Ji Fan, seorang pemuda dari clan ji yang memiliki mata misterius, namun akibat mata nya itu dia menjadi olok-olokan seluruh clan.
Didunia yang kejam ini, sejak kecil dia hidup sebatang kara tanpa kultivasi, melewati badai api sendirian. Sampai pada akhirnya dia tanpa sengaja menemukan sebuah buku tua yang usang. Buku itu adalah peninggalan ayahnya yang didapat dari seorang laki laki paruh baya dimasa lampau. Awalnya dia tidak mengerti buku apa itu, Tetapi setelah mempelajari bahasa dewa kuno, dia mulai mengerti, buku itu adalah buku Teknik Terlarang Kultivasi Naga Kegelapan. Dalam buku itu tertulis berbgai ilmu pengetahuan dan langkah-langkah jalan kultivasi, sejak saat itu Ji Fan berubah dari yang awalnya sampah menjadi kultivator puncak yang ditakuti di seluruh alam. Dan orang-orang memanggilnya dengan sebutan 'Orang Buta Dari Kegelapan Naga' .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bingstars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Kegelapan di dalam Gudang Senjata Ketiga terasa padat, seperti udara yang tersumbat di ruang hampa. Di tengah kegelapan itu, sepasang mata ungu menyala, menatap lurus ke arah Ji Fan.
Suara mendesis listrik itu kini menjadi lebih keras, seolah energi murni sedang dipadatkan.
Ji Fan berdiri kaku. Dia tahu dia tidak bisa lari. Di belakangnya adalah pintu batu tebal, dan di luar sana adalah lautan api mayat yang membakar Sekte Pedang Iblis.
"Jangan gunakan Qi Kegelapanmu, Bodoh!" seru Naga Kecil panik. "Ini adalah Penjaga Energi. Dia akan menyerang Qi yang paling kuat. Cobalah berbicara."
Ji Fan mengabaikan nasihat itu. Dia tahu berbicara tidak akan berguna melawan entitas energi.
Ji Fan memegang jimat peledak terakhir di tangan kirinya, bersiap mati. Kakinya terasa sehat berkat Pil Peredam Nyeri, tetapi Ji Fan tahu dia hanya punya waktu beberapa menit.
Sosok ungu itu bergerak. Sosok itu bukan mayat hidup, melainkan gumpalan Qi murni yang padat, berbentuk seperti prajurit kuno. Di tangannya, sebuah tombak panjang berdesir, ujung tombak itu diselimuti kilatan listrik kecil berwarna ungu.
Itu dia. Tombak Naga Petir.
"Kau... Bau Darah Murni," suara itu bergema, bukan melalui udara, melainkan langsung di dalam pikiran Ji Fan. Suara itu kuno dan berat. "Tapi kau Kotor. Kau membiarkan Kebencian dan Kegelapan menodai jiwamu. Kau tidak Layak."
"Aku tidak datang untuk mencuri," balas Ji Fan keras, menahan rasa takutnya. "Aku datang untuk mengambil warisanku."
"Warisan harus dimenangkan dengan kemurnian. Atau dengan Pengorbanan," ucap Penjaga Energi. Prajurit itu mengangkat tombaknya. "Buktikan Pengorbananmu."
Ji Fan mengepalkan tangan kanannya yang masih bengkak dan memar karena racun harimau. Ji Fan melihat wanita mayat hidup itu tadi dia mati karena melindungi Ji Fan. Ji Fan mengerti. Tempat ini tidak menghargai kekuatan, tapi kesetiaan dan penderitaan.
Ji Fan mengambil napas dalam-dalam. Ji Fan punya satu bukti terbesar pengorbanan.
Ji Fan mengabaikan rasa perih di telapak tangan kirinya yang dia iris untuk membuka pintu. Ji Fan memadatkan Qi Kegelapan murni ke telapak tangan kirinya.
Bukan serangan. Ji Fan memproyeksikan lapisan tipis Qi Kegelapan, Qi yang membuat Tetua Zhen tertarik padanya, Qi yang berasal dari Jiwa Naga Kecil di Dantiannya.
Ji Fan mengulurkan telapak tangan kiri itu ke depan, ke arah Penjaga Energi.
"Aku mematahkan tulangku sendiri untuk bertarung. Aku menggunakan racun untuk membakar diriku sendiri," desis Ji Fan. "Aku tidak punya kemurnian, tapi aku punya keinginan untuk hidup. Inilah pengorbananku."
Penjaga Energi menatap Qi Kegelapan Ji Fan yang suram itu. Tombak Naga Petir bergetar hebat.
Kzzzt!
Listrik ungu itu meredup. Penjaga Energi menurunkan tombaknya.
"Qi Kegelapan Murni. Dari Sumber yang Hampir Punah," gumam Penjaga Energi. "Kau menanggung kutukan itu di dalam tubuhmu. Itu Pengorbanan yang Cukup. Kau Pewaris."
Penjaga Energi itu menghilang, melebur kembali menjadi kabut ungu di udara.
Tombak Naga Petir jatuh ke lantai batu dengan bunyi klang yang berat. Listriknya meredup, hanya menyisakan kilau ungu samar di permukaannya.
Ji Fan terhuyung maju. Ji Fan membungkuk, berusaha mengangkat Tombak itu.
Beratnya tidak masuk akal. Tombak itu terbuat dari logam gelap dan tempaan kuno, tetapi rasanya seolah Ji Fan sedang mengangkat gunung.
"Tentu saja berat!" seru Naga Kecil, kini terdengar lega. "Tombak ini mengandung jiwa naga petir yang dikorbankan! Kau harus memadukannya dengan Qi-mu!"
Ji Fan memejamkan mata. Ji Fan memaksakan seluruh Qi Tingkat 4-nya mengalir ke kedua tangannya, lalu menyentuh Tombak Naga Petir.
Begitu Qi Ji Fan menyentuh Tombak, energi dingin itu mengalir masuk ke tangan Ji Fan, bertemu dengan Qi Kegelapan di Dantian.
Ssssss...
Tombak itu menyala. Bukan dengan api, tapi dengan kilatan listrik ungu-hitam yang tenang. Berat Tombak itu langsung berkurang drastis, kini hanya seberat pedang besi biasa.
Ji Fan mengangkat Tombak itu ke udara. Tombak itu sepanjang dua meter, ujungnya berbentuk gigi naga. Kekuatan yang tersembunyi di dalamnya luar biasa. Hanya dengan menggenggamnya, Ji Fan merasakan Qi-nya berlipat ganda.
"Selamat, Pewaris. Akhirnya," ucap Naga Kecil, penuh kelegaan.
Ji Fan menyeringai. Ji Fan mendapatkan senjata yang bisa membunuh kultivator Tingkat 7.
"Sekarang kita cari Giok Darah atau yang lain, lalu keluar," putus Ji Fan. Ji Fan harus kembali sebelum Tetua Zhen curiga.
Ji Fan membalikkan Tombak itu, menggunakan ujung gagangnya untuk mencari celah di dinding.
Di sudut ruangan, Ji Fan menemukan sebuah peti kecil dari kayu besi. Ji Fan membukanya.
Di dalamnya ada sebuah gulungan kulit kering, dan di bawahnya, sebuah batu kristal hijau kecil yang bercahaya redup.
"Gulungan itu adalah kunci pemindahan Gudang Senjata. Jangan disentuh dulu. Batu hijau itu..." Naga Kecil terdiam.
"Apa?" tanya Ji Fan.
"Itu adalah Kristal Penyerapan Jiwa. Dia menyimpan energi Penjaga Makam yang baru saja mati. Kau bisa menyerapnya, Ji Fan. Itu akan mengisi Dantianmu penuh."
Ji Fan mengambil kristal itu. Ji Fan tidak ragu lagi. Ji Fan menempelkan kristal itu ke Dantiannya.
Energi dingin dan padat mengalir masuk. Bukan energi murni, tapi energi yang mengandung dendam dan kesetiaan—energi seorang Penjaga Makam Tingkat 7.
Dantian Ji Fan bergetar, mengisi penuh dengan Qi Kegelapan, melampaui batas Tingkat 4. Energi itu menekan, mendorong batas Tingkat 5.
"Cukup!" seru Naga Kecil. "Jangan serap semuanya! Biarkan Qi itu stabil dulu!"
Ji Fan menarik kristal itu. Sebagian besar energi sudah diserap. Kristal itu kini kusam.
Ji Fan berada di ambang Tingkat 5.
Ji Fan menyarungkan Tombak Naga Petir ke punggungnya, Tombak itu menyusut sedikit agar muat di jubahnya. Ji Fan mengantongi gulungan dan kristal kusam itu.
Misi selesai. Ji Fan mendapatkan lebih dari yang Ji Fan harapkan.
***
Saat Ji Fan berjalan menuju pintu batu, sensasi yang familiar tiba-tiba menyerang.
Bukan sakit. Lebih buruk dari sakit.
Kekosongan total.
Kepala Ji Fan pusing. Pandangan Ji Fan berputar.
"Obatnya! Habis!" seru Naga Kecil panik.
Pil Peredam Nyeri yang Tetua Zhen berikan memiliki durasi 24 jam. Ji Fan meminumnya tepat tadi malam. Sekarang, efeknya habis.
Rasa sakit yang seharusnya dirasakan selama 24 jam itu kini menyerbu ke kesadaran Ji Fan dalam satu gelombang kejut yang mengerikan.
"ARGHHH!" Ji Fan tidak bisa menahan erangan keras itu.
Ji Fan ambruk ke lantai batu. Ji Fan merasakan tulang keringnya, yang baru saja dia paksa bekerja, kini terasa seperti bubur. Gipsnya retak dan pecah. Cairan hitam kotor bercampur darah mengalir keluar dari balutan kain.
"Tulangmu... Tulangmu geser lagi!" seru Naga Kecil. "Ini permanen, Ji Fan! Kau memaksa lari di atas tulang yang sudah retak! Sialan!"
Ji Fan tidak bisa merangkak. Tulang kering Ji Fan hancur parah, bahkan sentuhan kecil saja terasa seperti ditusuk seribu pisau.
Ji Fan terkapar. Ji Fan melihat Tombak Naga Petir di sebelahnya. Ji Fan tidak bisa menggerakkan kakinya sedikit pun.
"Tenang! Tenang!" desak Naga Kecil. "Kita punya waktu! Kita punya kristal penyerapan! Kita punya Tombak! Tapi kita tidak bisa mati di sini!"
Ji Fan menarik napas yang terasa dingin dan berat. Ji Fan harus merangkak.
Dengan sisa kekuatan di lengan dan Qi Kegelapan yang baru diisi ulang, Ji Fan mencengkeram gagang Tombak Naga Petir. Ji Fan menggunakannya sebagai tuas, menyeret tubuhnya di sepanjang lantai gua yang dingin.
Ji Fan mencapai pintu batu. Ji Fan menyentuh permukaan pintu itu.
Pintu itu terbuka dengan suara gerungan.
Ji Fan merangkak keluar. Pemandangan di luar adalah hutan yang sunyi. Api mayat sudah padam, hanya menyisakan bau hangus dan kabut tipis. Tidak ada mayat Sekte Pedang Iblis yang terlihat—mereka telah menjadi abu total.
Ji Fan merangkak menjauh dari pintu, menyembunyikan dirinya di balik akar pohon besar.
Dia selamat. Tapi Ji Fan pincang dan lumpuh total di kedua kaki.
"Misi selesai," bisik Ji Fan serak, menatap ke arah Akademi di kejauhan. "Sekarang bagaimana aku kembali?"
Entah itu naga hitam di TOS Fang Xie Yue atau yang di Soul Land, yang duo itu, I weak for black dragons heheh..
Tapi overall, pacing kultivasinya terasa too fast. Biasanya kultivasi bisa sampai ratusan chapter, sedangkan di sini naiknya brak–brak banget. Jadi ada bagian sepele yang malah kepanjangan, sementara bagian yang harusnya epic justru terasa singkat.
Even so, dari cara nulis, penyampaian cerita, humor, sampai flow-nya. it works. Tulisan kakak rapi banget dan tetap enjoyable to read.
Respect, kak. ⭐⭐⭐⭐⭐ well deserved!
1-1-26
16.22 wib
1-¹-20²⁶
01-01-2026