Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Dua Jejak Dendam
"Kamu belum tidur," kata Nathania dari pintu kamar.
Han yang duduk di ruang tengah menutup buku gambar Meira. Ponsel lama di bawah buku itu sudah gelap.
"Menunggu Nia."
"Jangan pakai suara polos."
Ia menatapnya. "Suara Han."
Nathania tidak membalas. Setelah malam reuni, jarak di antara mereka tidak besar, tetapi terasa nyata. Ia masih membiarkan Han menyiapkan sarapan, masih membiarkan Meira tidur dipeluknya, tetapi matanya selalu berhenti sedikit lebih lama pada gerakan tangan Han.
"Besok aku antar Meira ke TK," katanya.
"Han ikut?"
"Tidak perlu."
"Nia masih takut."
"Aku sedang berpikir."
"Tentang Han?"
"Tentang semua hal yang kamu sembunyikan."
Han menunduk. "Maaf."
"Jangan malam ini."
Nathania masuk kamar. Pintu tidak dikunci, tetapi tidak juga terbuka.
Han menunggu sampai suara langkahnya menghilang. Baru setelah itu ia mengambil ponsel lama dan masuk ke balkon sempit. Kota BSD malam itu tenang. Di layar, panggilan terenkripsi dari Bram sudah menunggu.
"Bos," suara Bram terdengar pelan. "Robby sudah diproses. Livia dan Bagas menerima somasi. Fira mengirim semua chat grup."
"Simpan. Jangan naikkan ke publik."
"Baik."
"Sekarang kita mulai dua jalur."
Di seberang, Bram terdiam sejenak. "Akhirnya."
"Jalur pertama, Jono."
"Sopir truk itu?"
"Mata kanan ada bekas sayatan. Dia tidak akan bisa menghapus itu."
"Lima tahun tidak muncul. Vincent pasti menyembunyikannya dalam jaringan orang bayaran."
"Cari dari Aldo. Ia terlalu bodoh untuk tidak meninggalkan jejak."
"Saya sudah tarik data lama. Ada transfer kecil ke rekening atas nama sepupu Aldo di Bekasi, lalu uang tunai keluar beberapa kali. Polanya kotor, tapi berulang."
"Jangan sentuh dulu. Ikuti."
Bram menjawab, "Saya paham. Kalau Jono panik, Vincent juga panik."
"Jangan buat mereka tahu kita tahu."
"Jalur kedua?"
"Nirwana Bay."
Suara Bram berubah lebih serius. "Cadangan proyek?"
"Vincent sudah mulai menutup lubang dari sana. Ia belum mengambil besar, tapi tanda tangannya ada di approval internal."
"Saya bisa masuk dari tim keuangan. Dia percaya saya setelah kasus brankas."
"Biarkan dia percaya lebih dalam."
"Saya harus memberi umpan?"
"Beri dia jalan yang terlihat aman. Catat semua approval, memo, percakapan, dan aliran dana. Kalau ada rekening luar negeri, jangan blokir. Tandai."
Bram menghela napas. "Bos, kalau ini jalan sampai Bareskrim, kita butuh bukti bersih."
"Karena itu jangan terburu-buru."
"Vincent sudah kehilangan Om Winata, dewan mulai bicara RUPS. Dia bisa menggila."
"Orang seperti Vincent paling berbahaya saat merasa masih bisa menang. Kita biarkan dia merasa begitu."
Di ruang tengah, pintu kamar terbuka sedikit. Meira keluar sambil memeluk boneka.
"Papa?"
Han langsung mematikan suara panggilan, tetapi tidak menutupnya.
"Mei kenapa?"
"Mimpi ada om jahat."
Han berlutut. "Om jahat sudah pergi."
"Mama sedih?"
"Mama capek."
"Papa jangan bikin Mama capek."
Kalimat kecil itu menusuk lebih dalam dari tuduhan orang dewasa. Han mengusap rambut Meira.
"Papa coba."
"Coba yang bener."
Ia hampir tersenyum. "Iya."
Nathania muncul di belakang Meira. "Mei, masuk."
"Papa ikut?"
"Papa masih ada urusan."
Nathania menatap ponsel di tangan Han. "Urusan apa jam segini?"
Han menyelipkan ponsel ke saku. "Bram."
Nama itu keluar sebelum ia sempat memilih kebohongan lain.
Mata Nathania menyipit. "Jadi kamu memang sering bicara dengan Bram."
"Kadang."
"Tentang apa?"
"Orang jahat."
"Kamu membuatku sulit marah karena jawabanmu terdengar seperti anak kecil, tapi isinya tidak."
Han diam.
Meira menarik tangan Nathania. "Mama, Mei ngantuk."
Nathania tidak mendesak. "Selesaikan urusanmu. Tapi jangan kira aku lupa."
Pintu kamar tertutup.
Han kembali mengaktifkan suara. Bram sudah menunggu tanpa bertanya.
"Lanjut," kata Han.
"Ada kabar awal soal Jono," Bram berkata. "Bukan lokasi pasti, tapi ada nama bengkel kecil di pinggir Bekasi yang beberapa kali menerima pembayaran tunai dari orang Aldo."
"Ciri?"
"Pemiliknya bilang pernah melihat pria dengan bekas sayatan di dekat mata kanan. Dia datang malam, tidak pernah lepas topi."
Han menatap kaca balkon. Wajahnya sendiri samar di sana, bukan Han yang polos, bukan juga Reihan yang dulu berdiri di ruang rapat.
"Jangan dekati langsung."
"Saya kirim orang?"
"Orang baru. Wajah bersih. Bayar tunai. Cari jam datang, kendaraan, siapa yang menjemput."
"Siap."
"Bram."
"Ya, Bos?"
"Kalau Jono benar hidup, dia bukan hanya saksi."
"Dia kunci kecelakaan Anda."
"Dia kunci untuk menghancurkan Vincent tanpa menyisakan jalan pulang."
Di kamar, Nathania memeluk Meira yang kembali tertidur. Matanya tetap terbuka.
Di balkon, Han mengakhiri panggilan setelah satu pesan terakhir masuk.
Jejak Jono muncul.
Han membaca kalimat itu lama. Lima tahun lalu, darah, suara benturan, dan sungai gelap kembali menyambar kepalanya.
Ia menghapus pesan.
Di kamar, Nathania belum tidur. Ia mendengar pintu balkon dibuka pelan, lalu ditutup lagi. Ia tidak mendengar isi panggilan, tetapi ia mengenal berat langkah Han setelah setiap rahasia selesai disembunyikan.
"Mama belum tidur?" Meira bergumam.
"Belum."
"Papa sudah selesai urusan?"
"Sepertinya."
"Besok Papa ikut sekolah?"
"Mama belum tahu."
Meira membuka mata sedikit. "Kalau Papa ikut, orang jahat takut."
Nathania mengusap rambutnya. "Tidak semua orang jahat terlihat takut, Mei."
"Tapi Papa tahu."
"Tahu apa?"
"Tahu orang jahat. Papa lihat sebentar, terus tahu."
Kalimat polos itu membuat Nathania diam. Anak-anak sering melihat hal yang orang dewasa terlalu sibuk bantah.
Di luar kamar, Han berdiri beberapa detik di depan pintu. Ia mendengar suara Meira, mendengar Nathania tidak menjawab. Tangannya terangkat hendak mengetuk, lalu turun lagi.
Ponselnya bergetar sekali lagi.
Bram: Saya juga menemukan pola lama pada approval Nirwana Bay. Vincent mulai pakai cadangan kecil untuk menutup biaya pribadi.
Han mengetik: Simpan. Jangan hentikan.
Bram: Kalau jumlahnya membesar?
Han: Itulah yang kita tunggu.
Bram: Dan Jono?
Han: Jangan biarkan dia hilang lagi.
Setelah pesan itu terhapus, Han menyandarkan kepala ke pintu kamar. Di baliknya ada dua orang yang ingin ia lindungi. Di luar sana ada dua jalur dendam yang harus ia selesaikan sebelum perlindungan itu berubah menjadi bahaya.
Pintu tiba-tiba terbuka sedikit. Nathania berdiri di baliknya, rambutnya berantakan karena baru bangun dari sisi Meira.
"Kamu berdiri di depan pintu seperti pencuri."
"Han mau lihat Mei."
"Atau memastikan aku tidak mendengar?"
Han tidak menjawab.
Nathania membuka pintu lebih lebar. "Masuk. Tapi jangan bawa rahasiamu sampai ke tempat tidur anakku."
"Rahasia tinggal di luar?"
"Kalau bisa."
"Han coba."
"Aku tidak tahu kenapa aku masih menerima jawaban seperti itu."
"Karena Nia baik."
"Tidak. Karena Meira tidur lebih nyenyak kalau kamu ada."
Han masuk pelan. Meira langsung bergeser mencari tangannya meski masih tidur.
Nathania melihat itu, lalu memalingkan wajah. "Jangan membuat kami menyesal percaya."
"Tidak akan."
"Itu janji?"
"Iya."
Nathania tidak tahu janji mana yang lebih ia takutkan: yang bisa ditepati Han, atau yang akan hancur ketika namanya terbuka.
Malam itu, dendam lama dan utang baru akhirnya berjalan di dua jalur yang sama.