Kepulangannya dari luar negri disambut oleh berita kebangkrutan perusahaan keluarga. Hanya ada satu pengusaha yang sudi menolong keluarganya.
Alice menyetujui pernikahan dengan cucu dari pengusaha Wijaya, meski harus mendapatkan perlakuan dingin dan kejam.
Perlahan keduanya menjalin hubungan baik, hingga membuat Alice berharap rumah tangga bahagia yang diimpikannya terwujud, namun semua hancur saat Kenan mengatakan akan menikahi mantan kekasihnya yang sedang hamil.
Apakah Alice menerima pernikahan kedua Kenan atau pergi jauh meninggalkannya dengan membawa separuh jiwa Kenan yang tumbuh didalam rahimnya?
Bagaimana perjuangan Kenan setelah mengetahui jika Alice tengah mengandung? Apakah tetap bersama kekasihnya atau pergi mencari sang istri?
Ikuti terus kisahnya, jangan lupa beri dukungan. Berikan kritik & saran yg baik.
IG : frd_95
FB : Momy Ida
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy Ida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Menyesal Tuan
Happy Reading 🌹🌹
Waktu berlalu, hubungan Kenan dan Alice kembali menjadi dingin setelah kejadian tempo lalu. Tidak ada obrolan selain masalah pekerjaan dan itu hanya di kantor saja mereka berkomunikasi selebihnya hanya diam seribu bahasa.
Bagaimana dengan kebiasaan Kenan menurunkan Alice di tengah jalan? Tentu saja masih berlaku, bahkan Ken tidak segan menurunkan Alice meski belum ada 500m jaraknya dari mansion.
Alice hanya menerima saja dan berjalan menuju tempat di mana biasanya Bara menjemputnya.
Terdengar suara klakson mobil mengagetkan lamunan Alice, "Nona Alice." Panggil Jundi dari dalam mobil.
"Eh, iya." Jawab Alice kaget.
Jundi membuka pintu dan berjalan menuju Alice, "Ayo segera masuk." Ucapnya.
"Di mana Tuan Bara?" Tanya Alice dengan mengerutkan keningnya.
"Tuan Bara sedang pergi ke luar negri sejak semalam karena perusahaan induk sedang ada masalah." Jawab Jundi jujur.
Alice hanya ber oh ria saja dan segera masuk di bangku belakang.
Mobil yang di kendarai Jundi segera melaju menuju perusahaan Wijaya.
"Kenapa Tuan Jundi tidak ikut Tuan Bara?" Tanya Alice pelan.
"Tuan Bara hanya sebentar dan perusahaan di sini juga tengah banyak pekerjaan sehingga kami berpisah sementara waktu agar pekerjaan cepat selesai." Jawab Jundi panjang lebar.
Alice menganggukkan kepalanya saja, beruntung pagi ini Ken lebih pagi keluar dari mansion sehingga Alice tidak terjebak macet.
"Terima kasih, Tuan Jundi." Ucap Alice sebelum keluar dari dalam mobil.
"Sama-sama Nona." Jawab Jundi dengam menoleh ke belakang.
Pintu mobil tertutup, Jundi belum pergi dari depan perusahaan Wijaya melainkan mengambil foto Alice dari belakang.
Terlihat Alice di hampiri seorang wanita bahkan mereka berpelukan sebentar, tidak luput dari jepretan kamera ponsel milik Jundi.
Segera Jundi mengirimkan pesan kepada Bara, dengan sedikit cekikikan di dalam mobil.
"Tuan, misi sukses. Saya mengantarkan Nona Alice dengan selamat dan tidak ada yang lecet sedikitpun."
"Bagus."
"Tapi Tuan, hari ini Nona Alice sangat cantik dan harum sehingga mobil Anda menjadi wangi."
"Jaga matamu dan tutup hidungmu."
"Aku memiliki foto Nona Alice pagi ini."
"Kirimkan padaku."
"Tidak! Sebelum Tuan memberi waktu saya libur 2 minggu tahun ini."
"Kau cari mati."
"Bagaimana Tuan?"
"Baiklah."
Terlihat Jundi bersorak ria di dalam mobil Bara, dan dengan senang hati. Mengirimkan foto Alice yang dia ambil dari belakang kepada Bara.
"Siapa wanita yang memeluk Alice?" Tanya Bara pada pesan singkatnya.
"Tidak tahu Tuan, mungkin teman kantornya." Jawab Jundi.
"Hem, mulai besok kamu tidak perlu lagi datang ke perusahaan Jundi."
Membaca pesan Bara membuat kening Jundi berkerut, kenapa memberi waktu libur secepat ini.
"Saya tidak mengambil hari libur saya besok, Tuan."
"Tidak perlu mengambil hari libur, karena kamu Saya pecat!"
Karena kaget membuat ponsel Jundi tergelincir dari tangannya, "Astaga!"
Segera Jundi menelfon nomor atasannya, namun hanya suara operator yang dia dengar. Nomor Bara tidak aktif setelah mengirimkan pesan singkat yang sangat horor bagi Jundi.
"Sepertinya aku membangunkan singa jantan, hisss... Ayo berfikirlah Jundi." Ucap Jundi frustasi mengacak rambutnya di dalam mobil.
Sedangkan di dalam perusahaan Wijaya, terlihat Alice dan Mutia bercengkrama ringan menuju ruangan mereka masing-masing.
Perlahan Alice mulai membuka dirinya untuk lingkingan sosial, menerima ajakan Mutia makan siang dan berlanjut sering oergi ke cafe meski hanya sekedar minum kopi saja.
"Nanti kita makan siang bareng ya." Ucap Mutia dengan lembut.
"Emm, semoga saja pekerjaanku tidak banyak." Jawab Alice.
"Semangat, pasti kamu sangat lelah menjadi sekertaris Pak Kenan." Ucap Mutia dengan menepuk pundak teman barunya.
Alice hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Mutia, tidak hanya lelah secara fisik namun juga batin.
Keduanya berpisah saat Mutia telah sampai di devisi keuangan sedangkan Alice masih harus menaiki beberapa lantai lagi menuju ruang kerjanya.
...***...
Makan siang telah tiba, Alice segera mematikan komputer dan bersiap turun ke cafetaria bersama Mutia.
"Tia, aku akan turun ke cafetaria." Isi pesan singkat Alice.
"Baiklah, aku akan menyusul sebentar lagi." Balas Mutia.
Alice segera memasukkan ponselnya ke dalam saku jas dan berjalan menuju lift, sedangkan Kenan masih sibuk menenggelamkan dirinya dengan pekerjaan.
Ferdy yang melihat situasi perang dingin di antara keduanya hampir menuju gila, karena baik Kenan maupun Alice hanya berkata sepatah dua patah kata saja.
"Aku bekerja di perusahaan besar, tetapi kenapa suasananya seperti di kuburan." Ucap Ferdy pelan.
Ferdy menghela nafas kasar dan segera berjalan keluar ruangannya menuju ruangan Kenan, memberikan berkas kerjasama antara perusahaan Wijaya dan keluarga Santosa.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" Seru Ken dari dalam kantirnya.
Ferdy membuka pintu dan segera masuk berjalan menuju meja Kenan.
"Ini berkas kerjasama yang kamu minta." Ucap Ferdy.
Ken melepaskan kaca mata kerja dan menaruhnya di atas meja, mengambil dokumen penting yang dia minta.
"Biarkan Alice yang menangani kerjasama ini." Ucap Ken tanpa melihat ke arah Ferdy.
Ferdy terpaku sesaat, "Apa Anda yakin Tuan?" Tanya Ferdy memastikan.
Ken hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
"Nona Alice sudah terlalu dekat dengan Tuan Bara, apa Anda tidak takut jika sampai Nona Alice memiliki perasaan lebih kepada Tuan Bara atau sebaliknya." Lanjut Ferdy panjang lebar.
Ken terdiam mendengar ucapan Ferdy, setelah kejadian tempo lalu membuat Ken dan Alice kembali bersikap dingin.
"Biarkan saja, toh aku tidak bisa mencintai Alice." Jawab Ken dengan memutar kursinya.
Ferdy menghela nafas, "Aku harap Tuan tidak menyesal, ingat penyesalan selalu ada di akhir Tuan." Kata Ferdy penuh penekanan.
Tidak ada respon dari Kenan membuat Ferdy meninggalkan ruangan Ken.
"Nyonya." Sapa Ferdy karena melihat Citra berdiri di depan pintu ruangan Kenan.
...🐾🐾...
ambil sikap tegas,selingkuh itu penyakit.