Biantara Imam Wijaya, seorang ketua genk motor The Moge yang melakukan perjalanan menuju kota Yogyakarta untuk mencari Fahri, bendahara keuangan The Moge yang membawa kabur uang senilai ratusan juta rupiah.
Dalam perjalanannya menuju mencari Fahri, ia di pertemukan dengan seorang gadis cantik yang bernama Annisa, yang merupakan seorang guru ngaji di kampungnya. Mampukah Bian menaklukan hati Annisa? dan mampukah Bian menemukan Fahri?
Cerita selengkapnya ada di Ride to Jogja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"DIMANA BIAN?"
Kilatan kemarahan terpancar jelas di mata Caroline, ia berjalan angkuh memasuki ruang kerja Bian. Widya memutar bola matanya, 'Uuuh mau apa lagi sih si ulet keket ini, menganggu pekerjaan aku saja!' batin Widya, sembari menghembuskan napas beratnya kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan berlari menghampiri Caroline.
"Pak Bian masih di Korea," jawab Widya berbohong. "Setelah kemarin akundan pak Bian berlibur, Pak Bian meneruskan urusan bisnisnya di Busan, sementara aku kembali ke Jakarta karena aku harus menghadiri meeting penting untuk menggantikan pak Bian."
Caroline berbalik menghadap Widya yang berada di belakangnya, dengan tatapan tajamnya ia terus mendekat dan mendesak Widya ke dinding. "DIAM KAU SILIMAN ULAR!! AKU SUDAH TIDAK TERTIPU LAGI DENGAN OMONG KOSONGMU ITU, AKU TAHU KAU DAN BIAN TIDAK ADA HUBUNGAN APA-APA SELAIN ATASAN DAN BAHAWAN!!!" bentak Caroline, ia menudingkan jari telunjuknya ke arah Widya.
Widya sama sekali tak gentar menghadapi Caroline, ia tampak santai dan tak sedikitpun menunjukan raut ketakutannya. "Kalau anda tidak percaya ya sudah, aku pun tidak meminta anda percaya dengaku. Yang penting kami bahagia," ucap Widya semabri tersenyum, ia mencoba melepaskan diri dari Caroline, namun ternyata Caroline semakin marah dan terus mendesaknya, bahkan Caroline nyaris mencekiknya.
"BERHENTILAH BERSANDIWARA, KARENA AKU TAHU SAAT INI BIAN SUDAH MENIKAH!!" teriaknya semakin tak terkendali. "JIKA TIDAK ADA DI KANTOR, BERARTI SAAT INI BIAN ADA DI RUMAHNYA, BERSAMA ISTRI SIALANNYA ITU!!" Carolune melepaskan Widya, kemudian ia bergegas keluar dari ruang kerja Bian.
"Ulat keket tungggu!!" teriak Widya sembari mengejar Caroline. "Pak Bian tidak ada di rumahnya, beliau sedang berlibur...."
Sepertinya teriakan Widya tak terdengar oleh Caroline sebab Caroline lebih dahulu masuk ke lift dan menutupnya. Berkali-kali Widya memencet tombol lift namun pintu tak kunjung terbuka, hingga beberapa menit kemudian barulah terbuka dan Widya langsung masuk. "Semoga aku bisa mengejarnya sebelum, ulat keket itu tiba di rumah pak Bian," gumam Widya.
Begitu pintu lift terbuka, Widya berlari menuju lobby, sayangnya mobil Caroline terlihat sudah keluar dari kantor. Widya menoleh ke kanan dan ke kiri, ia berpikir akan membuthkan waktu yang lama jika ia ke parkiran karyawan untuk mengambil mobilnya. Kebetulan ia melihat, mobil mantannya terpakrir di lobby, ia pun bergegas menyelinap masuk saat mantannya turun dari mobil. "Hai mantan, aku pinjam dulu ya mobilmu," ucap Widya, ia langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi.
"Hei Widya, dokomenku masih ada di mobil...." teriak pria itu, sayangnya Widya tak mendengarnya.
Widya hanya melihan mantannya dari kaca spion, kemudian fokus pada jalanan untuk mengejar Caroline. "Cepat sekali ternyata ulat keket itu," gumam Widya, ia tersenyum ketika mobil Caroline mulai terlihat.
Sayangnya senyum itu hanya sesaat sebab di depan ada perempatan lampu merah, dan Caroline berhasil melaluinya sementara dirinya harus berhenti sebab lampu berubah menjadi warna merah dan terdapat polisi di depannya. "Sial..."
Tak hilang akal, Widya merogoh handphonenya di saku, ia mencoba mencoba menghubungi Bian, untuk memberi tahunya jika saat ini Caroline tengah menuju kediamannya.
"Kemana sih pak Bian, kok enggak di angkat-angkat teleponnya?"
...****************...
"Maria, biar aku saja yang menyiapkan sarapan untuk bapak," ucap Annisa mengambil alih pekerjaan asisten rumah tangga di kediaman Bian, ia mengatakan kepada asistennya jika mulai sekarang urusan dapur biar menjadi urusannya. Annisa sangat senang jika Bian memakan masakan buatannya, dan ia pun bisa sekalian mengontrol asupan gizi pada piring makan suaminya.
"Baik bu, Maria ke belakang dulu ya bu, mau menyiram tanaman, sekalian memberi makan ikan."
Annisa mengangguk, kemudian ia melanjutkan lagi membuat sup untuk suaminya. "Suamimu mana nak?" tanya Sekar, berjalan ke arah dapur, ia hanya melihat putrinya tengan memasak dan asistennya yang baru saja keluar dari dapur.
"Mas Imam lagi di mushola bu, shalat dhuha," jawab Annisa.
"Loh kamu tidak ikut shalat?" tanyanya sebab biasanya Annisa selalu ikut shalat bersama suaminya.
"Pagi ini aku baru saja datang bulan bu..."
Di tengah obrolannya bersama sang ibunda, Annisa mendengar suara ribut-ribut dari depan kediamannya. "Ada apa ya bu?" Annisa mendengar suara teriakan seorang wanita di susul dengan suara klakson mobil tak hentinya berbunyi depan kediamannya.
"Aku lihat dulu ke depan ya bu," ucap Annisa. "Ini supnya tinggal nunggu sayurnya empuk saja." Annisa meminta ibundanya untuk mematikan kompor jika sup huatannya sudah matang. "Nanti biar Nissa saja yang menyiapkan di piring saji," ucapnya sebelum ia beranjak dari dapur.
Annisa menyambar hijabnya yang ia gantung di gantungan dekat dapur, barulah ia keluar menghampiri sumber keributan di depan kediamannya. "Ada apa mang Udin?" tanya Annisa pada security yang bekerja di kediamannya.
Mang Idin terlihat sangat gugup melihat Annisa keluar dari pintu depan. "Enggak ada apa-apa bu, bu Nissa masuk saja!" pintanya. "Biar saya yang mengurusnya," ia terlihat panik sebab ia sudah mencoba mengusir Caroline sesuai perintah Bian namun Caroline yang tak terima di usir oleh Mang Udin malah membuat keributan.
"Loh itu ada tamu kenapa tidak di buka?" Annisa semakin mendekat ke arah pagar.
"Enggak usah bu, nanti saya suruh pergi saja." Mang Udin semakin panik, dengan desakan suara klakson mobil Caroline dan Annisa yang memintanya untuk membuka pagar. "Buka, mang Udin!" ucap Annisa dengan tegas.
Tak ada pilihan lain mang udin pun membukanya, dan Caroline langsung melajukan kendaraannya masuk ke diaman Bian. Caroline berhenti tepat di depan Annisa, kemudian bergegas turun dan menghampirinya.
"APA LOE YANG NAMANYA ANNISA?" TERIAK CAROLINE.
"Ya," jawabnya dengan tenang meski kobaran kemarahan terlihat di wajah lawan bicaranya. "Mba ini siapa dan ada keperluan apa di rumah saya?"
"SAYA CALON INSTRINYA BIANTARA IMAM WIJAYA!! DAN SAYA KEMARI INGIN MENGAMBIL KEMBALI POSISI SAYA YANG TELAH KAMU REBUT!" Caroline menatap tajam ke arah Annisa.
"Merebut? Maksud mba apa? Mari kita bicarakan masalah ini baik-baik di dalam, aku yakin, ini pasti ada kesalahan," Annisa masih berusaha untuk tetap tenang meski hati sangat terluka ketika wanita itu mengaku sebagai calon istri dari suaminya.
"YA, KESALAHAN ADA APA DIRI LOE YANG ENGGAK TAHU DIRI MEREBUT CALON SUAMI ORANG." Bentaknya semakin tak terkandi. "WANITA KAMPUNG TIDAK TAHU DIRI, BERANINYA KAU MEREBUT BIAN DARIKU!!" Caroline mendaratkan satu tamparan keras ke wajah Annisa.
"HENTIKAN CAROLINE...!" Bian yang baru saja keluar melalu pintu samping langsung menghampiri Caroline yang memanpar istrinya.
Widya pun yang baru saja tiba, dan menyaksikan kejadian itu tak kalah terkejutnya karena Caroline berani menampar Annisa.
kirain ada kelanjutannya lagi
padahal masih seru ,
pengin tau anak²nya setelah pada dewasa tuh gimana .
tapi best banget , happy ending.
sukses selalu kak author nya
haduh.
250jt dibilang uang receh
haduh...
receh tuh yg koin² itu Bambang itu mah kertas semua
Banyak pesan juga dari novel ini...👍👍
Terimakasih Ka Irma untuk karyanya...semngat terus untuk karya selanjutnya...