NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 Kunjungan Ibu mertua

Weekend bukan hanya hari libur. Namun, hari di mana ia dapat mengistirahatkan diri dari padatnya tugas-tugas yang di berikan dosen kepadanya. Minggu ini ia tidak full masuk kuliah karena ada beberapa hal. Satu karena pernikahan mendadak, kedua karena si sekertaris prosedur yang tiba-tiba datang menjemput.

Ada beberapa materi yang tertinggal di kelas saat masa-masa libur itu, dan rencananya weekend ini ia akan merangkum setiap materi yang ada.

Itu adalah rencana awalnya, sebelum dengan tiba-tiba pelayan Kim datang memberitahukan kepadanya jika Nyonya besar alias Ibu mertuanya akan datang berkunjung. Bukankah tidak sopan jika ada tamu namun kita sendiri malah sibuk dengan pekerjaan lain? Maka dari itu, Laura akan menunda agenda belajarnya. Di undur dan akan di laksanakan malam nanti.

Tidak masalah baginya, karena menurut dirinya sendiri, belajar malam lebih terasa tenang dari pada pagi maupun siang hari.

Dan di sini lah ia berada, di ambang pintu besar penthouse menunggu kedatangan sang Ibu mertuanya yang katanya akan berkunjung pagi ini.

“Anda tidak seharusnya ikut berdiri bersama kami untuk menyambut Nyonya besar, Nyonya Laura.” Pelayan Kim berujar pelan di sampingnya.

Laura menoleh sedikit, memberikan senyuman tipis yang menenangkan kepada Pelayan Kim. Ia tetap bergeming di posisinya, merapikan sedikit ujung pakaiannya yang tertiup angin pagi.

“Tidak apa-apa, pelayan Kim. Ibu mertua datang jauh-jauh untuk berkunjung, rasanya tidak sopan jika aku hanya menunggu dan duduk manis di dalam,” jawab Laura lembut namun terdengar tegas.

“Tetap saja, Nyonya. Saya merasa khawatir Anda merasa lelah karena terlalu lama berdiri di sini,” ujarnya.

Laura terkekeh pelan, merasa terhibur dengan perkataan pelayan Kim. “Aku tidak selemah itu pelayan Kim. Berdiri sepuluh menit di sini tidak akan membuatku sakit.”

“Oh ya! Apa aku boleh bertanya sedikit?”

“Apa yang ingin Anda tanyakan, Nyonya?”

“Hm.. Pelayan Kim sudah berapa lama bekerja di sini?”

“Dua puluh tahun saya bekerja di sini. Keluarga saya sangat berhutang banyak kepada keluarga Gardapati. Banyak bantuan yang di berikan keluarga Gardapati kepada keluarga saya. Sebagai balasannya, keluarga saya di mulai dari orangtua saya lalu saya sendiri memilih untuk mengabdikan diri pada keluarga Gardapati.”

Laura mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. “Jika begitu, kamu tahu betul bagaimana Ibu mertua?”

Tepat saya pertanyakan itu terlontar, sebuah mobil mewah masuk ke dalam perkarangan penthouse yang luas.

Pelayan Kim tersenyum tipis, “Anda bisa menilainya langsung saat bertemu dengan Nyonya besar nanti. Yang pasti, Nyonya besar adalah sosok yang sangat lembut.”

Pintu mobil di buka oleh salah-satu ajudan. Dan dapat Laura lihat sesosok wanita setengah baya keluar dari dalam mobil. Sesuai dengan yang di katakan pelayan Kim, wajah wanita itu benar-benar terlihat seperti orang yang memiliki hati yang lembut. Senyumnya terlihat cantik di wajahnya yang sudah sedikit keriput. Kakinya berjalan anggun dan tidak lupa menyapa setiap pelayan yang ikut menyambutnya.

“Selamat datang, Nyonya besar,” pelayan Kim membungkukkan badannya. Laura yang melihat itu ikut membungkukkan badannya.

“Kamu tidak perlu ikut membungkuk, menantu.” Wanita itu meraih bahu Laura lalu agar gadis itu kembali pada posisi awal.

Sang mertua—Adeline, tersenyum lembut menatap sosok gadis yang menjadi menantunya. Tangannya terangkat dan mengusap lembut kepala Laura. Ah.. usapannya sangat familiar. Persis seperti usapan mediang Ibunya dulu.

“Kenapa berdiri di sini? Kamu seharusnya menunggu di dalam.” Adeline mengulurkan tangannya, merangkul si menantu untuk ikut masuk. Laura? Gadis itu merasakan gugup.

“Ah, Nyonya saya—”

“Ibu,” potong Adeline. “Panggil aku Ibu, dan jangan terlalu formal saat berbicara dengan Ibu, hm?” Lagi dan lagi Adeline melempar senyum lembut. Menuntun si menantu untuk duduk di sofa.

“Coba panggil Ibu,” pintanya.

“Ibu..” sahut Laura lirih.

“Bagus, sudah seharusnya begitu.”

Adeline menyesap teh yang baru saja disajikan oleh pelayan Kim, sementara Laura duduk dengan punggung tegak, masih mencoba menetralisir rasa gugup yang menggelitik perutnya. Suasana penthouse yang biasanya sepi kini terasa lebih hangat dengan kehadiran sosok ibu mertuanya.

“Bagaimana kabarmu di sini, Laura? Gaharu tidak menyusahkanmu, 'kan?” tanya Adeline seraya meletakkan cangkir tehnya.

Laura tersenyum kecil, tangannya saling bertautan di pangkuannya. “Gaharu sangat baik, Ibu. Dia memperlakukanku dengan sangat baik.”

Bohong.

Adeline sangat tahu itu sebuah kebohongan. Anaknya itu mana mungkin memperlakukan orang baru dengan sangat baik. Terlebih lagi pada menantunya ini. Ia menaruh beberapa orang suruhan di rumah ini, dan ia tahu setiap peristiwa yang terjadi di dalam hunian ini.

Di mulai dari Gaharu yang tiba-tiba memesan kamar lain saat acara pesta selesai, menyita handphone menantunya, bahkan ia tahu saat di mana Laura meloloskan diri dari pantauan setiap pengawal beberapa hari yang lalu. Ia tahu semuanya.

Adeline terkekeh pelan, namun tatapannya tidak lepas dari mata Laura. Ia meraih tangan menantunya itu, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari, memberikan sensasi hangat.

“Kamu anak yang manis, Laura. Terlalu manis sampai-sampai kamu berusaha menutupi duri di punggung suamimu sendiri,” ujar Adeline tenang.

Senyum Laura sedikit membeku. Genggaman tangannya pada kain pakaiannya mengerat. “Ibu... apa maksudnya?”

Adeline memperbaiki posisi, sedikit menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa mewah dengan anggun. “Gaharu itu lahir dari rahim Ibu, tentu saja Ibu tahu bagaimana setiap inci sifatnya. Termasuk bagaimana dia bisa menjadi sosok yang arogan dan dingin seperti saat ini.”

“Ibu..”

“Ibu minta maaf kepadamu, Nak.”

Laura gelagapan. Kenapa Ibu mertuanya tiba-tiba meminta maaf?

“Ibu kenapa meminta maaf?”

Adeline tersenyum tipis. “Ibu minta maaf karena pernikahan ini terjadi karena paksaan dari Ibu. Ibu yang memaksa Ayahmu untuk menerima pernikahan ini. Ibu menawarkan sebuah janji kesuksesan bisnis, sebagai gantinya Ibu menginginkan kamu menjadi menantu Ibu. Ibu benar-benar minta maaf Laura.”

Deg.

Kenyataan yang baru saja di lontarkan Ibu mertuanya sukses membuat Laura mematung di tempat. Pertanyaan yang selalu berputar di kepalanya adalah, 'kenapa orang dewasa suka sekali bermain-main seperti ini?', 'menukar seorang anak untuk kesuksesan bisnis sebelah pihak?', 'apakah di mata orang dewasa, anak adalah alat tukar bisnis?'

Laura menarik napas gemetar, mencoba mencari suara yang tiba-tiba hilang di tenggorokannya. “Jadi... pernikahan ini bukan karena Ayah yang memohon bantuan, melainkan Ibu yang... membeliku?”

Adeline menghela napas panjang, tatapannya menyendu. “Ibu tahu kata 'membeli' terdengar sangat kasar, Laura. Tapi Ibu melihatmu lebih dari sekadar angka dalam kesepakatan bisnis. Ibu melihat potensi, kejujuran, dan ketangguhan yang tidak dimiliki gadis-gadis di lingkaran sosial kami. Ibu ingin menyelamatkan Gaharu dari kegelapannya sendiri, dan Ibu pikir, hanya kamu yang bisa melakukannya.”

“Masih banyak perempuan lain yang lebih layak berada di samping Gaharu, Ibu. Kenapa harus aku?”

“Karena perempuan lain hanya akan melihat nama besar Gardapati, Laura. Mereka akan datang dengan topeng sempurna, hanya memuja harta Gaharu,” jawab Adeline dengan nada yang dalam dan bergetar.

Ia mencondongkan tubuhnya, suaranya merendah menjadi bisikan yang penuh penekanan.

“Gaharu butuh seseorang yang berani menatap matanya tanpa rasa takut akan kekuasaannya. Seseorang yang punya prinsip dan batasan yang kuat. Dan Ibu melihat itu darimu. Ibu membutuhkan seseorang yang dapat mengontrolnya, membuatnya patuh dan kembali pada jati dirinya yang dulu.”

Laura terkekeh miris, “jadi aku tetap menjadi alat, ya?”

“Ibu minta maaf Laura, Ibu benar-benar egois. Ibu hanya tidak ingin Gaharu kembali pada masalalunya. Ibu tidak ingin putra Ibu kembali terjerat rantai wanita ular itu.”

Laura menoleh, 'tunggu, Gaharu memiliki mantan kekasih?'

Adeline kembali menarik tangan Laura, menggenggamnya erat.

“Ibu janji, jika kamu dapat mengembalikan putra Ibu yang dulu, Ibu akan kabulkan semua permintaanmu,” ucapnya dengan yakin.

“Termasuk perceraian? Karena yang Ibu inginkan hanya jati diri putra Ibu yang dulu kembali, bukan?”

Adeline terdiam tanpa kata, ia menghela nafas. “Ya,” lirihnya. “Ibu akan membantumu agar terlepas dari pernikahan ini. Ibu hanya ingin Gaharu sadar dan tidak kembali pada jerat wanita itu. Buat pikirannya lepas dari wanita itu, lakukan apapun, Ibu mohon.”

Adeline menatap Laura dengan pandangan memohon. Genggaman tangannya pada Laura semakin mengeratkan disertai getaran pelan.

“Jika seandainya aku gagal? Apa Ibu akan terus mengikatku bersamanya?”

“Tidak, Ibu tidak ingin mengorbankanmu terlalu jauh. Jika kamu gagal, Ibu akan urus semuanya. Ibu akan melepaskanmu,” jawabnya.

“Bagaimana dengan perusahaan Ayah?”

Adeline tersenyum tipis, “kepergianmu nanti tidak akan mempengaruhi bisnis Ayahmu.”

“Apa aku bisa memegang perkataan Ibu?”

“Tentu saja, kamu bisa pegang kata-kata Ibu. Ibu janji tentang hal itu.”

Adeline menarik Laura kedalam pelukan hangatnya. “Maafkan keegoisan Ibu yang harus mengorbankan kebebasanmu, Laura.”

***

Hai hai, salam hangat dari author untuk para pembaca. Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komentar jika kalian tidak keberatan, ya?

Update lebih awal karena biasanya update pertengahan malam. Semoga kalian suka dengan alur cerita yang aku buat ya.

See you next chapter! 😉

Sabtu, 11 April 2026

Published : 12 April 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!