NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Pak AL

Istri Kontrak Pak AL

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:18.6k
Nilai: 5
Nama Author: Asni Diyanti

Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.

Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.

Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.

Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lahirnya Seseorang Bernama Kita

Langit Jakarta pagi itu kelabu. Angin bertiup lembut melalui jendela kamar, membelai tirai putih dan mengantar aroma lembap ke dalam rumah. Di ruang tengah, koper kecil berisi pakaian bayi, selimut, dan dokumen penting sudah siap di dekat pintu.

Cika duduk di tepi ranjang sambil memegangi perutnya yang sudah besar. Usia kandungan memasuki minggu ke-38. Perasaan haru, cemas, dan bahagia bercampur jadi satu. Ia sudah menyiapkan semua. Tapi ia tetap merasa belum sepenuhnya siap.

“Mas,” katanya lirih saat Al keluar dari kamar mandi. “Kayaknya... ini saatnya.”

Al menoleh cepat. “Kontraksinya sudah rutin?”

Cika mengangguk, wajahnya menegang menahan nyeri. “Tiga puluh menit terakhir udah mulai teratur.”

Al langsung bergerak cepat, tapi tetap berusaha tenang. Ia membantu Cika berganti pakaian, mengecek ulang isi koper, lalu memanggil taksi online. Di dalam mobil, tangan mereka saling menggenggam erat. Tak ada kata-kata berlebihan. Hanya tatapan yang berkata: kita akan lewati ini bersama.

---

Di rumah sakit, waktu terasa berjalan lambat sekaligus cepat. Dokter dan suster berlalu-lalang. Cika dibantu masuk ruang bersalin, dan Al tak pernah melepaskan genggamannya. Beberapa jam berlalu dalam peluh, tangis, dan napas tertahan. Cika berteriak, menangis, lalu kembali diam sambil menggertakkan gigi menahan rasa sakit yang luar biasa.

Al menatap wajah istrinya dengan mata berkaca. “Kamu hebat, Cik. Aku di sini. Terus di sini.”

Akhirnya, suara tangis pertama itu terdengar.

Tangisan kecil yang memenuhi ruang bersalin seperti sihir. Tangisan yang seketika meruntuhkan semua lelah dan ketakutan. Seorang bayi mungil diletakkan di dada Cika. Tubuhnya merah, kulitnya hangat.

Cika menangis. Al mencium keningnya, lalu kening bayi mereka.

“Selamat datang di dunia, Nak,” bisik Cika pelan. “Terima kasih udah datang.”

---

Beberapa hari di rumah sakit terasa seperti mimpi. Keluarga bergantian datang. Ibu Al menangis bahagia saat melihat cucunya. Kakak Al membawa hadiah kecil, sementara adiknya langsung jatuh cinta pada bayi mungil itu.

Mereka menamai anak itu dengan nama yang sudah lama mereka simpan: Nara Althara.

"Nara" berarti kebahagiaan. "Althara" berarti cahaya yang dibawa oleh cinta. Nama yang mereka pilih bersama sejak bulan keempat, dan diam-diam mereka simpan seperti doa.

---

Di rumah, Cika dan Al menyesuaikan diri dengan kehidupan baru. Malam-malam tanpa tidur, popok yang harus diganti, tangisan yang datang tanpa aba-aba. Tapi mereka menjalaninya seperti sepasang pejuang yang saling jaga.

Al belajar mengganti popok sambil menguap. Cika belajar menyusui sambil menahan kantuk. Tapi setiap kali mereka menatap wajah Nara, semua lelah itu seolah punya makna.

Setiap pagi, Al menyeduh teh dan membawa roti panggang ke tempat tidur, kadang dengan wajah penuh bedak bayi. Mereka tertawa melihat kekacauan kecil di rumah—botol susu yang belum dicuci, mainan yang berserakan, dan keranjang cucian yang selalu penuh.

Namun di balik semua itu, ada kehangatan yang tak tergantikan. Ada rasa lengkap yang perlahan mengisi ruang-ruang sunyi dalam hati mereka.

Suatu malam, saat Cika hampir tertidur sambil menyusui, Al duduk di sampingnya dan berkata lirih:

“Kita udah jadi rumah buat satu jiwa baru. Dulu cuma kamu dan aku. Sekarang ada dia. Dan dia... adalah bukti kalau cinta kita benar-benar hidup.”

Cika menoleh padanya dengan senyum lelah tapi bahagia. “Dia bukan cuma anak kita. Dia adalah kita.”

Dan malam itu, dalam rumah kecil penuh aroma bedak bayi dan susu hangat, lahirlah seseorang bernama Nara—lahir dari cinta, perjuangan, dan keputusan yang tak pernah berhenti dipilih bersama setiap hari. Sebuah cinta yang kini berwujud manusia kecil dengan senyum tak sengaja yang membuat dunia mereka tak pernah lagi sama.

Bersambung....

1
Kevin Wowor
Author, chapter baru kapan? Saya ketagihan nih!
Asni Diyanti: terimakasih! wait tidak lama lagi.
total 1 replies
<|^BeLly^|>
Nggak bisa bayangkan hidup tanpa cerita dan karakter dalam karya ini!
Asni Diyanti: eh gimana maksudnya kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!