Jelly Putri Wijaya sadar, menikahi seseorang yang tidak dicintai hanya akan membawa masalah. Itulah alasan mengapa ia harus menghentikan rencana pernikahannya dengan Benjamin Huang. Mungkin lebih tepatnya melarikan diri dari pernikahan itu.
Pelarian Jelly ke Hongkong mempertemukan gadis itu dengan Oscar Liu, musisi muda yang sedang naik daun dan digilai fans. Sosok Jelly yang kikuk dan misterius, membuat Oscar tertarik menjadikan gadis itu tameng dari serbuan gosip media.
Perasaan Oscar yang semakin kuat dan kenyataan bahwa Jelly bukanlah gadis sembarangan, membuat Oscar jadi mempertanyakan niatnya. Jelly pun sadar bahwa ia tidak bisa selamanya melarikan diri. Ketika masa lalu dan masa depan bertarung di depannya, akankah Jelly kembali lari dan menjauh dari kebahagiaan?
Bagaimana kisahnya? yuk ikuti di novel baruku.. 🙏
Jika suka, like, komen positif, sub, rate 5 and share ya.. Terimaka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Slyterin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Jelly bertepuk tangan senang."Mainkan lagu Everyone is number one lagi, maukah kau?"pintanya penuh harap.
Oscar tersenyum lebar dan meletakkan violin di atas bahunya."Kali ini aku akan memainkan lagunya yang lain yang berjudul menggapai mimpi versi violin. Ku harap kau terhibur."
Jelly mengerutkan hidung memperhatikan gerakan jemari Oscar yang mengawali permainannya dengan teknik pizzicato. Oscar memetik tangkas senar- senarnya menggunakan telunjuk dan ibu jarinya, sementara ketiga jarinya menahan busur.
Tak lama kemudian, ia pun sudah menggesekkan busurnya ke senar- senar dan memainkan melodi merdu yang membuat mata Jelly berkilat-kilat kagum terhadap laki-laki itu.
Sepasang mata cokelat terang benderang yang mulai menghantui dirinya saat ini. Ada sesuatu pada mata gadis itu yang membuat Oscar ingin terus menatap mata itu. Sesuatu yang ajaib dan menciptakan rasa nyaman di hatinya.Sesuatu yang Oscar Liu kini yakin memberi pengaruh hangat dan mengacaukan rasa debaran jantungnya.
Suara tepuk tangan Jelly menutup permainannya dan beberapa saat kemudian. Oscar Liu menurunkan violin, lalu tersenyum ke arah gadis itu."Apa kamu menyukainya?"
"Aku sangat menyukainya!" Jelly masih bertepuk tangan.
Melihat gadis itu menggigit bibir senang, Oscar Liu terkesan. Entah bagaimana, bibir merah yang telah mencium pipinya tadi terlihat semakin menarik. Tidak, sialan. Oscar Liu buru- buru menggeleng, menepis pikirannya yang melantur. Lalu ia beralih ke suasana di sekelilingnya.
Langit mulai meremang. Lampu- lampu di tiap rumah tani dan nelayan yang menyeruak di antara alang- alang- mulai menyala. Sebentar lagi sekeliling akan berubah gelap. Mereka harus segera menepi. Jadi, ia menoleh ke arah Jelly yang masih tersenyum dan..
"Dimana dayungmu?" tanya Oscar Liu heran.
Kedua alis Jelly terangkat. Raut semringah gadis itu berubah terkesiap. Ia menunduk, mencari- cari dayungnya. Lalu matanya melebar saat menatap Oscar Liu lagi."Dimana dayung kita?"
"Oh, tidak, " desah Oscar Liu ke arah dayung- dayung yang mengapung di permukaan air beberapa meter di belakang mereka.Dada Oscar Liu langsung saja mencelus."Itu dayung kita... "
Jelly menoleh dan langsung mengerang panjang. Sambil cepat- cepat bangkit ia menggerutu."Kita harus mengambilnya sekarang. Bagaimanapun caranya!"
"Hei- Hei, apa yang kau lakukan?Jangan berdiri. Kau bisa membuat kano kita terbalik!" seru Oscar Liu ketika kano mulai berguncang.
"Bagaimana ini?Aku pasti melamun dan melepasnya tadi," kata Jelly menangkupkan kedua tangannya di pipinya. Ia menoleh dan menggeleng."Ini salahmu. Seharusnya kau tidak menurutiku, kau kan tahu melihatmu bermain violin membuatku bertingkah ganjil."
"Sulit dipercaya. Kini kau menyalahkanku? " Oscar Liu menggerutu sambil memasukkan violin ke tas. Ia menatap dayung- dayung yang semakin jauh dan mencoba mendayung kano itu menggunakan kedua tangannya.
Jelly buru- buru duduk dan ikut membantunya. "Kau benar, ini memang sulit dipercaya, " kata gadis itu, mempercepat tangannya. Ia tidak peduli pakaiannya mulai basah.
"Apa kau melihat orang lain?Mungkin ada salah seorang pengunjung lain yang bisa membantu?"
Jelly melihat sekeliling mereka, lalu menoleh ke arah Oscar Liu yang mengedik."Terlalu gelap,"katanya terdengar putus asa."Orang-orang yang tur bisa saja sudah menepi ke rumah- rumah tani dan nelayan di sekitar."
"Baiklah!"sahut Oscar Liu keras. Ia melepas arloji, sepatu, dan mantelnya." Aku harus turun kalau begitu sekarang juga."
"Kau yakin?"
Oscar Liu menatapnya sebelum menceburkan diri." Apa aku kelihatan yakin?" tanyanya sinis.
Jelly meringis penuh penyesalan. Lalu ia berseru panik melihat Oscar Liu berenang semakin menjauh, "Bagaimana kalau ada buaya?" tanyanya waswas.
Oscar Liu yang sedang mengumpulkan dayung, menghentikan gerakannya. Ia menoleh dan melotot ke arah Jelly."Maksudmu ada buaya di danau ini?" Suara Oscar Liu terdengar terkejut.
"Entahlah."
"Sial, Jelly! Kenapa kau memberitahuku setelah aku turun?" timpal Oscar Liu jengkel.
Jelly menggeleng gugup dan berusaha keras untuk menenangkan dirinya sendiri."Mungkin hanya ada di imajinasi aku. Mustahil ada buaya di tempat wisata seperti ini. Tapi, benarkah?"
Tak lama Oscar Liu sudah berenang mendekat, dan menyerahkan dayung- dayung ke Jelly, lalu naik ke kano. "Aku bersumpah akan mengingat kejadian ini sepanjang hidupku," gerutu laki-laki itu sambil memakai mantelnya.
"Pakai ini, ini akan membuatmu lebih hangat," saran Jelly cepat- cepat melilitkan mantelnya sendiri pada kepala Oscar Liu. Lalu secara refleks gadis itu telah mendekap tubuh Oscar Liu dan mengusap- usap punggungnya."Bagaimana? Merasa lebih baik?"
"Ya, " sahut Oscar Liu dingin.Giginya berbunyi, dan ia memerlukan beberapa detik untuk menyatukan kewarasannya kembali. Merasakan rambut Jelly yang menyentuh dagunya membuat paru- parunya seperti disiram air dingin.Seketika ia merasa konyol. Oscar Liu tidak bisa mengenyahkan sentakan asing yang menggerogoti tubuhnya akibat pelukan hangat yang spontan itu.
"Kita akan kembali setelah tubuhmu hangat, Jangan khawatir, "kata Jelly terdengar menghibur.
Oscar Liu termenung sekilas dan tersenyum heran. Ia tidak khawatir.Masa bodoh kapan mereka akan kembali, bahkan kalau boleh ia akan memilih tetap tinggal.
Berdua dalam suasana temaram di tengah danau dengan angin semilir. Bersama Jelly. Gadis sinis yang tak sengaja menjadi teman duduknya di dalam pesawat beberapa hari yang lalu. Lalu tiba-tiba saja kehangatan menjalarinya, ia dapat merasakannya, entah efek pelukan gadis itu atau sesuatu yang lain dalam dirinya. Tubuh Jelly seperti menyimpan mataharinya sendiri. Meski tidak membalas pelukan gadis itu...
Oscar tahu, ia sangat ingin melakukannya.
****
" Apa yang... "Robin menghentikan ucapannya begitu membuka pintu apartemen. Sambil mengangkat alis, ia mengamati penampilan Oscar Liu yang basah kuyup di depannya." Darimana saja kau?"
Oscar Liu masuk sambil menggigil, mencari- cari handuk."Terkutuklah udara dingin Hongkong," rutuknya. Gemuruh di giginya terdengar jelas.
"Apa yang terjadi?"
Oscar Liu menggosok- gosok wajahnya begitu ia bisa menemukan handuk."Kau pasti syok bila kuceritakan. "
"Apa kau baru bersama gadis itu lagi? Lagi? Masih?"
"Dia bukan gadis asing, Rob. Setidaknya bagiku."
"Kau harus menjaga jarak dengannya,Liu.Aku serius, " pesan Robin mulai khawatir."Kau bahkan belum mengenal gadis itu sepenuhnya."
"Faktanya adalah, aku tidak peduli siapapun dia, " sahut Oscar Liu.
"Bagaimana kalau dia menyimpan niat tersembunyi?"
Oscar Liu menoleh dan menatap dingin ke arah sang manajernya sendiri."Satu- satunya yang menyimpan niat seperti itu adalah aku, Rob."
"Lalu sampai kapan kau akan begini?Sampai gadis itu mengetahui niatmu yang sebenarnya?" sembur Robin.
Oscar Liu menggeleng dan memilih bungkam. Ia pun sendiri tidak mengerti. Media sudah tidak lagi untuk memberitakan dirinya dan Selina Tan lagi, tapi ah, kenapa ia masih belum mau menjauhi Jelly?
Sialan, umpat Oscar Liu dalam hati. Pasti ada yang salah dengan dirinya sekarang.
Bersambung!!!