"Jika uang bisa membeli segalanya maka aku akan membeli cinta. Agar aku bisa merasakan apa namanya cinta." Rayasi Stevaya.
Rich women yang selalu saja gagal dan hal percintaan.
Raya bahkan sudah gagal menjalani percintaan dengan beberapa pria, hingga membuat dirinya trauma menjalani sebuah hubungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RW 31
"Bagaimana dengan putri kita?" Derald bertanya sambil mengalihkan pandangannya ke arah Zena yang saat ini sedang tertidur pulas.
"Dia bahagia, kau bisa lihat sendirikan?"
"Sekarang? Bagaimana jika dia sudah besar dan tahu tentang rumah tangga kita? Apa kau tidak berfikir tentang itu?" Raya hanya diam. "Stop menjadi egois, ada Zena yang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tauanya."
"Derald! Kau lihat sendiri, Zena bahagia. Setiap hari kau juga datangkan? Jadi jangan bilang aku egois."
Derald menggenggam kedua tangan Raya dan menatap Raya dengan tatapan mendalam. "Please Raya, kembalilah padaku. Jangan tutupi rasa cintamu dengan rasa bersalahmu."
"De.." Lirih Raya. Dan Derald langsung memelul tubuh Raya.
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Tanpa terasa, kini Zena sudah berumur dua tahun. Dan hari ini, Raya pun merayakan pesta ulang tahun Zena dengan begitu meriah. Mengundang anak-anak dari rekan bisnisnya maupun rekan bisnis Derald. Pesta begitu sangat meriah membuat semua yang datang begitu sangat bahagia. Pesta yang di adakan di halaman belakang rumah mengusung konsep seperti taman bermain.
"Sayang, semua tamu sudah datang. Lebih baik kita turun sekarang." Kata Derald saat membuka pintu kamar, dimana saat ini ada Raya dan juga Zena. Baik Zena dan Raya keduanya berbalik ke arah sumber suara.
Ya, walaupun mereka hidup terpisah, tapi baik Derald dan Raya, keduanya begitu kompak dalam mengurus dan memberikan kasih sayang pada Zena.
"Papi." Panggil Zena dengan begitu bahagia. "Papi, Zena lindu." Ucap Zena dengan wajah yang begitu cantik nan imut.
"Papi juga sayang." Balas Derald lalu menggendong Zena. "Aku tunggung di bawah." Kata Derald.
"Baiklah." Ucap Raya.
Selang beberapa saat kemudian, saat Derald sudah pergi, tiba tiba pintu kembali terbuka.
"Aku akan turun sebentar lagi." Ucap Raya tanpa menoleh sedikitpun karena sibuk mencari ponselnya.
Tidak ada jawaban sama sekali. Tetap hening, membuat Raya terus mencari ponselnya. "Zena tadi memegang ponselku, dan entah dia letakkan dimana." Ucap Raya yang berpikir yang masuk adalah Derald.
"Raya." Panggil suara perempuan yang Raya tahu siapa pemilik suara itu. Raya langsung berhenti mencari ponselnya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Raya." Perlahan langkah kaki sang pemilik suara berlajan mendekati Raya. "Bagaimana kabarmu?" tanya Mom Yoona, pemilik suara. Momy Derald atau nenek Zena.
"Oh ini dia ponselku." Ucap Raya tanpa menjawab pertanyaan dari mertuanya. Raya buru buru ingin keluar dari kamar namun langkah kakinya terhenti kala Mom Yoona berkata.
"Maafkan mommy."
Raya menoleh ke ibu mertuanya.
"Maafkan mommy."
Raya tersenyum. "Kata maaf itu bukan untukku, tapi harusnya tante berkata itu pada putriku."
Mom Yoona terdiam.
"Dua tahun sudah Zena lahir. Dan selama ini, dia tidak tahu siapa neneknya. Dua tahun sudah Zena lahir tapi anda baru datang, kemana anda selama ini? Aku kecewa! Jujur sangat kecewa. Zena tidak ada hubungannya dengan apa yang aku perbuat. Kalau aku salah, jangan bawa Zena. Setidaknya, bagaimana pun Zena darah dagingmu, cucukmu. Jangan karena kesalahanku, Zena harus dibawah dalam masalah ini." Kata Raya yang tidak terima dengan sikap ibu mertuanya.
"Aku salah, aku akui itu. Tapi Zena! Dia tidak tahu apapun. Harusnya Zena biaa merasakan punya seorang oma. Tapi apa? Sang oma justru memiliki sifat yang tidak berperasaan."
"Raya." Ucap mom Yoona dengan suara meninggi.
"Anda bisa menamparku berapa kalipun anda mau. Tapi jangan rusak mental anakku, jangan masuk dan merusak semuanya."
"Raya cukup!"
"Aku bahagia, Zena bahagia. Setidaknya, Zena bisa merasakan kasih sayang omanya dari tante Sabrina."
Pintu terbuka, Derald masuk dan melihat kedua wanita yang ia cintai.
"Mom." Ucap Derald sambil menggenggam tangan Raya.
"Zena mencarimu, ayo kita ke bawah." Ajak Derald namun dengan cepat Raya menepis tangan Derald.
"Sudah cukup! Aku sudah muak. Aku akui, aku salah." Raya menatap Derald. "Please Der, kita akhiri semuanya." Ucap Raya dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.
...Tamat...
Dear reader ku semua. Makasih, karena sudah setia menunggu UP yang tak tentu hingga tamat ini. Maaf, jika alur yang autor buat tidak sesuai dengan harapan kalian.
Sekali lagi, terima kasih untuk semua atas dukungan kalian. Love love love untuk kalian semua 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Oh ya, sesuai janji,. Autor akan bagi pulsa 20rb untuk 5 pemenang.
Selamat untuk 5 pemenang. Silahkan komen no HP kalian. Terima kasih.
Dan untuk yang belum dapat, jangan berkecil hati. Karena akan ada lagi novel baru, dan tentunya autor akan tetap bagi pulsa untuk reader setia 🥰🥰🥰
padahal ku masih ingin trz ikutin raya n derald
terimakasih Thor🙏
semoga bersatu lagi..kalo saling cinta ya pertahankan dan lupakan masa lalu
semangatt up nya💪🥰🥰