Siapa sangka tulisan dongengnya yang ia tulis diblog, menjadi penolong seorang remaja yang tengah putus asa. Sejak saat itu Jiva Arunika menjadi sahabat online Kai Gentala Bhalendra, akankah hubungan keduanya berlanjut hingga ke dunia nyata?
Cerita selengkapnya hanya di novel Sang Pendongeng ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Kecewa
Sejak menginjakan kakinya di unit apartemen Kai, Cempaka tak hentinya berdecak kagum akan kecanggihan teknologi Gigi. "Kai, apa Gigi bisa mengerjakan semua perintah?"
"Nenek coba saja," sahut Kai dari dapur, ia di bantu Gita membereskan piring-piring kotor seusai makan malam tadi. Kai tersenyum melihat neneknya bermain-main dengan Gigi.
"Gigi, bisa kau kecilkan ac-nya? Aku sangat kedinginan," ucap Cempaka.
"Tentu saja." Seketika suhu di ruang keluarga menjadi sangat hangat dan nyaman, Cempaka pun merebahkan tubuhnya di sofa.
Kai kemudian beralih menatap Gita yang tengah sibuk mencuci piring kotor. "Git, apa kau marah padaku?"
"Soal apa?" meski ia tahu arah pembicaraan Kai, tapi ia tak bisa langsung menjawabnya sebelum yakin hal itu yang Kai maksud.
"Soal tadi," jawab Kai ragu-ragu. "Nama dan posisi jabatanku di Maharaja Group."
Gita mencuci tangannya hingga bersih kemudian berbalik menatap Kai dengan intens. "Sejujurnya aku sangat kecewa kau tidak lagi menggunakan nama Ayah, karena aku tahu pasti Ayah sangat menyayangimu. Beliau rela melakukan apa saja demi bisa mengumpulkan uang untuk menjemputmu di New York," Gita tertunduk sedih. "Meski pun sebelum uang itu cukup, Ayah sudah tiada."Ia kembali menatap Kai, sembari maksakan seulas senyuman. "Kalau bisa, aku saja mau menggunakan nama Ayah."
"Git..."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku tidak punya hak untuk marah karena itu sepenuhnya hakmu. Tapi yang aku khawatirkan adalah Nenek..." matanya tertuju pada Cempaka yang masih bermain-main dengan Gigi. "Wanita tua itu pasti akan sangat sedih."
"Aku tidak bermaksud mengganti namaku. Ibuku yang menggantinya tanpa persetujuanku, waktu aku masih berusia enam belas tahun," terang Kai.
Gita tersenyum sinis. "Sekarang kau sudah dua puluh delapan tahun, dan kau masih menggunakan nama itu. Artinya kau merasa lebih nyaman menggunakan nama besar Ayah tirimu di bandingkan dengan Ayah kandungmu."
"Bukan begitu, Git."
Gita melipat tangannya sembari terus menatap Kai. "Kalau bukan begitu, lalu apa alasannya kau tidak mengubah kembali namamu. Kau sudah tidak tinggal bersama mereka, artinya kau berhak atas dirimu sendiri sekarang."
Kai mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku..." ia tidak bisa mengatakan alasan mengapa ia masih menggunakan nama Maharaja, padahal sebetul jauh di lubuk hati Kai ingin sekali mengubah namanya kembali menggunakan nama belakang ayah kandungnya.
"Sudahlah Kai. Maaf Gema maksudku, itu semua bukan urusanku. Tapi sejujurnya aku mengkhawatirkan Nenek, bagaimana jika beliau tahu."
"Aku mohon Gita, jangan beritahu Nenek! Biarkan tatap seperti ini dulu, aku tidak bisa jauh darinya."
Gita mengakat bahunya. "Aku bisa saja tidak bilang apa-apa kepada nenek, tapi media? Kau kan tahu aku tidak bersama Nenek 24 jam. Aku kuliah dan bekerja."
"Kalau begitu kau matikan televisi yang ada di rumahmu," pinta Kai.
Televisi?
Sepertinya mereka mendengar sesuatu, keduanya langsung berlari menghampiri Cempaka dengan panik. Dan benar saja, Cempaka tengah menonton berita malam yang menayangkan tentang Kai. Media tidak lagi memberitakan masalah demo di perusahaan, tapi kini beralih pada sosok Gema Maharaja yang tidak pernah muncul ke publik.
"Nenek..." Perlahan Kai berjalan mendekati neneknya.
Sekilas Cempaka menyeka air mata di sudut matanya, kemudian berbalik. "Ayo Gita, sudah malam. Kita pulang!"
Kai berusaha mencegah kepergian neneknya. "Nek... Tunggu dulu!"
Tak menghiraukan Kai, Cempaka langsung menarik Gita menuju pintu depan. Tentu saja Kai menyusul mereka. "Nek, aku bisa jelaskan semuanya."
Tiba di depan lift Cempaka menghentikan langkahnya sejenak, ia berbalik menatap Kai dengan tatapan sedih, terluka dan juga kecewa. "Sudah malam, kita harus pulang. Gita besok ada kuliah pagi, dan aku juga harus berjualan."
"Kalau begitu aku antar Nenek dan Gita."
"Tidak perlu, kau istirahatlah! Terima kasih sudah membolehkan kami mampir ke tempatmu yang nyaman ini." Cempaka memencet tombol menutup pintu lift.
Kai tidak bisa mencegahnya, karena ia sendiri pun tidak bisa mengatakan alasan mengapa sekarang ia belum mengganti nama Maharaja. Di tengah kesedihannya, tiba-tiba saja sesosok wanita datang dari lift yang berbeda.
"Gema..."Jiva berlari kecil menghampiri Gema.
Kai menatap Jiva dengan tatapan kesal. "Dari mana kau tahu aku tinggal di sini?"
"Calon mertuaku yang memberitahu. Aku bawakan makan malam untukmu, kita makan sama-sama yuk," Jiva melingkarkan tangannya di lengan Gema dengan manja. "Tadi siang kau hebat sekali menghentikan para pendemo."
Gema yang risih dengan tindakan Jiva, melepaskan tangan Jiva dari lengannya. "Aku sudah makan, jadi sebaiknya kau pulang, dan jangan lagi datang kemari."
Jiva membulatkan matanya mendapat penolakan dari Gema. "Gema apa kau belum tahu jika orang tua kita sudah menjodohkan kita? Kita di rencanakan akan dinikahkan secepatnya oleh orang tua kita."
"Kalau begitu kau menikah saja dengan, Glen. Dia anak kandungnya," ucap Kai dengan sengaja agar Jiva menjauh darinya.
Jiva terdiam untuk beberapa saat untuk mencerna kalimat yang di sampaikan Gema, ia bahkan tidak berusaha mencegah Gema saat pria itu menutup pintu apartemen. Jiva berbalik pergi, begitu di dalam lift ia menghubungi ayahnya untuk mencari tahu kebenaran mengenai berita itu.
"Ya, Gema hanya anak sambung Rendi. Memangnya kenapa? Bukankah kau juga bukan anak kandung kami? Bahkan kau berasal dari panti, sementara Gema adalah anak kandung ibunya yang kini menjadi istri sah Rendi," ujar Aksara dari sebrang telepon.
Kata-kata Aksara begitu menyakiti Jiva, hingga gadis itu tidak mampu berkata apapun. "Tidak penting Gema anak kandung atau anak sambung, yang terpenting Gema adalah direktur utama di Maharaja. Kalau kau bisa menikah denganya, perusahaan kita akan semakin besar. Kau mengerti?"
Jiva mengangguk lemah. "Iya, Dad."
"Bagus. Kau harus gigih lagi dalam mengejarnya sampai dapat, Daddy akan mendesak Rendi untuk segera menikahkan kalian." ia pun mematikan sambungan teleponnya.
***
Sementara itu, di kediamannya Cempaka menumpahkan rasa kecewa dan sedihnya lewat air mata yang mengalir deras di pipinya, ia seperti baru saja di tikam dari belakang.
"Sudah Nenek duga, Kai pasti berubah. Dia seperti ibunya yang gila harta, sampai-sampai melepas nama bapaknya, dan menggantinya dengan nama pembinor itu."
Gita dan Gala yang kebetulan mampir kekediaman Cempaka, turut sedih melihat Cempaka begitu terpukul.
"Nek, tadi Kai sudah bilang kalau namanya di ganti waktu umurnya enam belas tahun, ia sendiri tidak tahu jika saat itu namanya di ganti."
Cempaka menatap Gita dengan kesal. "Berhenti membelanya!," ujar Cempaka. "Sekarang dia sudah dua puluh delapan tahun, dia pasti sangat senang sampai-sampai tetap mempertahankan nama itu."
Gita sudah tidak bisa lagi membela Kai, itu pula yang ada dalam pikiran Gita.
"Sebaiknya Nenek istirahat, ini sudah hampir larut malam." Gala beranjak dari teat duduknya, membimbing Cempaka menuju kamarnya. Ia juga menyiapkan vitamin untuk Cempaka. "Nenek harus menjaga kesehatan, Nenek. Jangan sampai banyak pikiran agar tekanan darah Nenek tetap stabil."
"Terima kasih banyak Gala."
Setelah memastikan Cempaka beristirahat, Gala kembali pada Gita di ruang keluarga. "Kau juga harus istirahat," ucap Gala. "Besok pagi saat kau kuliah aku akan menemani Nenek."
"Terima kasih banyak Gala, aku tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikanmu."
"Tidak perlu mengatakan seperti itu. Dari dulu aku sangat menyayangi Nenek."
Gita mengantar Gala keluar dari kediamannya, setelah itu barulah ia beristirahat. Gita memilih untuk tidur bersama Cempaka, agar wanita tua itu tidak bersedih.
Development-nya (jujur aja) bahkan lebih berasa dari pada developmentnya Gita. Aku rasa karena Gita ya karakternya udah baik, jadi yaudah stuck aja... gak perlu banyak development. Sementara Jiva kan beda. Jujur, Jiva itu karakter dengan development terbaik yang underrated sih. 👍😌