Kesempatan hidup kedua yang kudapatkan, akan aku manfaatkan dengan baik.
Aku berpikir siuman dari pingsan, tapi pada kenyataannya aku kembali ke waktu satu tahun sebelumnya.
Akan aku balas mereka yang telah menyakiti ku selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan
Cukup lama keributan terjadi di lobi, hingga tak menyadari kehadiran tuan Rahardjo dan pengawal nya.
"Siapa kalian?" hardik tuan Rahardjo.
"Bos besar ini," tuan Morgan mendekati pria setengah baya itu.
"Kalian mau ribut di sini?" tuan Rahardjo hendak mengangkat tongkat saktinya untuk memukul Morgan dan kawan-kawan.
"Aman tuan. Selama anak buah anda mau bayar hutang ke kami. Kami tak akan ribut di perusahaan anda," jelas tuan Morgan.
"Urusan pribadi jangan dibawa ke kantor, tagih sana di rumah nya," suruh tuan Rahardjo.
"Tiga hari lagi, lima milyar tunai" kata Morgan dan memberi isyarat tak ada tawar menawar lagi," Morgan dan anak buah nya keluar lobi.
"Kamu lagi... kamu lagi," tuan Rahardjo menghampiri Kevin yang hendak ke lift.
Tuan Rahardjo menoleh ke arah Yola yang ada di samping Kevin.
"Kalian ini ada hubungan apa? Seperti sepaket?" tanya tuan Rahardjo penuh selidik.
"Kalau kudengar lagi ada keributan seperti ini di perusahaan, jangan kaget kalau surat pemecatan akan turun buat kalian," ancam tuan Rahardjo.
.
Abimanyu kaget saat notif m banking nya terdebit empat milyar lebih.
"Hah? Apa ini? Pasti ulah Yola," tuan Abimanyu hendak beranjak keluar ruangan untuk mencari keberadaan istri kedua nya itu.
"Nyonya Yola kemana?" tanya Abimanyu pada staf bagian keuangan.
"Barusan keluar dengan tuan Kevin," beritahu staf itu.
Abimanyu kembali dan meraih ponsel di saku.
"Halo, ada apa sayang? Maaf aku pulang duluan, badan ku demam," bilang Yola di telepon.
"Empat milyar barusan buat apa?" tanya Abimanyu penuh selidik.
"Kamu lupa sayang, kamu tadi suruh aku bantuin Kevin loh," sahut Yola.
"Tapi nggak sebanyak itu kali. Empat milyar lebih loh ini, apa kamu nggak keliru?" pertegas Abimanyu.
"Iya sayang," jawaban Yola membuat Abimanyu syok. Badannya tak mampu lagi menopang kepala yang berasa berat. Tak mudah mendapatkan uang itu, Abimanyu harus beberapa kali menyuruh Yola membuat laporan keuangan fiktif.
"Sayang, semoga saja tak ketahuan tuan Rahardjo," ucap Abimanyu lirih.
"Sudah aku buat serapi mungkin. Tak mungkin kalau ketahuan," balas Yola yakin.
"Semoga saja," kata Abimanyu penuh pengharapan.
.
Kevin mencari keberadaan Morgan di markas. Tempat yang tak asing bagi Kevin.
"Kemana bos kalian?" tanya Kevin duduk tanpa dipersilahkan.
"Tuan Morgan pergi ke luar negeri dan tak mau diganggu urusan apapun," beritahu anak buah Morgan.
"Sampaikan kalau Kevin sudah bayar hutang, dan ini uangnya. LUNAS!" kata Kevin memberi tanda kutip.
"Maaf sekali lagi, tuan Morgan tak mau dihubungi siapapun. Dan bawa saja uang anda tuan Kevin," anak buah Morgan tak mau menerima uang nya Kevin.
"Sialan Morgan, sengaja ngerjain aku," umpat Kevin.
Kevin keluar membawa koper berisi uang tunai empat milyar sekian. Author aja tak berani membayangkan, uang nya seberapa banyak.
Kevin melempar koper itu di kursi samping kemudi dan melajukan mobil ke tengah kota.
"Lama nggak pesta, kayaknya seru," Kevin membelokkan mobil ke sebuah club terbesar di kota itu.
Kevin melangkah menuju VIP room yang biasa dia pakai.
"Maaf tuan, ruangan ini sudah ada yang pakai," seorang pelayan menghadang langkah Kevin.
"Siapa yang berani menyabotase ruangan ku?" kilat marah di mata Kevin.
"Bukannya semua pengunjung berhak?" sambut pelayan itu.
"Kamu orang baru? Panggil manager kamu," suruh Kevin.
Mood Kevin bertambah jelek.
Manager club mengangguk hormat ke arah Kevin.
"Maaf Bang Kev, anak buahku banyak yang baru. Jadi nggak tahu kalau penguasa club ini telah datang," gurau manager itu.
"Tunggu bentar, akan aku suruh pengunjung di ruangan ini pindah ruang sebelah," manager club mengetuk vip room itu.
Pintu terbuka, Kevin menerobos masuk.
"Keluar kalian, sapa suruh menempati ruangan ku," kata Kevin pongah.
"Apa hak mu mengusir kami?" tanggap seseorang membelakangi Kevin.
Kevin mendekat dan mencengkeram bahu pria itu.
"Hadapi aku kalau berani," tantang Kevin.
"Sabar bang Kev. Akan ku minta mereka pindah. Tak harus dengan kekerasan bukan?" manager itu menengahi.
"Aku tak mau pindah. Siapa yang datang duluan dia lah yang berhak atas ruangan ini," ujar pria yang belum diketahui wajah nya oleh Kevin.
"Sialan," umpat Kevin dan brrukkkkk... Kevin memukul orang itu dengan tenaga penuh. Hanya dengan sedikit gerakan, pukulan Kevin mendarat di balik kayu penyangga meja.
Bukannya mengeluh, Kevin malah semakin nekad.
Pria muda itu membalikkan badan dengan tangan melipat di dada.
"Apa itu hobi kamu? Membuat kacau di mana pun kamu berada?" ujar pria muda yang ternyata Sean Rahardjo.
"Wah kebetulan sekali nih jumpa dengan kamu di sini. Lama sekali aku ingin menghajar mu Sean," seru Kevin.
"Oh begitu kah?" Sean berdiri mendekati saudara tirinya itu.
"Tuan muda Rahardjo dan anda tuan Kevin, tempat ini bukan ring tinju. Jadi sebaiknya jangan berkelahi di sini," manager club menahan kedua pria muda itu.
"Daripada berkelahi, lebih baik taruhan minum saja. Club aman, anda berdua pun puas," usul sang manager.
"Taruhannya apa?" tanya Sean.
"Empat milyar. Yang menang akan mendapatkan nya," seru Kevin.
"Hhhmmm oke," setuju Sean.
"Aku pegang kata-katamu," balas Kevin yang yakin menang. Tak ada yang mengalahkan Kevin selama ini di club itu.
Kedua pria muda itu duduk saling berhadapan.
"Anton, siapkan minuman terbaikmu!" suruh Kevin.
Anton, sang manager tentu merasa senang. Karena omset club naik tajam malam ini.
Andrew yang barusan datang, langsung duduk di dekat Sean.
"Sean, ingat lambung mu. Kamu tak kan kuat melawan setan itu," Andrew mengingatkan.
"Tenang aja, aman kok," Sean menenangkan Andrew.
atau pling gk nendang bpk nya biar miskin kl miskin yola pasti gk mau kn. 🤣.
pdhl Dr segi umur Sean sdh dewasa.