Selalu Aku Yang Tersakiti
Sebuah area yang begitu megah dipadu hiasan dekorasi dinding berwarna crem. membuat pesta begitu menarik. Sajian makanan dan suguhan alunan musik menambah suasana menjadi syahdu.
Tamu-tamu penting datang dan langsung memberikan ucapan selamat kepada dua mempelai.
Suasana pesta sendiri berlangsung ramai dengan sebagian tamu merupakan kalangan anak muda.
Konsep pesta pun mengusung nuansa moderen dengan pelayanan yang membuat betah para tamu untuk berlama-lama.
Kedua pihak keluarga begitu amat bahagia. mereka berbincang-bincang dan menemui para tamu. Satu persatu tamu pun tak lupa mengucapkan selamat kepada dua mempelai.
Mempelai pengantin yang begitu tampan dan cantik tak luput dari sorotan para tamu. Mereka begitu serasi dan nampak sangat bahagia. Namun kebahagian itu semua berbeda jauh dengan perasan yang saat ini dirasakan Aksa Bramansta pemeran utama mempelai pria hari ini.
Dia begitu membenci pernikahan ini. Bahkan dia merasa muak berekting tersenyum ria didepan semua orang. Aksa pergi menuju taman. Duduk sendirian dan meratapi nasibnya.
"Kenapa?? kenapa mereka begitu ngotot sekali untuk menikahkanku dengan perempuan kampungan itu.?? padahal mereka tahu sendiri, siapa yang selama ini aku cintai. Aaaaaa....sial....." dengan mengacak-acak rambut kepalanya. Sejenak kemudian dia terdiam.
"Azka...."
Tiba-tiba saja dia mendengar seseorang memanggilnya. Suara itu nampak tak asing untuknya, dia pun menoleh kesumber suara.
"Rere...kenapa kamu bisa sampai disini??"
tanya Azka pada Rere yang berjalan menghampirinya.
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, kenapa kamu ada diluar?? Apa kamu gak kasihan melihat mempelai wanitanya sendirian didalam, dan pastinya para tamu juga menunggumu." mengambil duduk disebelah Azka.
"Aku hanya ingin menghirup udara segar sebentar lagi juga kembali." melihat kearah langit.
"Sebelumnya aku ucapin Selamat untuk kamu dan Zahra. Semoga kalian hidup bahagia. Dan aku minta maaf karna sudah meninggalkan kamu waktu itu. Sekali lagi maaf." Rere bergegas berdiri yang hendak beranjak pergi.
Namun tangan Azka menahan tangan Rere yang hendak pergi. Dia memeluk tubuh Rere dari belakang dan berbisik disamping telinga Rere.
"Bukan kamu yang seharusnya minta maaf tapi aku, karna akulah yang sebenarnya telah meninggalkanmu dan menikahi dia yang sama sekali tidak aku cintai. Maafkan aku Rere." Rere berbalik dan membalas pelukan Azka begitu erat, seakan-akan melampiaskan rasa kekecewaan mereka yang tidak dapat bersama.
"Apakah kita masih dapat bertemu??" ucap Rere yang masih memeluk tubuh Azka.
"Tentu saja, kenapa tidak. Dimanapun dan kapan pun kita masih dapat bertemu, meskipun sekarang aku sudah menikah tapi cintaku selalu untukmu Re."melepaskan pelukan dan menatap mata Rara dengan kelembutan.
" Terima kasih Azka" Rere mencium bibir Azka dengan lembut begitu pula Azka yang membalas ciuman Rere.
Sedangkan didalam Zahra duduk sendirian, tanpa tahu suaminya bermesraan dengan perempuan lain diluar. Dalam benak Zahra ia tidak pernah menyangka akan menikah dengan Mas Azka seorang pria yang menjadi idaman seorang wanita.
Zahra hanya menjalankan wasiat Abah yang terakhir kali. Abah berwasiat agar Zahra mau menikah dengan anaknya teman abah yang dikota.
Zahra tak bisa menolak karna itu adalah wasiat Abah. Jadi dia harus ikhlas dan menerimanya.
Bukan sebuah perkara mudah untuk menikahi seorang laki-laki yang sama sekali tidah dikenal. Apalagi orang itu sangat tinggi setatus sosialnya sangat jauh berbeda dengan Zahra yang hanya orang biasa-biasa saja. Belum lagi Mas Azka yang anak kota sedangkan Zahra anak desa.
Bisakah Zahra beradaptasi disana. Entahlah dia hanya bisa berdoa semoga semuanya berjalan dengan baik seperti yang diharapkannya.
Zahra merasa cemas dan gelisah. Kenapa suaminya tak kunjung kembali. Sudah lama sekali semenjak dia pergi.
"Mungkinkah terjadi sesuatu??" batin zahra.
Zahra beranjak dari tempat duduknya untuk mencari Mas Azka. Belum sampai zahra mencari, dia melihat suaminya kembali kedalam.
"Tapi siapa wanita yang ada disampingnya, mengapa mereka terlihat sangat akrap sekali." pertanyaan yang mengusik hati zahra.
"Astagfirullahhalazim, aku gak boleh berburuk sangka dulu, mungkin itu sahabatnya mas Azka."
Azka dan Rere berjalan menghampiri Zahra.
"Zahra selamat untuk pernikahanmu, aku Rere temannya Azka." Rere mengulurkan tangan kepada Zahra.
"Terima kasih Mbak" membalas uluran tangan Rere
"Jangan panggil mbak, panggil Rere aja."
"Iya mbak..eh...maksud saya Rere."
"Nah gitu donk, jadi kita bisa lebih akrab."
Zahra hanya membalas dengan senyuman. Dan Rere mencoba mengajak ngobrol Zahra. Sedangkan Azka bergabung dengan para pria.
waktu terus berlalu hingga acara pun tlah berakhir. semua tamu sudah pulang begitu juga kedua keluarga. Azka dan Zahra pun pergi kerumah. Rumah yang sudah disiapkan untuk mereka berdua tempati.
Selama perjalanan mereka sama sekali tidak bicara. Bahkan sampai dirumah sepatah kata pun mereka tidak ucapkan.
Zahra yang baru pertama kali datang kerumah sama skali tidak tahu dimana letak kamarnya. Dia hanya bisa mengekor kemana Azka pergi.
Sampai Azka memasuki sebuah ruangan, yang sepertinya kamar mereka. Karna begitu banyak bunga yang menghiasi ruangan itu.
Langkah Azka terhenti dan dia pun berbalik, sehingga ia dapat bertatap muka langsung dengan Zahra. zahra menyadarinya dan badannya mulai bergetar, tak berani rasanya ia melihat wajah suaminya.
"Kamu tidur disini dan aku akan tidur diruang tamu, dan jangan pernah bilang keorang tuaku kalau kita pisah ranjang. Awas aja kalau kamu mengadu." Azka berjalan pergi
Zahra hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa, tp setelah kepergian Azka tiba-tiba saja cairan bening jatuh menetes dari matanya. Zahra terduduk dengan bersandar diujung ranjang. Kenapa malam itu begitu terasa sunyi bagi Zahra. Zahra yang lelah menangis terlelap dalam tidurnya, dengan posisi duduk yang bersandar diujung ranjang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 242 Episodes
Comments
Tria Amalia
c?
2022-03-12
0
Roza Pracintee
nyimak
2021-06-19
0
Tri Soen
Belum apa2 udah ikut nyesek nich...
2021-06-03
0