Jodoh, maut, rezeki semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Begitu juga dengan biduk rumah tangga Airin dan Wiksa, pernikahan yang sudah berjalan selama lima tahun dengan penuh kemesraan meskipun mereka belum di karuniai seorang momongan. Namun, di balik kebahagiaan mereka petaka terjadi saat mereka berdua mengalami kecelakaan dan rumah tangga mereka yang menjadi taruhannya.
Airin tidak menyangka jika kecelakaan yang di alami suaminya akan merubah sikapnya menjadi kasar serta melupakannya. Kedatangan Wina, wanita masa lalu Wiksa, semakin membuat rumah tangga Wiksa dan Airin berada di ujung tanduk. Akankah Airin sanggup bertahan, berjuang dan menyelesaikan prahara rumah tangganya atau sebaliknya Airin akan menyerah dan mengaku kalah begitu saja?
Jangan lupa klik komen, like, faforiit juga hadiahnya.
Ikuti cerita ini terus ya readers.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Bajumu lebih bau
Adam memilih meninggalkan ruangan. Langkahnya menyusuri koridor rumah sakit yang terlihat mulai lengang karena jam berkunjung sudah berakhir, hanya beberapa orang yang terlihat masih duduk menunggu rekan atau saudaranya yang sedang di rawat.
Adam menghentikan langkahnya menatap area rumah sakit, memindainya menatapnya rakus, hanya dengusan napasnya yang terdengar berat. "Sebaiknya aku ke ruanganku lebih dulu," lirihnya melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
Adam melanjutkan langkahnya memilih menaiki tangga menuju lantai dua. Adam terdiam menatap pintu yang tertutup netranya menatap papan nama yang terpasang di depan pintu, menyelipkan dua tangan di saku celana, netranya berbinar seakan ada kepuasan tersendiri yang kini tengah berbendar dalam hatinya.
Memasukkan anak kunci cadangan yang sering di bawanya, ruangan gelap yang menjadi ciri khasnya. Adam menyalahkan lampu, memilih duduk berselonjor seakan ingin membuang rasa lelah yang sedang di rasakan. Memijat kepalanya yang terasa berat. Menatap ruangan yang telah begitu banyak menyita waktunya berjam-jam untuk menyelesaikan berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Adam saat ini hanya ingin menghabiskan waktu beberapa menit ke depan atau bahkan satu atau dua jam ke depan untuk menenangkan kalbunya.
Di ruangan ini yang terdengar hanya helaan napas Adam, netranya kini tengah memburu kenangan, bernostalgia bersama memorinya beberapa tahun ke belakang. Perjuangannya hingga di titik ini membuktikan pada dirinya sendiri, meskipun sebagai anak dusun dirinya bisa mencapai posisi ini dengan kerja kerasnya dan keinginannya untuk membahagiakan ibunya. Adam tanpa sadar mengikis netranya yang tiba-tiba mengembun. Tangis yang tiba-tiba luruh saat mengingat perjuangan ibunya.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Adam, tubuhnya terlonjak saat ketukan yang di dengarnya semakin keras. Tangannya langsung mengusap wajahnya kasar dan berdiri membetulkan baju yang di kenakannya. "Argh ...." Adam menggerutu kesal, melihat baju yang di kenakannya.
Memasang wajah tenang sebelum dirinya membuka pintu. "Kamu!" seru Adam terkejut melihat laki-laki kerempeng dengan kaos singlet tertawa kecil dan menggaruk kepalanya bingung.
"Hehe ... hiya, Bos. Bajunya," jawab laki-laki ini menunjuk baju yang menempel di badan Adam.
"Ash ... masuk-masuk," titah Adam sembari menutup pintu, "duduk!" serunya kemudian melepas baju yang di kenakan, memberikan pada OB yang tengah menatapnya heran.
"Ini ...." Adam mengulurkan tangannya memberikan baju pada OB. "Terima kasih," ujarnya sembari duduk di samping OB.
Adam langsung menyengitkan dahinya saat melihat sikap aneh OB yang duduk di sampingnya, "Ash ... kenapa kamu mencium baju itu!" seru Adam tidak suka.
"Hehe ...." OB ini hanya tertawa kecil malu saat mendapat teguran dari Adam.
"Bau? Keringatmu lebih bau tahu!" kesal Adam menarik baju OB kasar.
"Bos ... saya pulang pakai apa?" OB dengan wajah memelas, "lagi pula dari awal saya juga sudah memberitahu," omel OB pelan.
Adam hanya tersenyum, "belikan aku kaos dulu, setelah itu kamu bisa mengambil baju ini," tukas Adam tersenyum sembari menyerahkan yang berwarna merah.
"Bos ...." OB ini merasa aneh dan melihat uang yang ada di tangannya.
"Sudah. Enggak, usah mahal-mahal belikan saja di bawah," jawab Adam kini memilih berdiri di jendela menyingkap sedikit tirainya.
"Baik. Bos, jika di bawah masih ada kembaliannya," timpal OB sembari berdiri dan ke luar dari ruangan.
Lima belas menit kemudian, OB sudah kembali membawa pesanan Adam. "Terima kasih," jawab Adam sembari menilik nama yang tercetak di seragam OB.
"Wahid." Adam mengeja nama yang tercetak jelas di seragam OB.
"Bos ...." Wahid memanggil tangannya terulur memberikan sisa kembalian.
*Sudah, buat kamu saja. Terima kasih, kerja yang bagus dan ingat aku tandai nama kamu dan wajah kamu, kapan pun saya bisa ...." Adam menghentikan ucapannya saat menilik wajah takut Wahid.
"Cek. Wahid ...." Adam memberi isyarat melalui tangannya agar segera berlalu pergi dari ruangannya.
"Terima kasih, Bos," pamit Wahid sembari menutup pintu.
Adam hanya tersenyum melihat reaksi Wahid, meraih kaos yang tergeletak di meja begitu saja. "Wahid-Wahid," ujarnya melihat warna yang tidak sesuai dengan harapannya.
Menuruni lantai dua dengan sedikit tenang, koridor rumah sakit semakin lengang, melangkah tanpa beban hingga langkahnya terhenti di ruang paviliun, wanita yang tidak asing menurut pandangannya sedang mondar-mandir tidak lama terlihat mengintip ke dalam kamar melalui jendela. "Selamat malam?" tanya Adam mengejutkan.
Wanita ini terlonjak kaget, berbalik dengan pijakannya yang belum tepat membuatnya terhuyung beberapa langkah ke belakang. Wanita ini berbalik menatap wajah Adam, tatapannya langsung tertunduk takut. "Ada yang bisa saya bantu, Wina?" Adam berjalan mendekat, menelisik wajah di depannya tajam.
"Ka-kamu," balasnya terkejut dan semakin merapatkan tubuhnya ke dinding.
"Kamu, masih ingat?" Adam makin mendekat.
Wina semakin tidak berkutik, tubuhnya tiba-tiba gemetar dan entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. "A-Aku ... aku." Wina terbata.
Adam sesaat tersadar jika mereka membuat keributan di sini, Airin pasti akan terbangun dan mengetauhi kejadian ini. "Ayo, ikut!" Adam menarik tangan Wina kasar, menyeretnya tanpa ampun.
Wina hanya menurut, mengekor langkah Adam tanpa melakukan perlawanan sedikit pun hingga mereka tiba di taman kecil di samping koridor Rumah Sakit. Adam menghentak tangan Wina kasar dan memintanya untuk duduk dengan tenang.
"Kamu, ternyata belum sadar juga Wina, bahkan kematian anak kamu di desa dan pacarmu itu ...."Adam menekan suaranya berat.
"Sekarang, kamu mengusik dia." Adam seakan ingin meluapkan semua emosinya, mewakili semua amarah Airin.
"Aku mencintainya Dam, dia cinta pertamaku, bahkan ...." Wina tidak melanjutkan ucapannya, kemudian menatap Adam tajam. "Dia-dia yang sudah mengambil Wiksa, Adam. Dia yang merebut Wiksa dariku!" seru Wina kekeh dengan semua pendapatnya.
Adam yang menyadari siapa Wina akhirnya memilih meredam semua emosinya, melunakkan sedikit pandangannya, tersenyum untuk mengurai ketegangan yang terjadi di antara mereka. Adam perlahan mulai bertanya, menelisik satu persatu perkara yang Wina alami dengan tenang. Adam hanya bisa menghela napas saat Wina kekeh dengan semua pendapatnya hingga satu kesepakatan dan syarat dari Wina agar Airin bisa hidup tenang.
"Gila! Tidak mungkin!" teriak Adam saat syarat yang Wina ajukan tidak sesuai menurut pendapatnya.
"Terserah, aku juga tidak memaksa! Selama Wiksa belum sembuh dari sakitnya aku lah yang jadi pemenangnya dan aku bisa memutar semua fakta yang benar menjadi salah," jawab Wina serius.
Adam terdiam, saat ini yang ada dalam benaknya hanyalah keselamatan Airin dan bayi yang ada dalam kandungannya. Lagi-lagi Adam hanya bisa menghela napas panjang, jika dia menolak wanita gila ini akan bertindak lebih nekat, bahkan pacarnya yang dulu juga harus menerima perbuatan Wina yang tidak menyenangkan.
"Bagaimana? Kamu setuju?" Wina mengejutkan.
Adam telonjak, menatap manik Wina tajam, seakan menelisik kejujuran dari tatapan Wina. "Oke, aku setuju, tetapi jika kamu mengingkari janji dan Airin celaka, kamu orang pertama yang aku cari, meskipun itu bukan kamu yang berbuat. Kamu paham!" bentak Adam dan mematikan alat perekam di ponselnya menyimpannya di saku celananya.
"Aku setuju," timpal Wina dengan senyum penuh kemenangan.
Adam yang merasa geram dengan Wina akhirnya mengakhiri percakapan mereka begitu saja, tetapi belum juga langkahnya menjauh. "Wina, ingat! Bukan aku saja yang akan kamu hadapi, ada hal yang lebih menyakitkan dan seram yang sudah menunggumu dan tunggu saja!" ancam Adam kemudian melanjutkan langkahnya.