Kematian Arin yang tidak disangka malah menimbulkan petaka. Padahal keluarga dan semua teman sahabat tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba mereka mendapatkan teror dari makhluk yang mengaku roh dari Arin. Ikuti kisahnya . Banyak rahasia tersembunyi di balik apa yang terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🌹Ossy😘, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
" Pergi Lo setan , jangan ganggu gue lagi.."
Ran berteriak kencang. Dia sudah tidak bisa menahan semuanya. Dia lelah diganggu makhluk astral itu terus menerus. Dia ingin bisa hidup tenang.
" Apa salah gue setan.. Kenapa Lo ganggu gue terus."
Nafas Ran terdengar memburu. Dadanya terasa sangat sesak. Kenapa harus begini . Kenapa harus dia yang mengalami kejadian itu.
Ran luruh ke lantai. Kakinya yang gemetaran tidak sanggup menopang tubuhnya. Sungguh kali ini dia merasa lelah. Fisik dan juga pikirannya tidak kuat menanggung semuanya.
Ran menangis tersedu seperti anak kecil yang kehilangan mainan. Dia tidak perduli jika ada yang mendengarnya. Dia sudah pasrah saat itu juga. Jika saja sosok tersebut ingin membunuhnya pun dia sudah tidak perduli.
" Hiks.. Hiks.. Hiks.. Salah apa gue. Kenapa gue harus begini.."
Ran masih tersedu. Dia telungkup kan kepalanya diantara kedua tangan yang memeluk lututnya. Dia tidak perduli keadaannya yang benar-benar kacau. Saat itu dia sudah menyerah.Dia merasa putus asa.
Suasana di dalam lift masih sepi dan tenang. Kecuali hanya suara Isak yang sesekali keluar dari mulut Ran. Ran masih dalam posisi semula. Tidak berubah sedikitpun. Dan sepertinya Ran tertidur. Mungkin karena lelah dan juga mengantuk.
Posisi lift tak berubah sedikitpun. Tidak ada yang masuk atau pun keluar. Dan tidak satupun orang yang menggunakan lift tersebut. Ran pun masih duduk tertidur seperti tadi. Waktu terasa terhenti. Dan seperti sengaja di hentikan dengan paksa. Demi seorang Ran yang tertidur di dalam lift.
Di luar sana terlihat seorang laki-laki berjalan terburu-buru. Sepertinya dia sedang mencari seseorang. Berkali-kali dia melihat ke sekeliling. Namun dia tidak juga menemukan yang sedang dia cari. Berkali-kali dia telah melewati tempat tersebut. Namun dia tidak melihat yang dia cari.
" Ran mana sih, seharusnya jam segini dia sudah pulang.."
Fian menggerutu. Dia mencari Ran yang telah berjanji bertemu sepulang kerja. Waktunya sudah tiba. Namun Ran tidak tampak juga. Fian berusaha mencari ke tempat dimana Ran bekerja. Namun tidak menemukannya.
Tempat tersebut telah sepi. Tidak ada seorang pun disana. Memang di malam hari area di mana Ran bekerja selalu sepi di malam hari.
" Apa dia sudah pulang ya. Tapi tidak mungkin dia ingkar janji. Apa mungkin dia lupa ya.."
Fian berputar sekali lagi. Namun akhirnya berhenti di tempat di mana mereka berjanji untuk bertemu. Berkali-kali Fian memandang ponselnya. Tidak ada satupun pesan yang dikirim Ran untuknya.
" Kemana tu bocah. Tak biasanya dia seperti ini. Lupa apa bagaimana sih. Dia tidak mungkin membuat orang menunggu. Ponselnya juga tidak aktif."
Akhirnya Fian berjalan lagi. Dia tidak bisa diam saja. Perasaannya berdebar tidak menentu. Ada hal yang ganjil yang dia rasakan. Fian menuju lift yang dia tahu Kalau Ran selalu menggunakannya.
Fian menekan tombol yang ada di lift. Berkali-kali. Karena lift tidak terlihat menunjukkan arah naik atau pun turun. Lift dalam posisi berhenti itu perkiraan Fian.
Fian merasakan hal aneh di lift tersebut. Namun dia tak tahu apa itu. Dia hanya berusaha untuk mencari keberuntungan siapa tahu Ran berada di dalam lift.
" Ran.. bangun. Ingat jangan tidur sembarangan. Bahaya..."
Ucap Fian lirih. Dia hanya berharap apa yang dia ucapkan bisa membantunya menemukan Ran.
Dan benar Tiba-tiba lift terbuka. Fian melihat Ran yang masih tertidur di posisi semula. Posisi duduk sambil memeluk lututnya. Fian segera masuk ke dalam lift. PIntu lift langsung tertutup.
" Ran.. Ran. Lo kenapa. Ran bangun."
Fian panik melihat keadaan Ran. Dia menyentuh bahu Ran pelan. Membangunkan Ran dengan lembut. Fian menyadari kalau Ran sedang tidak baik-baik saja.
Ran membuka matanya dengan perlahan. Dia melihat ke sekeliling. Dia merasa bingung. Apalagi saat melihat Fian ada di sampingnya.
" Apa yang terjadi Ran.."
Ucap Fian lagi. Dia mengusap pundak Ran dengan lembut.Dia hanya ingin memastikan kalau keadaan Ran baik-baik saja.
"Fian..hiks...hiks..hiks.."
Ran menghambur memeluk Fian. Ran menangis di dalam pelukan Fian.
" Fian.. Fian. Tolong gue.. Tolong gue."
Fian memeluk Ran dengan erat. dia biarkan airmata Ran membasahi bajunya. Dia biarkan Ran menumpahkan segala rasa yang dia pendam.
" Fian..hiks..hiks..hiks. Tolong gue. Gue tidak mau seperti ini. Gue capek Fian."
" Iya Ran. Iya. Gue pasti menolong lo. Lo tenang ya. Ada gue disini..."
Fian berusaha menenangkan Ran yang menangis tersedu. Ran yang memeluknya dengan erat seolah tak ingin dilepaskan. Fian tahu ada yang tidak beres dialami oleh Ran dalam lift ini. Fian merasakan aura aneh dalam lift. Apalagi dari tadi dia merasakan lift ini hanya diam tidak bergerak naik ataupun turun.
" Ran.. Tenangkan diri lo. Kita keluar dulu dari sini. Ok.."
Sebenarnya bulu kuduk Fian sudah berdiri sejak dia masuk dalam lift ini. Dia merasakan ada makhluk lain selain mereka.
" Iya Fian. Kita harus keluar dulu dari sini." Ucap Ran pelan. Dia menghapus airmata nya dan merapikan hijabnya yang berantakan. Setelah di rasa cukup rapi Ran menekan tombol lift untuk turun. Karena Ran yakin lift ini masih berada di lantai di mana dia masuk tadi.
Namun ditekan beberapa kali pun tidak berhasil juga. Sepertinya liftnya macet. Fian ikut mencoba menekan juga namun hasilnya sama saja.
" Ran liftnya macet." Ucap Fian sedikit panik.
" Bukan macet Fian. Ada makhluk yang tidak menginginkan kita pergi.." Ran melihat ke sekeliling. Dan memang dia masih merasakan kehadiran makhluk lain dalam lift tersebut.
" Biarkan kami pergi. Apa salah gue setan..." Ran berteriak marah.
Namun tetap saja makhluk itu diam saja. Makhluk yang terlihat berdiri dipojok lift dengan wajah yang memelas. Tidak ada lagi wajah seram yang dia tunjukkan.
" Setan .. apa mau Lo..."
Ran berteriak lagi. Dia sudah tidak sabar ingin segera pergi dari sana.
"Tolong saya... Tolong lepaskan saya . Sakit...sakit... Saaaaaaakiiiiittt"
Terdengar teriakan dari makhluk tersebut. Dia melolong panjang dan hilang. Bersamaan hilangnya makhluk tersebut jatuh bungkusan kain yang Ran letakkan di atas meja tadi pagi.
"Apa ini..?"
Fian memungut benda itu. Dia amati benda itu dengan seksama. Tangannya bergetar. Tapi bukan karena dia takut. Karena benda tersebut yang membuat tangannya bergetar.
" Fian buang. Lepaskan Fian..."
Ran berteriak melihat apa yang terjadi. Dia tidak ingin Fian celaka. Dia hanya takut benda itu bisa membahayakan mereka.
Begitu benda itu dilempar Fian, bungkusan itu terbuka. Terlihat selembar foto terjatuh. Bukan selembar tapi ternyata adua lembar foto. Fian mengamati foto tersebut. Dia belum berani mengambilnya.
" Apa itu. Seperti foto.."
Ran bergerak mendekati benda tersebut. Dia mengamati sebentar dan kemudian mengambil benda tersebut.
" Ini seperti foto Arin.." Ran mengamati lagi foto itu dengan seksama.Mendengar ucapan Ran, Fian mendekati dan ikut mengamati.
" Benar, dua lembar foto Arin..."
" Eh bukan.. Ini yang satu berbeda hanya mirip.."
Fian dan Ran kembali mengamati dengan seksama kedua lembar foto yang jatuh dari bungkusan tadi. Mereka ragu dengan penglihatan mereka. Memang terlihat seperti foto satu orang. Namun ketika diamati secara seksama banyak perbedaan.
" Fian.. Ini maksudnya apa. Ini petunjuk apa. Ada apa dengan foto ini."
Ran berkata dengan pelan dan terbata. dia masih merasa bingung dengan penemuan ini. Apakah bisa dikatakan petunjuk atau bukan.
" Ran.. Kita pikirkan pelan-pelan. Pasti kita akan bisa memecah semua misteri ini."
" Iya Fian.."
" Ran, sebaiknya Lo cuci muka dulu. Keadaan Lo berantakan banget. Nanti kalau Lo pulang dalam keadaan begini . Ayah sama bunda malah berpikir macam-macam."
"Baiklah Fian. Gue ke toilet dulu ya.."
" Gue anter ya. Gue tunggu di depan toilet. Gue masih khawatir sama Lo."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju toilet. Mereka berjalan dengan diam. Namun otak mereka berpikir keras. Mereka tentu merasa penasaran dengan kedua foto tersebut.
"Udah Fian, Ayo pulang."
Ran keluar dari toilet dengan keadaan yang lebih segar. Dia mencuci mukanya dan juga merapikan dandanannya yang berantakan tadi .
" Kita makan dulu ya, gue lapar.."
Mereka menuju tempat parkir. Namun di tengah jalan Ran menghentikan jalannya.
" Tunggu sebentar Fian..."
"Ada apa lagi..."
"Sepertinya ada yang mengikuti kita. Jangan menoleh. Pura-pura tidak tahu."
Fian mengangguk. Mereka tetap berjalan menghadap ke depan tidak menoleh sedikitpun. Namun dari etalase kaca mereka dapat melihat ada memang ada seseorang yang mengikuti mereka.
Tiba-tiba Ran berhenti. Dia seperti mengenali orang tersebut. Ran menarik Fian berbelok untuk mengecoh orang tersebut. Mereka tidak tahu tujuan orang tersebut mengikuti mereka.
Orang tersebut berhenti tepat di samping Ran dan Fian bersembunyi. Dia melihat ke sekeliling. Mencari keberadaan Ran dan Fian. Karena tidak menemukan dia akhirnya pergi dari tempat tersebut.
"Ran, kenapa harus bersembunyi sih. Dia kan Aa Bara. Siapa tahu dia ingin memberitahu sesuatu. Mungkin dia memang tidak sengaja melihat kita disini.."
Fian tidak mengerti dengan sikap Ran. Kenapa harus bersembunyi dari Bara. Padahal mereka bukan musuh juga.
"Sssttt... Kita ikuti Aja Bara. Mau kemana dia..."
Ran kembali menarik tangan Fian. Dia menyeret Fian dan Fian hanya mengikuti saja. Bibirnya sambil tersenyum. Dia senang bisa bergandengan tangan dengan Ran.
"Apa Lo senyum-senyum.. "
Ran menyadari sikap Fian. Dia segera melepaskan tangan Fian yang dia gandeng.
"Hehehe... Kan gue suka .."
Fian cengengesan. Dia suka sekali menggoda Ran. Wajah Ran sudah bersemi merah. Dia sangat malu dia tidak menyadari kalau tindakannya tadi telah membuat degup jantungnya berdetak lebih cepat.
" Hayoooo.... kalian jadian ya."
Ran dan Fian terkejut. Tiba-tiba ada suara yang sangat mereka kenal sudah ada di samping mereka. Ran dan Fian saling pandang. Dan mereka akhirnya tertawa.
Entah apa yang mereka tertawakan. Mereka tertawa begitu saja. Mungkin mereka sedang menertawakan diri mereka sendiri yang bertindak seolah anak-anak yang sedang main petak umpet.
Bersambung
Siapa yang menegur Ran dan Fian. Apa langkah mereka selanjutnya.....
Terima kasih telah mampir di novelku. Jangan lupa tinggalkan like dan komen. Love u all ❤️❤️❤️
bakalan cerita ga ni si Ran😵😵
eh eta penunggu pohon jambunya mulai nongolin diiri yaa 🙈🙈hiii ko seremm🏃♀🏃♀
terimakasih sudah menghadirkan cerita ini sukses terus oyys.
di tunggu novel berikutnya