Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Keesokan paginya, Naura datang ke rumah Arkan lebih awal.
Kontrak tambahan menyebut ia mulai pukul enam tiga puluh untuk menyiapkan sarapan. Arkan biasanya berangkat pukul tujuh tiga puluh. Itu memberi satu jam untuk menata dapur, membuat makanan, dan memastikan ia tidak keluar rumah hanya dengan kopi.
Rumah masih gelap ketika Naura masuk menggunakan akses sementara.
Lampu foyer menyala otomatis.
Naura mengganti sepatu, mencuci tangan, lalu langsung ke dapur.
Ia membuat bubur ayam sederhana, telur kukus, buah potong, dan teh hangat. Untuk orang dengan maag dan jari terluka, menu itu aman.
Pukul tujuh kurang lima, Arkan turun.
Rambutnya masih sedikit basah. Kemeja putihnya rapi, celana hitam, jam tangan di pergelangan kiri. Plester di telunjuk kanan terlihat mencolok karena kulitnya terlalu bersih.
Naura menoleh dari meja makan.
"Pagi, Pak."
"Pagi."
Ia duduk, melihat makanan di depannya.
"Bubur?"
"Jari Bapak masih luka. Lebih mudah dimakan."
"Saya masih bisa memakai sendok."
"Itu sebabnya saya tidak membuatkan sedotan."
Arkan menatapnya.
Naura menunduk menata buah.
Beberapa detik kemudian, ia mendengar suara sendok menyentuh mangkuk.
Arkan makan.
Tidak protes.
Kemajuan.
Saat ia mengangkat cangkir teh, Naura melihat gerakan jari kanannya agak kaku.
"Plesternya masih nyaman?"
"Lumayan."
"Nanti setelah makan saya ganti."
"Tidak perlu."
"Perlu. Bapak mencuci tangan dan mandi. Plester lama bisa lembap."
Arkan berhenti makan.
"Kamu selalu seketat ini?"
"Kalau menyangkut luka, iya."
"Kalau saya menolak?"
"Saya laporkan ke Bu Marini."
Arkan diam.
Naura menang.
Setelah sarapan, ia mengganti plester di meja makan. Arkan menyodorkan tangan tanpa banyak bicara, tetapi wajahnya terlalu serius untuk luka sekecil itu.
"Jangan tegang, Pak. Saya tidak akan memotong jari Bapak."
"Saya tidak tegang."
Naura mengangkat mata.
Arkan menatap arah lain.
Telinganya merah.
Naura menempelkan plester baru. "Selesai."
Arkan menarik tangan.
"Terima kasih."
Ia berdiri, mengambil jas di kursi.
Naura mengikutinya sampai foyer untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Di meja konsol ada dompet, kunci mobil cadangan, dan satu dokumen.
"Pak, dokumen."
Arkan mengambilnya.
"Dompet?"
Arkan berhenti.
Ia mengambil dompet.
"Kunci?"
"Saya pakai sopir hari ini."
"Ponsel?"
Arkan meraba saku. Ada.
Naura mengangguk. "Baik."
Arkan menatapnya.
"Kamu seperti checklist berjalan."
"Lebih murah daripada Bapak beli dompet baru karena tertinggal."
"Saya tidak pernah beli dompet baru karena tertinggal."
"Bagus."
Ia membuka pintu.
Rafi, asisten Arkan, sudah menunggu di luar bersama mobil. Begitu melihat Naura, ia tersenyum sopan.
"Pagi, Mbak Naura."
"Pagi, Mas Rafi."
Rafi melirik mangkuk kosong di meja makan dari kejauhan.
Matanya membesar sedikit.
"Pak Arkan sarapan?"
Naura menjawab, "Iya."
Rafi tampak seperti ingin mengucap syukur.
Arkan menatap asistennya. "Kamu terlalu ekspresif."
"Maaf, Pak."
Tetapi senyum Rafi tidak hilang.
Setelah Arkan pergi, Naura mulai membersihkan kamar utama sesuai aturan. Ia mengetuk pintu, memastikan kamar kosong, lalu masuk.
Tempat tidur sudah rapi secara umum, tetapi kemeja tidur terlipat asal di sofa kecil. Handuk tergantung tidak pada tempatnya. Di meja samping tempat tidur ada buku bisnis terbuka, satu gelas air setengah penuh, dan obat maag.
Naura mencatat: orang ini teratur di luar, kacau kecil di dalam.
Ia mengganti seprai, mengumpulkan pakaian rumah untuk laundry, dan memisahkan pakaian formal untuk dry clean. Semua berjalan biasa sampai ia mengangkat celana tidur dari sofa.
Sesuatu jatuh.
Hitam.
Kecil.
Naura menatap benda itu di lantai.
Celana dalam pria.
Ia memejamkan mata.
Sangat profesional, Naura.
Ini pekerjaan.
Ini kain.
Ini bukan alasan untuk panik.
Ia mengambil penjepit laundry, memasukkan benda itu ke kantong khusus pakaian dalam, lalu menulis catatan: `Pakaian dalam dicuci terpisah sesuai standar higienis`.
Wajahnya tetap panas.
Ia pernah membersihkan apartemen pria lajang saat kuliah. Ini bukan hal baru. Tetapi entah kenapa, milik Arkan terasa berbeda.
Karena ia mengenal pemiliknya.
Karena pemiliknya baru saja menyodorkan jari untuk diganti plester.
Karena pemiliknya bertanya video mengupas kentang.
Naura menepuk pelan dahinya sendiri.
"Kerja."
Ia menyelesaikan semua dengan cepat.
Siang hari, ia kembali ke rumah Bu Marini untuk tugas utama. Bu Marini langsung mencium ada sesuatu.
"Kenapa wajahmu seperti habis dimarahi?"
"Tidak, Bu."
"Arkan menyusahkan?"
"Tidak."
"Berarti kamu melihat sesuatu."
Naura hampir tersedak air.
Bu Marini menyipit.
"Benar, kan?"
"Bu Marini..."
Pak Aditya menurunkan koran. "Marini, jangan ganggu Naura."
"Aku hanya bertanya."
"Pertanyaanmu berbahaya."
Naura segera pergi ke dapur dengan alasan mengecek sup.
Sore itu, ia kembali ke rumah Arkan untuk makan malam. Di luar dugaannya, Arkan pulang tepat waktu.
Ia masuk foyer pukul enam tiga puluh.
Naura sedang menata meja. Ia menoleh.
"Pak Arkan pulang cepat."
"Kamu bilang saya harus makan tepat waktu."
Naura tidak tahu kenapa kalimat itu membuatnya diam.
Arkan mengganti sepatu, lalu mencium aroma dapur.
"Apa itu?"
"Ikan dori panggang, sayur bening, dan tahu kukus."
"Ikan?"
"Tidak berduri."
Arkan menatapnya.
Naura menyusun sendok. "Bapak bilang tidak suka ikan banyak duri. Bukan tidak suka ikan."
"Kamu mengingat semuanya?"
"Itu pekerjaan saya."
Kalimat itu keluar otomatis.
Arkan tidak membalas.
Mereka makan dalam suasana tenang. Arkan menghabiskan makanannya. Setelah itu, ia membawa piring ke dapur tanpa memecahkan apa pun.
Naura memberi nilai tambah dalam hati.
Saat ia hendak mencuci, Arkan berkata, "Besok tidak perlu mencuci pakaian dalam saya."
Gerakan tangan Naura berhenti.
Suhu dapur terasa naik.
"Pak?"
Arkan berdiri sangat tegak. Wajahnya datar, tetapi telinganya merah sampai leher.
"Saya akan urus sendiri."
Naura ingin menghilang ke dalam wastafel.
Jadi dia tahu.
Tentu saja dia tahu. Itu kamarnya. Pakaiannya.
"Baik, Pak. Saya akan catat sebagai pengecualian tugas."
"Tidak perlu dicatat."
"Perlu, supaya standar kerja jelas."
Arkan terlihat semakin tersiksa.
"Baik. Catat."
Naura mengambil napas. "Pak Arkan tidak perlu malu. Itu termasuk pekerjaan rumah tangga, tapi kalau Bapak tidak nyaman, saya hormati."
"Kamu tidak malu?"
Pertanyaan itu terlalu jujur.
Naura memegang spons lebih erat.
"Saya profesional."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban paling aman."
Arkan menatapnya.
Lalu, entah kenapa, ia tertawa pelan.
Pendek. Hampir tidak terdengar.
Tapi Naura mendengarnya.
Ia menoleh.
Arkan sudah kembali datar, seolah tawa itu tidak pernah terjadi.
"Saya naik dulu."
"Baik, Pak."
Ia pergi.
Naura berdiri di depan wastafel, menatap busa sabun.
Kemudian ia tertawa tanpa suara.
Di lantai atas, Arkan masuk kamar, membuka ponsel, lalu mengetik sesuatu di mesin pencari:
`cara mencuci pakaian dalam pria yang benar`
Ia menatap hasil pencarian dengan wajah serius.
Setengah jam kemudian, mesin cuci kecil di area laundry lantai dua menyala untuk satu potong pakaian.
Naura yang hendak mengecek handuk bersih mendengar suara mesin itu.
Ia berhenti di tangga.
Lalu memutuskan untuk berbalik.
Tidak melihat.
Tidak bertanya.
Menjaga martabat klien juga bagian dari pekerjaan.
Walau kliennya sedang mencuci satu celana dalam dengan mode delicate selama empat puluh menit.
jgn setengah 2 ya