REVISI...!!
Ketika ketiadaanku menjadi angin segar untuk mu maka aku bersedia pergi dari sisi kehidupanmu.
Dan
Ada cerita yang sejak detik itu harus berubah menjadi kenangan.
Nama nya Azura, wanita ini terpaksa menikah dengan laki-laki yang bernama Elvan. Elvan berjanji akan membiayai semua biaya perawatan ibu Azura selama dia menjadi istri nya.
Laki-laki yang awal nya di kenal sangat baik oleh Azura ternyata seorang yang kejam. Wanita ini memutuskan untuk pergi di saat diri nya tahu bahwa Elvan dan ketiga sahabat nya hanya menjadikan nya seorang wanita taruhan.
Jangan Lupa Like Rate Coment And Vote.
Selamat membaca😊😊
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
FB:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Rastra Sakit
Pagi ini, tangis Rastra semakin nyaring membuat Azura kalang kabut, Zura memegang tubuh anak nya yang sangat panas. Azura kaget, wanita itu kemudian memanggil Anya.
"Rastra kenapa, Rastra kenapa?" tanya Anya khawatir.
"Kita harus membawa nya ke rumah sakit." ujar Azura panik.
Bergegas kedua wanita itu membawa Rastra ke rumah sakit, dengan menggunakan sepeda motor mereka menerobos jalanan yang masih sepi pagi itu.
Sesampai ya di rumah sakit, Azura masih merasa panik karena ia tak tega jika tangan mungil anak nya harus merasakan tajam nya jarum infus.
"Jangan menangis, Rastra akan baik-baik saja." ujar Anya.
Balita tampan yang sedang tertidur itu berhasil membuat Azura patah hati, untuk yang pertama kali nya Rastra masuk rumah sakit. Daffa, pria itu langsung masuk karena merasa khawatir dengan keadaan Daffa.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Daffa.
"Sudah mendingan, dia baru saja tidur." jawab Anya, sedangkan Azura masih syok dengan keadaan Rastra sebelum nya.
Di tempat lain, perasaan Elvan sedang camuh tak karuan, pria itu seperti merasakan sakit di namun ia sangat sehat. Seharian Elvan hanya duduk diam di ruang kerja kantor nya.
"Lo kenapa?" tanya Erkan.
"Entahlah, gue seperti merasakan sesuatu yang tak bisa gue jelaskan." jawab Elvan.
"Lo butuh liburan Van," ujar Erkan "Jangan mengalihkan segala nya ke pekerjaan itu akan membuat lo semakin setres."
Elvan mengehela nafas lalu memejamkan mata, "Jika benar Azura memiliki anak dari gue, apa jenis kelamin nya? dan bagaimana keadaan nya." tanya Elvan yang tak bisa di jawab oleh Erkan.
Kembali ke Azura, wanita itu sedang berusaha mendiamkan anak nya yang baru saja menangis, bahkan Anya pun tak mampu membujuk Rastra.
"Biar aku yang gendong." ujar Daffa.
Mau tidak mau Azura menyerahkan anak nya pada Daffa, dalam sekejap tangis Rastra hilang dan kemudian kembali tidur. Azura dan Anya bisa bernafas lega saat melihat Rastra yang tertidur kembali.
Tak berselang lama, Daffa memutuskan untuk pulang karena hari mulai sore. Anya menghampiri Zura, wanita itu mencoba menyakinkan Azura akan satu hal yang selalu mengganjal di hati nya.
"Rastra butuh ayah nya Zura." ujar Anya tiba-tiba.
"Jangan bahas itu lagi," balas Zura.
"Zura, bukan kah kau melihat bagaimana Rastra dalam gendongan Daffa? pasti Rastra mengira jika Daffa adalah ayah nya." tutur Anya mulai kesal.
"Aku harus bagaimana? kembali kepada Elvan ? ah, tidak mungkin dia memperlakukan aku layak nya sampah."
"Zura, kau mana tahu isi hati orang, bagaimana jika dia sudah berubah lalu mencari mu untuk meminta maaf."
Azura tersenyum masam, "Ini sudah dua tahun, jika dia mencari ku kenapa dia tidak menemukan ku?"
"Kau pergi terlalu jauh Zura, ada lautan luas yang menjadi pembatas kalian."
"Sudahlah Anya, aku nyaman dengan kehidupan ku yang sekarang."
"Kau hanya memikirkan kenyamanan mu Zura, coba pikirkan Rastra dia butuh ayah nya."
"Jika Tuhan menginginkan anak ku bersatu dengan ayah nya aku yakin jika suatu saat nanti mereka akan bertemu." ujar Zura.
Anya kemudian diam, sekuat apa pun ia berdebat dengan Azura ia akan kalah karena keegoisan Azura. Memang benar kata orang, jika hati yang dulu pernah patah ia tak akan pernah kembali menjadi yang sama.