Berharap bisa lari dari kenyataan yang ada, namun justru membuat Killa terjatuh ke dalam kejadian yang tidak pernah dia duga dan itu membuatnya sangat terpukul.
Hubungan yang tidak pernah dia ingat dengan seorang pria bule, membuat Killa memilih untuk pergi sejauh mungkin. Hingga Killa memilih kembali dengan membawa seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
Killa pikir, setelah dirinya pergi lama meninggalkan negaranya, dia akan kembali dengan tenang dan memulai hidup baru bersama putranya. Akan tetapi, ternyata tidak segampang itu. Dia dipertemukan kembali dengan seorang pria yang wajahnya masih melekat di ingatan Killa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_yuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 34. Masih Marah
Bab. 34
"Om mau ngapain?" tanya Gara. "Kok deket-deket sama Mommy? Terus tangan Mommy kenapa dipegangin kayak gitu? Lepasin Mommy, Om. Mommy Gara kesakitan tuh!"
Kemudian Gara menarik ujung baju Vano dan meminta pria itu agar menjauh dari Killa. Ia tidak suka kalau ada orang yang membuat mamanya sakit. Di tambah lagi Gara melihatnya sendiri.
Karena perbuatan Vano itukah, sikap Gara terhada Vano berubah seketika. Gara tidak seperti sebelumnya. Bahkan Gara menyingkirkan tangan Vano ketika ingin mengusap kepalanya.
"Jangan sentuh Gara!" Ujarnya dengan nada sedikit ketus.
"Boy ....!" Sahut Killa memberi tatapan peringatan kepada Gara. Di mana Gara langsung tertunduk. Namun kali ini ia tidak akan meminta maaf pada Vano.
"Gara nggak suka sama orang yang nyakitin Mommy," lirih anak itu.
Killa menatap ke arah Vano. Seolah menunjukkan kalau Gara merupakan anak yang sangat susah untuk bisa didekati.
"Om Vano nggak nyakitin Mommy kok, Sayang," ujar Killa mencoba menenangkan hati putranya.
"Terus tadi ngapain kalau nggak nyakitin Mommy? Orang Gara lihat sendiri kalau tangan Mommy di ituin sama Om ini." Debat Gara tidak percaya begitu saja. "Mommy jangan temenan lagi sama Om ini kalau emang Om ini jahat." Imbuh Gara yang masih bersikeras melarang Killa agar tidak dekat-dekat sama Vano.
Killa menghela napas. Jika sudah seperti ini, mau tidak mau Killa harus memberitahukan yang sebenarnya pada Gara.
"Boy ... dengerin Mommy bicara," ujar Killa dengan nada yang sangat lembut sembari meraih tangan Gara.
Saat ini mereka berada di dalam mobil milik Killa. Vano mengalah meninggalkan mobilnya di taman dan ikut gabung ke dalam mobil Killa. Tentu saja Vano yang mengemudikannya. Sedangkan Killa dan Gara duduk di jok belakang. Vano sudah seperti seorang sopir posisinya.
Melihat wajah Killa yang serius, lantas membuat Gara terdiam dan tidak berani melontarkan kalimat protesnya.
"Mommy pernah bilang sama kamu, kan? Kalau Daddy-nya Boy sedang kerja di negara yang berbeda."
Dengan kalimat serta nada yang begitu tertata, Killa sangat berhati-hati dalam membuka pembicaraan ini. Setelah ia pikir, tidak benar jika ia menyembunyikan fakta dari Gara. Terlebih lagi ini tentang orang yang berhubungan dengan Gara.
"Terus?" Sela Gara bertanya dengan wajah yang berubah antusias jika sudah menyangkut orang yang selama ini ingin dia temui dan melihat wajahnya. Sebab, dari ia kecil, Gara belum pernah satu kali pun melihat sosok yang ia sebut dengan sebutan Daddy.
Killa menghela napas, lalu menatap ke depan. Ke arah Vano yang saat ini tengah menyetir dan sesekali melihat ke arah mereka melalui spion dalam.
"Bisa kita ke rumah langsung?" tanya Killa.
Kali ini tidak memanggil Vano dengan sebutan apapun. Karena takut kalau sampai Gara melayangkan pertanyaan yang sulit Killa jabarkan nantinya.
"Tunjukin saja jalannya," sahut Vano.
Ini merupakan kesempatan baginya yang tidak datang dua kali. Tidak hanya akan tahu di mana Killa tinggal, tetapi Vano juga akan menyandang panggilan baru dari anak laki-laki itu jikalau Gara menerima dirinya dengan penuh. Karena Vano tahu, hal itu tidak akan mudah. Sebab ia sendiri pun sudah pernah mengalaminya sendiri. Di mana dulu posisinya juga sama seperti Gara saat ini. Meskipun tidak sama sepenuhnya.
Kemudian Vano mengemudikan mobil menuju alamat yang dikatakan oleh Killa. Selang beberapa menit, mereka pun sampai di tujuan.
Vano menatap ke arah bangunan yang simpel namun terlihat begitu nyaman. Meskipun hanya berlantaikan dua. Rumah itu tampak hidup. Terlebih lagi di tunjang dengan beberapa tanaman bunga yang berada di pinggir dinding pagar sebelah kanan kirinya. Dan pohon bunga yang menyerupai seperti pisang itu sama tingginya dengan dinding pagar.
"Mommy turun bentar ya, bukain pagarnya dulu," ujar Killa pada Gara.
Lalu Killa keluar dari mobil dan segera membuka pagar rumahnya, agar mobil yang dikemudikan Vano bisa masuk.
"Kalian tinggal berdua saja?" tanya Gara sembari menoleh ke belakang.
"Iya." Jawaban Gara masih belum ramah. Sepertinya anak itu masih marah terhadap Vano.
Vano pun menyadari jika perbuatannya tadi tidak mempertimbangkan pandangan Gara jika melihat posisi mereka yang begitu dekat.
"Masuk dulu. Bicaranya di dalam aja!" Teriak Killa dari luar. Seolah mencegah Vano untuk berbicara lebih banyak lagi dengan Gara. Killa takut, Vano salah ucap dan reaksi yang akan diberikan oleh Gara diluar kendalinya.