Manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Namun bagaimana jika seseorang di tuntut untuk selalu sempurna?
Arkabian Selat Muara. Ketua besar dari ALTARES Gang. Laki-laki yang memiliki paras hampir sempurna di SMANBA. Hal yang paling tidak ia sukai adalah, ada orang yang mengusik kehidupannya.
**
"Menurut lo cinta itu apa?"
"Cinta itu luka, cinta itu sakit. Dunia itu jahat Lun, kita dipertemukan oleh semesta tapi tidak ditakdirkan bersama."
Akankah kehadiran seseorang mampu membuat Arka berubah? Yuk baca dan pergi ke dunia Arka»
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ejubestie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Ketemu
Malam semakin larut. Tetapi Luna masih belum ditemukan. Pencarian akan terus berlanjut, Reyhan membawa polisi terbaik di kota ini untuk mencari putrinya. Altares juga sudah mencari di markas-markas geng motor sekitar namun belum ditemukan, bahkan Bayu ikut berada disini untuk mencari gadis itu.
"Ka, tenang, lo pasti bisa kok nemuin Luna," ujar Alga.
"GUE NGGAK BISA TENANG, BANGSAT. LUNA HILANG DAN GUE NGGAK BECUS LINDUNGIN DAN JAGA DIA SAMPAI-SAMPAI DIA HILANG KAYAK GINI! PUKUL GUE, AL, PUKUL."
"Gue gagal, Al."
Alga terkejut karena suara tinggi Arka dan lirihnya. Apakah Arka memiliki perasaan yang spesial buat gadis itu.
"Gue nggak bakal maafin siapapun itu, Al, yang berani nyentuh Luna!" kata Arka dengan wajah merah padam.
Setelah itu pencarian kembali berlanjut. Arka bahkan tidak beristirahat sejak tadi, cowok itu tidak bisa tenang sebelum melihat Luna baik-baik saja.
"Arka," panggil Reyhan pada cowok itu.
"Om Rey. Sebelumya saya minta maaf, saya nggak bisa menjaga amanah yang di berikan sama, Om." kata Arka.
"Apa kamu menyukai putri saya?" tanya pria itu tiba-tiba.
Arka sempat terkejut namun setelahnya cowok itu terdiam, "Arka, nggak tau."
"Kamu simpan jawaban kamu, Ka. Karena saya bakal mengajukan pertanyaan itu kembali suatu saat," ujar Om Rey. Lalu pria itu pergi kembali mencari putrinya.
Setelah Om Rey pergi, Bayu mendatangi Arka bermaksud menanyakan sesuatu.
"Kenapa bisa hilang?" tanya Bayu berkali-kali kepada Arka. Namun Arka hanya menatapnya tajam, cowok itu sama sekali tidak berminat untuk berbicara dengan nya.
"Arka, gue nanya—"
"GUE NGGAK TAHU, BANGSAT. JANGAN BIKIN GUE EMOSI BISA?!"
Bayu mengerjab beberapa kali saat Arka berbicara dengan nada tinggi.
Cowok itu terlihat begitu marah dan hampir tidak bisa mengendalikan emosinya. Bayu membiarkan cowok itu pergi dari hadapannya, dari sini ia bisa menyimpulkan jika Arka memang menyukai Luna bukan Lolly.
"Sebegitu spesialnya Luna di hati lo, Ka?" gumam Bayu lirih.
...*****...
Perempuan dengan seragam abu-abu mulai membuka matanya. Tidak ada cahaya sama sekali disana, hanya ada cahaya dari rembulan yang samar-samar. Perempuan itu meringis merasakan pusing di kepalanya.
Gue dimana ya? Batinnya.
Luna mengingat kembali kejadian saat pulang sekolah. Ia melihat sosok perempuan yang mendekat, namun Luna tidak bisa mengenali wajahnya karena membelakangi cahaya.
"Ayah...," teriak Luna saat mendengar beberapa barang terjatuh. Mungkin kardus-kardus itu tersenggol oleh tikus penghuni gudang ini.
Walaupun itu seekor tikus, Luna tetap takut. Perempuan itu juga tidak suka gelap. "Ayah, Luna takut," gumamnya.
Deru nafasnya mulai tidak terkontrol, keringatnya bercucuran membasahi seragam sekolahnya. Dadanya semakin sesak sekarang. Luna lupa dimana ia meletakkan inhaler yang biasa ia bawa ke sekolah.
"Ayah, Luna sakit," lirih Luna karena tangan dan kakinya di ikat di kursi. Semakin ia bergerak semakin sakit pergelangan tangannya.
"Arka, lo dimana?"
"Lo nggak mau nolongin gue lagi, ya?"
Entah kenapa dipikirkan Luna terbayang sosok Arka. Walaupun cowok itu menyebalkan, tetapi Arka juga pernah melindunginya. Dan Luna berharap malam ini ada malaikat berwujud manusia yang akan menolong dirinya.
Sudah lama rasanya namun belum ada orang yang menemukan Luna. Perempuan itu bahkan sudah hampir kehabisan nafas karena debu-debu yang banyak. Karena sudah tidak kuat lagi, perempuan itu kehilangan kesadarannya.
Arka. Cowok itu sedang berdiri di rooftop sekolahnya. Pikirannya benar-benar kacau. Ia membuka ponselnya yang ternyata banyak sekali pesan dari orang tuanya, Arka memang tidak mengabari kedua orang tuanya jika pergi ke basecamp.
"Gudang."
Arka melihat tempat itu dari atas. Sepertinya ia lupa dengan satu tempat itu karena memang jarang yang lewat belakang sana.
Setelah selesai mengetikan pesan, Arka segera bergerak menuju gudang. Bagaimana bisa ia mulupakan tempat yang satu itu?
Sampai depan gudang Arka sudah mendapati semua ALTARES ada disana bahkan Om Rey dan beberapa polisi sudah berada disana.
"Gimana, nggak bisa di buka?" tanya Arka saat melihat semua hanya terdiam saja.
"Pintunya di gembok, Ka, kita udah dobrak beberapa kali tapi pintunya masih belum mau terbuka." kata Devano.
Arka berkeliling melihat celah untuk masuk, namun yang ia lihat hanya sebuah jendela.
Pyarr
Tanpa berpikir dua kali, Arka melempar sepatunya untuk memecah salah satu kaca itu. Karena tidak mau mengulur waktu lebih lama, Arka masuk lewat fentilasi yang kacanya pecah, cowok itu tidak peduli jika tubuhnya terkena pecahan kaca.
Arka merogoh sakunya dan mengambil sesuatu, cowok itu menyalakan flash handphone sebagai penerangan. Mata Arka berkaca-kaca saat melihat sosok perempuan yang tidak sadarkan diri dan diikat di kursi.
"Una.."
Arka melepaskan semua ikatan itu, hatinya tergores saat melihat tangan gadis itu merah, mungkin karena perempuan itu berusaha melepaskan diri sendiri.
"Na, bangun," lirihnya. Arka menjadikan pahanya sebagai bantal agar perempuan itu nyaman walaupun matanya masih tertutup.
"Lo pasti kuat. Lo perempuan hebat, Na."
"Maaf kalau gue selalu nyakitin hati lo, sekarang lo bangun dan pukul wajah gue, Na."
Arka terus berbicara sendiri walaupun tau perempuan itu tidak akan menjawabnya.
Brak!
Akhirnya pintu terbuka. Bisa di lihat Om Rey menghampiri mereka dengan wajah tak kalah panik saat melihat putrinya tak sadarkan diri.
"Bawa ke rumah sakit, Ka," kata pria itu pada Arka.
Arka mengangguk. Cowok itu menggendong Luna ala bridal style. Arka dengan cepat membelah kerumunan itu lalu di ikuti oleh Reyhan dari belakang. Mereka menuju rumah sakit menggunakan mobil milik Reyhan, setiap detiknya Arka merasa cemas.
Bohong jika Arka tidak khawatir, bohong jika Arka tidak peduli dengan perempuan itu.
Tak butuh waktu lama mobil sampai di rumah sakit, Arka menggendong Luna dan orang suruhan Om Rey membukakan pintu rumah sakit. Saat masuk ke dalam sudah terdapat beberapa perawatan membawa brankar dan meletakan Luna di atasnya.
"Tolong tangani dia secepatnya!" perintah Arka saat melihat dokter mendekat.
"Akan saya usahakan," jawabnya.
Malam pukul 00.20, suasana rumah sakit begitu sepi dan tegang. Arka tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Luna.
"Ka, sebaiknya lo pulang, kita semua bisa bergantian menjaga Luna disini." kata Alga. Cowok itu juga cemas melihat kondisi ketua Altares yang seperti orang gila. Arka bahkan belum makan apapun saat berada di basecamp tadi.
"Gak bisa, Al. Gue bakal disini sampai Luna bangun," ujar Arka.
"Arka," panggil pria paruh baya itu.
"Lebih baik kalian semua pulang. Om ucapkan terimakasih karena sudah membantu, Om, buat mencari Luna. Kalian pasti lelah dan butuh istirahat." kata Reyhan.
Arka menggeleng, "Nggak, Om, Arka mau disini sampai Luna bangun."
"Arka,"
"Nggak bisa, Arka harus liat Luna bangun."
"Ini perintah dari saya," kata Reyhan. Arka langsung terdiam mendengar itu. Tidak ada yang bisa melawan perintah pria itu, meskipun itu Arka sendiri.
Mau tidak mau Arka dan Altares harus pulang. Keluarga mereka juga pasti khawatir jika mereka berlama-lama disini tanpa mengabari mereka. Dengan terpaksa Arka meninggalkan rumah sakit.
"Gue mau saat gue datang lagi lo harus udah bangun, Na."
semangat kak... ☺