Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Kediaman Adhitama dikelilingi taman luas dan dijaga ketat. Di salah satu kamar utama yang luas, Kaisar mondar-mandir tak tentu arah.
Sudah seharian penuh ia mengurung diri di balik dinding kamar yang dipenuhi fasilitas mewah itu, tetapi ia gagal menemukan ketenangan.
Pikirannya dipenuhi satu nama, Aisya.
Lengan kirinya, yang terbalut perban tipis, terasa berdenyut, tetapi rasa sakit fisik itu tak seberapa dibandingkan gejolak di dadanya.
Kaisar bisa saja melacak dan mendatangi Aisya kapan pun ia mau, kekuatan finansial dan koneksinya memungkinkan hal itu. Namun, ia menahan diri. Kaisar sadar betul batasan itu. Aisya adalah milik orang lain, terikat janji suci dengan suaminya.
“Sial!” gerutu Kaisar frustrasi. Ia mengacak rambut gondrongnya yang sudah berantakan. Lalu, menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang berukuran king size.
Ini adalah pertama kalinya ia merasakan patah hati yang begitu menyakitkan, dan ia membenci perasaan tak berdaya itu.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya. Pintu terbuka perlahan, dan Desi, ibunya, masuk dengan membawa nampan berisi teh herbal hangat. Desi adalah wanita anggun yang terlihat awet muda, meskipun usianya sudah matang.
“Kamu belum makan lagi, Sayang. Mama bawakan teh hangat, ya,” ucap Desi lembut sambil meletakkan nampan itu di meja samping ranjang.
Kaisar hanya mengangguk tanpa menatap ibunya. Hubungan mereka kaku, terjalin dalam jarak yang dingin.
Desi menarik kursi, duduk di dekat Kaisar. Matanya memancarkan kesedihan. Ia menatap putranya yang kini sudah dewasa, berusia hampir tiga puluh dua tahun, tetapi masih memilih untuk hidup sendiri.
“Mama lihat kamu tidak keluar kamar seharian. Ada masalah? Atau kamu sedang memikirkan seseorang?” tanya Desi hati-hati.
Kaisar menghela napas malas. Ia tidak ingin membahas Aisya dengan siapa pun, apalagi dengan ibunya.
“Tidak ada apa-apa. Kaisar hanya sedang lelah.”
Desi menautkan kedua tangannya. “Lelah? Sampai kapan kamu mau menyendiri terus, Nak? Lihat teman-teman seangkatanmu, mereka sudah punya anak dua, bahkan tiga.”
Pertanyaan tentang pernikahan selalu menjadi topik sensitif antara mereka. Desi sangat mendambakan Kaisar segera menikah dan memberinya cucu.
“Mama, jangan bahas itu lagi. Kaisar belum menemukan yang tepat,” jawab Kaisar dingin.
“Yang tepat bagaimana, Sayang? Yang kamu cari itu wanita, bukan bidadari turun dari langit. Kamu sudah sukses, sudah kaya raya. Kamu pantas bahagia. Mama hanya takut, kamu terlalu lama sendiri. Nanti tua kesepian.” Desi menasihati, nadanya terdengar memelas.
Kaisar tidak merespons, hanya menunduk. Ia tahu Desi benar, tetapi ia tidak bisa membohongi perasaannya. Baru kali ini, setelah sekian lama, ia menemukan wanita yang terasa ‘tepat’, dan wanita itu sudah menjadi istri orang.
“Mama tahu kamu pasti sedang gelisah. Mama juga tahu kamu belum bisa melupakan masalah yang dulu,” lirih Desi, menggenggam tangan Kaisar.
“Mama minta maaf. Mama tahu mama pernah melakukan kesalahan. Tapi tolong, jangan hukum diri kamu sendiri dengan kesendirian ini,” lanjut Desi dengan berderai air mata.
Masalah yang Desi maksud adalah keputusan Desi untuk menikah lagi beberapa tahun lalu, tak lama setelah ayahnya meninggal. Keputusan itu membuat Kaisar marah dan menutup diri.
Meskipun Desi sudah meminta maaf berkali-kali, Kaisar tidak pernah benar-benar memaafkan, dan hubungan mereka menjadi dingin sejak saat itu.
Kaisar bangkit, berjalan menuju jendela kaca besar, memandang ke luar.
“Sudahlah, Ma. Jangan bahas masa lalu. Itu sudah lewat.”
Desi menghela napas, putus asa. Ia tahu ia tidak bisa memaksa. Ia kemudian mengubah topik.
“Kalau kamu memang sedang bingung dan tidak bisa tidur, kenapa kamu tidak coba salat, Nak? Minta petunjuk pada Allah. Mintalah diberikan ketenangan dan jodoh yang baik. Mama yakin, Allah tidak akan tidur.”
Kaisar hanya mengangguk kecil tanpa menoleh. “Iya. Nanti Kaisar pikirkan.”
Mendengar respons datar dan tanpa antusiasme itu, hati Desi kembali perih. Ia merasa gagal sebagai ibu.
Desi berdiri, mengambil nampan teh yang masih utuh.
“Baiklah, Mama keluar dulu. Jangan lupa makan, ya. Kalau ada apa-apa, panggil Mama.”
Desi melangkah keluar kamar. Sebelum menutup pintu, ia menoleh sebentar, menatap punggung putranya yang terlihat kokoh namun kesepian.
Lantas, Desi menutup pintu dengan wajah sedih.
Sepeninggalan ibunya, Kaisar kembali duduk di ranjang. Ia meraih teh yang sudah dingin, meminumnya perlahan. Ia tahu ia membuat ibunya sedih, tetapi ia belum bisa membuka diri.
Kaisar terlalu terluka oleh masa lalu dan kini, ia kembali terluka oleh kenyataan baru bernama Aisya.
“Haruskah aku melupakannya?” gumam Kaisar.
Bagaimana mungkin ia bisa melupakan Aisya, jika bayangan mata teduh wanita itu terus menari-nari di benaknya, seolah memohon pertolongan yang tidak bisa ia berikan?
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣