NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:796
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Rencana Jebakan

“Bram Satya Utama masih hidup,” jelas Heru, sambil mengguncang pundak sang istri. Ia mencengkeram bahu Risma, memaksa wanita itu melihat realitas kelam yang mereka ciptakan. “Bram memiliki hak … bahkan mungkin lebih besar dari milik kita. Paham?!”

“Aku tidak paham dan tidak mau paham!” Risma menepis cekalan tangan Heru dengan sentakan kasar. Ia berdiri, menatap suaminya dengan kilat mata penuh kebencian. “Ini semua gara-gara Mas! Andai waktu itu kita melenyapkannya. Masalahnya tidak akan serumit ini.”

“Aku mana tega menyingkirkan keponakanku? Dengar ya, Risma. Kematian Mas Arif dan Mbak Dian, itu memang keberuntungan kita. Tapi, kehidupan Bram, bukan berarti kuburan bagi kita. Apa susahnya sih, memberikan hak-nya? Bram sudah dewasa. Dia bahkan mau menikah … dengan gadis miskin itu.”

Heru menatap Risma sendu. Langkahnya mendekat, mencoba menekan ego sang istri. “Aku tidak setuju Bram menikah dengan Melati. Gadis itu buta sejak lahir. Miskin. Aku dengar juga kalau ayahnya mantan narapida."

“Kamu menyelidiki sampai sejauh itu?” Risma memiringkan sudut bibir. Ia tertawa sumbang, memprovokasi suasana dengan intrik baru. “Perhatian sekali ya sama keponakan. Bahkan mungkin lebih perhatian sama Bram dibanding Bagas.”

“Jangan memutar balik omongan. Aku kehilangan putriku gara-gara siapa?” bentak Heru, matanya merah menahan amarah yang meledak.

“Putri? Putri yang mana ya?” sindir Risma. Tersenyum getir. Ia melipat tangan di dada dengan angkuh. Kembali menyindir. “Oh, iya, anak gundik itu. Memang seharusnya dia disingkirkan sih. Masa iya, mau mengasuh anak di luar nikah?”

“Tutup mulutmu, Risma! Aku dan Pitaloka menikah siri. Putriku … memiliki nasabku!” Heru menunjuk wajah Risma dengan telunjuk yang gemetar hebat, rahasia gelap pernikahannya kini diungkit demi kepuasan batin sang istri.

“Aku tak peduli. Kalau kamu berani mencari dia akan aku bongkar busukmu itu! Akan aku ambil alih semua harta Utama. Kamu dan keponakanku itu … tidak akan mendapatkan apa-apa! Camkan ucapanku!” Risma membalas gertakan itu, melangkah mundur ke arah kamar mandi dengan dagu terangkat tinggi.

“Kamu ….” Heru menunjuk. Tak sanggup melanjutkan kalimat. Dia ditekan dua sisi. Bram yang seharusnya mendapat hak-nya, dan sang istri yang gila harta.

Tanpa keduanya tahu, di balik pintu yang belum sepenuhnya tertutup. Bagas mendengar semuanya. Pemuda itu mengepalkan tangan. Geram. Rahasia besar keluarga Utama kini terpampang jelas di depannya, menghancurkan seluruh rasa hormat yang tersisa.

“Jadi … Bram masih hidup?” gumamnya, pelan. Bagas memutar tubuhnya dengan cepat, melangkah pergi meninggalkan koridor kamar orang tuanya dengan napas memburu. Bersiap menelusuri sendiri kebenaran terlarang yang selama ini disembunyikan rapat-rapat darinya.

---

“Akhirnya kamu pulang juga.” Turi buru-buru menghampiri sang putri. Ia yang hampir meluapkan emosi, karena terpaksa berutang. Mendadak ternganga. Melihat kondisi Mawar yang pucat. Menghentikan langkahnya lalu, menatap nanar pada putrinya yang tampak berantakan setelah tiga hari menghilang tanpa kabar.

“Kenapa k-kamu pucat begitu? Kamu sakit?” Turi mencoba menyentuh lengan Mawar, menyembunyikan rasa bersalah di balik kepanikan.

“Ini semua gara-gara Ibu!” Mawar menepis perhatian Turi. Ia mengentak kakinya ke lantai semen. Meluapkan amarah yang sudah membubung tinggi akibat drama jahanam yang menimpanya. “Kalau saja Ibu tidak membiarkan Juragan tua itu membawaku.”

Turi panik. Memundurkan langkahnya, menatap sekeliling luar rumah untuk memastikan tidak ada tetangga yang menguping. “Ma-maafkan Ibu. Habisnya Ibu tak mungkin melawan orang-orang Juragan. Tubuh mereka besar dan kuat. Kamu mau Ibu mati di tangan mereka?”

Mawar menatap sang ibu tajam. Penuh gejolak emosi. Ia mencengkeram erat tali tas barunya yang berisi segepok uang panas dari Herwanto, melangkah maju untuk menyudutkan wanita matre di hadapannya. “Gara-gara Ibu! Herwanto menyekapku! Aku sudah kehilangan mahkota, Bu!”

Turi menelan ludah. Sudah menduga kalau hal ini akan terjadi. Namun, jiwa oportunisnya malah memutarbalikkan fakta. Mempengaruhi sumber duit utamanya demi melepaskan diri dari beban kesalahan. “Jangan salahkan Ibu. Ini salah Melati dan pemuda buruk rupa itu. Andai si buta itu tak kabur. Pasti yang dibawa Melati kan?”

Mawar tertunduk lemas. Menatap Turi malas. Ia mengempaskan tubuhnya ke atas kursi kayu yang reot, meratapi nasib asmaranya yang kini mendadak berada di ujung tanduk. “Sekarang bagaimana? Aku sudah tidak perawan, tapi aku menolak menikah sama Herwanto. Padahal aku hampir saja mendapat anak pemilik perusahaan, tempatku kerja.” Ia mengacak rambut kesal. “Kalau tahu aku sudah tidak perawan. Apa iya, Bagas masih mau menerimaku?”

“Eh siapa? Anak pemilik Perusahaan Utama?” Turi menyeringai licik. Jiwa matre dalam dirinya muncul. Matanya seketika berbinar terang mendengar nama besar korporasi tersebut. “Berarti dia kaya dong?” bisiknya, merapatkan duduk di samping Mawar.

“Sangat kaya. Bahkan mungkin lebih kaya dari si lintah darat, Herwanto.” Mawar menyahut ketus, matanya menerawang membayangkan ketampanan dan kemewahan yang melekat pada diri Bagas.

“Ibu punya ide.” Turi tersenyum, merapatkan tubuhnya ke telinga Mawar. “Ibu yakin kamu bisa mendapatkan orang kaya itu. Sekaligus menutup aib-mu.”

“Ide?” Mawar memicing, bingung.

Turi berbisik sesuatu. Rahasia. Siasat busuk untuk menjebak Bagas masuk ke dalam perangkap. Penjelasan singkat itu cukup membuat Mawar tersenyum lebar. Lalu mengangguk setuju.

“Tapi aku tetap mau Melati merasakan apa yang aku alami,” sungut Mawar, giginya gematuk menahan dendam asmaranya yang membakar dada. “Ya … meski dia akhirnya nikah sama si jelek itu. Tetap saja, tidur sama tua bangka itu tak enak.”

“Tenang saja. Ibu akan mencari keberadaan si buta.” Turi tersenyum, menepuk-nepuk punggung tangan Mawar dengan penuh kepuasan. “Yang penting sekarang, kamu bantu melunasi utang Ibu.”

“Utang? Lagi?” Mawar mencebik. Raut wajahnya langsung berubah masam. Ia menatap ibunya dengan pandangan penuh rasa muak.

“Iya. Utang.”

“Utang apa lagi sih, Bu?” Mawar menyentak kasar, berdiri dari kursinya.

“Hei, Mawar Putrianti. Kamu dibawa juragan tiga hari lebih. Ibu nggak ada uang di rumah. Jadi terpaksa utang tetangga, buat makan.” Turi berkacak pinggang, menuntut haknya dengan suara yang sengaja dikeraskan.

“Cih.” Mawar menghentak kesal. Ia merobek paksa ritsleting tasnya, bersiap mengambil lembaran uang seratus ribuan dari tumpukan gepokan milik Herwanto yang sengaja disembunyikannya di bagian dalam. “Berapa?”

“Lima ratus ribu.” Turi menyodorkan tangan, matanya langsung tertuju pada warna merah lembaran uang di dalam tas Mawar dengan tatapan lapar yang begitu kentara.

Meski geram, Mawar tetap memberikan lembar merah ke ibunya, yang langsung diterima dengan wajah berbinar.

Turi langsung mencium lembaran uang itu berulang kali dengan tawa renyah yang penuh kelicikan. Sementara Mawar langsung melangkah pergi menuju kamarnya. Ia membanting pintu dengan sangat keras. Meninggalkan ibunya yang mulai sibuk menghitung sisa keuntungan dari penderitaan anak kandungnya sendiri.

---

Siang itu. Jam istirahat. Satya mengajak Melati ke toko emas. Ia kembali bertemu dengan si gadis penjaga toko yang ramah.

Suasana toko yang panas mendadak terasa sejuk oleh romansa sepasang kekasih yang tengah menjemput impian pernikahan mereka.

"Selamat siang, Kak. Wah, akhirnya jadi mengajak gadismu ke sini," sapa si gadis penjaga toko emas seraya mengeluarkan nampan beludru hitam.

"Siang. Iya, sesuai janjiku kemarin. Tolong ukur jari manisnya," jawab Satya lembut. Ia meraih jemari tangan kanan Melati yang gemetar, menuntunnya dengan sangat hati-hati ke atas etalase.

"Tangan kamu dingin banget, Mel. Jangan tegang begitu," bisik Satya di dekat telinga Melati, diiringi usapan lembut di punggung tangannya untuk meredakan kecemasan.

"Aku cuma gugup, Satya. Aku takut salah karena aku tidak bisa melihat modelnya," sahut Melati lirih, wajahnya merona merah dalam drama kebahagiaan yang sederhana ini.

"Kamu bisa merabanya. Tenang saja." Satya menenangkan.

"Mengenai pilihan kakaknya kemarin, yang motif ukiran silang ini sangat pas. Jarinya ukuran sebelas," celetuk si gadis penjaga toko setelah mencocokkan alat pengukur besi ke jari Melati. "Mau langsung dibungkus?"

"Iya, langsung dibungkus saja. Ini uangnya," putus Satya sembari mengeluarkan dompet, menghitung beberapa lembar uang ratusan ribu hasil simpanannya di bengkel.

Saat akan melakukan transaksi terakhir. Suara bariton seseorang membuat Satya menoleh.

Sementara Melati merapatkan tubuh ke Satya. Takut. Ia mencengkeram erat lengan jaket Satya, menyembunyikan wajahnya di balik bahu tegap pria itu karena trauma masa lalu yang mendadak bangkit.

“Wah, ternyata si gadis buta dan si pemuda buruk rupa, mau beli emas rupanya."

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!