampah.sama liviknya
Wirda Wati
Baru menyesal hansel
Nasi udah menjadi bubur.nikmati hansel.
kalau perlu mama mu bawa sekali biar dia bisa membedakan mana batu kali dan mana yg mutiara.
Wirda Wati
mampus Lo.....semoga aja pingsan sekalian.
Wirda Wati
Dasar pelakor...ngga tau diri lagi...
Wirda Wati
ntar baru kapok dua duanya...
Wirda Wati
jadi lapar aku Thor pengen bikin sup udang
Wirda Wati
kita lihat saja nanti setelah jamuan makan di rumah alfando
Wirda Wati
mampus satu kata utkmu nayla
Wirda Wati
reuni Untu silaturrahim..
bukan untuk pamer..
keren Arumi aku suka sikapmu yg elegan.
Wirda Wati
dasar kepedean Nayla....klu ngga salah Arumi pakai gaun maron
Wirda Wati
Kalau seperti itu reuninya...bagus Arumi ngga ikut...lebay banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!