Pernikahan yang tak dilandasi oleh cinta. Dan rasa ingin mempertahankan sebuah pernikahan membuat Zahra harus berusaha sangat keras untuk meluluhkan hati suaminya. Meski ribuan luka yang menusuk hati, Zahra tetap harus mempertahankannya karna dia adalah imam baginya.
SELALU AKU YANG TERSAKITI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
"Sekarang kamu tinggal di Jakarta?" tanya Reka.
"Iya Kak, aku ikut suamiku untuk tinggal di Jakarta." Jelas Zahra
"Jadi kamu sudah menikah?" Tanya Reka yangs sedikit terkejut.
"Ya begitulah, sudah 6 bulan lalu. Bagaimana keadaan Sandy, Kak?" Zahra yang ganti bertanya.
Mendengar nama Sandy, mendadak raut wajah Reka menjadi berubah. Seperti ada sebuah kesedihan yang tersimpan disana.
"Berbicara soal Sandy, sebenarnya dia sudah lama meninggal. Dia meninggal karena sebuah kecelakaan." Jelas Reka.
"Inalilahiwainnailaihirojiun, maafkan aku Kak. Aku gak bermaksud." Ucap Zahra yang sangat terkejut mendengar penjelasan Reka.
"Gak papa, itu juga sudah lama sekali. Lagi pula kamu pasti juga terkejut mendengarnya, bukankah begitu." Ujar Reka.
"Em...aku gak yangka kalau Sandy akan pergi begitu cepat. Tapi apa yang mau dikata, jika takdir kematian sudah datang tak ada alasan untuknya menolak. Semuanya pasti akan kembali kepadanya, Allah Swt."
"Kamu benar." Ucap Reka.
Sementara itu, Sisi hanya sebagai pendengar untuk mereka bernostalgia.
"Kalau begini sih, lebih tepatnya aku yang jadi obat nyamuk mereka. Huh..." Grutu Sisi dalam hati.
"Ehem....hem.." Sisi yang pura-pura berdehem.
"Oh ya, kenapa jadi aku yang terlalu banyak bicara kayak gini. Bukankah yang ingin ketemuan kalian berdua. Kalian ngobrol dulu deh, aku permisi mau ke toilet sebentar." Ucap Zahra yang bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi, meninggalkan Reka dan Sisi begitu saja.
"Sepertinya kamu sangat akrab dengan Zahra, sudah berapa lama kalian saling mengenal?" Tanya Sisi yang sedikit penasaran.
"Benar, Zahra sudah seperti adikku sendiri. Dulu sewaktu belum pindah, kita bertiga selalu bersama. Apa lagi Sandy, dia selalu mengganggu Zahra sampai membuatnya menangis. Dan selalu aku yang menenangkannya untuk tidak menangis lagi. Namun karena bisnis orang tuaku, aku dan Sandy harus pindah ke Jakarta. Semenjak itu aku tak bertemu lagi dengan Zahra." Jelas Reka.
"Em... Sandy itu saudara kamu?." Tanya Sisi kembali.
"Iya, dia adik aku. Sudah 13 tahun lalu dia meninggal. Waktu dia masih sekolah kelas 3 SMP." Jawab Reka.
"Pasti itu sangat sulit untukmu." Ucap Sisi yang sedikit prihatin.
"Saat mendengar kabar kepergiannya, aku hampir membutuhkan waktu 3 tahun lamanya untuk bisa merelakannya. Bahkan sempat membuatku hampir gila saat itu. Namun aku tak mau terpuruk untuk selamanya, Sandy juga pasti akan bersedih bila melihat kakaknya menjadi seperti itu. Maka dari itu, aku mulai bangkit, dan menjalani kembali kehidupanku sampai sekarang ini. Kurang lebih seperti itu. Bagai mana dengan dirimu. Sejauh mana persahabatan kalian?" Reka yang ganti bertanya.
"Ya,sebenarnya sie, belum terlalu lama aku dan Zahra bersahabat. Aku mulai mengenalnya saat dia baru pindah kuliah setengah tahun yang lalu. Kemudian kita semakin akrab dan dapat mengerti satu sama lain. Ya jadilah kita yang sekarang ini. Aku merasa dia orang yang begitu baik, hingga membuatku juga mengaguminya. Seperti itulah aku dan Zahra." Teranga Sisi.
"Sepertinya Zahra sangat beruntung mempunyai sahabat sepertimu." Puji Reka yang menatap kearah wajah Sisi.
"Biasa saja, jangan terlalu memujiku." Sisi yang sedikit malu.
"Kenapa? Menurutku pujian itu pantas untukmu." Balas Reka.
Mendengar ucapan Reka membuat Sisi menjadi tersipu malu. Dia pun sedikit menundukkan pandangannya. Tak beberapa saat, Zahra kembali dari toilet.
"Bagaimana? Apakah sudah banyak yang kalian obrolkan. Jangan bilang kalian membicarakanku dibelakangku."
Ucap Zahra dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Jangan terlalu kepedean deh, gak ada faedahnya juga, untuk ngomongin kamu tauk." Balas Sisi yang melempar pandangan kepada Zahra.
"Iya,iya. Gitu aja sensi. Ngomong-ngomong aku udah laper nie. Bisakah kita pesan sekarang." Ucap Zahra dengan mengelus perutnya.
"Oh ya, karena terlalu terbawa suasanya, kita jadi lupa untuk memesan. Kalian mau makan apa?" Tanya Reka.
"Kalau kita sie apa aja kak, yang penting bisa dimakan." Balas Zahra sambil tersenyum.
Saat itu pun, suasana penuh keakrapan muncul diantara mereka bertiga. Membuat mereka sangat menikmati waktu kebersamaan mereka saat itu.
***
Ponsel Zahra berbunyi, dilihatnya tertera nama suaminya yang memanggil.
"Sebentar ya, aku angkat telepon dulu." Zahra yang meminta izin.
"Assalamualaikum Mas." Zahra mengangkat telpon.
"Waalaikumsalam, kamu dimana?" Tanya Azka.
"Saya lagi makan sama Sisi Mas, memangnya ada apa Mas?" Balas Zahra
"Aku ada didepan kampusmu nih, kebetulan lewat, jadi sekalian jemput kamu aja." Terang Azka.
"Apa? Mas Azka ada didepan kampus sekarang. Kalau begitu Mas tunggu sebentar, saya akan cepat datang kesana." Ucap Zahra.
"Em... Aku tunggu."
"Iya Mas." Jawab Zahra lalu memutuskan teleponnya.
"Ada apa Ra?" Tanya Sisi.
"Mas Azka ada didepan kampus sekarang, jadi aku harus kesana. Gak apa-apakan kalian aku tinggal." Jelas Zahra dengan menatap kedua orang yang ada didepannya
"Tentu saja, nanti biar Kak Reka yang nganter Sisi pulang." Ucap Reka.
"Terima kasih Kak, kalau gitu aku pergi dulu." Zahra beranjak pergi.
Sisi kembali tersipu malu dengan ucapan Reka yang akan mengantarkanya pulang. Sementara Zahra pun, mulai pergi meninggalkan mereka berdua.
***
Disisi lain, Azka mulai melihat kemunculan Zahra yang baru turun dari Taxsi. Zahra mulai melangkah menghampiri mobil berwarna hitam milik Azka.
"Maaf Mas, gak kelamaan nunggunyakan?" Tanya Zahra.
"Enggak, cepetan masuk" Titah Azka.
"Iya Mas." Jawab Zahra sambil masuk kedalam mobil.
Selama diperjalanan pulang, mereka berdua saling mencuri pandang.
"Kamu tadi makan siang, gak sama Hendrakan?" Mendadak Azka mengajukan pertanyaan.
"Tidak Mas, saya cuma makan sama Sisi dan Kak Reka." Jawab Zahra.
"Reka? Sepertinya nama cowok, kali ini siapa lagi dia." Dalam hati Azka.
"Siap dia?" Tanya Azka yang penasaran.
"Maksud Mas, Kak Reka?" Zahra yang menegaskan.
"Tentu saja, siapa lagi." Azka yang mulai merasa tidak senang dengan panggilan Zahra pada Reka.
"Kak Reka, cuma kenalan saya waktu didesa dulu. Waktu itu, rumah kita juga berdekatan. Bisa dibilang kita cukup akrab. Dan kebetulan juga, dia kenalan Sisi, makanya tadi kita makan bersama. Begitu Mas." Jelas Zahra.
"Dari caramu memanggilnya, memang tampak kalian sangat begitu akrab." Ucap Azka yang tidak senang.
"Iya Mas, saya sudah menganggap Kak Reka seperti Kakak saya sendiri." Balas Zahra.
"Kakak sendiri? Hah...memang masih anggapan seperti itu." Ucap Azka dalam hati. Azka yang kesal, lebih memilih mengakhiri pembicaraanya dengan Zahra. Dan mulai terdiam tanpa berkata-kata lagi.