Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32
Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di rumah besar keluarga Rendra.
Alice dan Neil benar-benar menatap tidak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Ini bukan rumah, ini benar-benar bukan rumah. Karena apa yang mereka lihat di depan sana sangat luar biasa.
"Ayo," ajak Rendra ketika mereka sudah turun dari mobil.
Alice bersama dengan putranya masih diam, sampai di mana suara Neil bertanya padanya membuat Rendra tersenyum.
"Papi, ini hotel ya? Kita tinggal di hotel dulu baru ke rumah papi?" tanya Neil dengan begitu polos yang membuat laki-laki itu hanya tersenyum saja.
Dia menarik Neil, dan menggendong tubuh mungil putranya itu. "Dengarkan papi, mulai sekarang kita akan tinggal di sini. Ini rumah papi, dan akan menjadi rumah kamu dan juga Mami. Kita akan sama-sama tinggal di sini mulai sekarang." ucap Rendra menyelesaikan pada putranya.
Sekali lagi, Neil menatap pemandangan bangunan mewah itu. Apakah benar mereka akan tinggal di sana?
"Sudah, ini sudah malam. Kamu harus segera istirahat, oke." ucapnya pada Neil.
Dia mengendong putranya, lalu menggandeng tangan Alice dengan begitu lembut.
Langkah mereka terhenti saat Rendra melihat keluarga parasit itu masih di rumahnya. Bukankah dia sudah memberi instruksi pada para pelayan untuk mengusir mereka semua. Lalu, Bagaimana bisa mereka masih berada di sini.
"Kylie!!!" panggil Rendra, pada kepala pelayan rumah ini.
Karena orang-orang ayahnya dulu yang bersekongkol dengan mereka sudah digantikan.
"Tuan Rendra, selamat datang, Tuan." sapa Kylie ketika melihat tuannya datang.
"Bawa tuan muda dengan nyonya ke kamar mereka." ucap Rendra memberi perintah.
Alice enggan melepaskan genggaman tangannya, sampai di mana Rendra memberi pengertian padanya, barulah dia berani untuk pergi.
"Kak, kita harus bicara." ucap Reno ketika melihat Kakak aja sudah datang.
"Sttt..." Rendra memberi isyarat kepada mereka untuk tidak bicara lagi karena dia benar-benar muak.
"Kak-"
"Sekarang pilihan yang ada dua, kalian ingin pergi sekarang dengan sukarela atau aku yang menyeret kalian keluar dari rumah ini." ucap Rendra membuat wanita yang dibencinya itu langsung menatap nyalang ke arahnya.
"Apa maksudmu mengatakan hal seperti itu? Reno juga anak kandung dari ayahmu. Kalian sama-sama memiliki ayah yang sama. Lalu, Bagaimana bisa Reno tidak mendapatkan apapun sedangkan kamu mendapatkan segalanya. Aku yakin kamu telah melakukan sesuatu di belakang kami." Rendra hanya tersenyum saja ketika mendengar apa yang dikatakan wanita itu padanya.
Jika memang benar dia melakukan sesuatu apa masalahnya? lagi pula semua ini berasal dari ibunya.
"Kau tau, jika bukan karena menghargai ibuku dan mematuhi pesan terakhirnya. Sudah ku pastikan bahwa kalian semua akan berakhir di tanganku. Hanya karena wasiat ibu, untuk tidak mengotori tanganku maka aku melakukannya. Jika tidak, Jangan harap kalian masih bisa menghirup udara bebas hingga saat ini." ucap Rendra begitu sarkas.
Tidak ada lagi rasa belas kasihan pada mereka. Karena memang benar, jika karena bukan wasiat terakhir dari mending ibunya. Sudah dia pastikan bahwa orang-orang ini akan menyesal seumur hidupnya. Terutama sang ayah. Rasanya dia bahkan ingin membuat laki-laki itu sengsara, karena telah berani menyelingkuhi ibunya dan bahkan merebut segalanya.
"Satu hal lagi. Jika sampai besok pagi kalian belum juga keluar, maka jangan salahkan aku jika memanggil polisi untuk menyeret kalian keluar dari rumahku!" ucap Rendra penuh dengan ancaman.
Membuat orang-orang yang tidak tahu diri itu mulai ketakutan. Seolah-olah mereka sudah tidak memiliki harapan lagi untuk hari esok.
"Pastikan tidak ada satupun barang mereka yang tertinggal di rumah ini, Kylie. Panggil para pelayan smua untuk membersihkan rumah malam ini juga. Karena aku tidak ingin ketika istri dan putra ku bangun esok, masih ada noda kotor tertinggal di rumah ku!" ucap Rendra lagi, sebelum Dia benar-benar pergi meninggalkan orang-orang tersebut.
Di dalam kamar, Rendra melihat Alice yang Tengah gelisah seperti itu.
"Ada, apa?" tanya Rendra melihat Alice yang khawatir.
"Tidak ada. Aku hanya mengkhawatirkan keadaan kamu saja." ucap Alice apa adanya, karena memang itu yang dikhawatirkan.
"Aku akan baik-baik saja selama kau dan Neil baik-baik saja. Jadi jangan khawatir lagi, oke." Alice menganggukkan kepalanya, sedangkan Rendra pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
***