Cinta sebagai sebuah permainan?
Itulah yang Jenny selalu lakukan, Cinta hanya sepotong permainan dunia bagi gadis yang memiliki segalanya, karenanya dia ingin selalu menang dan memang dia selalu menang, hingga dunianya sedikit kacau karena seorang pria mulai mengacaukan permainan cintanya, dan dia tak akan pernah tinggal diam.
Jonathan, Pria sempurna penakluk semua wanita, semua terjebak hanya dari sorot matanya, dia tertantang untuk masuk pusaran permainan Jenny dan berusaha memenangkannya.
Siapa yang akan menang? atau mereka terjebak dalam permainan yang mereka buat masing-masing?
Benar, Cinta adalah permainan.
Karena itu, Lets The Game Begin!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Apa yang lebih penting?
Jonathan membawa Jenny ke sebuah ruangan yang ada di bandara itu, lounge khusus di bandara itu. Saat dia masuk, Jenny sedikit mengerutkan dahi melihat seorang wanita sedang duduk manis di dalam ruangan itu, dia menaikkan alisnya, sedangkan wanita itu hanya melirik Jenny.
Saat Jenny dan Jonathan masuk, Valerie yang sedang asik ber-chatting ria langsung menyimpan ponselnya, dia duduk dengan gaya menggodanya, menatap tajam pada Jonathan dan Jenny.
Jenny mengerutkan dahi tambah dalam ketika mendapati wanita itu adalah wanita yang tadi dia temui di kamar kecil, Valerie bangkit lalu berjalan dengan percaya dirinya ke arah Jonathan dan Jenny, wajahnya bagai menantang Jenny.
"Akhirnya datang juga," kata Valerie cukup tak bersahabat.
"Kau siapa?" tanya Jenny merasa aneh, apa ini salah satu wanita Jonathan? Jonathan selalu senang dengan tipe wanita sensual pembangkit nafsu seperti ini.
"Valerie, jangan ganggu dia," kata Jonathan merasa kejahilan Valerie sedang kumat, "Dia adik sepupuku, Valerie Arabelle Tadder."
Jonathan kembali menarik Jenny dalam rangkulannya, berusaha untuk menjauhkan Jenny dari Valerie yang sedang mengamati Jenny lebih jauh.
"Ah, ayolah kak, ini kali pertama kau menyukai wanita, aku ingin tahu apa bedanya dia dengan wanita-wanita yang selalu kau bawa," kata Valerie sedikit kesal, masa padanya pun kakaknya ini overprotektif.
"Oh, wanita-wanita ya?" kata Jenny yang melirik ke arah Jonathan.
"Bukannya kau sudah tahu, Valerie jangan asal berbicara," kata Jonathan sekarang dia menggiring Jenny ke tempat duduk di sana, membawa Jenny ke ujung di dekat Jendela agar dia bisa nyaman memilihat ke sekitarnya.
Valerie yang merasa dicueki itu mencucurkan bibirnya, tanpa di suruh dia segera duduk di depan Jenny yang mengerutkan dahinya, masih terlalu tak biasa melihat wanita ini di depannya.
"Namaku Valerie," kata Valerie segera menyodorkan tangannya pada Jenny yang masih memandang Valerie dengan tatapan menganalisa.
"Oh, Namaku Jenny," kata Jenny yang mencoba untuk menerima Valerie walau masih risih.
"Baiklah, aku tak akan menganggu momen kalian berdua, aku akan kembali ke hotel, Minggu depan baru aku akan kembali ke rumah," kata Valeria dengan tatapan lebih waras, menatap Jenny dan Jonathan yang ada di depannya.
"Ya, bekerjalah dengan baik," Kata Jonathan dengan biasa saja.
"Lain kali jika kalian menginap seperti kemarin, jangan lupa bertemu denganku ya," kata Valerie akhirnya bisa tersenyum pada Jenny.
"Menginap? kami tidak ada menginap kemarin," kata Jenny yang mengerutkan dahi.
"Tapi kamar yang kau pesan kemarin terisi kak," kata Valerie mengerutkan dahi, dia kira kemarin mereka menginap di hotel yang dia kelola.
"Oh, bukan kami, aku dan dia tak jadi ke hotel, itu mungkin Chintia dan Anxel," kata Jonathan menjelaskan, dia juga memberikan sebuah gerakan yang di balas anggukan oleh Rian.
"Oh, itukah nama tunangan kalian, kalian benar-benar suka tantangan, dan aku suka itu, baiklah, aku akan pergi dari sini, Having Fun, brother," kata Valerie tanpa malunya mengecup pipi Jonathan, Jenny mengerutkan dahinya, sepupu namun terlalu dekat, bahkan dia dengan Jared yang notabene lahir bersama saja sudah sangat jarang mencium pipi masing-masing, ada perasaan tak enak di hati Jenny, apakah ini cemburu?
Valerie bergegas ingin keluar dari ruangan itu, sebelum Jenny ingat sesuatu.
"Eh, apa di tempat penginapanmu bisa melihat Aurora?" tanya Jenny, Jonathan mengerutkan dahi.
"Tentu saja, itu adalah pemandangan yang kami jual di hotel kami, kenapa?" tanya Valerie menghentikan langkahnya.
"Apa warna Aurora semalam?" tanya Jenny ingin memastikan.
"Bukannya kita sudah melihatnya semalam?" tanya Jonathan bingung kenapa Jenny harus bertanya lagi apa warna Aurora semalam.
"Hijau, sedikit biru dan kuning, memangnya warna apa Aurora kemarin yang kau lihat?" tanya Valerie menekukkan dahinya.
"Ehm, ya sama dengan yang kau lihat," kata Jenny seperti berpikir, membuat Valerie sedikit bingung dengan sikap calon kakak iparnya ini, Jonathan pun hanya mengerutkan dahinya.
"Baiklah, aku pergi, bye," kata Valerie yang memutuskan kembali melanjutkan perjalanannya.
Pintu segera terbuka, Jenny masih berwajah menganalisa, jika Anxel dan Chintia melihat Aurora di tempat Valerie, kenapa Aurora mereka berbeda, padahal Valerie saja mengatakan Aurora yang sama dengan yang dilihat oleh mereka.
"Ada apa?" tanya Jonathan melihat wajah bertekuk dari Jenny.
"Kau tahu, aku tadi pagi bertanya pada Chintia tentang Aurora yang dia lihat, dia mengatakan Auroranya berwarna biru dan merah, sedangkan Anxel mengatakan warnanya kuning, mereka pergi bersama untuk melihat Aurora tapi kenapa bisa sangat berbeda dengan apa yang kita lihat," kata Jenny yang mencoba menganalisa, Jonathan pun terpancing rasa penasarannya.
"Benarkah?" tanya Jonathan.
"Ya, apa itu artinya mereka tak melihatnya?" tanya Jenny memandang mata kuning Jonathan.
"Chintia selalu memaksaku untuk melihat cahaya Utara itu, bukan hanya sekarang, bahkan dari dulu, jika dia punya kesempatan untuk melihatnya, pasti dia akan melihatnya, ini seperti mimpi baginya, kecuali ...." kata Jonathan juga tampak menganalisa.
"Kecuali apa?" kata Jenny ingin tahu apakah yang dia pikirkan dengan apa yang dipikirkan oleh Jonathan sama.
"Ada hal yang lebih penting baginya dari pada melihat Aurora," kata Jonathan lagi melirik Jenny.
Jenny menyipitkan matanya, hal yang lebih penting? kenapa tiba-tiba dia terpikir tentang Anxel? Jenny tentu tak cemburu, sedikit pun tak ada rasanya cemburu itu, tapi dia hanya merasa janggal dengan semua hal ini, kenapa?
Jonathan memanggil Rian, Rian datang perlahan, Jonathan memberikan perintah sambil sedikit berbisik, Rian mendengar itu segera menganggukkan kepalanya, mengerti hal itu, Rian segera keluar dari ruangan itu.
Jonathan menatap Jenny yang masih berwajah berpikir, dia ingin menarik tangan Jenny yang dari tadi dia genggam namun ponsel Jenny duluan bergetar, membuat Jenny langsung mengalihkan perhatiannya pada ponselnya, Jonathan hanya mengulum bibirnya, gagal lagi ingin lebih intim dengan wanita ini, Jenny bahkan melepaskan tangan Jonathan yang dari tadi menggenggam tangannya.
Jenny kaget melihat ponselnya bergetar, dia segera mengambilnya dan melihat ponselnya, nama bibinya terpampang di sana, menelepon menggunakan sebuah aplikasi perbincangan.
"Halo, Bi?" Sapa Jenny.
"Halo, bagaimana kabarmu di sana?" tanya Aurora yang merasa sudah beberapa hari tak mendengar kabar anaknya ini.
"Oh, aku baik, aku baik-baik saja, kenapa bibi menelepon?" tanya Jenny yang gugup.
"Baguslah kalau begitu, Bibi hanya ingin tahu kabarmu, kapan kau pulang?" tanya Aurora lembut, Jonathan hanya mendengarkan dari sebelah Jenny, bersamaan dengan itu pintu terbuka, beberapa pelayan membawakan makanan, Jonathan segera memberikan izin untuk para pelayan meletakkan bebagai makanan itu di depan mereka.
"Ya, aku akan pulang hari ini, tapi sepertinya aku tidak pulang bersama Anxel dan Chintia, ada beberapa hal yang harus aku urus, ada dokumen yang kurang, bisa beritahu paman tentang ini, Bi?" kata Jenny yang sedikit tak enak, mengarang cerita pada Bibinya, tapi kali tidak, nanti saat Anxel datang dan berbicara tentang hal ini, maka akan kacau jadinya.
🏃 🏃 🏃..... otw....
Dari Judulnya kayaknya seru deh...
ah... pasti Seru Karya Quin....
akhirnya....
😍😍😍
Terima Kasih untuk Karya-karya nya....
💕💞💖👍👍
semoga aja Cuma prank ya.....
siapa lagi sie....
Apakah Anxel sudah bebas?
next ke Meadow...
akhirnya JJ bersatu lagi
😂😂😂
biar gak kabur lagi