Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
permintaan maaf
Steve mengajak Shafira menuju ruang tamu, dia mendudukkan dirinya.
Menunggu Shafira yang tengah mengunci pintu kamar.
Setelahnya wanita itu duduk di hadapan Steve, dan menatapnya penuh tanda tanya.
"Katakan! Berita pnting apa yang kau bawa? Sehingga menggangguku?" Tanya Shafira tak sabar.
Namun Steve malah minum air dengan tenang, hal itu membuat Shafira geram, dan melemparnya menggunakan sarung tangan yang dia kenakan.
"Steve!!!" Tekannya geram.
"Ha ha ha, bentar Mak, minum dulu haus"
Steve menyimpan gelas, dan mulai menatap Shafira serius.
"Aku sudah tau nama kembaranku"
Shafira menarik diri, matanya melebar samar.
"Kau sudah bertemu dengannya? Bukankah aku bilang jangan menemuinya lebih dulu"
Steve menggeleng. "Bukan, tapi temennya nyamperin aku dan ngira aku adalah dia,"
Shafira terdiam sebentar, senyum samar terlihat di bibirnya. "Jadi siapa namanya?" Tanyanya tak sabar.
"Namanya Doin" ucap Steve tanpa ragu.
"Doin?" Ulang Shafira dengan dahi menyengrit. "Bukankah nama itu aneh?"
Steve mengedikan bahu. "Ya aku juga heran, Mak. Nama kok Doin." jawabnya sambil mencomot keripik di dalam toples di atas meja dan memakannya.
Shafira terdiam, mengusap dagunya perlahan.
'doin?'
Sementara itu, orang yang di anggap Doin tengah duduk di ujung ranjang, masih memikirkan bagaimana caranya dia kembali, sudah berhari-hari bahkan minggu dia berada di rumah itu, namun sedikitpun tidak ada tanda-tanda yang akan membawanya pulang.
Dan itu membuat Leon cemas, dia terus berharap jika dia tidak terlalu lama berada di rumah Azura.
Mengingat gadis itu, Leon jadi kepikiran tentang kemarin, di mana dia membuang benda yang di sebut ponsel, hingga gadis itu murka padanya.
Dan berujung dia dimarahi oleh gadis itu di hadapan banyak orang.
Dia jadi malu, lalu teringat dengan kelakuannya dulu sewaktu di istana, dia selalu memarahi Amber yang terus mengejarnya di hadapan banyak orang, jadi. Begini perasaan rasanya di permalukan?
Dan Leon ingin marah ketika Azura memarahinya, namun dia tidak bisa, apa begini juga perasaan gadis itu ketika Leon marahi.
Leon menggeleng, untuk apa dia memikirkan hal itu, dia adalah putra mahkota, dan tidak seorangpun yang berhak memarahi atau mempermalukannya.
Tapi Azura-
Tok
Tok
Tok
Lamunan Leon buyar ketika pintu diketuk.
"Masuk"
Ceklek...
Pintu perlahan terbuka, dan munculah sosok Azura yang sudah rapi dengan pakaian minimnya.
Kaus putih lengan pendek dipadukan dengan rok pink berenda sepanjang paha, lalu dilapisi kemeja putih tipis yang dibiarkan terbuka.
Leon membuang muka, dia selalu malu tiap kali melihat gadis itu berpakaian yang cukup berani.
Namun Azura tak peduli, dia mendekati Leon dan berdiri di hadapan pemuda.
Hidung Leon samar mencium wangi susu strawberry yang berasal dari tubuh Azura, menutup mata sejenak dan menghirup aromanya perlahan.
"Ekhemm... Lo marah sama gue?" Ucap Azura.
Leon masih tak bergeming, dia bukan marah, dia malu.
Karna tak kunjung merespon, Azura memanyunkan bibirnya dan mencolek-colek bahu Leon.
"Lo pundung? Jangan gitulah, gue minta maaf"
Tubuh Leon menegang, ingin sekali dia mematahkan jari Azura yang terus menyentuh bahunya.
"Jangan sentuh aku!" Jawabnya dingin.
Namun, bukan Azura namanya jika dia menyerah begitu saja, bahkan kini gadis itu duduk di sebelah Leon. "Pliss... Maafin gue, gue refleks aja kemarin"
Leon bergeser, namun disisinya sudah tidak ada lagi tempat, dia ingin berdiri, namun Azura memegangi lengannya kencang.
"Maafin gue dulu.." rengeknya memaksa.
Leon berusaha melepaskan tangan Azura dari lengannya, tapi gadis itu semakin mempererat pegangannya.
"Lepaskan aku!"
"Gak mau!"
"Aku tidak akan memaafkan mu jika kau berani menyentuhku!"
"Bohong! Lo pasti mau kabur"
Leon tak menjawab, dan Azura juga tak melepaskan pegangannya.
"Yaudah gini, gue bakal ajakin Lo jalan-jalan tapi plis... Maafin gue ya?" Ucapnya sungguh-sungguh, dengan puppy eyes.
Leon menghentikan tangannya yang berusaha melepaskan diri.
Dia menatap Azura dengan mata memincing.
"Sungguh?"
"Sungguh"
"Kau tidak berbohong?"
"Enggak! Gue gak bohong, mau kan jalan-jalan?lagian di rumah terus bosen"
Leon akhirnya luluh, dia mengangguk samar. Dan Azura langsung berdiri dengan wajah ditekuk.
"Kok jadi gue yang mohon-mohon buat di maafin sih? Harusnya kan elo yang udah buang ponsel gue yang minta maaf!"
Alis Leon menukik samar. "Jadi kau tidak bersungguh-sungguh? Kau terpaksa melakukanya?"
Namun Azura menggeleng cepat. "Enggak kok gue serius, ini murni dari hati gue yang paling dalam"
Leon mengangguk samar, menyembunyikan senyum kecil yang terbit di bibirnya.
"Yaudah, Lo siap-siap dulu, gue tungguin di didepan, jangan lama-lama!" Titahnya sembari berjalan ke luar, dan menutup pintu keras.
Leon menggeleng pelan. 'dasar tidak sopan!'
Namun dia tersenyum tipis setelahnya.
Azura membawa Leon ke tempat kulineran pedagang kaki lima.
Suasananya tampak begitu ramai dikarenakan ini hari Sabtu, aroma jajanan dari berbagai macam tercium harum di hidung, orang-orang berlalu-lalang dengan menenteng berbagai jenis kresek berisi jajan.
Tempat-tempat permainan kecil khusus anak-anak berjejer rapi, di sertai tawa renyah yang terdengar.
Mata Leon bergerak kesana-kemari, menatap kagum pada pedagang kaki lima yang tengah menyajikan makanan di depannya pesanan Azura dan dirinya.
"Pake pedes gak neng?" Tanya penjual.
Azura mengangguk pelan.
"Pake bang, yang banyak. Kalo gak pedes nanti saya balik lagi loh ke sini" ucapnya di sertai kekehan.
Penjual itu tertawa renyah, sembari menuangkan sambal ke dalam kantong.
"Nih neng, sepuluh ribu" Abang tersebut menyodorkan pesanan Azura.
Dan Azura menyerahkan uang sepuluh ribu pada penjualnya. "Makasih bang"
Setelahnya mereka lanjut lagi berjalan mencari jajanan lain.
"Apa nama makanan itu?" Tanya Leon.
"Ini siomay, bumbunya enak, gue suka" sahut Azura.
"Terus Lo mau beli apa? Dari tadi kita muter-muter cuma beli ini doang"
Leon tak menjawab, dia menatap sekelilingnya yang di penuhi penjual berbagai makanan asing di matanya, dia jadi bingung harus makan apa.
"Aku tidak tahu, aku belum pernah mencoba makanan seperti itu" ucapnya santai sambil terus berjalan.
Azura mengangkat alis samar. "Serius? Lo pasti anak broken home ya? Kasian banget"
Leon angkat alis tak mengerti. "Broken home?" Ulangnya.
Azura mengangguk pelan. "Iya, broken home itu, anak yang kesepian yang gak punya temen, pokoknya... gitu deh. Tapi gak apa-apa, gue bakal beli semua jajanannya dan Lo harus cobain satu-satu, gimana?"
Leon mengangguk pelan. " Hmm.. baiklah"
" Oke kalau gitu. Let's go"
Azura menarik tangan Leon menuju tempat jajanan selanjutnya.
Bersambung....
main2 ke krya lu juga ya kalen🙏
klo nnti smpai rmh joddy mnta ajarin pke hp buat komunikasi, ajarin google map juga sama belajar mengenal dunia modern biar cpt adaptasi , untung leon bsa beladiri