Alika tak pernah menyangka sebuah tragedi yang merugikannya akan membawa dia bertemu dengan seorang tentara tampan yang menyelamatkannya, cinta pandangan pertama langsung ia sematkan kepada tentara itu.
Tapi bagaimana bisa Alika mengatakan cinta pandangan pertama karena wajahnya saja Alika tidak pernah melihatnya karena wajah tentara tersebut tertutup oleh masker sehingga Alika sendiri tidak tahu tapi sudah mengatakan cinta padangan pertama hanya dengan melihat matanya saja dan belum tentu mereka akan bertemu kembali.
Bagaimanakah perasaan sang tentara apakah dia juga merasakan getaran pertama sama seperti Alika atau hanya berniat menolong karena Alika adalah korban yang harus di tolong??
Follow IG : Lala_syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31_Kepulangan Sang Kapten
Dua hari berlalu tanpa kabar Alika bekerja, tidur, dan makan dalam kabut kekhawatiran.
Pada malam ketiga, saat ia baru saja menyelesaikan makan malam sendirian, bel pintu rumah berbunyi.
Itu bukan bunyi bel biasa, tetapi kode ketukan yang hanya diketahui oleh staf keamanan rumah mereka.
Seorang prajurit muda dengan wajah serius berdiri di depan pintu, dia membawa sebuah paket kecil yang disegel dan tampak tertekan.
"Permisi, Dokter Alika," sapanya dengan hormat.
"Kapten Ethan meminta saya mengirimkan ini." lanjutnya.
"Apa kabar suamiku? Apa dia baik-baik saja?" tanya Alika, suaranya tercekat.
Prajurit itu memberi hormat. "Kapten dalam kondisi prima, Dokter. Misi berhasil. Beliau dan timnya sedang dalam tahap konsolidasi dan evakuasi. Beliau meminta Anda untuk tidak khawatir dan fokus pada kesehatan Anda." jawabnya dengan hormat.
Rasa lega yang membanjiri Alika begitu besar hingga ia hampir jatuh. Misi berhasil. Kapten Ethan baik-baik saja.
Alika menerima paket itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada selembar kertas lusuh, terlipat rapi, dan sebuah liontin kecil dengan ukiran elang.
Pesan itu ditulis tangan dengan pensil, menunjukkan bahwa Ethan menulisnya di tengah medan operasi:
Sayangku, Dokter.
Kami berhasil. Semua sandera aman. Aku tahu kamu khawatir. Aku mengirimkan ini sebagai bukti aku menepati janjiku.
Jaga dirimu. Jangan lupakan janjimu untuk tidur yang cukup dan makan teratur. Aku akan kembali dua hari lagi, setelah debriefing.
Aku sangat mencintaimu. Setiap langkah di hutan ini, aku hanya memikirkanmu.
Kaptenmu, E.
Air mata Alika jatuh ke atas kertas itu. Itu bukan pesan romantis, tetapi sebuah pesan komando yang ditujukan kepada jantungnya sederhana, faktual, dan menenangkan.
Liontin elang itu adalah lambang unit khusus Ethan. Liontin itu adalah bagian dari dirinya, dikirim sebagai jaminan fisikal.
Alika menyentuh liontin itu. Ia tidak lagi melihatnya sebagai lambang bahaya, tetapi sebagai jimat pelindung. Dengan ini, ia tahu ia akan baik-baik saja.
Malam itu, Alika tidak lagi memeluk seragam sang suami karena dia tahu suaminya baik-baik saja dan akan segera pulang.
Dia memeluk liontin itu dan selembar kertas lusuh yang menjadi bukti keberanian dan cintanya.
Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, ia tidur nyenyak. Ia tahu Kaptennya akan pulang. Ia hanya perlu menunggu sedikit lebih lama. Dan menunggu, bagi seorang istri prajurit, adalah bentuk keberanian yang paling sunyi.
...****************...
Dua hari yang dijanjikan Ethan terasa seperti dua tahun bagi Alika. Meskipun ia kini memiliki liontin dan pesan tulisan tangan Ethan sebagai pegangan, waktu terasa lambat.
Ia menjalankan tugasnya di rumah sakit dengan kesempurnaan mekanis, tetapi perhatiannya selalu terbagi.
Pada malam hari terakhir penantian, Alika tidak bisa tidur, dia menghabiskan waktu di dapur, membuat makanan kesukaan Ethan yaitu steak yang di marinasi sempurna dan kue cokelat pahit seolah menyiapkan perayaan dan itu adalah cara Alika mengendalikan kecemasannya dengan mempersiapkan kepulangan.
Ia mengenakan gaun sutra yang rapi, merias wajahnya sedikit, ia ingin Ethan melihatnya dalam kondisi terbaik, tidak sebagai wanita yang dihantui ketakutan, tetapi sebagai wanita yang kuat yang menantinya.
Saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Alika duduk di ruang tamu, dan suara jip militer yang familiar terdengar di jalanan, memasuki area perumahan mereka yang tenang.
Jantung Alika berdetak kencang, kali ini bukan karena takut, melainkan karena antisipasi yang luar biasa. Ia berdiri, berjalan ke pintu.
Kapten Ethan keluar dari mobil, ia mengenakan seragam dinas harian yang rapi, bukan seragam tempur yang lusuh, tetapi matanya menunjukkan kelelahan yang mendalam. Debriefing di markas pasti memakan energi yang tersisa.
Alika tidak menunggu namun ia langsung membuka pintu dan berlari kearah sang suami.
Ketika Ethan melihat istrinya berdiri di pintu, kecantikannya yang sederhana namun menenangkan, semua ketegangan dari hutan Kalimantan, dari operasi, dari tanggung jawab ganda, langsung hilang.
"Sayang!" panggil Ethan, menjatuhkan tas ranselnya ke tanah.
Alika melompat ke pelukan Ethan, ia memeluk suaminya erat-erat, menghirup aroma Ethan campuran wangi sabun militer dan bau maskulin khasnya yang sudah sangat ia rindukan dan itu adalah aroma yang paling menenangkan di dunia.
"Kamu kembali," bisik Alika, suaranya tercekat oleh tangis lega.
"Kamu kembali, Mas." lirihnya lagi begitu senang dengan kepulangan sang suami.
Ethan memeluknya balik dengan kekuatan yang sama, seolah takut Alika akan menghilang.
"Aku selalu kembali padamu, Dokter. Selalu," bisiknya di rambut Alika.
Setelah beberapa saat, Ethan melepaskan pelukan, tetapi tetap menangkup wajah Alika dengan kedua tangannya, ia menatap mata Alika yang basah.
"Aku minta maaf membuatmu khawatir." ucapnya karena sudah membuat sang istri menangis.
"Jangan minta maaf karena kamu menyelamatkan nyawa," kata Alika, menyeka air matanya.
Dia membiarkan matanya mengamati wajah Ethan, mencari luka, ada sedikit memar di pelipisnya, tetapi selain kelelahan, Ethan tampak utuh.
"Ayo masuk, aku sudah siapkan makanan kesukaanmu," ajak Alika, menarik Ethan ke dalam rumah.
Malam itu, mereka duduk di meja makan, Ethan makan dengan lahap, menceritakan sekilas operasi itu tanpa detail kekerasan, hanya fokus pada strategi dan keberhasilan.
Ia berbicara tentang betapa sulitnya evakuasi sandera yang lemah dan betapa cerdasnya Tim Rajawali.
"Kamu pahlawanku, Mas," kata Alika, menggenggam tangan Ethan di atas meja.
"Kamu juga pahlawanku, Alika," balas Ethan dengan senyumnya yang tulus.
"Kamu menungguku di sini itu butuh keberanian yang sama, aku melihat bekas lukamu dari insiden Tokyo, dan aku tahu, aku harus kembali, aku harus memastikan penyembuhan ku ada di sini." ucap Ethan membuat Alika begitu terharu.
Beberapa hari kemudian, setelah Ethan menyelesaikan cuti pemulihannya dari militer namun, kali ini ada tambahan penting yaitu mereka memulai sesi terapi pasangan.
Alika telah mengambil langkah berani untuk mencari bantuan, bukan hanya untuk traumanya, tetapi untuk bagaimana trauma itu memengaruhi hubungan mereka.
Dalam sesi tersebut, Alika akhirnya mengungkapkan ketakutannya.
"Aku takut setiap kali telepon itu berdering, aku takut pada aroma mesiu yang kadang-kadang masih tercium di tas ranselnya. Aku takut pada Kapten Ethan, karena dia bisa menghilang tanpa peringatan, meninggalkan suamiku." lirihnya dengan air mata yang sudah mengalir deras.
Ethan mendengarkan dengan sabar. "Aku mengerti, Sayang. Aku tahu aku hidup dalam dua dunia yang saling bertentangan. Aku adalah orang yang diutus untuk menciptakan bahaya, sementara kamu adalah orang yang diutus untuk menyembuhkan. Itu sulit." ucapnya dengan penuh perhatian, Ethan tahu ini memang sangat beresiko tapi Ethan akan buktikan bahwa mereka berdua bisa melaluinya jika terus bersama-sama.
.
.
Bersambung.....
JANGAN LUPA VOTE YA BIAR SEMANGAT BUAT UPDATE NYAAAAAAAA
Riset dl thor...