NovelToon NovelToon
Sistem Reinkarnasi Lucia

Sistem Reinkarnasi Lucia

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Crazy Rich/Konglomerat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Masuk ke dalam novel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Chicklit
Popularitas:103.1k
Nilai: 5
Nama Author: Indirani

🏆 Juaranya 2 Lomba Tema Chiklit - Wanita Kuat S3

Aku Lucia. Seorang agent peringkat SSS di sebuah organisasi yang mengembangkan Sistem Reinkarnasi dunia modern di masa depan.

Masalah muncul pada dunia kecil yang terus bermunculan akibat manusia terus membuat novel dan komik.

Aku sebagai salah satu agent menjalankan reinkarnasi dan memainkan peran untuk mengubah isi novel atau komik karena permintaan dan ketidakpuasan pemeran pendukung pada bagian akhir cerita.

Aku bersama Momo si pendamping sistem menjelajahi berbagai dunia kecil dan dengan cepat meraih peringkat tinggi di organisasi.

"Nona, ada misi lagi. Wah, hadiahnya besar sekali kalau bisa menyelesaikan dengan peringkat sss."
Aku mendorong Momo ke pinggir hingga dia terjatuh karena kucing gemuk itu menutupi layar.

"Menjelajahi dunia kecil dan membersihkan sampah-sampah ini. Misi yang begitu mudah dengan hadiah yang besar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indirani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

"Nona, tapi adik laki-lakinya yang berusia 7 tahun itu bagaimana?" Momo mengingat hal penting yang hampir saja dilupakan oleh Lucia.

"Kita harus selamatkan bocah itu." Lucia dengan cepat berganti pakaian, memeluk Momo dan menghilang sekejab karena memakai cincin ruang dan waktu. Mereka tiba di belakang rumah Selviana dan ada sebuah gundukan yang sepertinya baru saja digali.

Lucia membuka gundukan tanah itu dan mengambil mayat Emir yang masih terasa hangat. Lucia mengambil ramuan penawar segala jenis racun dari sistem dan meminumkan sedikit pada Emir. Lucia meletakkan tangannya pada kepala Emir dan cahaya putih menyeruak dari sana.

Itu proses penyegelan ingatan agar Emir tidak mengingat keluarganya untuk sementara waktu. Tubuhnya mulai semakin menghangat dan kesadarannya akan pulih.

Segera Lucia menempatkan boneka dan mengubahnya menjadi tubuh Emir kemudian menempatkannya pada peti mati. Dia juga mengembalikan gundukan tanah seperti semula.

Lucia segera pergi dari sana dan muncul di sebuah Villa. Villa Lusiana. Dengan cepat dia mengubah penampilannya dengan rambut putih perak dan mata merah.

Tiba-tiba Emir yang berada digendongannya membuka mata dan melihat Lucia seperti bidadari yang cantik. Tapi itu hanya sebentar sebelum dia kehilangan kesadaran lagi

Dia menggedor pintu kamar Jasmine dengan heboh. Nampak Jasmine memakai baju tidur keluar dari kamarnya.

"Ah, Nona kapan anda datang?" Lucia langsung menyerahkan anak yang digendongnya pada Jasmine.

"Siapkan sebuah kamar untuk anak ini. Rawat dengan baik. Berikan makanan dan pakaian yang layak untuknya."

"Baik, Nona." Jasmine kemudian memerintahkan pelayan untuk menyiapkan sebuah kamar yang bersih untuk Emir tidur. Dia meletakkan bocah itu dikamarnya.

Lucia kembali lagi ke Istana Jasmine di kediaman Lamboerge dan keesokan harinya dia mengajari prajurit khusus pertarungan tangan kosong kembali.

Kali ini melalui layar lebar, Lucia menampilkan setiap gerakan yang dilakukan oleh seorang wanita berambut perak yang tidak lain adalah dirinya yang asli. "Ini adalah guruku, Lusiana. Kalian pelajari dengan baik setiap gerakan dan 4 jam lagi aku akan evaluasi gerakan kalian."

Selesai mengajari prajurit khusus, Lucia kembali ke Villa Lusiana untuk melihat Emir yang saat itu tengah makan siang. Emir yang melihat Lucia langsung memeluknya dan memanggil Lucia dengan panggilan yang membuat Lucia agak tertekan.

"Mama." Matanya yang bulat membuat Lucia tidak tega ingin mengatakan bahwa dia bukan ibunya. Lucia menggendong Emir dan membawanya ke meja makan untuk melanjutkan makan siangnya.

"Anak baik selesaikan makanannya. Aku ada urusan, untuk sementara tinggal dengan baik bersama bibi jasmine."

"Baik, mama," ucap Emir patuh.

"Wakakakakkakaka." Momo tak berhenti menertawakan Lucia yang dipanggil Mama oleh Emir. Suasana hati Lucia yang kesal langsung membuat tangannya bergerak memukul kepala Momo hingga benjol. Tawa pun berganti dengan tangisan dari Momo.

Lucia tiba di Restoran Bintang. Saat di sana seorang pelayan memberitahunya soal seorang tamu yang sering datang kini menunggunya di ruang VVIP.

Lucia mengintip di balik pintu. Seorang pria dengan rambut putih panjang dengan jubah putih perak tengah menunggunya sembari meminum teh yang telah disediakan.

Lucia langsung masuk dan menyapa pria itu. "Setiap hari ke Restoran Bintang apa tidak bosan?" Lucia langsung menarik sebuah kursi didepan pria tersebut dan duduk didepannya.

Pria tersebut nampak santai dan sesekali memejamkan mata dan melihat pemandangan indah dari balik jendela yang ada di sebelah kirinya. "Bagaimana bisa bosan jika ditemani oleh Lusiana?"

Jika bukan karena pria didepannya ini adalah seorang VVIP mungkin dia tidak akan menemaninya untuk minum. Pundi-pundi uang mengalir darinya dan mengisi kas Restoran Bintang.

"Sebenarnya bukan karena itu tapi Nona memang menyukai pria tampan. Semua pria tampan dia lahap."

"Lihat Lukas walau memiliki bekas luka di kulit wajahnya dia tetap tampan."

"Lalu Evan? Dia terlihat tampan dengan pribadi yang lembut. Valley seorang remaja pun tidak dia lepaskan karena wajah tampannya."

"Belum lagi dengan Emir, meski masih bocah dia merupakan bibit unggul. Lihatlah bocah 7 tahun yang imut dan menggemaskan itu."

"Frans? Sepertinya dia tidak masuk hitungan karena Lukas akan segera menghabisinya jika dia mendekati Nona dengan tujuan asmara."

"Dan sekarang seorang pemimpin organisasi Dewa yang sering kemari menghampiri Nona. Apa dia tidak punya kerjaan lain?"

"Tapi karena ketampanannya Nona tentu saja tidak akan menyia-nyiakan pemandangan indah itu dan menerima Ben dengan sukarela."

Narasi yang dibacakan oleh Momo tentu saja menarik emosi Lucia kepuncak. Dia mengambil sebuah benda dan melemparkannya mengenai kepala Momo hingga benjol.

Momo hanya berlari dan menangis akibat ulahnya sendiri yang memancing Lucia.

"Ternyata kau adalah Lucia."

Lusiana bingung mendengar kata-kata itu dan lantas langsung tertawa setelahnya. "Aku? Lucia? Yang benar saja? Keberuntungan apa aku bisa dilahirkan menjadi Lucia. Ah iya Lucia yang kau maksudkan itu Lucia Lamboerge kan?"

Ben menatap Lusiana dengan curiga sementara itu Frans mengintip dari balik pintu dan tercengang dengan percakapan kedua orang itu.

"Benar, kenapa aku melupakan fakta ini? Lucia dan Lusiana hampir mirip walau karakternya berbeda. Jika Lucia terlihat anggun dan perkasa dalam waktu bersamaan sedangkan Lusiana memiliki kepribadian yang santai."

"Tapi kenapa aku selalu melupakan Lucia saat bersama Lusiana dan melupakan Lusiana saat bersama Lucia."

Frans berkata di pikirannya.

Sementara itu Lukas yang ada dibelakang tidak tahu percakapan sebelumnya dan langsung masuk ke ruang VVIP setelah melihat Ben yang tengah duduk bersama Lucia.

"Sebenarnya Lucia itu muridku, jadi mungkin ada sedikit kemiripan." Frans, Ben, dan Lukas tidak menyangka.

Terutama Lukas dan Frans yang langsung berteriak, "apa?" Lukas segera duduk di sebelah Lucia. Frans juga duduk di sebelah kanan Lucia.

"Jadi kau adalah guru Lucia? Aku memang sudah menduga kalau kau mirip seseorang. Sekarang aku ingat kau memang begitu mirip dengan Lucia Lamboerge," ucap Frans yang antusias

Lukas menatap Ben dengan ganas sementara itu dia semakin mendekatkan tubuhnya pada Lucia. "Kau hampir setiap hari selalu datang dan mengganggu Lusiana. Apa kau tidak bosan menerima penolakan terus dari Lusiana?"

Entah sejak kapan teh yang berada di tangan Ben sudah menjadi segelas anggur yang manis. Dia terus menggoyangkan gelas anggur agar cairan merah tersebut semakin bertambah nikmat.

"Batu yang keras saja jika terus menerus disirami air akan pecah apalagi hati seseorang." Ben menenggak anggur dengan sekali tegukan. Rasa manis dan hangat memenuhi rongga dadanya.

Lukas masih menatap Ben yang terlihat tak peduli dengan pandangannya. "Sepertinya aku harus pergi sekarang." Ben langsung berdiri dan meninggalkan mereka. "Kenapa aku masih curiga ya kalau Lucia dan Lusiana itu adalah orang yang sama?"

Lucia memang merasakan suatu perasaan yang akrab pada Grandmaster itu tapi dia tahu betul bahwa perasaan itu bukanlah cinta lebih kepada seseorang yang telah lama dia kenal.

Dia menatap Lukas di sebelahnya yang nampak cemburu. Bukannya Lucia tidak tahu bahwa pria itu mencintainya tapi Lucia tidak mau terikat dengan cinta.

Setelahnya Frans dan Lukas memberondong wanita itu dengan pertanyaan mengenai hubungannya dengan muridnya Lucia yang tentu harus ditutupi Lucia dengan kebohongan juga.

1
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
ingat Lucia pria itu Oyen🤣🤣🤣
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
kaya mendadak🤣🤣
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
wah² apa kh itu jodohnya Su Lu Xia🤭🤭🤭
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
Selir pencuri🤭🤭
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
selir yg licik
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
cerita baru pula
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
Sedihnya😭😭😭
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
hebat
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
bgus klau d hukum penggal terus😌
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
kakaknya Lois paling begok.. knp ngak diam saja😌
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
kejahatan Ayah Lucia lagi teruk, selama 14thn d abaikn smpai Lucia asli meninggoi, Ayahnya memang ngak layak d maafkn..
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
sedihnya wajar sekali klau Lucia marah, mereka tau semua kejadian apa lagi saat hampir d perkosa, dan mereka buat tidak tau saja 😣😣😣
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
aduiii kenapa bisa Thor kesian anat Emilia, kenapa ngak yg lain aja😣😣😣
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
lucu pula nama kluarga Lee🤭🤭🤭sdh lucu licik lagi.
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
hebat
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
mesti c Sok cantik kegatalan tu😤
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
ceh percaya diri sungguh
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
🤣🤣🤣🤣Momo pengkhianat🤣🤣🤣🤣
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
Lois jgn terlalu benci adik mu🤭
JanJi ◡̈⋆ⒽⒶⓅⓅⓎ😊
sepatutnya bgi Misi bagi Duke menderita ck ck 😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!