Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
5
Raka tidak menyangka istrinya yang selama ini dia anggap manja itu bisa bersikap sebegitu baik, bahkan sampai menutupi sifat dan sikapnya yang asli di depan orang tuanya.
“Papa doakan semoga kalian selalu bahagia, dan rumah tangga kalian dilindungi Tuhan,” ucap Darma pelan. “Jagalah Laras, dia anak yang baik dan nurut. Papa minta tolong bahagiakan dia. Kalau nanti kami sudah tiada, cuma kamu satu-satunya keluarga yang dia punya. Jadi jangan sampai dia merasa sendirian, itu pasti sangat menyakitkan buat dia.”
Raka mengangguk. Ada rasa aneh saat mendengar kata-kata itu, seolah-olah mertuanya sedang menitipkan Laras sepenuhnya. Sesaat timbul firasat yang tidak enak, tapi segera dia buang jauh-jauh dari pikirannya.
“Ah, biasa saja kan orang tua bicara begitu. Tidak usah dipikir berlebihan,” gumamnya dalam hati supaya tidak merasa gelisah.
Mereka pun berangkat pulang menuju apartemen. Di dalam mobil, Laras masih terisak menahan tangis karena harus kembali berpisah dengan orang tuanya. Raka yang merasa terganggu akhirnya membentak.
“Berisik sekali sih, bisa diam tidak? Ini cuma pindah tempat tinggal dalam satu kota, bukan pindah negara. Jangan cengeng begitu, ngapain nangis sepertubtidak akan bertemu lagi?!”
“Kakak jahat banget! Bicara sembarangan pada orang tuaku,” jawab Laras, tangisnya semakin kencang, membuat Raka semakin pusing.
“Diam!” bentak Raka keras. “Kalau masih menangis juga, aku turunkan saja kamu di sini sekarang!”
Mendengar ancaman itu, tangis Laras perlahan mereda. Dia menatap jalanan yang sepi dan gelap di luar jendela, hatinya terasa ciut.
Raka pun kembali melajukan mobilnya setelah berhasil membuat istrinya diam, meski harus menggunakan cara mengancam. Sementara Laras hanya terdiam menatap jalan, entah kenapa hatinya terasa berat sekali meninggalkan rumah orang tuanya.
****
Lain tempat..
Di dalam kamar yang redup, terlihat sepasang kekasih terhanyut dalam keintiman. Tanpa memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya, si pria terus bergerak mengejar kenikmatan sesaat. Keduanya larut dalam perasaan yang membara, sampai akhirnya sama-sama terkulai lemas setelah puas.
Begitu selesai, si pria langsung bangun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara di wanita masih terbaring lemah, menikmati sisa rasa hangat yang masih terasa di seluruh tubuhnya.
Wanita itu adalah Rara, mantan kekasih Raka yang kabur tepat sebelum hari pernikahan mereka. Dia tersenyum puas, akhirnya bisa kembali bersama laki-laki yang selama ini dia cintai. Selama ini dia harus menahan hati, karena David terpaksa menikah dengan gadis dari keluarga kaya akibat perjodohan orang tua.
Hubungan mereka tidak pernah diketahui orang lain. Selama pacaran dulu, David selalu menutup-nutupi agar tidak ada yang tahu. Sampai akhirnya dia memutuskan Rara secara sepihak setelan dia menikah dengan wanita lain.
Merasa sakit hati dan terhina karena dipilihkan orang kaya ketimbang dirinya, Rara bertekad membuat David menyesal. Dia lalu mendekati Raka, sahabat dekat David, berniat memanfaatkan dia agar bisa kembali mendapatkan pria yang dicintainya.
Selama tiga tahun berpacaran, Raka benar-benar mencintai dan memperlakukan Rara dengan baik, sampai akhirnya melamarnya. Perlahan hati Rara mulai luluh. Dia berniat melupakan David dan membuka hati untuk Raka, yang perhatian, setia, dan juga tidak kalah kaya dan tampan. Raka bahkan tidak ragu memamerkan hubungan mereka ke publik.
Namun sehari sebelum hari pernikahan tiba, David datang menemuinya. Dia mengaku belum bisa melupakan Rara dan masih menyimpan perasaan yang sama. Awalnya Rara menolak, tapi David terus membujuk dan meyakinkan dia agar mau kembali bersamanya. Sisa cinta yang belum benar-benar hilang perlahan membuat hatinya goyah, dan akhirnya dia memilih ikut pergi bersama David.
Kilas Balik...
“Ikutlah aku, aku janji akan membuatmu bahagia, Sayang,” bujuk David.
“Bagaimana bisa aku percaya? Selama ini aku cuma dijadikan simpanan yang tidak pernah diperkenalkan ke siapa pun. Istrimu tetap yang akan berdiri di sampingmu, sedangkan aku hanya wanita yang datang saat kamu butuh saja. Aku tidak mau, sekarang ada orang yang ingin menjadikanku ratu, bukan hanya selingan,” tolak Rara.
“Dengarkan aku, Ra. Aku akan menjadikanmu satu-satunya, tapi sabarlah sebentar. Aku akan menceraikan istriku, asalkan kamu mau ikut denganku dan meninggalkan Raka. Nanti setelah aku menguasai sebagian harta dan perusahaan milik istriku, kekayaanku akan jauh melebihi Raka. Kita akan hidup mewah selamanya,” janji David yang membuat hati Raram mulai tergoda.
Rara yang sangat menginginkan kemewahan itu pun semakin bimbang. Dia membayangkan hidup yang serba berkecukupan jika benar-benar bersama David, lupa memikirkan resiko jika rencana itu gagal apakah David akan tetap bersamanya atau justru kembali ke istrinya. Akhirnya dia nekat kabur, meninggalkan Raka yang sudah pasti bisa memberinya kebahagiaan, demi janji manis yang belum tentu terwujud.
Akhir Kilas Balik...
“Aku pulang dulu ya, Sayang. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku,” pamit David.
“Istriku sudah telepon. Kamu harus sabar dulu. Nanti kalau rencanaku berhasil, aku pasti akan mencampakkan wanita itu,” ucap David sebelum pergi, lalu mencium bibir Rara sekilas.
Rara hanya bisa pasrah, sadar dia belum bisa memiliki David sepenuhnya. Tapi dia terus meyakinkan dirinya sendiri, percaya sebentar lagi David akan benar-benar meninggalkan istrinya demi dia.
Setelah David pergi, Rara sendirian di apartemen yang terasa sepi. Demi bisa bersama pria yang dicintainya, dia rela menjadi wanita simpanan sementara, berharap janji itu akan ditepati nanti.
“Kamu harus kuat, buang rasa sakit dan cemburumu. Ingat, David kembali ke istrinya cuma untuk menjalankan rencananya. Tenang saja, dia tidak mungkin jatuh hati padanya. Hanya kamu satu-satunya yang dia cintai,” bisik Rara dalam hati, berusaha menenangkan diri.
Padahal dalam hatinya dia gelisah. Tadi tanpa sengaja dia mendengar David bicara di telepon dengan istrinya, nadanya sangat lembut dan penuh kata-kata manis, bahkan langsung bergegas pulang begitu diminta.
*****
Sementara itu, Laras dan Raka baru saja sampai di apartemen. Begitu masuk, mereka langsung ke kamar masing-masing. Raka merasa heran, biasanya Laras banyak bicara dan bertanya, tapi kali ini dia diam saja.
“Apa yang aku katakan tadi bikin dia sakit hati?” gumam Raka dalam hati.
“Kenapa aku jadi sebodoh ini? Padahal malah bagus kalau dia marah atau sakit hati. Semakin dia tersakiti, semakin cepat dia akan menyerah,” pikirnya lagi.
_____
Keesokan harinya, keduanya beraktivitas seperti biasa. Setelah sarapan, Raka berangkat ke kantor, sedangkan Laras akan berangkat ke kampus. Sebelum pergi, mereka sempat berselisih sedikit.
“Kak, aku ikut mobil Kakak ya,” pinta Laras.
“Enggak, aku bukan sopirmu,” jawab Raka ketus.
“Apa salahnya sih? Lagian kan jalan ke kantor Kakak lewat depan kampusku,” bantah Laras.
“Tidak bisa, aku ada rapat pagi ini. Kalau mau, pakai saja mobilku yang satu lagi, sebentar aku ambilkan kuncinya,” tawar Raka.
“Jangan, Kak,” cegah Laras yang membuat Raka bingung.
“Kenapa?” tanya Raka.
“Aku tidak bisa menyetir, jadi percuma saja. Tolong antar ya, Kak,” pinta Laras lagi.
“Dasar kamu ini, apa sih yang bisa kamu lakukan? Semua tidak bisa, ini itu tidak sanggup. Kalau begini rasanya tidak ada gunanya kamu hidup, lebih baik mati saja daripada cuma menyusahkan orang lain,” bentak Raka tanpa rasa bersalah.