Aundy Saesya Baghaskara, gadis 25 tahun yang sedang dikejar-kejar tagihan pinjaman online. Berusaha keras menutupinya dari keluarga.
Hari itu rumahnya kedatangan Hugo Kresnajaya yang berniat menagih hutang. Akan tetapi Aundy justru mengenalkan Hugo sebagai kekasihnya, demi menutupi fakta yang terjadi.
Permasalahan semakin rumit saat Hugo paham dengan benar mengenai latar belakang Aundy. Membuat hubungan keduanya semakin terikat dan berakhir di pernikahan.
Trauma yang pernah dialami dan tidak sukanya dengan hubungan casual membuat keduanya menciptakan beberapa perjanjian pernikahan. Akankah keduanya saling memegang komitmen itu, atau mereka akan tetap jauh, seperti jarak Malang-Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rehuella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aundy - Rumah
Dini hari, pukul setengah empat—suara adzan subuh belum berkumandang. Dan kami—bertiga, sudah tiba di kota Semarang. Tepatnya rumah sederhana, berhalaman luas milik ayah Sabda.
Sebelumnya, aku memang sengaja tidak memberi kabar kepada ayah ataupun bunda kalau hari ini akan pulang. Jadi, ketika aku membuka pintu gerbang supaya mobil Wildan bisa masuk ayah langsung terbangun—mungkin merasa terganggu oleh suara pintu yang berderit nyaring.
Bukannya senang, ayah Sabda justru menjewer telingaku. Dia tak peduli ketika aku mengeluh kesakitan memohon untuk dilepaskan. "Aku balik Malang, nih!" Ancamku, pasti telingaku sudah merah.
"Kalau pulang itu *mbok* ya kabar-kabar dulu!kalau ada apa-apa gimana?" Omelnya. Setelahnya ayah kembali bungkam saat melihat kehadiran makhluk lain yang datang bersamaku.
Ayah menyambut Wildan dan Embun ramah. Sambutannya jelas beda dari sambutannya padaku.
"Hayo masuk dulu!" minta ayah. "Ngopi atau ngeteh dulu!"
Seperti biasa ayah menuntun kami masuk. Kami menurut, dari posisiku saat ini, mataku menangkap bayangan tubuh bunda Salma, dia tengah berdiri bersandar di kusen pintu. Semakin dekatnya jarak kami aku bisa melihat matanya berkaca-kaca, mungkin sebentar lagi cairan bening meluncur membasahi pipi.
"Kan, Yah! Bunda cengeng banget!" Ucapku sambil berbisik di samping telinga ayah.
"Iya. Itu karena kami sudah berencana ke Malang dua hari lagi. Eh, tapi kamu malah pulang duluan. *Alhamdulillah* jadi irit biaya."
"Ke Malang nya ganti ke Kulonprogo aja, Yah!"
"Kita bicarakan nanti. Dibawa masuk dulu tamunya pasti lelah."
Aku menyapa bunda sebentar, memeluknya erat untuk menyembuhkan rindu. Benar dugaanku, air matanya tumpah ruah saat aku mendaratkan kecupan di pelipisnya. "Bun, aku bawa oleh-oleh buat bunda. Ada petis udang juga," aku berusaha mengalihkan apapun yang menjadi beban pikirannya. Wanita memang lebih perasa, meski dia tidak pernah menyatakan kesedihannya melalui telpon tapi aku tahu dia lebih bisa merasakan apa yang tengah menimpaku saat ini.
"Nakula belum bangun ya, Bun?"
"Masih tidur," jawabnya parau. Akupun melepas pelukannya, membiarkan bunda berganti menyambut para sahabatku.
Aku berjalan ke menuju kamar bunda. Benar bayi kesayangku itu masih terlelap di atas ranjang dengan tangan memeluk guling kecil.
"Mbun, masih tidur weh," laporku kepada Embun yang sudah berdiri di belakangku.
"Ya udah nanti lak bangun, sabar!" balasnya.
Sebenarnya aku juga sangat lelah, tapi tidak tega dengan bunda yang sudah repot-repot di dapur. Akupun menyusulnya, berniat membantu bunda.
"Tidur sana! Pasti lelah kan? Atau mau subuhan dulu?!"
"Aku bantuin bunda saja?"
"Mau bantuin apa?! Cuma bikin minuman aja, kok. Ayahmu sekarang manggil *rewang* buat masak. Cuma nggak boleh tidur sini. Soalnya pegawai yang kerja di gudang minta makan. Jadi, dari pada ngasih uang makan *mentah* ayah nyediain makan siang. Sekalian juga buat makan serumah."
"Hm ...." aku mengangguk paham. "Emang rame banget ya, Bun?"
"Alhamdulillah. Sehari bisa keluar 50 kg. Ayahmu yang bingung mau nyari petani porang di mana lagi. Soalnya kan harus nunggu dulu—yang di kebun belum siap panen."
Bunda ngomong apa, aku tidak begitu paham. Tanam menanam bukan ranahku. Tapi kalau diminta untuk design rumah, mungkin aku paling juara di rumah.
"Bun!"
"Hm?"
"Mas Hugo pernah telepon ayah?!"
Ekor mata bunda melirik ke arahku, seolah pertanyaan yang baru terucap adalah sebuah kesalahan. Jujur aku penasaran apakah mas Hugo juga mengabaikan orang tuaku. Kalau iya, fix aku sewa pengacara.
"Mereka itu kaya orang pacaran. Bunda sampai cemburu, ayahmu setiap malam teleponan sama Mas Hugo. Kalau nggak Mas Hugo duluan yang telepon."
Aku terkesiap. Lalu apa yang mereka bicarakan. Bahkan, mas Hugo sendiri tidak pernah memberi kabar apapun padaku.
"Memang apa yang dibahas Bunda?!" tanyaku penasaran.
"Banyak. Semalam mereka bahas hasil tes DNA."
Kenapa aku tidak tahu apa -apa begini? Atau dia akan merayuku lewat ayah?
"Ayah seminggu lalu juga dari Jakarta. Tapi sayang nggak ketemu sama oma-nya karena sudah dimakamkan."
Aku pusing pengen tidur saja. Penjelasan bunda semakin membuatku bingung. Mas Hugo bisa berhubungan baik dengan ayah dan bunda tapi kenapa tidak denganku. "Aku pusing bunda mau tidur dulu."
"Nggak minum teh dulu? Atau mau dibuatin kopi? Nggak kangen sama kopi racikan bunda? Oh, iya kamu kan kangennya sama Mas Hugo!"
Aku menoleh ke arah Bunda, memberikan tatapan jengah. Kesal semakin menumpuk aku tak lagi membalas tawaran bunda. Melangkah memasuki kamar, menyusul Embun yang sudah masuk ke dalam kamarku terlebih dahulu. Aku memeluknya dari belakang, tidak peduli dengan Embun yang saat ini sedang menelepon seseorang.
"Kamu punya pacar ya, Mbun?!"
semangatttttt bikin karya..
anak yg d'ajak ngobrol umur 25.. istri'y msh menyusui Adik'y..
k'inget yg kpn hari viral Abang Adik..
Abang'y umur 23 Adik'y umur 2th..
semangatttttt Thor
bahasa santai dan alur yang baik membuat pembaca lebih mudah ngalir ke ceritanya,
berasa kita berada didekat tokohnya.
terima kasih,
tetap berkarya ya....