"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
Ciuman itu begitu dalam, liar, sekaligus penuh rasa sakit yang tak terucap. Ranu seolah ingin melumat segala ketakutan, segala rasa bersalah, dan segala rindu yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Galuh yang awalnya kaku perlahan melemas, cengkeramannya di dada Ranu berubah menjadi pelukan lemah di kerah kemeja lelaki itu. Air mata yang sempat ia tahan kini tumpah, bercampur dengan rasa hangat yang menyelinap di hatinya.
Saat Ranu akhirnya melepaskan bibirnya, napas mereka sama-sama memburu. Dahi mereka masih saling menempel, menatap satu sama lain dengan pandangan yang tak lagi bisa berbohong.
"Maaf..." bisik Ranu pelan, tangannya masih menahan pipi Galuh dengan lembut. "Aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Aku cuma... bingung sama perasaanku sendiri. Aku takut kalau aku terlalu berharap, nanti malah kamu yang sakit."
Galuh menggeleng pelan, air matanya malah makin menetes. "Bukan cuma kamu yang takut, Ran. Aku juga takut banget. Aku sadar posisiku, aku sadar kita nikah cuma karena keadaan. Tapi makin lama aku di sini, makin lama aku sama kamu sama Arkan... rasanya aku nggak bisa pura-pura nggak ada rasa lagi. Aku sayang kamu, Ranu. Itu yang bikin aku sakit setiap lihat kamu sama Cindy."
Ranu tersenyum tipis, lalu mencium kening Galuh lembut sekali. "Bodoh... kamu kira aku nggak tau? Aku sadar banget kok. Aku juga sayang kamu, Galuh. Sayang banget. Cuma aku belum berani ngakuinnya sama siapapun, bahkan sama diriku sendiri. Mulai sekarang, nggak ada lagi jaga jarak, nggak ada lagi pura-pura nggak peduli. Kita hadapin semuanya bareng-bareng ya?"
****
Di tempat lain.
Cindy menangis di kamar.
Ponselnya tersambung dengan seseorang.
"Tante..."
Mama Anggun langsung menjawab.
"Kenapa, Cindy?"
"Mas Ranu marahin aku di kantor."
"Kok bisa?"
Cindy mulai mengadu.
Ia menceritakan bagaimana dirinya ditegur di depan kepala divisi, dipermalukan, bahkan diancam dipecat.
"Tante... aku cuma mau kerja."
Mama Anggun mengepalkan tangan.
"Ranu keterlaluan."
"Aku malu banget, Tante."
"Kamu tenang."
"Tante yang urus."
Telepon ditutup.
Tak sampai lima menit kemudian, ponsel Ranu berdering.
"Mama."
"Ranu!"
Suara Mama Anggun langsung terdengar tinggi.
"Kenapa kamu memperlakukan Cindy begitu?"
Ranu memijat pelipisnya.
"Mama dengar dari Cindy?"
"Iya."
"Bagus."
"Maksud kamu?"
"Berarti Cindy juga bisa cerita kalau dia berkali-kali melanggar prosedur kantor."
Mama Anggun terdiam.
"Cindy cuma mau dekat sama calon suaminya."
"Dia bukan calon istri saya."
Suasana langsung hening.
"Mama sudah bilang..."
"Saya nggak pernah setuju."
"Ranu!"
"Saya direktur di kantor."
"Kalau saya membiarkan dia seenaknya masuk ruangan saya, karyawan lain bakal menganggap saya pilih kasih."
"Tapi kalian mau bertunangan."
"Nggak akan."
Nada suara Ranu tegas.
"Saya menolak."
Mama Anggun mulai kesal.
"Kamu selalu membangkang."
"Saya cuma mau menentukan hidup saya sendiri."
"Kamu harus dengar Mama."
"Nggak semua."
Mama Anggun menarik napas panjang.
"Pokoknya kamu harus menikah sama Cindy."
Ranu memejamkan mata.
"Kalau Mama terus ngatur hidup saya..."
"Apa?"
"Saya pulang ke kota."
Mama Anggun terdiam.
"Saya bakal sering main ke rumah Yuda."
"Ranu!"
"Temuin Ning."
Wajah Mama Anggun langsung berubah.
"Kamu jangan macam-macam!"
"Ning lagi hamil."
"Justru itu!"
Mama Anggun hampir berteriak.
"Makanya Mama nggak mau kamu dekat-dekat sama dia lagi."
"Itu masa lalu."
"Mama nggak peduli."
Telepon mendadak sunyi.
Ranu mengembuskan napas panjang.
"Saya capek, Ma."
"Lakukan sesuka kamu."
Klik. Telepon terputus. Ranu menyandarkan kepalanya ke sofa. "Pusing..."
Galuh baru selesai membersihkan diri setelah Arkan tidur. wajahnya masih setengah basah, hanya mengenakan piyama panjang berwarna biru muda. Saat hendak merebahkan badan, ponselnya bergetar.
Pak Ranu
"Ke ruang kerja saya sebentar."
Galuh menatap layar beberapa saat. Jantungnya langsung berdebar. Setelah menarik napas panjang, ia akhirnya keluar kamar dan berjalan menuju ruang kerja Ranu.
Tok.
Tok.
"Masuk."
Galuh membuka pintu perlahan.
Ranu sedang duduk di depan meja kerjanya, tetapi kali ini laptopnya tertutup. Seolah memang sengaja menunggu.
"Bapak manggil saya?"
Ranu mengangguk.
"Duduk."
Galuh duduk di sofa kecil yang berada di dekat rak buku.
Suasana mendadak canggung. Tak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Akhirnya Ranu mengembuskan napas pelan.
"Leher kamu masih sakit?"
Galuh mengusap tengkuknya.
"Masih sedikit."
"Besok jangan angkat barang berat."
"Iya."
Sunyi lagi.
Ranu menatap perempuan itu cukup lama.
"Galuh."
"Iya?"
"Soal tadi siang..."
Galuh langsung menundukkan kepala.
"Maaf."
Satu kata itu membuat Galuh mengangkat wajah.
"Hah?"
"Maaf."
Ranu mengulanginya.
"aku seharusnya nggak ngomong seperti itu."
Galuh mengerjap. Selama bekerja bertahun-tahun, baru kali ini ia mendengar Ranu meminta maaf lebih dulu.
"Aku bilang jangan terbawa perasaan."
Ranu tersenyum pahit.
"Padahal yang paling nggak bisa mengendalikan perasaan justru aku."
Galuh membeku.
"Maksud Bapak?"
"jangan memanggilku bapak... Mas! Panggil Mas kalau di rumah."
"Maksud Mas Ranu?"
Ranu bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Galuh.
"Aku sakit."
Galuh menatapnya tidak percaya.
"Waktu lihat kamu menghindari saya. Waktu lihat kamu menangis. Dada saya sakit."
Galuh menggigit bibir.
"Aku pikir... semua ini cuma karena rasa tanggung jawab. Ternyata bukan."
Ranu menatap lurus ke matanya.
"Aku rasa perasaan ini udah berkembang terlalu jauh, Galuh."
Kalimat itu membuat mata Galuh perlahan memerah.
"Tapi..."
"Saya takut."
Ranu mengangguk pelan.
"Aku juga."
"Kita menikah karena keadaan. Aku takut kamu merasa terpaksa."
Galuh menggeleng. "Aku memang pernah berpikir seperti itu."
"Terus?"
"Tapi lama-lama..." suaranya mengecil. "Aku jatuh hati."
Ranu tersenyum tipis.
"Makanya tadi kamu nangis?"
Galuh tertawa pelan sambil mengusap matanya. "Aku malu, Mas. Aku pikir Mas bakal senang sama Cindy."
Ranu langsung menggeleng. "Dari mana pikiran itu?"
"Soalnya... semua orang bilang begitu."
"Aku nggak pernah setuju."
"Tapi mas nggak pernah bilang."
"Sekarang aku bilang."
Tatapan mereka bertemu. Ranu meraih tangan Galuh perlahan. Kali ini tidak ada paksaan. Kalau Galuh ingin menarik tangannya, ia bisa melakukannya. Namun... Galuh justru membalas genggaman itu.
"aku nggak janji semuanya bakal mudah. Tapi aku mau coba menjalani pernikahan ini sungguh-sungguh."
Air mata Galuh kembali jatuh. Bedanya... Kali ini bukan karena sedih.
"aku juga."
Ranu tersenyum lega. Entah kenapa, beban yang selama ini menyesakkan dadanya seperti terangkat sedikit.
"Mas kenapa belum tidur?"
Ranu tersenyum kecil.
"Lapar."
Galuh ikut tertawa. "Kebetulan. Aku juga."
"Mau masak?"
"Mie?"
"mau."
Beberapa menit kemudian mereka sudah berdiri berdampingan di dapur. Galuh merebus air. Ranu mengiris daun bawang.
"Kok Mas bisa motong?"
"Dulu waktu kuliah sering masak."
"Wah, aku kira nggak bisa."
Ranu tersenyum.
"Nggak semua bos cuma bisa nyuruh."
Galuh tertawa lepas. Suara tawanya membuat Ranu ikut tersenyum. Rasanya hangat. Sederhana. Namun justru momen seperti inilah yang selama ini tidak pernah ia miliki. Tak lama kemudian mereka duduk di meja makan. Dua mangkuk mi hangat mengepul di depan mereka.
"Enak."
"Karena lapar ya."
"Bukan," jawab Ranu menggeleng. "Karena makannya bareng kamu."
Pipi Galuh langsung memerah. "Pak..."
"Di rumah jangan panggil Pak."
Galuh tersenyum malu. "Iya... Mas."
Untuk pertama kalinya, namanya terdengar begitu indah saat keluar dari bibir Galuh.
Keesokan paginya suasana rumah terasa jauh lebih hangat.
Mereka sarapan bersama sambil sesekali saling tersenyum. Arkan bahkan heran melihat keduanya tidak lagi saling canggung.Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Ting...tong
Bel rumah berbunyi. Salah seorang ART bergegas membukakan pintu. Beberapa detik kemudian terdengar suara panik.
"Pak Ranu..."
Ranu dan Galuh sama-sama menoleh.
"Nyonya Anggun datang."
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up