"Buka, dong sayang!" senyum lapar terpancar di wajah pria itu. Wajah om-om dengan kumis yang sudah beruban. "Saya udah bayar mahal, loh. Sini!"
Nurhalina masih tak habis pikir. Belum pulih rasa perih dan sakit di tubuhnya, kini ia kembali harus melayani pria hidung belang tersebut.
Bagaimana mungkin ia bisa berada di tempat ini?
Di tempat ini, di kantor ini, dulu ia mengurus surat domisili. Lelaki di hadapannya, yang kini sibuk meraba-raba tubuhnya, adalah orang yang sama yang menandatangani surat itu sebelum dibubuhi cap basah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Konsekuensi
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ndaru membawanya ke acara itu?
Ia benar-benar tak habis pikir. Dengan penuh percaya diri, Ndaru mengucapkan kalimat itu di depan ribuan penonton.
WILL YOU MARRY ME?
Dan dengan begitu cepat, ia justru mengangguk. Setelah itu, Ndaru memakaikan sesuatu ke jarinya.
Cincin permata. Pria itu benar-benar melamarnya di depan ribuan orang. Padahal, mereka bahkan belum saling mengenal. Semua terasa begitu tidak masuk akal. Ia bertanya-tanya sendiri, mimpi apa yang sedang ia alami.
Kini mereka berada di ruang keluarga besar Bahlil. Suasana ricuh akibat kejadian sebelumnya.
"Ndaru! Kamu tahu apa yang barusan kamu lakukan, hah?" seru Bahlil sambil menunjuk, matanya membelalak. "Dengan tololnya kamu melamar perempuan pembawa sial ini di depan semua pendukung Papa?"
"Memangnya salah?" jawab Ndaru santai. "Cinta nggak pernah salah, Pa."
"Hah, sudahlah! Biar Mama yang urus perempuan sialan ini!" sahut Puan sambil melangkah ke arahnya.
"Aaaakh!" teriaknya saat tiba-tiba tangan Puan menarik jilbabnya dengan kasar, menyeretnya hingga ke depan pintu.
"Mama mau apakan dia?" bentak Ndaru, membuat langkah Puan terhenti. "Kalian lupa perjanjian apa yang kalian buat dengan iblis-iblis itu? Silakan, bunuh saja dia, lakukan sesuka Mama. Kita lihat apa yang akan terjadi setelah itu!"
"Perjanjian?" Puan menoleh ke arah Ndaru. Genggamannya pada jilbabnya mulai mengendur. "Ma, maksudmu?"
"Ndaru, sudah," potong Bahlil cepat.
"Dan apa konsekuensinya kalau Papa ..." Ndaru menunjuk Bahlil dengan pandangan tenang, "... berani melanggar perjanjian itu?"
Puan melepaskannya. Perempuan itu langsung berlari menghampiri suaminya, menatap dengan mata membelalak.
"Papa, perjanjian apa maksudnya?"
"Da, dari mana kamu tahu, Nak?" tanya Bahlil, terkejut.
"Jangan lupa, Pa. Besok malam adalah waktunya ritual." Ndaru tertawa kecil. "Hahaha ...."
Ia merapikan kerah kemejanya, lalu berjalan ke arah perempuan itu yang masih terduduk lemas di lantai. Ndaru berlutut dan membelakanginya.
"Naik. Saatnya istirahat."
Tubuhnya terasa seringan kapas ketika ia naik ke punggung Ndaru. Dari sana, ia masih sempat melihat pasangan suami istri itu saling berdebat sengit.
Ia tak mengerti. Ndaru tidak berpihak pada mereka?
Bagaimana bisa?
Hanya dua pertanyaan itu yang terus berputar di kepalanya. Selain satu hal lain yang terasa janggal, kecupan di kening.
Kenapa Ndaru tiba-tiba bersikap manis?
Kini pria itu berada di sebelahnya. Kepala mereka sejajar, napas bergantian, mata saling bertaut. Bibir Ndaru mendekat. Terasa lebih dingin dari sebelumnya, tetapi juga lebih lembut. Penuh perhatian.
"Maaf, aku terlambat," ucapnya. Jari-jarinya menyisir rambutnya dengan pelan. "Aku akan memperbaiki semuanya. Untukmu. Ik hou van je."
Ia tidak mengerti arti kalimat itu.
Ndaru benar-benar berbeda. Mungkin, pria itu menyesali apa yang pernah ia lakukan padanya.
"Istirahat. Sudah malam," katanya pelan sambil berbaring memunggunginya.
Ia pun memalingkan tubuh, menghadap jendela. Beberapa bintang dan bulan tampak menggantung di langit.
Malam itu sungguh terasa aneh.
...***...
Adzan Subuh berkumandang. Ia terbangun dan segera menunaikan kewajibannya beribadah. Selagi masih ada kesempatan, siapa tahu nanti ia kembali dikurung dan terpaksa melewatkannya.
Selesai salat, pandangannya beralih pada Ndaru yang masih tertidur miring. Jika diperhatikan, pria itu memiliki rahang yang tegas. Otot-otot lehernya tampak samar. Menurutnya, Ndaru tidak kalah memesona dibanding kiai yang berdakwah tadi malam. Bedanya, pria itu memiliki janggut tipis di bawah rahangnya.
Rasa penasaran membuatnya mendekat. Ia menatap wajah Ndaru dari jarak yang hanya sejengkal. Jemarinya bergerak menuju kancing kemeja pria itu yang terbuka. Saat ia mulai mengancingkannya, tangan kekar Ndaru menangkap pergelangannya.
Ia ditarik dengan kuat hingga jatuh tepat di atas tubuh Ndaru. Mata pria itu setengah terbuka. Bibirnya lembap. Rambutnya berantakan, menyapu pipinya.
Dan tanpa berpikir panjang, ia justru memejamkan mata.
Ia tidak melihat apa pun saat itu. Hanya merasakan bibir Ndaru yang bergerak lembut di bibirnya sambil membisikkan, "Selamat pagi, cantikku?"
dukung karya aku juga ya di alice celestia dalian, sama2 genre horror/misteri,, mohon ulasannya 🤗