Bukan salah Anggun jika terlahir sebagai putri kedua di sebuah keluarga sederhana. Berbagai lika-liku kehidupan, harus gadis SMA itu hadapi dengan mandiri, tatkala tanpa sengaja ia harus berada di situasi dimana kakaknya adalah harta terbesar bagi keluarga, dan adik kembar yang harus disayanginya juga.
"Hari ini kamu minum susunya sedikit aja, ya. Kasihan Kakakmu lagi ujian, sedang Adikmu harus banyak minum susu," kata sang Ibu sambil menyodorkan gelas paling kecil pada Anggun.
"Iya, Ibu, gak apa-apa."
Ketidakadilan yang diterima Anggun tak hanya sampai situ, ia juga harus menggantikan posisi sang kakak sebagai terdakwa pelaku pencurian dan perebut suami orang, berbagai tuduhan miring dan pandangan buruk, memaksa anggun membuktikan dirinya Hebat.
Mampukah Anggun bertahan dengan semua ketidakadilan keluarganya?
Adakah nasib baik yang akan mendatangi dan mengijinkan ia bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#TIGA PULUH EMPAT
Maryani tak bisa lagi menyembunyikan ketakutannya, ia berteriak sekencang mungkin, bertanya bagaimana Hendra bisa tega melakukan semua kesalahan itu hanya dalam satu malam.
Tetangga terdekat Maryani hanya Bu Anik. Teriakan Maryani pagi itu pun hanya terdengar olehnya, Bu Anik tergopoh-gopoh datang, karena khawatir terjadi sesuatu di rumah Maryani.
“Ada apa Mar? Aku dengar teriakan dari dapurku?” Bu Anik masuk ke rumah Maryani yang sudah tak terkunci.
Maryani yang ramah dan Bu Anik yang rendah hati, membuat dua keluarga ini semakin dekat bahkan seperti saudara, meskipun bu Anik baru pindah ke daerah itu sekitar dua bulan terakhir.
Melihat sang istri begitu histeris, Hendra merasa sangat bersalah, ia segera bangkit untuk meraih Maryani yang luruh duduk bersimpuh di lantai, di pukulnya dadanya yang begitu sesak, di remasnya rambut hingga acak-acakan, sulit tergambarkan betapa hancur hidup Maryani oleh penghianatan Hendra.
Bu Anik yang melihat situasi itu, tak lagi banyak bertanya, ditambah hadirnya seorang wanita seksi yang berdiri acuh tak jauh dari Maryani dan Hendra yang jongkok di hadapan Maryani.
Bu Anik tak berani mendekat, “Ini pengkhianatan seorang suami, aku tidak boleh masuk terlalu jauh!” gumamnya mengingatkan diri sendiri agar tetap bis menjaga batasannya sebagai seorang tetangga.
Perhatian Bu Anik teralihkan oleh suara tangis gadis kecil yang berjalan perlahan keluar dari kamar, seraya menggosok-gosok matanya, “Ibu … ibu … hiks … hiks … ibu!”
Bu Anik menghampiri Aulia kecil, membopong dan segera mengajak gadis kecil itu ke rumahnya, “Ibu sedang sakit perut, itu baru di tolongin sama Ayah, sekarang Lia sama Bude dulu ya, kita buat susu di rumah Bude.”
Hari pun berlalu, Maryani yang sebelumnya begitu memperhatikan setiap detail keperluan Hendra menjadi semakin abai dan tak peduli.
Berbagai upaya telah dilakukan Hendra untuk kembali memperoleh kepercayaan dan maaf dari Maryani. Namun sekali kesalahan Hendra kali itu benar-benar telah merenggut begitu banyak cinta dan kebahagian Maryani.
Hingga suatu pagi beberapa hari setelah itu, “Howeeek! Hoeeeek!” Maryani merasakan pusing dan mual yang sangat mengganggu.
Mendengar itu, Hendra pun menghampiri sang istri yang semakin dingin padanya. “Sayang, kamu kenapa?” ujarnya seraya mengetuk pintu kamar mandi.
Tak ada sahutan dari dalam, Maryani seakan tak mendengar pertanyaan Hendra.
“Hoeeeek! … Hooeeek!!”
Khawatir dengan kondisi sang istri, Hendra segera mendobrak pintu kamar mandi, dan mendapati Maryani pucat berpegangan pada wastafel di kamar mandi.
Hendra tak mau pikir panjang, ia membopong Maryani dan membaringkannya di kamar, mengoleskannya minyak kayu putih di pelipis dan leher serta di telapak tangan dan kaki.
“Telapak kakimu dingin sekali, tunggu aku telpon dokter dulu!” ucap panik Hendra setelahnya.
“Nggak usah! Memangnya kita punya uang untuk bayar dokter?!” sahut ketus Maryani.
“Tapi kalau kamu sakit, siapa yang akan menjaga Aulia?”
Maryani tak menyahut, hatinya yang masih terluka membuatnya kehilangan keinginan untuk berbincang dengan Hendra, menatap wajahnya saja rasanya sangat enggan.
“Ibu … Lia pengen minum susu ….” rengek Aulia muncul dari balik pintu.
Maryani memaksa tubuh lemahnya untuk bangkit, menggapai Aulia yang menyusulnya naik ke atas ranjang.
“Lia sama Ayah yuk, biar Ayah buatkan susunya.”
Maryani tak memperdulikan ucapan Hendra, dengan lemah ia tetap bangkit menggandeng Lia berjalan menuju dapur. Hendra tak tahu lagi harus bagaimana, namun ia juga tahu sebab apa istrinya sedemikian marah.
“Tapi aku mabuk juga karena desakan payahmu! Aku kesana-kemari mencari pekerjaan, tapi mau gimana lagi kalau belum mendapatkannya?! Haruskan aku mengemis agar diberi pekerjaan?!”
Hendra pun menyerukan isi kepalanya, ia memang merasa bersalah, tapi tak sepenuhnya ia bersalah, bagi Hendra sikap Maryani yang terus mendesaknya juga menjadi sebuah masalah yang memaksanya mencari kesenangan sejenak.
“Oh? Jadi aku yang bersalah? Jadi aku yang harus mencari pekerjaan? Jadi aku yang harus memenuhi kebutuhan rumah ini? Lalu siapa sebenarnya yang menjadi kepala keluarga?!” balas Maryani seraya melanjutkan langkahnya ke dapur.
“Aku! Aku juga akan terus mencari pekerjaan! Aku akan bertanggungjawab dengan semua pengeluaran mu! Tapi beri aku ruang! Jangan terus mendesakku dengan kata-kata pedasmu! Pria mana yang bisa tahan dengan omelanmu itu?!”
Maryani menghela napas lalu membuangnya dengan kasar, toples susu yang dipegangnya pun ia letakkan ke maja dengan kasar hingga menimbulkan suara sedikit keras sebagai pelampiasan betapa sesak ulu hatinya,
“Baiklah! Aku akan diam, kalau begitu tunjukkan mana usahamu! Tunjukkan padaku jika kamu merasa sudah benar menjadi seorang suami! Bahkan susu menipis saja kamu tak tahu jika aku tidak meminta! Cih!”
Pertengkaran tak berujung menjadi hal yang mulai biasa di rumah itu, hingga sering tak sengaja terdengar jelas dari dapur Bu Anik.
“Pak, coba kamu bantu Mas Hendra cari kerjaan toh, aku kasihan sama mereka, tiap hari bertengkar terus, kasihan anak mereka,” pinta Bu Anik.
Pak Akbar menghela napas setelah menyeruput kopi buatan Bu Anik, “Kita jangan terlalu ikut campur keluarga mereka, Bu. Mereka sudah dewasa, pasti akan ada penyelesaian, kecuali mereka meminta secara langsung, baru kita berani membantu.”
“Tapi aku ikutan risih, tiap hari ada saja yang membuat mereka bertengkar!” keluh Bu Anik. “Ayolah Pak, cuma nyariin kerjaan aja, kapan hari itu Mas Hendra ngeluh, dia cerita susah cari kerja kalau nggak ada orang dalam yang merekomendasikannya. Kasihan Pak, dia baru saja di-PHK.”
“Hmm, jadi menurutmu pertengkaran mereka karena mas Hendra sekarang menganggur? Kalau gitu nanti aku coba tanya-tanya kenalanku dulu.”
“Terimakasih ya Pak!”
……..
Hari pun berlalu hingga beberapa hari kemudian, hampir setiap pagi Maryani kembali sering merasa pusing dan mual di pagi hari.
“Tuh kan! Kambuh lagi, periksa aja sekarang! Tolonglah jangan bebal!” ucap kasar Hendra menghampiri Maryani di depan kamar mandi yang dibuatkannya terbuka.
Wajah Maryani tampak sangat pucat, kepalanya tiba-tiba pusing, pandangan Maryani mulai kabur.
BRUK!
Maryani ambruk tak sadarkan diri di dalam kamar mandi. Hendra yang saat itu menggendong Aulia kecil, segera mendudukkan Aulia di kursi dan segera menghampiri istrinya.
Dengan panik, Hendra membopong Maryani ke kamar, diikuti Aulia yang menangis bingung. “Dek, tolong jaga Ibu sebentar ya, Ayah mau panggil Bude Anik dulu!”
Hendra berlari menuju rumah Bu Anik, tanpa memperdulikan tangisan Aulia. “Mbak! Minta tolong! Itu Maryani!” seru Hendra tergesa tanpa menunggu jawaban Bu Anik yang saat itu kebetulan tengah duduk santai di teras rumah.
Beruntung bu Anik sangat peka dan tak perlu banyak penjelasan, segera bangkit menuju ke rumah Hendra, diikuti pak Akbar.
“Periksa saja, Mbak Mar pucet banget gini loh, aku bantu panggil taksi dulu!” seru pak Akbar lalu mengambil ponsel dari sakunya.
Sementara Bu Anik berusaha menenangkan Aulia yang masih terus menangis karena takut, Hendra menggosokkan minyak di beberapa bagian tubuh istrinya.
Beberapa saat kemudian taksi pun tiba, Maryani yang mulai tersadar segera dibopong Hendra dan mereka pun menuju ke rumah sakit.
“Bertahanlah dan jangan bebal, kita periksa kali ini!” ucap Hendra dengan nada yang tak begitu menyenangkan untuk didengar.
Maryani tak lagi menggubris apapun yang diucapkan Hendra, ia hanya fokus menahan pening dan mual, beruntung Aulia mulai tenang bersama Bu Anik yang duduk di kursi penumpang depan di sisi sang sopir taksi.
“Terimakasih, Mbak. Maaf karena kalian jadi harus repot.” Dengan mata yang terus terpejam, Maryani hanya mampu berterima kasih pada tetangga barunya itu.
“Nggak apa-apa, udah jangan mikir yang lain-lain, yang penting kamu nanti sehat, mungkin kamu kena asam lambung itu, akhir-akhir ini kamu terlalu banyak pikiran, Mar,” sahut Bu Anik seraya memangku Aulia.
Perjalanan tak lama, mereka pun akhirnya tiba di rumah sakit, setelah mengantri beberapa saat, tiba giliran Maryani pun diperiksa.
Semua menanti dengan cemas, pasalnya selama diperiksa pun, Maryani tampak semakin lemah dan muntah beberapa kali.
...****************...
To be continue....