Krystal Berliana Zourist, si badgirl bermasalah dengan sejuta kejutan dalam hidupnya yang ia sebut dengan istilah kesialan. Salah satu kesialan yang paling mengejutkan dalam hidupnya adalah terpaksa menikah di usia 18 tahun dengan laki-laki yang sama sekali belum pernah ia temui sebelumnya.
Kesialan dalam hidupnya berlanjut ketika ia juga harus di tendang masuk ke Cakrawala High School - sekolah dengan asrama di dalamnya. Dan di tempat itu lah, kisah Krystal yang sesungguhnya baru di mulai.
Bersama cowok tampan berwajah triplek, si kulkas berjalan, si ketua osis menyebalkan. Namun dengan sejuta pesona yang memikat. Dan yang lucunya adalah suami sah Krystal. Devano Sebastian Harvey, putra tunggal dari seorang mafia blasteran Italia.
Wah, bagaimana kisah selanjutnya antara Krystal dan Devano.
Yuk ikuti kisahnya.
Jangan lupa Like, Komen, Subscribe, Vote, dan Hadiah biar Author tambah semangat.
Salam dari Author. 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icut Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 34 : KRYSTAL VS ALDI
Motor Sport keluaran terbaru itu melintas melewati garis finis dengan sangat kencangnya. Disambut dengan sangat kencangnya. Disambut dengan sorak-sorak tepuk tangan orang-orang yang juga meneriaki namanya. Ini sudah malam ke-3 Krystal kembali ke dunia balap. Dan sudah 3 malam juga ia memenangkan balapan. Namun, untuk malam ini Krystal tidak balapan resmi melainkan balapan liar.
Melepaskan helm full facenya, Krystal berjalan ke tempat teman-temannya berkumpul. Menerima lemparan rokok dari Carletta, mengambil sebatang di dalamnya lantas memantik api di ujung nikotin tersebut, sebelum menyelipkannya ke sela bibirnya. Asap langsung mengepul di udara, menghalangi wajah cantik Krystal.
Sudah 3 hari Krystal meninggalkan Cakrawala High School. Ia menginap di rumah Carletta bersama dengan Zoey juga. Jelas saja Krystal tidak akan pulang ke Mansion Zourist, bertemu dengan Papa William hanya akan membuatnya naik pitam lalu perang dunia akan kembali dimulai. Dan sepertinya juga sang Papa tidak mengetahui perihal Krystal yang meninggalkan Cakrawala High School.
Selama itu juga Krystal benar-benar tidak berkomunikasi dengan Devano. Suaminya menepati janjinya untuk tidak akan mengganggu Krystal sampai Krystal sendiri yang kembali ke Cakrawala. Dan entah kenapa, anehnya Krystal justru merasakan perasaan berbeda ketika berjauhan dengan laki-laki yang berstatus suaminya itu.
Seperti...kosong?
Entahlah, Krystal tidak mengerti kenapa selama 3 hari ini bukannya happy ia justru semakin murung dan merasa hampa. Dan nama Devano selalu saja terlintas dibenak Krystal setiap kali ia sedang duduk sendirian atau melamun.
"Itu namanya lo udah jatuh cinta sama Devano. Karena lo nggak bisa nampik lagi, kalau perasaan buat Devano itu udah ada. Buktinya hati lo masih sakit sampai sekarang karena omongannya. Harusnya, kalau lo nggak suka dia, lo nggak akan se baper ini. Lo sendiri yang bilang kalau selama ini perkataan buruk orang-orang tentang lo, cuma lo anggap angin lalu doang." Begitu lah Zooey berkata kemarin.
Seperti sekarang, di tengah keramaian seperti ini Krystal justru merasa dirinya tetap kesepian dan tidak mood melakukan apapun. Hanya duduk di atas motor, ditemani asap rokok.
"Ngerokok terus. Kalau Devano tahu, lo habis, Krys." Ujar Sasa, berdiri di samping Krystal yang terus menghisap benda kecil tersebut.
"Dia nggak akan tahu kalau salah satu dari kalian nggak menjelma jadi mata-mata dadakannya." Balas Krystal datar, memandang lurus ke depan.
"Udah lah, Krys. Balik aja. Toh Devano juga udah minta maaf sama lo." Ujar Zoey.
"Nggak usah! Ngapain sih?! Udah paling benar lo nggak balik lagi ke Cakrawala." Carletta ikut nimbrung. Sembari meneguk minuman alkohol di tangannya.
"Carl please lah nggak usah jadi kompor." Desah Sasa malas. Carletta selalu saja meracuni otak Krystal untuk berpisah dari Devano.
"Eh! Gue tuh bukan nya ngomporin. Tapi lo semua mikir deh. Udah 3 hari, tapi Devano sama sekali nggak ada nunjukin effort apapun! Kalau dia serius sama Krys, harusnya dia mulai dong ngehubungi Krystal!"
"Kan Krys sendiri yang ngeblok nomor, Dev. Jadi mana tahu kalau Dev ngehubungi atau nggak." Sahut Sasa jengah.
"Ya udah samperin!"
"Perjanjian nya kan Devano nggak boleh nyusul." Seru Zoey kali ini.
Carletta mendengus, merasa dipojokkan oleh kedua temannya itu.
"Serah deh. Kalau kata gue sih, cerai aja. Nggak guna suami modelan kayak gitu. Paling sekarang dia lagi senang-senang sama tu si Lenna."
Tanpa diduga ucapan terakhir Carletta tadi terekam jelas di benak Krystal setelahnya. Mulai menggerayangi otaknya.
Devano bersama Lenna.
Devano bersama Lenna.
Bersenang-senang.
Tangan Krystal yang memegang rokok terkepal erat. Sasa yang melihat itu langsung saja panik dan menepis tangan Krystal.
"Gila lo ya!! Tu kan tangan lo jadi melepuh Krys!!" Pekik Sasa heboh.
Berdecak, Krystal menepis tangan Sasa. Lalu berjalan ke arah motornya. Akan memasang helm full facenya, bertepatan dengan ponselnya yang berbunyi. Diraihnya benda pipih tersebut di dalam saku jaket.
Baru saja membaca nama pengirim pesan, jantung Krystal sudah berdetak sangat cepat. Selama 3 hari ini juga Krystal rajin mengunjungi Keyzia. Mumpung ada kesempatan ia akan menjadi gadis itu secara langsung. Meski hanya bisa menatap dari luar, karena kondisi Keyzia yang tidak memungkinkan untuk Krystal menjaga dari dekat. Kecuali ketika gadis itu sudah tertidur.
**Dokter Aisyah** : Saya menemukan narkoba lagi. Kali ini berbentuk pil obat.
"Ada apa, Krys?" Tanya Carletta, melihat sepertinya Krystal sedang marah.
Tidak menjawab, Krystal langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi meninggalkan area balap liar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rumah Sakit Jiwa Pelita.
Krystal memarkir motornya sembarangan, tanpa mencabut kuncinya. Ia langsung berlari tergesa-gesa di sepanjang koridor lantai satu. Tujuannya sekarang adalah tangga darurat, karena akan terlalu lama jika menggunakan lift ke lantai dua.
BRAK!
PRANG!
Suara bantingan barang yang samar-samar terdengar itu menyabut kedatangan Krystal. Di kejauhan ia sudah melihat kehadiran beberapa orang yang sudah tidak asing dimatanya.
"Krystal!" Gumam Mama Ambar.
"Krystal?" Papa William mengernyit, membalik tubuhnya. Dan benar saja ia melihat Krystal yang tengah berlari ke arah mereka sekarang.
Bagaimana Krystal bisa keluar dari Cakrawala? Pikir Papa William.
"Maaf, Tuan. Saya memberitahu Krystal. Dia sudah 2 hari yang lalu selalu menemani Keyzia disini." Ujar Dokter Aisyah.
Yang tidak digubris oleh Papa William. Matanya fokus pada Krystal.
"Krystal, kamu ngapain disini?" Tanya Papa William.
Mengabaikan pertanyaan bahkan kehadiran Papa William, Mama Ambar, Dokter Aisyah dan semua pasang mata yang ada. Krystal langsung menerobos untuk masuk. Namun, tangannya dengan cepat dicekal kuat oleh sang Papa.
"Kamu tidak boleh masuk Krystal."
Menepis kasar cekalan Papa William hingga terhempas. Lantas melempar tatapan tajam pada sang Papa.
"Keyzia sedang tidak terkendali sekarang. Dia bisa aja nyakitin kamu, Keyzia sedang sangat berbahaya sekarang." Ujar Papa William, menatap lekat mata putrinya itu. Berusaha memberikan peringatan dengan lembut.
"I don't care!!" Desis Krystal tajam dan penuh penekanan.
"Papa mohon, Krys." Lirih Papa Willian sendu.
Krystal sempat terpaku. Untuk pertama kalinya dalam 18 tahun umurnya, ia mendengarkan permohonan maaf dari sang Papa. Yang sialnya malah terdengar tulus untuk Krystal.
"Apa Anda tahu, Tuan William Zourist. Dulu, saat Anda sering mengunci saya di dalam gudang, tanpa makanan dan minuman, bahkan tanpa alas tidur dan penerangan. Orang yang sedang mengamuk di dalam sana lah yang selalu ada untuk saya. Mengambil semua resiko yang ada hanya untuk memberi saya sepiring makanan dan segelas air." Krystal tidak mengerti kenapa suaranya harus bergetar dan matanya harus berkabut.
Ucapan Krystal mampu membuat Papa William terdiam dengan mata yang mendadak berubah kosong. Tak lagi mencegah ketika Krystal benar-benar masuk ke dalam ruangan isolasi Keyzia dimana lemparan barang dan suara teriakan histeris terus terdengar semakin jelas karena pintunya yang sempat terbuka. Sebelum kembali teredam, karena pintu sudah tertutup rapat.
Di dalam ruangan yang sudah terlihat sangat berantakan itu, mata Krystal langsung disuguhkan dengan sosok seorang gadis dengan wajah pucat pasi, rambut yang tak lagi beraturan, mata yang memerah, serta badan yang sangat kurus kering. Dua perawat pria memegangi nya yang semakin kuat meronta, menjerit dan sesekali suara tangis lolos dari bibir pucat nya yang bergetar.
Krystal maju mendekat, menarik dua perawat pria itu agar menjauh. Pegangan akan Keyzia terlepas dan gadis itu mulai merangkak dan mencari-cari sesuatu dengan tubuh yang semakin mengigil. Tubuh yang bahkan sudah tidak pantas dilihat sebagai manusia, melainkan layaknya mayat hidup.
PLAK! PLAK! PLAK!
Sesekali ketika Keyzia tidak bisa mendapatkan apa yang dicarinya, dia akan memukul kepalanya dengan brutal. Lalu kembali merangkak, mengobrak-abrik barang-barang yang bertebaran di lantai. Bahkan ketika darah terlihat mengalir dari telapak tangan serta lutut kaki tersebut karena pecahan kaca, Keyzia tetap mencari.
"Lo mau ini, hm?"
Ternyata, suara Krystal berhasil mengalihkan atensi Keyzia. Dari saku jaketnya Krystal mengeluarkan sebutir pil. Dan tepat di depan mata gadis itu, Krystal membuang pil tersebut ke lantai dan menginjaknya dalam satu kali putaran kaki saja. Matanya melihat Keyzia yang beringsut bak orang kehausan ingin mengambil pil yang sudah hancur di lantai. Dengan cepat Krystal menyeret nya menjauh. Sehingga jeritan histeris dan rontaan Keyzia semakin menjadi-jadi.
Suara tangisan yang hanya mampu Krystal dengar sendirian dengan jelas. Karena di dalam ruangan ini hanya tersisa dirinya dan Keyzia saja. Berkali-kali gadis itu meronta dan hendak menyentuh pil yang sudah hancur menyatu dengan debu di lantai itu, namun Krystal terus menyeret nya agar menjauh.
"LEPAS! LEPASIN GUE!! GUE CUMA MINTA SATU! KENAPA DI HANCURIN?! GUE BUTUH, SIALAN!!"
BRUK!
Tanpa perlawanan, Krystal biarkan tubuhnya terpental karena dorongan kuat Keyzia. Punggungnya membentur tembok dengan kuat. Setelah itu...
PRANG!
Kepala Krystal tertoleh ke kanan saat gelas kaca lemparan Keyzia itu tepat mengenai pelipis kirinya. Tetap berdiri diam dan tenang. Krystal menatap Keyzia dengan kabut dimatanya. Keyzia kembali mengamuk, kali ini Krystal merelakan tubuhnya menjadi sasaran amukan gadis itu. Krystal sama sekali tidak bergerak, meski darah sudah jatuh mengalir sampai ke pipinya.
Bukan sekali, tapi berkali-kali lemparan benda tumpul mengenai tubuh Krystal yang sam sekali tidak bergerak. Bahkan ketika tangan kurus kering Keyzia sudah bertengger di leher Krystal, mencekiknya cukup kuat. Lewat mata yang dipenuhi lingkaran hitam itu, Krystal bisa melihat sorot mata nyalang yang sarat akan kebencian.
"JAHAT! DIA JAHAT1 JAHAT! DIA NGANCURIN HIDUP GUE, LO TAHU HAH?! DIA NGANCURIN HIDUP GUE!!"
Krystal tetap diam, meski ia mulai kesulitan bernafas karena cekikan Keyzia. Sebelum akhirnya cekikan itu terlepas dengan sendiriannya.
Krystal tersandar lemas di tembok dengan nafas yang terengah. Kabut dimatanya kini berubah menjadi bulir air mata yang deras. Ketika mendapati sesuatu yang membuat hatinya kian remuk tak berbentuk.
Keyzia, gadis malang itu tak lagi berteriak atau mengamuk. Keyzia terduduk dengan kepala menengadah pada Krystal, menangisi serta menyatukan tangannya di depan dada seakan meminta ampun.
"Tolong maafin gue, hiks...gue nggak berniat kayak gitu. Gue mohon. Kenapa di jahat? Hiks...ampun hiks..."
Sekarang ruangan itu berubah menjadi isakan pilu Keyzia. Gadis itu beringsut ke sudut ruangan, memeluk kedua kakinya yang ditekuk, lalu berhenti menangis dan sorot matanya berubah kosong dan linglung. Namun, tubuhnya terus mengigil dan bibir pucatnya sesekali tetap berkomat kamit. Entah apa yang dia katakan.
Hal yang sama Krystal lakukan disudut ruangan yang lain. Air mata nya tidak mau berhenti mengalir. Mencengkram kepalanya, mendongak bersama isak tangis yang tak lagi terbendung. Memukul dadanya, guna menekan sesak di sana. Untuk beberapa menit ke depan hanya Krystal habiskan dengan menangis terisak sendirian di sudut ruangan itu.
"Gue nggak bisa lihat lo kayak gini terus, Key. Tolong katakan hiks...gue harus apa?" Lirih Krystal bersama isakannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jangan hanya diaduk-aduk. Makan, Krys"
Krystal tidak bergeming.
"Apa Anda tetap tidak ingin memberitahu saya?"
Papa William menghembuskan nafasnya perlahan. Meletakkan sendok di tangannya dengan pelan ke atas meja. Lantas menatap Krystal yang tetap menunduk sembari mengadu-aduk makan malamnya.
"Harus seperti apalagi Papa bilang sama kamu, Krys. Tidak ada yang Papa sembunyikan."
"Basi. Anda masih bilang ini hanya sekedar kecanduan, kan? Sekarang katakan satu hal, bagaimana orang seperti Keyzia sekarang bisa memesan narkoba?" Tertawa sarkas. Krystal mengangkat kepalanya menatap Papa William.
Hening.
Papa William bungkam, begitupun dengan Mama Ambar yang sejak tadi setia duduk di samping suaminya.
"Anda tidak punya jawabannya bukan? Sama, saya juga tidak. Karena jawabannya, telah Anda kubur dalam-dalam. Sampai saya sadar satu hal. Bahwa Anda, Tua William Zourist pengusaha yang sukses diberbagai bidang. Nyatanya gagal jadi seorang Ayah. Bukan, tapi bahkan gagal jadi seorang manusia." Tersenyum sinis akan kebungkaman itu. Krystal bangkit dari duduknya.
"KRYSTAL!!" Bentak Papa William, matanya menajam penuh peringatan.
Namun, sayang. Krystal sudah terlalu terbiasa dengan hal itu. Ia melenggang pergi begitu saja.
Menarik nafasnya dalam lantas menghembuskannya dengan kasar. Krystal duduk di atas motornya. Akan mengeluarkan rokok dari saku jaket, ketika ponselnya berdering. Ia mengurungkan niat untuk merokok, dan memilih mengangkat telepon dari, private number.
"*Halo! Krystal Berliana Zourist*?"
Krystal mengernyit ketika mendengar suara dari seberang sana. Rasanya tidak asing. Namun, tidak tahu siapa pemilik suara tersebut.
"Siapa lo? Mau apa lo, hah?" Tanya Krysal dengan nyolot.
"*Apa lo yakin akan melupakan suara gue, Krys? Orang yang lo uber-uber dari setahun yang lalu. Segampang itu untuk lo lupa siapa gue*?"
Oke, kali ini Krystal ingat siapa pemilik suara bariton menyebalkan itu. Kedua tangannya terkepal.
"Aldi! Sialan! Keluar lo! Jangan jadi pengecut!" Sentak Krystal.
"*Wis, santai Krys. Nggak usah ngegas. Lo begitu ingin bertemu gue, kan? Gimana kalau kita bertemu malam ini, digedung kosong dekat bekas markas Geng Tiger dulu? Gue tunggu kedatangan lo*."
Panggilan diputus sepihak, sebelum Krystal sempat menyumpah serapahi cowok sialan diseberang sana. Sudah sangat di kuasai kegeraman akan sosok satu ini, Krystal langsung melajukan motornya membelah jalanan ibu kota yang masih terlihat ramai pada pukul 22.00. Ia pergi sendirian, tanpa sempat menghubungi Carletta, Sasa dan Zoey. Sebenarnya sengaja, ia ingin menghadapi Aldi sendirian. Curut satu itu harus habis di tangannya.
Krystal memasuki pekarangan luas sebuah gedung kosong, terbengkalai. Ia melepaskan helm full facenya, lantas turun dan memperhatikan sekitar yang gelap dan hanya diterangi lampu remang-remang. Cukup menyeramkan sebenarnya, terlebih sekarang hampir tengah malam. Krystal sedikit merinding karena hembusan angin yang menerpa kulit lehernya.
"Hai, Krys."
Suara itu terdengar jelas dibelakang Krystal. Ia memutar poros tubuhnya dan di jarak 3 meter di depannya sekarang ada seseorang yang berpakain hitam-hitam, tampak menurunkan hoodienya. Sehingga wajah orang tersebut terlihat jelas.
Aldi.
Mengusap wajahnya pelan,Krystal menguap sesaat. Lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, berdiri dengan sikap santai serta menaikkan sebelah alisnya.
"Lo mau ngapain, hm? Itu badan lo udah menyatu sama alam tahu nggak. Sama-sama gelap." Kekeh Krystal.
"Nggak usah ngebacot, Krys. Lo nggak penasaran kenapa gue dengan gamblangnya hari ini meminta lo untuk datang, hm?" Terkekeh sarkas.
"Nggak tuh! Lo nggam seistimewa itu juga buat gue." Balas Krystal santai terkesan tidak peduli.
"Yakin? Meski kemunculan gue hari ini tepat dengan kambuhnya kecanduan Keyzia terhadap narkoba. Lo pasti nggak lupa kan, kalau gue bandar narkoba?" Aldi mengulas senyum miring.
Ekspresi wajah Krystal sekarang berubah datar dalam hitungan detik. Mata elangnya ini menyala tajam menatap Aldi.
"Lo yang ngasih dia narkoba lagi!" Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan dari Krystal.
"Sayangnya permainan malam ini nggak semudah itu. Lo penasaran kan sebenarnya Keyzia kenapa selama setahun ini? Gue bisa aja nyeritain semuanya ke lo, termasuk awal mula Keyzia kecanduan narkoba sejak 2 tahun silam. Tapi semua nggak gratis, Krys. Gue butuh bayaran untuk informasi berharga yang akan gue kasih."
Krystal tidak menyahut. Jarak diantara keduanya masih terbentang jauh.
"Dan sayangnya lagi, gue nggak butuh uang lo. Gue butuh nyawa lo." Seringai Aldi.
Hening sesaat.
Sebelum suara tawa Krystal terdengar puas. Dan jangan lupakan bagaimana lirikan mata itu yang seperti mengejek pada Aldi.
Cukup lama, sampai tawa Krystal benar-benar reda. Ucapan Aldi tadi seakan menggelitik perutnya.
"Sebenarnya lo punya masalah apa sih sama gue, hm? Kenapa lo mau nyawa gue? Kita nggak begitu akrab sebagai seorang musuh, sehingga harus saling membunuh, Di."
"Menurut lo. Tapi nggak menurut gue."
Krystal menaikkan sebelah alisnya. Merasa intonasi suara Aldi lebih ditekankan sekarang.
"Kenapa, hm? Intonasi suara lo tadi, seakan lo punya dendam yang tidak terbalaskan ke gue sejak lama. Right?"
Diamnya Aldi adalah jawaban untuk Krystal.
"Lo dendam sama gue? Seriously?! Wah hahaha, coba lihat mata lo. Mata lo menyala merah dalam kegelapan sekarang. Ck! Kayaknya gue memang sudah berbuat kesalahan yang fatal ya?"
"Diam lo!" Panas ketika nada suara Krystal seperti mengolok-olok nya.
Krystal tahu, sikap santainya mengusik emosi Aldi.
"Gue tahu ini akan terjadi cepat atau lambat."
Mata elangnya bisa menangkap beberapa bayangan orang-orang yang berdiri di belakangnya. Krystal memutar poros tubuhnya dan benar saja sudah ada terhitung 10 orang yang berdiri di belakangnya. Membwa senjata, seperti pisau, parang dan juga balok kayu.
Menghela nafas perlahan.
"Ini, rombongan sirkus lo, hm? Segini doang nih?" Tanggapannya santai, tak goyah.
Belum sampau dua detik setelah ucapan Krystal itu. Dari arah belakang tubuh Aldi, muncul 20 orang pria berbadan kekar lagi. Kali ini Krystal cukup linglung melihatnya. Dan itu ditangkap oleh mata Aldi, sehingga membuat cowok itu tersenyum miring kian lebar. Ia tahu kelemahan Krystal.
Mengusap tengkuknya. Krsytal bertanya jengah.
"Main cepat deh, gue harus bobok cantik habis ini. Mau lo apa?"
"Nyawa lo." Balas Aldi santai.
"Buat apa? Yang punya masalah sama lo disini adalah gue. Bukan sebaliknya."
"Wah gokil. Lo benar-benar melupakannya?"
Kali ini Krystal mengernyit. Melupakan?
"Hahaha, udah gue duga. Oke gini, gimana kalau kita buat permainan ini makin seru." Aldi tertawa.
"ALDI!!"
"Sssttt...jangan teriak-teriak. Gue, akan ngasih tahu semua yang ingin lo ketahui malam ini. Tanpa jeda, tanpa rahasia, atau kebohongan. Asal lo nggak jadi mayat." Menyeringai, ia naik menunggangi motornya.
BRUMM!
Motor itu melesat pergi, bersama tawa menyebalkan Aldi.
"ALDI!!" Teriak Krystal keras. Akan menyusul Aldi, namun ia sudah lebih dulu di kepung depan belakang kiri kanan.
Krystal mengacak rambutnya gusar. Antara kuat kehilangan jejak Aldi. Sekaligus takut jika akan benar-benar mati dikeroyok.
"*Aldi, asu! Bisa-bisanya dia tahi kelemahan gue yang nggak bisa bertarung kalau sebanyak ini. Kampret!!" Rutuk batin Krystal*.
Mencoba memutar otak cantiknya. Tak lama Krystal mengulas cengiran selebar mungkin pada pria-pria badan kekar yang sangar itu.
"Oke Abang-Abang sekalian. Jadi, kita mau mulai dari mana dulu, nih? Negosiasi, mediasi atau langsung berantem aja? Haa gue tahu. Mending kita negosiasi dulu aja, ya. Ya mana tahu, kita dapat kesepakatan harga yang saling menguntungkan gitu." Ujar Krystal menaik-turunkan alisnya. Masih dengan senyuman super konyolnya.
Sementara 3 pasang mata itu saling melempar lirik. Terheran-heran mungkin dengan tingkah Krystal.
"So, Abang-Abang ini nggak mungkin tega dong ngeroyok cewek? Masa badannya gede-gede mau niban cewek yang badannya sekecil dan seunyu ini. Kan nggak make sense, ya."
"Ngomong apa sih lo dari tadi?" Ujar salah seorang pria sangar.
"Ck! Ini saya lagi nego, Bang. Masa nggak paham sih? Aduh Bang, saya itu baru nikah, belum juga saya dijebolin sama suami saya. Masa iya dia udah jadi duda duluan sih." Krystal memasang wajah sememelas mungkin. Tidak habis akal.
Namun, sepertinya apa yang Krystal lakukan sia-sia ketika satu persatu dari pria itu mulai mendekat padanya.
"*Kampret! Mana gue sendiri lagi. Mati beneran lo ni Krys." Batin Krystal*.
Saat tanga dengan pegangan balok itu akan melayang pada Krystal, terhenti ketika seseorang sudah lebih dulu menghantam kepala siempunya.
PLAK!
"ARGHHH!" Krystal reflek berteriak dan memegang kepalanya yang baru saja di geplak.
"Sok yes lo mau ngebasmi hama sendirian! Ilmu beladiri aja masih cetek! Sana kejar Aldi! Ini biar gue dan Zoey yang urus." Semprot Carletta.
"Sasa?"
"Kumpul sama keluarga micin nya noh. Udah sana, ah! Keburu jauh entar si Aldi!" Menunjuk Sasa yang bersembunyi diantara dedaunan.
Krystal mengangguk cepat lalu berlari meninggalkan lokasi itu. Sebelum kembali lagi saat mengingat motornya. Zoey dan Carletta yang melihat itu itu menepuk jidat, lelah dengan tingkah Krystal.
"Kejar!!"
"Heh! Heh! Urusan lo sama gue!" Cegat Carletta, mengamit tangannya agar pria-pria itu maju melawannya.
Tidak butuh waktu lama, tempat itu menjadi area baku hantam.
Dua remaja cewek vs 30 pria dewasa.
Sementara itu disebuah jalanan lenggang dua motor Sport tersebut saling trek-trekan di jalan. Krystal tidak tahu apa maksud Aldi melakukan itu. Jika di hitung dari jarak waktu cowok itu meninggalkan lokasi gedung kosong tadi. Harusnya Aldi sudah jauh. Namu, entah kenapa Krystal merasa cowok itu malah menunggu dan memancingnya untuk mengejar.
Bukan hal sulit untuk Krystal. Mengingat basic aslinya memanglah balapan. Sehingga ia bisa dengan mudah mengejar motor Aldi.
Mereka sempat saling bersebelahan. Motor Aldi mencoba menyenggol motor Krystal. motornya mendahului Aldi. Di jarak yang cukup jauh, Krystal lalu memutar poros motornya menjadi membentang di jalanan, siap menyambut Aldi yang sepertinya kaget dengan gerakan cepat tak terduga Krystal itu. Sehingga tidak sempat memencet rem. Dan...
BRAK!
Bodi motor mereka bertabrakan. Krystal mencoba menahan motornya yang terseret. Sebelum akhirnya...
PYAR!
Tubuh Krystal terpental dan berguling beberapa kali Begitupun dengan Aldi. Keduanya sama-sama masih sadar dan terlentang, terengah di tengah jalanan. Lantas sama-sama melempar tatapan tajam.
"Habis lo malam ini, Aldi!" Desis Krystal.
"Lo yang akan habis, Krys!" Seringai Aldi.