Siapa sangka putri tertua perdana menteri yang sangat disayang dan dimanja oleh perdana menteri malah membuat aib bagi keluarga Bai.
Bai Yu Jie, gadis manja yang dibuang oleh ayah kandungnya sendiri atas perbuatan yang tidak dia lakukan. Dalam keadaan kritis, Yu Jie menyimpan dendam.
"Aku akan membalas semua perbuatan kalian. Sabarlah untuk menunggu pembalasanku, ibu dan adikku tersayang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
"Ibuku benar-benar hebat!" seru Fang Hua dengan wajah tak percaya.
"Kakak, ibu berubah!" seru Fang Ling setengah berbisik pada Fang Li.
Fang Ling tidak ingin mendapat cubitan lagi dari kakak keduanya. Lebih baik dia merepotkan kakak pertamanya. Sedangkan, Fang Li dan Yu Jie tersenyum nyaris tak terlihat.
"Ehem! Mana mungkin ada orang tua yang tega membuang anaknya" ucap Fang Yin.
"Nyonya Lin, mungkin itu hanya rumor," timpal Ji Heng yang selalu berada di dekat nyonya besarnya.
"Tapi, aku rasa itu bukan rumor. Bahkan, kisah itu telah sampai ke berbagai kota. Mungkin juga telah sampai ke beberapa negara," balas Lin Lian serius.
Wajah tuan Bai semakin memerah. Marah dan malu bercampur jadi satu. Tentu saja, karena dialah orang yang tega membuang putri kandungnya sendiri.
"Ibu, tidak baik bercerita yang kurang baik saat makan malam," Yu Jie bersuara.
"Ah, kau benar putriku!" seru Lin Lian berpura bersalah.
Lin Lian melirik Bai Hui Fen dari sudut matanya. Pria paruh baya itu diam seperti patung hidup.
"Tuan Bai, ini adalah putriku, Lin Yu Jie," ucap Lin Lian santai.
Lin Lian melihat dengan jelas mata mantan suami mending nyonya-nya itu. Matanya melotot seperti kodok. Hampir saja dia melepas tawa.
"Nyonya, apa tuan Bai baik-baik saja?" ucap Yu Jie.
"Eh!" Fang Yin baru menyadari reaksi suaminya.
Reaksi yang sama seperti dirinya tadi siang.
"Suamiku, apa ada pekerjaan yang belum diselesaikan?" Fang Yin sengaja mengalihkan.
"Tidak masuk akal," gumam Fang Ling.
Bai Hui Fen sadar dia hampir saja mati terduduk akibat terkejut. Pertama wanita tua yang berstatus sebagai nyonya Lin lalu putrinya yang bernama Yu Jie.
Yang satu wajahnya sangat mirip dengan seorang wanita yang dia kenal. Yang satu lagi memiliki nama yang sama dengan putrinya dulu. Apa ini kebetulan atau karma?
"Tidak ada," jawab tuan Bai singkat.
Fang Yin tersenyum lalu berkata, "Sebaiknya kita makan malam sekarang."
"Nyonya Bai benar. Mari kita makan!" seru Lin Lian santai.
Dasar tamu tidak tahu diri! Bisa-bisanya dia menyinggung kami! Tunggu saja pembalasanku! Fang Yin bersungut dalam hati.
Makan malam berjalan hening bagi keluarga Bai, tapi tidak bagi keluarga Lin. Jika dilihat dengan mata biasa, terlihat mereka sedang menikmati makan malam dengan santai, tapi di sela-sela makan malam itu, sesekali mereka berbincang mengenai kebodohan keluarga Bai. Sungguh hidangan pembuka yang sangat pantas untuk mereka.
Yu Jie memiliki pemikiran lain. Dia senang ketegangan keluarganya sebelum makan malam tadi berangsur hilang. Mereka harus santai saat mencicipi hidangan penutup nanti agar tidak terlihat jika mereka mengetahui rencana nyonya Bai yang anggun itu.
Makanan utama telah selesai mereka santap. Sebelum hidangan penutup tertata diatas meja, Nyonya Bai kembali mencairkan suasana dengan menanyai Yu Jie tentang waktu pemeriksaan pertama untuk keluarganya.
"Tabib Lin, kapan anda siap untuk memeriksa kami sekeluarga?" tanya Fang Yin lembut.
"Besok aku akan memulainya," jawab Yu Jie datar.
"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Fang Yin.
"Besok waktu yang tepat. Aku tidak bisa berlama-lama di sini," ucap Yu Jie.
"Baiklah, aku menurut saja," ucap Fang Yin mengalah.
"Tabib Lin!" seru Mei Yin.
Yu Jie menatapnya tanpa suara.
"Begini, aku ingin anda membuatkan ramuan kecantikan untukku," ucap Mei Yin malu-malu.
"Bukankah Kak Mei Yin sudah cantik," puji Fang Ling.
Mei Yin tersenyum simpul. Setiap kali ada yang memujinya cantik, dia selalu besar kepala.
"Sebentar lagi aku akan menikah. Artinya aku sudah siap menjadi seorang istri dan ibu untuk anak-anakku nanti. Seiring berjalannya waktu, aku takut wajahku akan menua," jelas Mei Yin.
"Setiap yang bernyawa pasti mati. Setiap yang muda pasti akan menua," ucap Fang Hua.
"Sepertinya calon suami nona Mei Yin bukan orang sembarangan," timpal Fang Hua.
Mei Yin menunduk malu. Melihat ada celah untuk membalikkan keadaan, Fang Yin pun mengambil kesempatan itu.
"Dewa memang memberkati keluarga kami. Selain memiliki putri yang cantik, Mei Yin akan menikah dengan pangeran keempat lima bulan lagi," ucap Fang Yin membanggakan diri.
Fang Li paham maksud dari kalimat wanita ular itu. Secara tidak langsung, dia mengatakan bahwa mereka memiliki seorang putri yang cantiknya tak tertandingi. Sedangkan mereka memiliki wajah yang buruk rupa.
"Hanya pangeran keempat," ujar Fang Li.
"Kakak, kak Mei Yin sungguh hebat bisa memikat hati seorang pangeran dan akan memasuki istana," bela Fang Ling.
"Fang Ling benar, nona Mei Yin sangat cantik. Cocok dengan pangeran keempat," timpal Lin Lian.
"Apa tidak bisa mendapatkan putra mahkota?" tanya Fang Li datar.
Jleb!
Ingin memutarbalikkan keadaan, malah keluarga mereka tersindir lagi. Kecurigaan Fang Yin semakin menjadi-jadi. Tadi nyonya Lin menyinggung gadis buangan itu. Sekarang putri pertamanya menyinggung soal putra mahkota.
Darimana mereka tahu bahwa Mei Yin gagal mendapatkan hati putra mahkota? Jangankan melihat, putra mahkota sekalipun tidak pernah melirik Mei Yin pada saat acara perkenalan dengan beberapa orang putri dari keluarga bangsawan.
Padahal Mei Yin adalah kandidat terbaik untuk menjadi permaisuri. Selain karena kecantikannya, Mei Yin terkenal anggun dan berpengetahuan luas, tapi masih saja tidak bisa menembus hati putra mahkota.
Gara-gara hal itu, Mei Yin sempat menjadi bahan gosip di kalangan putri keluarga bangsawan. Fang Yin sampai meminta suaminya untuk bernegosiasi pada kaisar dengan alasan putrinya telah dibuat malu oleh keluarga kerajaan.
Untuk itu, kaisar mengeluarkan dekrit untuk menikahkan Mei Yin dengan pangeran keempat dan mengangkat Mei Yin sebagai putri kehormatan. Saat hatinya memanas, beberapa pelayan membawa makanan penutup.
Fang Yin tersenyum lalu memberi kode pada dua orang pelayan untuk meletakkan makanan yang sudah mereka beri obat tidur didekat keluarga Lin.
"Nyonya Lin, silahkan nikmati makanan penutupnya. Aku harap nyonya Lin menyukainya," ucap Fang Yin lembut.
"Wah, ada manisan!" seru Fang Ling.
Gadis itu langsung mengambil manisan yang berada tepat di depannya lalu melahapnya. Yu Jie tersenyum. Sepertinya adik bungsunya lupa akan takutnya menghadapi rencana mantan selir itu.
"Silahkan! Makanlah yang banyak!" seru Mei Yin polos.
Mei Yin tidak tahu jika ibunya memiliki rencana lain. Mereka menyantap makanan penutup dengan tenang. Tak ada lagi perdebatan kecil.
Usai makan malam, keluarga tabib Lin undur diri lebih dulu. Mereka merasa lelah dan mengantuk. Tentunya hal itu disambut baik oleh Fang Yin.
Sebentar lagi dia akan mengetahui wajah asli mereka. Tidak mungkin ada suatu kebetulan yang pas di dunia ini. Semua yang terjadi sangat pas dan mengena di hatinya. Fang Yin yakin tabib Lin dan keluarganya menyimpan rahasia.