"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3 Tamparan Pertama
Angie berlari tanpa sempat memakai sandal.
Telapak kakinya menghantam lantai marmer yang dingin. Rambut basah menempel di pipi, sementara suara Bi Yanti terus memanggil dari lantai dua.
"Tuan Kecil tidak bernapas! Tolong!"
Hansen menyusul tepat di belakangnya. Begitu mereka mencapai kamar bayi, Angie langsung melihat Guai telentang di atas kasur ganti. Bibirnya kebiruan. Dadanya bergerak kecil tanpa menghasilkan tangis.
Bi Yanti berdiri di samping boks dengan kedua tangan gemetar. Lina berada dekat pintu, pucat dan kebingungan.
"Apa yang terjadi?" suara Hansen membelah ruangan.
Bi Yanti menunjuk Angie. "Dia, Tuan Muda! Kak Angie memasukkan sesuatu ke botol Baby. Saya lihat sendiri semalam. Tuan Kecil pasti diracun!"
Angie bahkan tidak menoleh kepadanya. Matanya hanya tertuju pada Guai.
Tidak ada tangisan. Tidak ada batuk. Hanya mulut kecil yang terbuka dan dada yang berusaha menarik udara.
Sumbatan total.
"Panggil ambulans sekarang!" Angie berseru kepada Lina.
Lina tersentak, lalu meraih ponselnya.
Celine masuk dengan langkah terburu-buru. "Ada apa dengan Baby?"
"Pengasuh itu meracuninya, Nyonya Muda," jawab Bi Yanti cepat. "Saya melihat dia mengutak-atik susu."
Wajah Celine berubah. Ia melangkah ke depan dan, sebelum siapa pun sempat menghentikan, telapak tangannya menghantam pipi Angie.
Plak!
Kepala Angie terlempar ke samping. Rasa asin segera memenuhi sudut bibirnya.
"Berani sekali kamu menyakiti anakku!" bentak Celine.
Pipi Angie berdenyut panas. Namun, ketika pandangannya kembali menangkap warna biru di bibir Guai, rasa sakit itu kehilangan arti.
"Minggir."
Celine tercengang. "Apa?"
"Kalau Ci ingin Guai hidup, minggir sekarang."
Ada sesuatu dalam suara Angie yang membuat semua orang membeku. Ia mengangkat Guai, menopang kepala dan rahangnya, lalu menelungkupkan tubuh kecil itu di sepanjang lengannya dengan kepala lebih rendah dari dada.
"Guai, bertahan, Sayang."
Telapak tangan Angie memberi lima tepukan tegas di antara tulang belikat. Tidak ada benda yang keluar.
Ia membalik tubuh Guai dengan hati-hati, menempatkan dua jari di tengah tulang dada, lalu memberikan dorongan dada cepat. Teknik untuk bayi itu sering disebut orang awam sebagai manuver Heimlich, meski tekanan tidak boleh dilakukan pada perut bayi sekecil Guai.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
Guai masih tidak menangis.
"Kenapa dia tidak bernapas?" Celine mundur dengan tangan menutup mulut. "Lakukan sesuatu!"
Angie mengabaikannya. Ia kembali memberi lima tepukan punggung. Tangannya stabil, tetapi air menetes dari ujung rambutnya ke lantai. Entah air mandi atau keringat dingin, ia tidak tahu.
"Ambulans sedang menuju ke sini!" kata Lina. "Mereka bilang lanjutkan pertolongan sumbatan!"
"Bagus. Buka pintu depan dan minta Pak Hasan menunggu."
Lina berlari keluar.
Angie membalik Guai sekali lagi. Di mulut bayi itu terlihat sesuatu yang tipis dan gelap bercampur lendir. Ia tidak memasukkan jari secara membabi buta. Setelah benda itu terdorong sampai terlihat jelas, barulah ia menjepit ujungnya dengan dua jari dan menarik.
Sehelai rambut panjang berwarna cokelat keluar, menggumpal bersama serat halus dari dot.
Satu detik berlalu.
Lalu Guai menarik napas dan menangis keras.
Suara itu menjadi bunyi terindah yang pernah Angie dengar.
Kedua lututnya hampir runtuh. Ia memeluk Guai ke dada dan menepuk punggungnya pelan, memastikan napas bayi itu kembali teratur.
"Iya, menangis saja." Air mata Angie jatuh tanpa bisa ditahan. "Mama di sini."
Ia tidak menyadari kata itu keluar lagi.
Hansen menyadarinya.
Tatapannya berpindah dari Angie yang memeluk Guai ke Celine yang berdiri beberapa langkah jauhnya. Perempuan yang mengaku ibu itu bahkan tidak maju ketika anaknya hampir kehilangan nyawa.
"Berikan Baby kepadaku," kata Celine setelah warna bibir Guai mulai kembali.
Tubuh Angie menegang. Guai menangis lebih keras ketika tangan Celine mendekat.
Hansen mengangkat satu tangan. "Jangan."
Celine menoleh. "Ko Hansen, aku ibunya."
"Dia baru bisa bernapas. Jangan pindahkan dia sampai tenaga medis memeriksa."
"Tapi dia memukul Baby!" Celine menunjuk Angie. "Kamu lihat sendiri."
"Dia menyelamatkannya."
Tiga kata itu membuat ruangan sunyi.
Angie mengusap punggung Guai. Pipinya masih menyala karena tamparan, tetapi perhatian Hansen justru tertuju pada benda yang jatuh di kain putih dekat kasur ganti.
Rambut panjang berwarna cokelat.
Ia mengambil kantong plastik steril dari kotak perlengkapan bayi, lalu memakai tisu untuk memindahkan rambut tersebut tanpa menyentuhnya langsung.
Bi Yanti yang sejak tadi bersuara paling keras tiba-tiba diam.
Hansen menatapnya.
Rambut perempuan tua itu hitam legam. Terlalu hitam, dengan noda samar di garis kulit dekat telinga.
"Kemarin rambutmu cokelat," kata Hansen.
Bi Yanti berkedip cepat. "Apa, Tuan Muda?"
"Hari ini hitam." Hansen melangkah mendekat. "Kamu mewarnai rambut semalaman?"
Tangan Bi Yanti naik menutupi sisi kepalanya. "Saya hanya ingin terlihat rapi."
"Tepat setelah sehelai rambut cokelat menyumbat napas anak saya?"
"Bukan rambut saya!"
"Aku belum bilang rambut itu milikmu."
Wajah Bi Yanti langsung kehilangan warna.
Celine menyela, "Banyak orang berambut cokelat. Rambut Angie juga tidak hitam pekat."
"Rambut Angie ada di depan kita." Hansen bahkan tidak menoleh kepadanya. "Dan panjangnya berbeda."
Bi Yanti menggeleng berkali-kali. "Saya melihat dia memasukkan bubuk ke botol, Tuan Muda. Saya bersumpah."
"Botol mana?" tanya Hansen.
Jari Bi Yanti menunjuk botol formula di atas meja.
Hansen mengambilnya. Cairan di dalam masih berada pada jumlah yang sama seperti saat ia melihatnya dini hari. Dotnya pun kering.
"Guai tidak minum dari botol ini."
Tatapan Angie terangkat cepat. Dingin menyusup ke perutnya. Hansen memperhatikan botol itu sejak malam tadi. Seberapa banyak sebenarnya yang ia lihat?
"Mungkin sudah diganti," kata Bi Yanti terbata.
Lina kembali dari lantai bawah setelah Pak Hasan mengambil alih pintu depan. Ia berhenti ketika mendengar tuduhan itu.
"Tidak mungkin, Bi."
Semua mata beralih kepadanya.
Lina menelan ludah, tetapi tetap melanjutkan. "Kak Angie menyerahkan catatan jaga kepada saya saat pergantian sif. Botol itu masih penuh dan belum berpindah dari meja."
Bi Yanti melotot. "Kamu tidak tahu apa-apa. Jangan ikut campur."
"Saya tahu Bibi masuk ke kamar ini pagi-pagi, padahal hari ini jadwal Bibi di ruang makan."
"Aku mendengar Baby batuk!"
"Saya berada di lorong. Saya tidak mendengar batuk." Lina meremas ujung seragamnya, lalu memandang Hansen. "Yang saya dengar hanya suara pintu ditutup. Setelah itu Bi Yanti baru berteriak."
Hansen tidak langsung merespons. Ia membiarkan keheningan menekan Bi Yanti sampai napas perempuan itu terdengar kasar.
"Ada lagi yang ingin kamu ubah dari ceritamu?" tanyanya.
Bi Yanti membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
"Kalau begitu rekaman akan menjawabnya."
Hansen mengeluarkan ponsel. "William, datang ke rumah sekarang. Bawa rambut ini ke laboratorium untuk tes DNA. Minta Pak Hasan mengamankan seluruh rekaman kamera dari koridor dan kamar bayi sejak semalam."
Angie merasa darahnya berhenti mengalir.
Kamera di kamar bayi?
Kalau benar ada kamera, semua sudah terekam. Ia membuka kancing. Ia menyusui Guai. Ia berbisik tentang anaknya yang telah tiada.
Jari-jarinya yang memeluk Guai mulai dingin.
Hansen menutup panggilan dan menatap Bi Yanti. "Kamu masih ingin mengatakan melihat Angie memasukkan sesuatu ke botol?"
Bibir Bi Yanti bergerak tanpa suara.
"Tuan Muda..." Ia mendekat setengah langkah, lalu berhenti. "Saya mungkin salah melihat. Lampunya redup. Saya cuma panik."
"Tadi kamu bersumpah."
"Saya takut sesuatu terjadi pada Tuan Kecil."
"Sampai sempat mewarnai rambut sebelum berteriak minta tolong?"
Bi Yanti berlutut. "Ampun, Tuan Muda. Saya tidak bermaksud..."
"Pak Hasan akan menahanmu di ruang staf sampai polisi dan hasil pemeriksaan awal datang. Kamu tidak boleh menghubungi siapa pun."
Celine mendekat dengan wajah tegang. "Apa perlu membawa polisi? Ini mungkin kecelakaan rumah tangga."
Hansen akhirnya menoleh kepadanya. "Anak saya hampir mati."
"Aku hanya tidak mau nama keluarga menjadi bahan gosip."
"Nama keluarga tidak lebih penting daripada napas Guai."
Celine terdiam. Untuk pertama kalinya, topeng ibu yang penuh perhatian di wajahnya tampak begitu tipis hingga semua orang bisa melihat kepanikan di bawahnya.
Tenaga medis tiba beberapa menit kemudian. Dr. Lola yang dihubungi melalui layanan darurat RS Medistra memeriksa jalan napas Guai, kadar oksigen, serta bunyi paru-parunya. Bayi itu harus dibawa untuk observasi karena sempat kekurangan oksigen, tetapi kondisinya telah stabil.
"Pertolongan awalnya tepat," kata Dr. Lola setelah mendengar penjelasan. "Kalau terlambat beberapa menit, akibatnya bisa sangat buruk."
Hansen memandang Angie. "Kamu punya pelatihan?"
"Sertifikasi pertolongan pertama untuk pengasuh," jawab Angie. Suaranya masih gemetar. "Saya memperbaruinya enam bulan lalu."
"Bagus."
Satu kata itu terdengar lebih berat daripada pujian panjang.
Celine menyilangkan tangan. Bekas jari di pipi Angie tampak semakin merah. "Tetap saja, dia berada di kamar ini sepanjang malam. Kita belum tahu apa yang dia lakukan."
Hansen berdiri di antara mereka.
"Mulai hari ini, tidak seorang pun boleh menuduh atau menyentuh Angie tanpa bukti." Tatapannya berhenti pada Celine. "Termasuk kamu."
"Kamu membelanya di depanku?"
"Aku melindungi orang yang baru menyelamatkan anakku."
Guai merengek di pelukan Angie, lalu menempelkan wajah ke lehernya. Hansen memberi isyarat agar Angie ikut membawa bayi itu ke ambulans.
Saat melewati Bi Yanti yang dikawal Pak Hasan, Angie melihat perempuan itu menatap Celine sepersekian detik. Cepat, tetapi cukup untuk menegaskan bahwa kejadian pagi itu bukan kecelakaan.
Seseorang sengaja menyakiti Guai dan menyiapkan Angie sebagai tersangka.
Namun, ketakutan terbesar Angie justru mengikuti satu kata yang diucapkan Hansen.
Rekaman.
Jika kamera itu benar-benar ada, maka rahasia yang ia pertahankan dengan seluruh hidupnya mungkin sudah berada di tangan Hansen Liem.