NovelToon NovelToon
ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Ia ditemukan di tengah hujan, hampir mati, dan seharusnya hanya menjadi satu keputusan singkat dalam hidup seorang pria berkuasa.

Namun Wang Hao Yu tidak pernah benar-benar melepaskan Yun Qi.

Diadopsi secara diam-diam, dibesarkan dalam kemewahan yang dingin, Yun Qi tumbuh dengan satu keyakinan: pria itu hanyalah pelindungnya. Kakaknya. Penyelamatnya.
Sampai ia dewasa… dan tatapan itu berubah.

Kebebasan yang Yun Qi rasakan di dunia luar ternyata selalu berada dalam jangkauan pengawasan. Setiap langkahnya tercatat. Setiap pilihannya diamati. Dan ketika ia mulai jatuh cinta pada orang lain, sesuatu dalam diri Hao Yu perlahan retak.

Ini bukan kisah cinta yang bersih.
Ini tentang perlindungan yang terlalu dalam, perhatian yang berubah menjadi obsesi, dan perasaan terlarang yang tumbuh tanpa izin.

Karena bagi Hao Yu, Yun Qi bukan hanya masa lalu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Ada sesuatu yang berubah setelah malam itu..Bukan perubahan besar yang bisa langsung ditunjuk dan diberi nama. Tidak ada pertengkaran lanjutan, tidak ada pengakuan baru, tidak pula jarak yang benar-benar memutus. Semuanya berjalan seperti biasa—terlalu biasa—dan justru itulah yang membuat Yun Qi gelisah.

Pagi datang dengan cahaya lembut yang menembus tirai apartemen. Yun Qi terbangun sebelum alarm berbunyi, matanya menatap langit-langit kamar cukup lama. Ia mencoba mengatur napas, menenangkan degup jantungnya yang masih terasa tidak stabil sejak percakapan dengan Hao Yu semalam.

Ia bangun, mandi, lalu mengenakan kemeja putih dan rok selutut. Rambutnya diikat rapi. Tangannya sempat berhenti di gagang pintu kamar, ragu untuk keluar. Namun ia tetap melangkah.

Hao Yu sudah ada di dapur.

Seperti biasa.

Ia berdiri membelakangi Yun Qi, menggulung lengan kemeja hitamnya hingga siku, menuang air panas ke dalam cangkir kopi. Gerakannya tenang, presisi—terlalu terkontrol, seolah setiap langkah sudah dihitung.

“Selamat pagi, Ge,” sapa Yun Qi pelan.

Hao Yu menoleh. Tatapannya singkat berhenti di wajah Yun Qi, lalu turun ke pakaiannya.

“Kamu sarapan di kampus atau di rumah?” tanyanya.

“Di rumah saja,” jawab Yun Qi.

Hao Yu mengangguk. “Duduk.”

Nada itu datar, tapi Yun Qi tetap menurut. Ia duduk di kursi bar, meletakkan tas di samping kakinya. Tidak ada percakapan lanjutan. Hanya suara sendok menyentuh piring, bunyi mesin kopi, dan jam dinding yang berdetak pelan.

Sunyi itu tidak canggung. Justru terlalu tenang.

Hao Yu meletakkan sepiring roti panggang dan telur di depan Yun Qi. “Makan.”

“Terima kasih,” kata Yun Qi.

Ia makan perlahan. Di sudut matanya, ia bisa merasakan tatapan Hao Yu—tidak terus-menerus, tapi cukup sering untuk disadari. Setiap kali Yun Qi berhenti mengunyah, Hao Yu akan mengangkat mata, seolah memastikan ia baik-baik saja.

Perhatian itu… membuat Yun Qi gelisah.

“Ge,” katanya akhirnya, memecah keheningan, “Ge tidak perlu selalu memastikan saya makan. Saya sudah dewasa.”

Hao Yu mengangkat alis. “Aku tahu.”

“Tapi Ge tetap melakukannya.”

“Karena kamu sering lupa,” jawabnya singkat.

Yun Qi terdiam. Itu benar. Ia tidak bisa menyangkal.

Setelah sarapan, Hao Yu mengambil jasnya. “Aku akan mengantarmu.”

“Saya bisa naik bus,” ujar Yun Qi refleks.

“Aku tahu.” Hao Yu mengenakan jam tangannya. “Tapi aku tetap akan mengantarmu.”

Tidak ada nada memaksa. Tidak ada ancaman. Hanya pernyataan.

Dan entah kenapa, itu lebih sulit ditolak.

Di dalam mobil, Yun Qi duduk di kursi penumpang depan. Hujan tipis turun, membasahi kaca, menciptakan garis-garis samar yang bergerak mengikuti wiper. Kota tampak abu-abu, sibuk, dan jauh—seolah dunia di luar mobil tidak benar-benar menyentuh mereka.

“Ge,” Yun Qi membuka suara, “tentang kemarin…”

Hao Yu tidak menoleh. “Kalau kamu belum siap bicara, kita bisa diam.”

“Itu bukan maksud saya.” Yun Qi menggenggam tali tasnya. “Saya hanya… ingin kita jelas.”

Hao Yu melambatkan mobil, lalu berhenti di lampu merah. Ia menoleh, menatap Yun Qi dengan serius.

“Jelas soal apa?”

“Batas,” jawab Yun Qi pelan. “Antara saya dan Ge.”

Hao Yu menatapnya beberapa detik. Lampu merah memantul di matanya, memberi kesan gelap.

“Kamu ingin batas seperti apa?” tanyanya.

Yun Qi terdiam. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan jawabannya. Yang ia tahu hanya satu hal: ia ingin bernapas tanpa merasa diawasi, tapi juga tidak ingin kehilangan rasa aman yang selama ini diberikan Hao Yu.

“Saya ingin tetap merasa aman,” katanya jujur, “tapi tidak merasa… dikendalikan.”

Hao Yu mengangguk pelan. “Itu adil.”

Yun Qi terkejut. Ia mengira akan ada perdebatan.

“Aku akan berusaha,” lanjut Hao Yu. “Tapi aku tidak bisa berjanji aku akan berhenti memperhatikan.”

Yun Qi menatapnya. “Kenapa?”

Karena aku tidak tahu bagaimana caranya, hampir saja Hao Yu menjawab. Namun yang keluar hanyalah, “Karena itu caraku menjaga.”

Lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju.

Yun Qi menatap jalan di depan. Perasaannya campur aduk—tidak puas, tapi juga tidak sepenuhnya kecewa.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola baru yang aneh.

Hao Yu tidak lagi bertanya terlalu detail tentang jadwal Yun Qi. Ia tidak menelepon sopir setiap jam. Namun ia tetap tahu kapan Yun Qi pulang terlambat. Tetap tahu kapan Yun Qi terlihat lelah.

Suatu sore, Yun Qi pulang dengan wajah pucat. Kepalanya pusing karena kurang tidur. Ia masuk apartemen dan langsung duduk di sofa, menutup mata.

Tidak sampai lima menit, Hao Yu keluar dari ruang kerjanya.

“Kamu sakit?” tanyanya.

“Sedikit pusing,” jawab Yun Qi.

Hao Yu mengambil termometer dari lemari obat—Yun Qi bahkan tidak tahu benda itu ada di sana. Ia mendekat, mengangkat dagu Yun Qi dengan jari telunjuknya secara refleks, lalu berhenti.

“Boleh?” tanyanya, suaranya rendah.

Yun Qi terdiam, lalu mengangguk.

Hao Yu menempelkan termometer ke dahi Yun Qi. Jarak mereka dekat. Terlalu dekat. Yun Qi bisa mencium aroma parfum Hao Yu yang samar, hangat, menenangkan—dan entah kenapa membuat dadanya bergetar.

“Tiga puluh tujuh koma lima,” gumam Hao Yu. “Kamu demam ringan.”

“Saya baik-baik saja,” ujar Yun Qi.

“Tidak,” bantah Hao Yu. “Kamu istirahat.”

Ia mengantar Yun Qi ke kamar, menarik selimut, lalu meletakkan segelas air di meja samping ranjang.

“Saya bisa sendiri,” kata Yun Qi.

“Aku tahu.” Hao Yu berdiri. “Aku di luar.”

Ia tidak duduk di samping ranjang. Tidak menyentuh lagi. Tapi keberadaannya terasa—kuat, stabil, sulit diabaikan.

Yun Qi memejamkan mata. Di dalam hatinya, ada rasa aman yang tidak ingin ia akui.

Malam itu, Yun Qi terbangun karena mimpi buruk.

Ia bermimpi tentang hujan, jalanan gelap, dan suara pintu yang tertutup keras. Napasnya tersengal saat terbangun, keringat dingin membasahi pelipisnya.

Ia duduk, memeluk lutut. Tangannya gemetar.

Tanpa ia sadari, pintu kamarnya terbuka perlahan.

Hao Yu berdiri di ambang pintu.

“Kamu mimpi buruk,” katanya, bukan bertanya.

Yun Qi mengangguk. “Maaf… saya membangunkan Ge?”

“Aku belum tidur.” Hao Yu melangkah masuk, berhenti di dekat ranjang. “Kamu mau air?”

Yun Qi mengangguk lagi.

Saat Hao Yu kembali dengan segelas air, Yun Qi menerima dengan tangan gemetar. Air itu menenangkan tenggorokannya, tapi tidak menghentikan perasaan kosong di dadanya.

“Ge,” katanya tiba-tiba, “kenapa Ge selalu ada setiap kali saya… seperti ini?”

Hao Yu tidak langsung menjawab. Ia duduk di kursi, jaraknya cukup dekat, tapi tidak menyentuh.

“Karena dulu tidak ada yang ada untukmu,” katanya akhirnya. “Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.”

Nada itu tenang. Tidak emosional. Tapi justru itulah yang membuat Yun Qi menelan ludah.

“Itu bukan tanggung jawab Ge sepenuhnya,” ujar Yun Qi.

“Aku tahu,” jawab Hao Yu. “Tapi aku memilih menjadikannya tanggung jawabku.”

Yun Qi menatapnya. Wajah Hao Yu terlihat lebih tua di bawah cahaya lampu kamar—bukan tua karena usia, melainkan karena beban yang ia pikul.

“Saya tidak nyaman,” aku Yun Qi jujur. “Kadang saya merasa… terlalu diperhatikan.”

Hao Yu mengangguk. “Aku tahu.”

“Tapi…” Yun Qi menarik napas, “…saya juga merasa aman.”

Pengakuan itu menggantung di udara.

Hao Yu tidak tersenyum. Tidak pula mendekat. Ia hanya berkata, “Aku akan menjaga jarak sejauh yang kamu bisa terima.”

“Dan kalau saya tidak tahu batas saya sendiri?” tanya Yun Qi lirih.

“Kalau begitu,” jawab Hao Yu pelan, “aku akan berdiri di tempatku sampai kamu menemukannya.”

Jawaban itu seharusnya menenangkan. Namun entah kenapa, Yun Qi merasa jantungnya berdegup lebih cepat.

Hao Yu berdiri. “Tidur. Aku ada di luar.”

Saat pintu kamar tertutup, Yun Qi kembali berbaring. Dadanya terasa hangat, tapi juga berat.

Ia aman.

Namun rasa aman itu datang dari seseorang yang perlahan mengambil lebih banyak ruang dalam hidupnya.

Dan Yun Qi mulai menyadari satu hal yang membuatnya takut:

Ia tidak lagi yakin apakah ia ingin Hao Yu menjauh.

1
cah gantenggg
semoga ceritanya bagus ,baru mampir author,sepertinya masih butuh up ,jangan panjang episodenya Thor ,biar gak bosan yg baca .
semoga novelnya seruuu
@fjr_nfs
tinggalkan like dan Komen kalian ☺❤️‍🔥
cah gantenggg: ceritanya terlalu kaku dan membosankan .maaf aku hapus dari daftar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!